The King Of Khronos (Three)

        Calistha terus membungkam mulutnya dengan rapat agar ia tidak membuat kegaduhan dibalik semak-semak yang saat ini menjadi tempat persembunyiaanya. Wanita itu terus mengamati gerak-gerik pasukan Khronos dengan ngeri. Dari kejauhan, ia dapat melihat seorang pria dengan wajah yang sangat angkuh sedang berdiri di atas kudanya yang gagah sambil mengamati pasukannya satu persatu. Dalam sekali tebak, Calistha dapat menyimpulkan jika pria itu adalah raja Aiden, raja yang selama ini selalu menjadi buah bibir karena kekejamannya. Seketika darah Calistha menjadi mendidih mengingat betapa bengisnya pria itu selama ini. Pria itu dengan kejamnya telah memporak porandakan kerajaanya dan juga telah membunuh ayah ibunya, beserta seluruh saudarinya yang lain. Calistha mengepalkan tangannya kuat sambil meremas daun-daun kering yang ada di hadapannya hingga menimbulkan suara gemerisik yang nyaring. Tanpa diduga Aiden tiba-tiba telah berjalan mendekati semak-semak itu untuk melihat apa yang terjadi dibaliknya.  Semakin lama langkah Aiden semakin dekat ke arah semak-semak itu. Dan di tengah kekalutan batin yang sedang melanda Calistha, tiba-tiba seseorang menyergapnya dari belakang dan membungkam mulutnya dengan sebuah kain agar Calistha tidak dapat berteriak-teriak. Sekuat tenaga Calistha terus memberontak karena ia merasa dirinya sedang terancam. Namun, orang yang saat ini sedang membekapnya tampak terus menyeretnya dengan susah payah untuk bersembunyi dibalik sebatang pohon besar yang jaraknya cukup jauh dari semak-semak sebelumnya. Ketika dirasa telah cukup aman, wanita itu segera melepaskan Calistha dari cengkeramannya sambil berdiri dengan ponggah di hadapan Calistha. Namun, setelahnya wanita itu langsung tersenyum manis ke arah Calistha dan mengulurkan tangannya pada Calistha untuk membantu wanita cantik itu berdiri.

        "Gazelle!" pekik Calistha tak percaya. Wanita itu segera menghambur ke dalam pelukan Gazelle sambil memekik gembira.

        "Gazelle, dimana yang lainnya? Kenapa perkemahannya hancur?"

        Gazelle melepaskan pelukan Calistha dengan sedih sambil mendudukan dirinya di atas batu hitam yang sudah mulai lapuk. Sembari meluruskan kakinya yang pegal, Gazelle mulai menceritakan semuanya pada Calistha, semua hal mengerikan yang baru saja terjadi pada dirinya dan juga kaumnya yang lain.

        "Sebagian dari kami mati, dan yang berhasil selamat, mereka saat ini tengah bersembunyi. Bangsa Khronos, ia akan menyerang kerajaan Hora besok pagi. Mereka semua akan segera menghancurkan kerajaan damai ini." erang Gazelle frustrasi sambil menelungkupkan kepalanya di atas lututnya yang sedikit lecet. Calistha yang mendengarkan hal itu hanya mampu membungkam mulutnya tak percaya sambil memandang cemas pada kastil kerajaan Hora yang tampak terlihat samar-samar dari tempatnya berdiri. Seketika pikiran Calistha langsung tertuju pada Max. Jika besok pagi kerajaan Khronos akan menyerang kerajaan Hora, maka Max dalam bahaya.

        "Kenapa mereka datang ke kerajaan Hora? Lalu, bagaimana dengan Erika, apa ia baik-baik saja?"

        "Erika berhasil kabur dari prajurit bangsa Khronos, tapi ia mengalami luka tusuk yang cukup

parah di perutnya. Saat ini aku hanya dapat berdoa semoga Erika dan yang lainnya baik-baik saja. Cals, kita harus melakukan sesuatu." ucap Gazelle penuh tekad sambil beranjak berdiri dari duduknya. Calistha kemudian berjalan mendekati Gazelle dan memberikan usapan lembut di bahu wanita itu.

        "Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Aku harus memberitahu Max, bahwa kerajaan Khronos sedang bersiap untuk menyerang kerajaan ayahnya."

         "Baiklah. Aku akan mengantarmu menuju istana. Saat ini pangeran Max dan raja Hora sedang dalam bahaya. Kudengar raja Khronos sering mengambil seluruh wanita di kerajaan yang diserangnya untuk dibunuh dan disiksa. Apa kerajaan Hora memiliki wanita yang berharga di dalamnya, maksudku permaisuri, selir, dan para putri?" tanya Gazelle memperingatkan. Pikiran Calistha langsung melayang pada ibunda pangeran Max dan Victoria. Saat ini hanya dua wanita itu yang tinggal di dalam kerajaan Hora, karena raja tidak memiliki selir. Raja yang budiman itu tidak mau memiliki selir karena ia hanya mencintai ibunda ratu.

        “Ya, kerajaan Hora memilik dua orang wanita yang sangat berharga, ibunda ratu Hora dan Victoria, tuangan pangeran Max.”

        “Kita harus segera memperingatkan mereka agar mereka segera pergi dari istana untuk mengungsi, karena nyawa mereka tidak akan selamat jika kerajaan Khronos besok pagi menyerang kerajaan Hora.”

        Akhirnya mereka berdua mulai berjalan kaki menyusuri gelapnya hutan terlarang tanpa adanya pencahayaan sedikitpun. Sembari berjalan, pandangan mereka juga terus awas mengamati setiap pergerakan yang sekiranya terlihat mencurigakan bagi mereka. Tidak ada yang membuka pembicaraan apapun saat ini. Semuanya tampak serius dengan pikiran mereka masing-masing sambil membayangkan apa yang akan terjadi besok pada kerajaan tempat mereka tinggal.

-00-

        Aiden menyipitkan matanya curiga pada semak belukar yang tumbuh begitu lebat di depannya. Beberapa saat yang lalu semak itu tampak berisik dan bergoyang-goyang aneh. Ia kemudian kembali melangkah mendekat sambil mengacungkan pedangnya ke depan. Dengan sekali tebasan, semak-semak yang berada di depannya langsung terbelah begitu saja dan menampilkan sebuah sisi kosong yang gelap, namun memancarkan aura hangat. Aiden kemudian mencoba mengulurkan tangannya pada semak-semak itu untuk mengambil sebuah benda yang tampak berkilauan di sana. Sebuah kalung dengan bandul bulat berwarna perak berhasil didapatkan Aiden dan membuat pria itu mengernyit seketika. Di dalam bandul kalung itu terdapat ukiran khas yang hanya dimiliki oleh bangsa Kairos. Dengan senyum licik Aiden bisa menebak, siapa pemilik dari kalung perak berkilauan itu.

Wanita terakhir kerajaan Kairos.

        "Hmm, rupanya kau sudah tidak sabar untuk menunggu kehadiranku my queen." gumam Aiden pelan, namun berhasil membuat Spencer bergidik ngeri dengan aura yang dipancarkan oleh rajanya. Beberapa saat yang lalu, ia tidak sengaja melihat tuannya sedang berjalan dengan tenang menuju semak belukar. Pria itu kemudian memutuskan untuk mengikuti langkah kaki rajanya untuk berjaga-jaga jika kaum pemberontak itu masih bersembunyi di sana dan berniat untuk menyerang rajanya saat lengah. Namun, ternyata semak belukar itu kosong. Tidak ada siapapun di sana, kecuali sebuah kalung perak yang berbandul ukiran-ukiran rumit di permukaanya. Dan ketika rajanya itu mulai berbisik pada kalung perak itu, seluruh tubuh Spencer langsung merinding ngeri pada aura membunuh yang dipancarkan oleh Aiden.

         "Yang Mulia, tenda anda sudah didirikan. Anda sudah dapat beristirahat sekarang."

        "Aku akan ke sana nanti. Periksa persediaan makanan dan senjata perang kita. Aku menunggu laporanmu

lima belas menit lagi." ucap Aiden dingin tanpa menoleh sedikitpun kearah Spencer. Pria berseragam merah itu kemudian mengangguk pelan dan segera berjalan pergi meninggalkan Aiden untuk menjalankan perintah sang raja.

Sedangakn Aiden masih berdiri di tempatnya sambil terus mengamati kalung perak itu dengan seringaian licik. Diingatnya setiap aroma khas tercipta dari kalung perak itu, aroma manis menenangkan khas wanita bangsawan Kairos. Pria itu kemudian memasukan kalung itu di dalam saku jubahnya sambil menggumam pelan pada dirinya sendiri.

            "Calistha, kau akan menjadi milikku."

-00-

            Setibanya di istana, Calistha langsung melangkah terburu-buru menaiki tangga untuk membangunkan Max. Ia harus segera memberitahukan pada Max perihal penyerangan yang akan dilakukan kerajaan Khronos pada kerajaan Hora. Wanita itu terus berlari dan berlari hingga napasnya terengah-engah. Ia kemudian berjalan dengan langkah berisik menyusuri setiap lorong gelap yang berada di istana Hora. Di ujung lorong, Calistha dapat melihat sebuah pintu besar yang menjulang tinggi, tempat dimana Max sedang beristirahat. Wanita itu dengan tergesa langsung membuka pintu itu dengan brutal tanpa mengetuk pintu itu terlebihdahulu, hingga dua anak manusia

yang sedang berciuman di dalam sana langsung terlonjak kaget dan langsung memisahkan diri mereka masing masing karena kedatangan Calistha yang tiba-tiba.

        "Ppa pangeran, maafkan saya. Saya tidak tahu jika..."

        "Tidak Calistha, ini tidak seperti yang kau lihat. Aku tidak melakukan apapun dengan Victoria." jelas Max gelagapan sambil mencoba mendekati Calistha. Namun, Calistha justru semakin berjalan mundur untuk menjauhi Max. Seluruh hatinya kini terasa sakit dan perih. Ia tidak pernah menyangka jika ia akan melihat hal yang sangat menjijikan itu tepat di depan matanya. Seharusnya kerajaan Khronos tidak menyerang di waktu yang tidak tepat seperti ini, sehingga ia tidak perlu menyaksikan pemandangan yang sangat menyakitkan hari ini. Tapi, tidak! Ia tidak boleh mencampur adukan perasaanya dengan kepentingan kerajaan. Saat ini kerajaan Hora dan seluruh rakyat Hora sedang dalam bahaya. Ini bukan saatnya untuk menangis dan meratapi perasaanya yang bertepuk sebelah tangan. Dengan wajah mendongak, Calistha mencoba menatap mata Max dalam dan setelah itu ia mulai menyampaikan berita mengenai penyerangan kerajaan Khronos pada pangeran tampan itu.

        "Pangeran, kerajaan Hora dalam bahaya. Kerajaan Khronos akan menyerang kerajaan Hora esok pagi. Saya harap pangeran segera menyiapkan para prajurit untuk melawan prajurit kerajaan Khronos yang sangat kuat itu."

        "Cals, maafkan aku."

        Max tampak tak merespon ucapan Calistha mengenai penyerangan kerajaan Khronos. Pria itu justru terus menatapnya dengan tatapan bersalah dan kembali meminta maaf padanya. Di atas ranjang milik Max, Victoria masih terduduk di sana sambil memandang sebal pada Calistha dan Max. Wanita itu kemudian berjalan cepat menghampiri Calistha dan langsung mendorong bahu Calistha keras, hingga Calistha hampir terjungkal ke belakang dan membentur tembok. Untungnya Calistha berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan langsung berdiri tegap di depan Victoria.

        "Maaf putri, sebaiknya anda segera bergegas untuk pergi dari kerajaan ini karena raja Aiden akan menangkap anda untuk disiksa dan dibunuh. Anda sebaiknya..."

        "Dasar wanita munafik! Kau hanya ingin mengambil perhatian Max dariku bukan? Kau jangan pernah berpura-pura baik di hadapanku, karena aku sama sekali tidak percaya dengan semua omong kosongmu! Dasar ******!"

PLAK

        Satu tamparan keras mendarat dengan mulus di pipi kanan Victoria. Wanita itu kemudian langsung beralih pada Max sambil menatap pria itu dengan pandangan tak percaya. Sedangkan Max justru menatapnya marah karena wanita kurang ajar itu telah berani mengucapkan kata-kata kasar pada wanita yang dicintainya.

        "Kau menamparku! Bahkan ayahku sendiri tidak pernah menamparku, tapi kau justru menamparku. Dasar laki laki brengsek! Aku membencimu. Aku tidak mau lagi menjadi tunanganmu."

        "Silahkan. Aku justru merasa senang jika kau tidak mau menjadi tunanganku, karena aku sudah muak dengan semua sikap manjamu yang sangat kelewatan itu."

        "Berhenti! Kalian berdua berhentilah. Ini bukan saatnya untuk bertengkar dan mengedepankan ego kalian masing-masing. Kerajaan Hora sedang dalam bahaya. Jika kau tidak mengambil tindakan sekarang, maka kerajaanmu akan segera musnah." teriak Calistha kesal tepat di depan Max. Bahkan, wanita itu sudah tidak menunjukan sikap hormatnya lagi pada Max karena ia sudah terlalu jengah dengan sikap Max yang justru kekanak-kanakan disaat nasib kerajaanya sedang di ujung tanduk. Pria itu kemudian menatap Calistha dalam sambil bergegas pergi untuk menyiapkan prajurit dan memanggil ayahnya.

        Sementara itu, Victoria justru tengah menatapnya dengan sinis sambil mengepalkan kedua tangannya di

belakang punggungnya. Ia merasa begitu kesal dan marah pada Calistha. Apalagi ia telah dipermalukan oleh Max di depan wanita rendahan itu hingga kini ia merasa begitu marah dan sangat malu. Andai saja wanita itu tidak membawa kabar buruk itu, maka Victoria bersumpah, ia akan langsung membunuh wanita itu sekarang juga, tepat di depan Max. Tapi, sayangnya ia tidak bisa melakukannya sekarang. Apa yang dikatakan oleh Calistha sebelumnya tentang kerajaan Khronos yang datang untuk menyerang kerajaan Hora dan akan mengambil seluruh bangsawan wanita di istana ini lebih mengerikan daripada apapun. Ia sudah lama mendengar cerita yang sering beredar di kalangan kerajaan, jika kerajaan Khronos memiliki seorang pemimpin yang begitu keji dan haus akan darah. Banyak cerita dari kerajaan-kerajaan yang telah diserang oleh kerajaan Khronos mengatakan jika putri-putri kerajaan maupun selir dari kerajaan yang diserang tidak akan pernah kembali lagi setelah dibawa pergi oleh raja Aiden ke istananya. Kebanyakan dari mereka mengatakan jika bangsawan-bangsawan kerajaan itu telah dibunuh dan dijadikan santapan hewan peliharaan raja bengis itu. Membayangkan jika ia akan dijadikan santapan hewan buas membuat Victoria bergidik ngeri dan langsung berjalan begitu saja meninggalkan Calistha untuk bersiap-siap. Malam ini ia harus kembali ke kerajaanya, apapun yang terjadi. Ia tidak mau berakhir mengenaskan di kerajaan ini. Apalagi Max dengan terang-terangan telah menolaknya dan lebih memilih dayangnya yang memuakan itu.

        "Putri Victoria, maafkan saya." ucap Calistha tiba-tiba menghentikan langkah Victoria yang telah mendekati pintu kayu besar yang menjulan di depan kamar Max. Wanita angkuh itu kemudian menoleh sekilas pada Calistha sambil tersenyum sinis pada wanita cantik itu.

        "Huh, lupakan saja. Anggap semua ini tidak pernah terjadi." balas Victoria dingin sebelum ia berjalan pergi meninggalkan Calistha sendiri. Sebagai seorang wanita ia dapat merasakan bagaimana sakitnya perasaan Victoria saat ia ditampar oleh tunangannya sendiri. Tapi, dengan cepat Calistha segera melupakan kejadian itu dan segera berjalan turun untuk menyusul Max. Sebagai dayang kepercayaan Max, ia harus selalu mendampingi pria itu apapun yang terjadi, meskipun nyawa menjadi taruhannya sekalipun.

-00-

        Pagi telah menjelang. Seluruh prajurit kerajaan Hora tampak telah bersiap untuk menghadapi serangan

dari kerajaan Khronos. Sejak tadi raja Hora terus berjalan mondar-mandir kesana kemari dengan cemas sambil memikirkan nasib kerajaa Hora nantinya. Ini adalah peperangan yang paling mengkhawatirkan dalam hidupnya. Selama ini ia selalu melawan kerajaan-kerajaan kecil yang sangat mudah untuk ditaklukan. Namun, saat ini ia harus berhadapan dengan kerajaan Khronos yang terkenal akan keberingasannya dalam berperang. Sejak semalam saat Max tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya untuk memberitahukan berita mengejutkan ini, raja langsung bergerak cepat dengan memerintahkan seluruh pasukannya untuk bersiap. Para prajurit kemudian mempersiapkan senjata serta baju zirah mereka yang akan digunakan untuk bertempur dengan kerajaan Khronos. Ratu Hora pun berkali-kali menangis di dalam pelukan suaminya seakan-akan setelah ini hidupnya akan segera berakhir. Bahkan ratu juga telah meminta maaf pada seluruh warga kerajaan atas segala kesalahannya selama ini. Melihat hal itu, Calistha menjadi semakin sedih dan merasa dadanya sesak. Ia tak henti-hentinya meremas-remas kedua tangannya untuk menyingkirkan kegugupan dan kekalutan yang saat ini tengah melandanya.

        "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." ucap Max lembut untuk menenangkan Calistha. Para prajurit dan dayang yang melewati mereka hanya mampu menatap sedih mereka berdua. Mereka semua tampak tidak mau ikut campur dan lebih memilih untuk membiarkan dua manusia itu saling berbagi kehangatan sebelum seluruh kerajaan

ini hancur. Raja dan ratu pun yang melihat putranya sedang memeluk Calistha dengan penuh perasaan hanya mampu tersenyum getir satu sama lain. Sejak awal sebenarnya mereka telah mengetahui semuanya. Tentang perasaan Calistha maupun perasaan putranya yang telah berkembang menjadi sebuah perasaan cinta yang rumit. Tapi, raja tidak bisa membiarkan putranya bersatu dengan Calistha, karena wanita itu membawa ramalan yang buruk. Ketika Calistha berusia tujuh belas tahun seorang cenayang yang terdampar di kerajaan Hora mengatakan jika Calistha adalah putri yang terpilih, namun ia tidak bisa menentukan takdirnya sendiri karena sang penguasa telah menentukan takdirnya untuk Calistha. Barang siapa yang melanggar takdir dari sang penguasa dan mencintai Calistha, maka pria itu akan menanggung akibat yang sangat buruk. Awalnya raja tidak percaya dengan

ucapan dari cenayang itu. Namun, ketika perasaan Calistha dan Max semakin berkembang menjadi besar, sesuatu yang buruk tiba-tiba terjadi di kerajaan Hora. Dalam satu bulan penuh, kerajaan Hora mengalami kemarau panjang dan terserang berbagai macam wabah penyakit yang mematikan. Raja kemudian segera mengambil tindakan dengan cepat-cepat memisahkan Calistha dengan Max, lalu membuat wanita itu terus disibukan dengan berbagai macam pekerjaan istana, sehingga Calistha tidak akan sempat untuk memikirkan perasaan cintanya pada Max. Setelah itu semua wabah penyakit dan musim kemarau berkepanjangan yang terjadi di kerajaan Hora seketika berhenti dan berangsur-angsur kembali ke keadaan semula. Sejak saat itu raja dan ratu mulai mempercayai perkataan dari cenayang itu dan selalu berusaha memisahkan Calistha dan Max jika kedua anak manusia itu mulai dekat satu sama lain lagi. Meskipun sebenarnya mereka merasa iba pada Max maupun Calistha, tapi mereka berdua tidak memiliki pilihan lain lagi selain mengikuti saran dari cenayang itu untuk memisahkan Max dan Calistha.

        "Max, sudah saatnya kita berangkat ke medan perang." tegur ayahnya lembut sambil berjalan mendekati putranya. Max kemudian melepaskan pelukannya dari Calistha dan memberikan sebuah kecupan ringan di kening Calistha sebagai tanda perpisahan. Namun dalam hati Max terus berdoa agar Tuhan selalu melindungi dirinya dan Calistha agar kedepannya mereka dapat dipertemukan lagi dalam keadaan dan suasana yang lebih baik dari saat ini.

        "Hati-hati, kau harus pulang dengan selamat."

        "Pasti. Tunggu aku Cals. Aku pasti akan memenangkan peperangan ini." janji Max sungguh-sungguh. Tanpa diduga, raja langsung maju ke depan dan memeluk Calstha sambil berpesan pada wanita itu supaya ia menjaga ratunya selama ia pergi. Dan sebelum raja Hora pergi, pria itu berpesan agar Calistha sebaiknya membunuh ratu saja jika kerajaan Hora kalah saat bertempur dengan kerajaan Khronos karena ia tidak ingin tubuh isterinya menjadi santapan hewan-hewan buas peliharaan raja Khronos.

        "Tolong jaga ratuku, kau adalah satu-satunya wanita di kerajaan ini yang dapat kuandalkan untuk menjaga ratu. Jadi, kumohon lakukan yang terbaik untuk mempertahankan ratu dan martabat kerajaan."

        "Baik raja. Terimakasih banyak atas semua kabaikan anda selama ini." ucap Calistha pelan disertai dengan suara isakan yang menyayat hati. Raja kemudian mengangguk dan menepuk pundak Calistha pelan untuk menenangkan wanita itu.

        "Sampai jumpa."

        Kedua pria itu kemudian melangkah pergi dengan perasaan berat yang teris menggelayuti hati mereka.

Namun, sebisa mungkin mereka tidak menengok ke belakang lagi agar hati mereka tidak semakin hancur saat melihat Calistha dan ratu Hora yang sedang menitikan air mata untuk mereka. Saat ini mereka harus berjuang sekuat tenaga untuk membela kehormatan kerajaan dan juga membela seluruh rakyat kerajaan Hora yang berharga. Tak akan mereka biarkan kerajaan Khronos menginjak-injak tanah kelahiran mereka dengan seenaknya. Kali ini mereka akan benar-benar memperjuangkan tanah kelahiran mereka dengan taruhan nyawa dan darah mereka.

        "Sampai jumpa Calistha. Semoga Tuhan akan mempertemukan kita kembali." batin Max sedih sambil menggenggam ujung pedangnya kuat-kuat untuk menghalau perasaan getir yang bersemayam di hatinya yang kelabu.

Episodes
1 Khronos, Kairos, Hora (One)
2 Khronos, Kairos, Hora (Two)
3 The King Of Khronos (Three)
4 The King Of Khronos (Four)
5 The King Of Khronos (Five)
6 The King Of Khronos (Six)
7 Time Freeze (Seven)
8 Time Freeze (Eight)
9 Bloody Sword (Nine)
10 Bloody Sword (Ten)
11 Bloody Sword (Eleven)
12 Time To Recover (Twelve)
13 Time To Recover (Thirteen)
14 Time To Recover (Fourteen)
15 Time To Recover (Fifteen)
16 The Lost Queen (Sixteen)
17 The Lost Queen (Seventeen)
18 The Lost Queen (Eighteen)
19 Haste Makes Waste (Nineteen)
20 Haste Makes Waste (Twenty)
21 Haste Makes Waste (Twenty One)
22 Hold The Torch (Twenty Two)
23 Hold The Torch (Twenty Three)
24 Hold The Torch (Twenty Four)
25 Pain In The Ass (Twenty Five)
26 Pin In The Ass (Twenty Six)
27 Pain In The Ass (Twenty Seven)
28 Pain In The Ass (Twenty Eight)
29 Evil Shadow (Twenty Nine)
30 The Evil Shadow (Thirty)
31 The Evil Shadow (Thirty One)
32 Stay Beside Me (Thirty Two)
33 Stay Beside Me (Thirty Three)
34 Stay Beside Me (Thirty Four)
35 Stay Beside Me (Thirty Five)
36 Blooming Flower (Thirty Six)
37 Blooming Flower (Thirty Seven)
38 Blooming Flower (Thirty Eight)
39 Red Heart (Thirty Nine)
40 Red Heart (Fourty)
41 Red Heart (Fourty One)
42 Time That We Used (Fourty Two)
43 Time That We Used (Fourty Three)
44 Time That We Used (Fourty Four)
45 Time That We Used (Fourty Five)
46 Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47 Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48 Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49 Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50 Still Stuck In That Time (Fifthy)
51 Still Stuck In That Time (Fifty One)
52 My Mysterious One (Fifty Two)
53 My Mysterious One (Fifty Three)
54 My Mysterious One (Fifty Four)
55 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58 Have A Blast (Fifty Eight)
59 Have A Blast (Fifty Nine)
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Khronos, Kairos, Hora (One)
2
Khronos, Kairos, Hora (Two)
3
The King Of Khronos (Three)
4
The King Of Khronos (Four)
5
The King Of Khronos (Five)
6
The King Of Khronos (Six)
7
Time Freeze (Seven)
8
Time Freeze (Eight)
9
Bloody Sword (Nine)
10
Bloody Sword (Ten)
11
Bloody Sword (Eleven)
12
Time To Recover (Twelve)
13
Time To Recover (Thirteen)
14
Time To Recover (Fourteen)
15
Time To Recover (Fifteen)
16
The Lost Queen (Sixteen)
17
The Lost Queen (Seventeen)
18
The Lost Queen (Eighteen)
19
Haste Makes Waste (Nineteen)
20
Haste Makes Waste (Twenty)
21
Haste Makes Waste (Twenty One)
22
Hold The Torch (Twenty Two)
23
Hold The Torch (Twenty Three)
24
Hold The Torch (Twenty Four)
25
Pain In The Ass (Twenty Five)
26
Pin In The Ass (Twenty Six)
27
Pain In The Ass (Twenty Seven)
28
Pain In The Ass (Twenty Eight)
29
Evil Shadow (Twenty Nine)
30
The Evil Shadow (Thirty)
31
The Evil Shadow (Thirty One)
32
Stay Beside Me (Thirty Two)
33
Stay Beside Me (Thirty Three)
34
Stay Beside Me (Thirty Four)
35
Stay Beside Me (Thirty Five)
36
Blooming Flower (Thirty Six)
37
Blooming Flower (Thirty Seven)
38
Blooming Flower (Thirty Eight)
39
Red Heart (Thirty Nine)
40
Red Heart (Fourty)
41
Red Heart (Fourty One)
42
Time That We Used (Fourty Two)
43
Time That We Used (Fourty Three)
44
Time That We Used (Fourty Four)
45
Time That We Used (Fourty Five)
46
Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47
Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48
Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49
Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50
Still Stuck In That Time (Fifthy)
51
Still Stuck In That Time (Fifty One)
52
My Mysterious One (Fifty Two)
53
My Mysterious One (Fifty Three)
54
My Mysterious One (Fifty Four)
55
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58
Have A Blast (Fifty Eight)
59
Have A Blast (Fifty Nine)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!