Calistha terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah dan memburu. Baru saja ia mengalami sebuah
mimpi yang mengerikan. Ia kemudian menyibak selimut sutra itu dengan gusar karena ia merasa membutuhkan segelas air untuk menenangkan dirinya yang masih dirundung ketakutan. Dengan perlahan, Calistha mulai berjalan menyusuri karpet merah yang terbentang dikamarnya sambil menengokan kepalanya kesana kemari. Keadaan lorong istana sangat sepi
Sekilas Calistha melihat beberapa penjaga yang sedang berdiri di sekitar kamarnya, namun anehnya penjaga itu tampak diam layaknya patung. Ia kemudian memutuskan untuk kembali melangkah, menyusuri tiap-tiap lorong istana yang begitu sepi dan senyap. Meskipun ia tahu jika semua penghuni istana pasti sedang tertidur lelah dikamar mereka masing-masing, tapi suasana di istana ini benar-benar mengerikan. Ia merasa sedang berjalan di
sebuah istana mati yang begitu sunyi dan senyap. Tiba-tiba Calistha merasakan seluruh bulu kuduknya meremang. Dengan perasaan yang mulai goyah, Calistha mencoba mengusap lengannya sendiri untuk membesarkan hatinya yang mulai ketakutan. Setelah berjalan cukup lama dan terus berputar-putar, Calistha memutuskan untuk
bertanya pada seorang prajurit yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Prajurit itu terlihat sedang berdiri tegak sambil memandang lurus pada tembok kokoh di depannya. Meskipun sedikit merasa janggal, Calistha tetap
berjalan untuk menghampiri prajurit itu dan mencoba memberitahu kedatangannya dengan sebuah dehaman.
"Ehem, maaf apa kau tahu dimana letak dapur istana?" tanya Calistha cukup keras di lorong yang sepi itu. Tapi sang prajurit tampak tak merespon ucapannya dan hanya diam sambil memandang lurus ke depan. Calistha kemudian mencoba untuk menyentuh pundak prajurit itu pelan, namun reaksinya tetap sama saja, prajurit itu tetap diam sambil menatap lurus pada tembok di depannya. Dengan ragu, Calistha mencoba menggerak-gerakan tangannya di depan prajurit itu. Tapi, prajurit itu tetap saja bergeming di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Ia kemudian mencoba menghampiri prajurit yang lain yang juga tengah berdiri tak jauh dari tempat prajurit pertama berdiri. Namun lagi-lagi prajurit itu sama sekali tidak bergerak dan hanya diam memandang lurus kedepan. Dengan perasaan takut, Calistha mulai berjalan lagi menyusuri lorong kerajaan Khronos yang panjang. Samar-samar ia mendengar suara erangan yang berasal dari sebuah pintu di ujung lorong. Sejenak ia langsung berhenti melangkah sambil mengamati pintu di ujung lorong itu lama. Beberapa jam yang lalu, saat makan malam, Sunny mengatakan
padanya jika pintu yang berada di ujung lorong tersebut adalah pintu kamar raja Aiden. Dan kamar itu merupakan kamar pribadi raja Aiden, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh masuk ke dalam sana. Mengingat hal itu, Calistha menjadi ragu untuk melangkahkan kakinya ke dalam sana. Tapi, ia begitu penasaran dengan semua keanehan yang terjadi di dalam kerajaan ini. Ia kemudian menoleh pada jam dinding kayu besar yang berada tepat di sebelahnya. Secara mengejutkan, jarum jam di jam kayu itu berhenti berputar. Jarum jam itu tepat berhenti di angka sebelas lebih lima puluh sembilan menit, dimana satu menit lagi seharusnya jam itu berdentang keras. Calistha kemudian mencoba untuk menyentuh jam kayu itu sambil mengernyit heran. Di amatinya jam itu lekat-lekat, namun jam itu benar-benar mati dan sama sekali tidak bergerak.
"Arghh."
Suara erangan yang begitu keras itu membuat Calistha kembali tersadar dari berbagai pikiran yang menghantuinya. Cepat-cepat ia berjalan menuju pintu besar yang menjulang kokoh di ujung lorong untuk melihat keadaan Aiden di dalam sana. Ia merasa harus bertemu dengan Aiden sekarang juga untuk meminta penjelasan dari pria itu mengenai keanehan yang terjadi di kerajaan ini.
Calistha berdiri ragu di depan pintu coklat yang terlihat begitu menjulang di hadapannya. Dari luar Calistha masih dapat mendengar suara erangan Aiden yang terdenagar begitu kesakitan. Meskipun ia sangat membenci raja kejam itu, tapi rasa penasarannya akan kerajaan ini jauh lebih besar, sehingga akhirnya ia mencoba untuk sedikit berdamai dengan egonya dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar pribadi raja Aiden.
Perlahan Calistha mulai mendorong pintu kayu itu dan sebisa mungkin ia berusaha agar tidak menimbulkan
suara berisik apapun. Kesan pertama saat ia melihat keseluruhan isi kamar Aiden adalah, kamar itu begitu gelap dan hanya disinari oleh cahaya bulan yang menembus dari kaca jendela besar yang berada di dekat perapian. Dari tempatnya berdiri, Calistha dapat melihat Aiden sedang mengerang kesakitan sambil terus memegang kepalanya yang seakan-akan ia sedang mengalami sebuah siksaan yang tak kasat mata. Ketika Calistha telah melangkah mendekati Aiden, ia dapat melihat noda merah yang tercetak jelas di atas karpet, serta sebuah gelas kaca yang telah pecah berkeping-keping di bawah kakinya. Meskipun pada awalnya Calistha sempat mengira jika noda merah itu adalah darah, tapi setelah ia melihat sebuah botol wine yang masih tersisa separuh di atas meja kerja sang raja, Calistha langsung menyimpulkan jika noda merah itu bukan noda darah, melainkan noda tumpahan wine yang merembes di atas karpet milik Aiden. Ia kemudian semakin melangkah mendekat ke arah Aiden dan mencoba untuk menyentuh wajah pria itu yang masih tampak kesakitan. Meskipun pria itu sudah tidak mengerang lagi, tapi
ia terlihat sedang mengatur deru napasnya yang masih memburu, meninggalkan hembusan napas yang begitu kencang menerpa kulit tangannya yang saat ini sedang bertengger di atas pipi pria itu sambil terus mengusapnya untuk memberikan kenyamanan. Entah kenapa, setelah melihat Aiden lebih tenang, Calistha pun juga merasa lebih tenang dan tidak terlalu panik seperti sebelumnya. Ia merasa seperti terhubung dengan pria itu.
"Aa.. apa kau baik-baik saja? Kenapa waktu di kerajaan ini seakan-akan berhenti?"
Aiden menatap tajam Calistha sambil mengamati wajah wanita itu lekat-lekat. Ia melihat adanya ketakutan dan kepanikan yang tercetak jelas di wajah wanita itu. Tapi, apakah baru saja ia menanyakan keadaanya? Apa baru saja wanita itu mengkhawatirkan keadaanya?
Mungkinkah ia sedang mengkhawatirkanku?
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Aiden dingin dan datar, mencoba untuk mengintimidasi Calistha agar wanita itu takut padanya. Namun, hal itu tidak sesuai dengan dugaanya, karena Calistha justru kembali menjadi wanita yang sinis dan angkuh seperti biasanya. Semua sisi lembut yang baru saja ia lihat tiba-tiba lenyap tak berbekas dari wanita itu, membuatnya sedikit kecewa dan merasa kehilangan. Jujur ia lebih menyukai sisi lembut Calistha yang begitu menenangkan dan membuatnya terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Tapi sudahlah, semua kelembutan itu memang tidak pernah nyata. Selamanya Calistha akan selalu membencinya dan menganggapnya sebagai pria paling jahat di dunia.
"Aku hanya ingin bertanya padamu, kenapa semua orang yang ada di luar tampak tidak bergerak, bahkan jarum jam pun juga. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di kerajaan ini?" tanya Calistha gusar. Aiden mengernyitkan dahinya sambil berpura-pura bingung. Padahal ia jelas mengetahui penyebab dari semua keanehan yang dilihat oleh Calistha. Tapi ia tahu jika Calistha pasti belum terbiasa dengan semua keanehan itu, jadi untuk sementara ia akan berpura-pura tidak tahu dan mengaggap Calistha gila. Lagipula, akan sangat menyenangkan jika ia dapat menggoda Calistha dan membuat wanita itu berteriak-teriak bar-bar di hadapannya.
"Apa kau sedang bercanda? Itu tidak mungkin terjadi. Apa kau pikir kerajaanku berhantu?"
"Tapi itu benar-benar terjadi, aku tidak berbohong." balas Calistha berapi-api, mencoba meyakinkan Aiden dengan semua ceritanya. Tapi, Aiden tampaknya benar-benar ingin membuat Calistha gusar dan semakin marah karena ia tidak mempercayai ucapan wanita itu.
Sebenarnya kejadian aneh seperti yang dilihat oleh Calistha sudah sering terjadi di kerajaanya ataupun di kerajaan yang lain. Disaat Aiden mulai mendapatkan penglihatan akan masa depan, biasanya waktu disekitarnya akan berhenti sejenak, pun dengan semua orang-orang yang berada di sekitarnya. Namun, ada satu orang yang tidak akan pernah terpengaruh ketika waktu sedang berhenti berputar, yaitu Calistha. Karena Calistha adalah pasangan Aiden, maka Calistha tidak akan terpengaruh dengan apa yang terjadi disekitar Aiden.
"Maafkan aku tuan putri, tapi semua hal yang kau bicarakan itu tidak nyata. Mungkin kau sedang bermimpi." ucap Aiden tenang, namun sedikit mengejek. Dalam hati Aiden begitu puas karena ia berhasil membuat ratunya menjadi marah dan terlihat semakin buas dengan taring-taringnya yang hampir keluar. Mungkin ia hanya membutuhkan beberapa detik untuk mendengar segala umpatan yang selalu keluar dari bibir tipis nan menggairahkan itu.
"Aku tidak bermimpi! Sudah kukatan jika apa yang kulihat itu benar-benar nyata dan aku sedang dalam keadaan sadar saat berjalan menuju kamarmu. Kenapa kau tidak mau mempercayaiku?"
"Karena kau juga tidak mau mempercayaiku." jawab Aiden cepat. Calistha kemudian berpikir untuk membuktikan kata-katanya pada Aiden. Ia jelas-jelas tidak ingin kalah dari pria itu dan dicap sebagai wanita pembual.
"Kalau begitu kau lihat sendiri sekarang di luar. Aku akan menunjukannya padamu." ucap Calistha angkuh sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Aiden mengamati wanita yang sedang berdiri angkuh itu dengan alis mata yang ia naikan ke atas sambil menatap geli pada Calistha. Sungguh ia merasa begitu puas karena ia telah
berhasil membuat wanita itu kesal padanya. Ia bersumpah, ia akan lebih sering menggoda Calistha setelah ini.
"Baiklah, aku akan melihatnya bersamamu. Tapi, jika semua ucapanmu tidak benar, apa yang akan kau lakukan? Apa hadiah yang akan kudapatkan?"
"Hadiah? Apa kau pikir kita sedang taruhan?" tanya Calistha tak suka. Mengapa pria itu seolah-olah ingin mencari kesempatan ditengah kebingungannya. Ia tidak akan memberikan apapun padanya jika apa yang dikatakannya memang salah dan hanya halusinasinya semata.
"Tidak ada hadiah apapun. Lebih baik kau sekarang segera bangkit dan melihat sendiri bagaimana keadaan
aneh di luar sana." ucap Calistha jengah dan tidak sabar. Sejak tadi pria itu terus menerus membuatnya kesal dengan sikapnya yang menyebalkan dan juga arogan. Dan betapa sialnya karena ia sekarang sedang terjebak di dalam kerajaan pria yang paling ia benci di dunia ini.
"Kau memerintahku? Kau pikir kau siapa? Aku tidak menerima perintah dari siapapun." balas Aiden tak kalah angkuh. Calistha tampak menggeram tertahan di hadapan pria itu sambil mengepalkan kedua tangannya kesal. Akhirnya wanita itu menarik tangan Aiden dengan paksa untuk berjalan keluar dari kamarnya yang temaram itu. Dengan langkah lebar-lebar Calistha terus menarik tangan Aiden tanpa mempedulikan tatapan aneh dari mata Aiden yang sedang menatap genggaman tangan Calistha di atas tangan kananya. Sesaat ia merasa begitu hangat dengan genggaman tangan itu. Ia merasa seperti kembali ke masa lalu saat ibunya juga sedang menggenggam tangannya. Namun, tiba-tiba genggaman tangan itu terlepas dari tangannya, menyisakan perasaan kehilangan yang begitu pekat di dalam hatinya.
"Tidak mungkin." gumam Calistha tercekat di sebelah Aiden. Pria itu menatap Calistha bingung sambil menaikan alisnya heran. Namun, sedetik kemudian ia dapat memahami maksud dari gumaman Calistha yang tertahan tersebut.
"Ada apa? Sepertinya mereka baik-baik saja."
"Selamat malam Yang Mulia, selamat malam Ratu Calistha." sapa salah satu prajurit yang berdiri di sebelah kamar Aiden. Aiden pun membalas sapaan itu dengan anggukan singkat yang terkesan datar, sedangkan Calistha, wanita itu masih terpaku di tempat dengan keterkejutannya. Padahal beberapa menit yang lalu ia begitu yakin dengan apa yang ia lihat. Namun, sekarang keyakinan itu langsung lenyap begitu saja dari dirinya, dan digantikan dengan perasaan malu yang luar biasa. Ia kemudian melirik wajah Aiden sekilas sambil menggigit bibirnya dengan gugup. Dalam hati ia terus meruntuki dirinya yang telah bertingkah bodoh di hadapan Aiden. Apalagi beberapa menit yang lalu tanpa sadar ia juga mengelus pipi Aiden dengan wajah panik dan ketakutan. Setelah ini Aiden pasti akan mengganggapnya sebagai wanita murahan, seperti wanita-wanita lain di luar sana yang dengan seenaknya masuk ke dalam ruang pribadinya tanpa permisi.
"Lihat, sepertinya kau terlalu depresi. Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar. Aku khawatir, kau akan
berhalusinasi lagi jika aku membiarkanmu berjalan sendiri." ucap Aiden datar, namum tersembunyi nada geli disetiap kalimatnya. Sungguh pria itu ingin sekali tertawa terbahak-bahak di depan Calistha, menertawakan wajah bodoh wanita itu yang terlihat bersungut-sungut di sebelahanya. Tiba-tiba saja Aiden mengerutkan dahinya heran.
Apa aku telah jatuh pada pesonanya?
"Hey, aku tidak depresi! Kau tidak perlu mengantarkanku. Aku bisa berjalan sendiri ke kamarku." teriak Calistha tidak terima, membuatnya langsung tersadar dari lamunannya yang sedikit konyol menurutnya.
"Aku tidak yakin akan hal itu. Lebih baik kau diam dan jangan membantah." ucap Aiden tegas sambil berlalu begitu saja menuju arah kamar Calistha. Dibelakangnya Calistha tampak mendengus sebal sambil mengikuti langkah raja kejam itu dalam diam. Ia sungguh merasa kesal dengan sikap Aiden. Raja kejam itu jelas-jelas sedang menertawakannya dari balik tubuh tegapnya yang menjulang itu.
"Huh, kenapa raja
cabul itu sangat menyebalkan! Awas saja, aku pasti akan menghancurkannya dan
membuatnya bertekuk lutut padaku. Tak akan kubiarkan ia menginjak-injak harga
diriku dan menikahiku. Secepatnya aku harus mencari cara untuk kabur dari
kerajaan ini dan menemui Gazelle. Saat ini hanya Gazelle dan kelompoknya yang
dapat menyelamatkanku. Semoga saja pergerakan mereka tidak diketahui oleh
prajurit kerajaan Khronos."
Brukkk
"Aw, apa yang kau lakukan di depanku? Kau sengaja menghentikan langkahmu agar aku menabrakmu!"
"Perhatikan langkahmu. Kita sudah sampai di kamarmu." ucap Aiden datar dan langsung masuk ke dalam kamar wanita itu begitu saja tanpa persetujuan dari Calistha, membuat wanita itu langsung gelagapan dan langsung menyusul pria itu masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang kau lakukan di dalam kamarku?"
"Menurutmu? Sepertinya menemanimu hingga kau terlelap akan menyenangkan. Aku bisa menjagamu agar kau tidak berhalusinasi lagi dan berkeliaran di dalam istanaku dengan keadaan setengah depresi."
"Jangan harap! Cepat keluar, atau aku akan memanggil prajurit untuk menyeretmu." ancam Calistha keras yang hanya ditanggapi Aiden dengan kekehan kecil. Sejenak Calistha merasa terpana dengan kekehan kecil Aiden yang terdengar begitu merdu di telinganya. Ia pikir raja kejam itu tidak bisa tertawa dan hanya menghabiskan seluruh hidupnya untuk marah-marah dan membunuh.
"Naiklah ke ranjangmu, aku tidak akan melakukan apapun padamu."
"Aku tidak mau! Jika kau tidak keluar dari kamarku, aku tidak akan mau naik ke atas ranjangku dan memejamkan mataku. Aku yakin, kau pasti sedang memikirkan hal-hal cabul di dalam otakmu dan berencana untuk menyerangku saat aku jatuh tertidur nantinya. Dasar pria licik!" maki Calistha keras dan berhasil membuat Aiden sedikit terpancing. Padahal malam ini ia hanya ingin menunjukan sisi baiknya pada wanita itu, tapi Calistha justru terus melontarkan kata-kata pedas yang sangat tidat enak untuk didengar. Ternyata wanita itu tidak pantas untuk diperlakukan lembut. Wanita itu memang lebih pantas untuk diperlakukan kasar seperti wanita-wanita murahan lainnya.
"Jika kau tidak mau, maka aku akan memaksamu. Cepat naik dan tidur." desis Aiden marah sambil mencengkeram pergelangan tangan Calistha kuat. Pria itu kemudian langsung menghempaskan Calistha ke atas ranjangnya hingga membuat Calistha menjerit kesakitan karena kepalanya sedikit membentur tiang ranjang. Tapi,
Aiden tampak tidak peduli dengan erangan kesakitan Calistha dan justru mendekatkan wajahnya ke arah Calistha sambil menyeringai mengerikan di depan wajah wanita itu.
"Lain kali kau harus lebih menurut padaku sayang, sebelum aku menyakitimu lebih jauh."
"Dasar pria kejam! Kau iblis! Pergi dari kamarku." balas Calistha keras, mencoba untuk melawan aura mengintimidasi yang dikeluarkan oleh Aiden. Pria itu tampak memandang Calistha datar, sebelum ia menundukan kepalanya dan mencium kening Calistha lama dan lembut. Setelah itu ia segera berjalan pergi dari kamar Calistha sambil membanting pintu besar di kamar Calistha dengan keras, meninggalkan bunyi debuman yang cukup nyaring ditengah suasana senyap yang terjadi di lorong istana yang sepi. Sedangkan Calistha masih mematung tak percaya sambil meraba keningnya berkali-kali. Ia tidak pernah menyangka jika Aiden akan selembut itu padanya, meskipun akhirnya pria itu memunculkan sisi kasarnya dengan membanting pintu. Tapi... pria itu tidak menciumnya dengan
kasar seperti sebelumnya. Pria itu memperlakukannya dengan sangat lembut malam ini. Oh Tuhan, ia bisa benar-benar gila dengan sikap Aiden yang berubah-ubah itu. Calistha kemudian menggelengkan kepalanya kuat, menghalau semua pikiran anehnya yang saat ini tengah melintas di dalam kepalanya.
"Tidak tidak tidak! Aku tidak boleh terhanyut dalam pesonanya. Aku harus segera menyusun rencana untuk keluar dari kerajaan ini." gumam Calistha pelan sambil menarik selimutnya tinggi-tinggi menutup tubuh rampingnya untuk tidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments