Aiden terus memacu laju kudanya dengan kencang tanpa peduli pada semak-semak dan ranting-ranting pohon
yang sedari tadi menghadang jalannya dengan brutal. Tebasan demi tebasan pedang ia arahkan untuk menyingkirkan segala pengganggu yang mencoba untuk menghalangi jalannya.
Tak berapa lama, Aiden telah tiba di gerbang utama menuju ke kerajaan Bibury. Mendengar suara derap langkah kuda yang mendekat, para penjaga itu langsung bersiap untuk menyambut sang tamu yang baru saja datang.
"Berhenti, anda tidak diijinkan untuk masuk sebelum melewati pemeriksaan dari kami." ucap salah satu penjaga itu tegas dan angkuh di hadapan Aiden. Raja kejam itu menyeringai sinis dari atas kudanya sambil menebas setiap penjaga yang berani menghadang jalannya. Kemudian setelah semua penjaga itu tewas dan tak berdaya di bawah kakinya, Aiden segera mendorong pintu besar itu dengan seluruh tenaganya agar ia dapat masuk ke dalam istana milik raja brengsek itu. Sejak tadi Calistha terus berteriak-teriak menyebut namanya, hingga rasanya kepalanya menjadi pening dan akan pecah karena mengkhawatirkan wanita itu. Berbagai macam
bayangan mengenai Calistha yang sedang digerayangi oleh raja keparat itu terus muncul di kepalanya, hingga rasanya seluruh darahnya kini mendidih. Ia benar-benar tidak akan membiarkan raja itu hidup. Ia bersumpah akan memenggal kepala raja keparat itu dan kemudian ia akan menggantung tubuhnya di alun-alun desa agar semua penduduknya tahu, jika sang raja yang mereka agung-agungkan selama ini adalah seorang pria keparat yang suka melecehkan wanita.
"Berhenti!"
Lagi-lagi seorang prajurit penjaga istana Bibury menghentikan laju kudanya. Namun, tanpa pikir panjang, Aiden langsung melibas penjaga itu dan memenggal kepalanya di tempat dengan penuh kebengisan. Hari ini jiwa haus akan darahnya sedang bergolak di dalam tubuhnya. Maka, ia tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh semua orang yang berani-beraninya mengganggu jalannya.
Setelah tiba di halaman istana, Aiden segera melompat turun dari kudanya dan berjalan terburu-buru ke dalam untuk mencari ratunya yang sedang dalam bahaya. Para prajurit yang melihat kedatangannya segera bersiap untuk melawannya dengan pedang perak yang mereka genggam di tangan masing-masing.
"Minggir kalian semua, aku ke sini ingin mencari raja kalian yang brengsek itu. Jika kalian tidak menghalangiku, maka aku tidak akan memenggal kepala kalian, tapi jika kalian memang ingin menantangku, maka aku terpaksa akan memenggal kepala kalian satu persatu." teriak Aiden pada prajurit-prajurit itu sebelum ia
menerjang masuk. Namun sepertinya prajurit itu lebih memilih untuk mati daripada menyerah. Lima orang prajurit dengan wajah garang segera maju ke depan untuk menghalangi Aiden. Dan akhirnya perkelahian dengan jumlah yang tak imbang itu terjadi. Kelima prajurit kerajaan Bibury tampak tersenyum menang karena mereka merasa unggul dalam hal jumlah, sedangkan Aiden hanya menatap mereka sinis sambil tertawa dalam hati, menertawakan kecongkakan mereka yang mengira jika perkelahian ini akan dimenangkan oleh mereka. Tanpa gentar, Aiden langsung menyerang salah satu prajurit yang berada paling dekat dengannya. Ia mengarahkan mata pedangnya pada perut prajurit itu, dan ia berhasil melukainya hingga prajurit itu tersungkur ke lantai. Kemudian ketika dua orang prajurit tampak mencoba untuk memukul wajahnya, Aiden langsung menghindar dan ia dengan sekuat tenaga membalas pukulan prajurit itu dengan tendangan keras yang diarahkan pada wajah salah satu prajurit itu.
Srak
Prang
Pedang beserta prajurit itu terlempar beberapa meter dari tempat Aiden berdiri setelah ia menerima tendangan cukup keras yang diberikan oleh pria haus darah itu.
"Berani kalian maju, aku akan langsung mematahkan leher kalian satu persatu." geram Aiden marah ketika ia melihat ketiga prajurit yang tersisa sedang memasang kuda-kuda mereka untuk menyerangnya.
Cras
Bruk
"Arghh."
Prajurit itu mengerang tertahan ketika ia merasakan cairan merah pekat yang berbau anyir mulai mengalir dari punggungnya yang terluka. Merasa geram, akhirnya kedua prajurit yang tersisa mencoba melakukan berbagai macam cara untuk menumbangkan Aiden, sekaligus untuk mebalas serangan Aiden pada ketiga temannya yang sudah tumbang dan mati.
"Siapa kau sebenarnya? Untuk apa kau datang ke kerajaan Bibury dan mengacau di kerajaan kami." ucap prajurit itu lantang sambil tetap menatap waspada pada Aiden.
"Kalian tidak perlu mengenalku, karena aku berani bertaruh, jika kalian sudah mengenalku, maka kalian tidak akan mungkin menantangku seperti ini." jawab Aiden tenang.
"Aku ke sini hanya untuk mengambil Calistha, putri kerajaan Kairos yang telah kabur dari kerajaanku, jadi kuperintahkan kalian untuk segera pergi dari jalanku, atau aku akan memenggal kepala kalian semua, sama seperti ketiga teman kalian yang sudah tak berdaya itu." geram Aiden murka. Kedua prajurit itu rupanya cukup memiliki nyali untuk melawannya, sehingga mau tidak mau Aiden harus membalas dan menangkis setiap serangan yang mereka arahkan kepadanya dengan cepat.
Sring
Srak
Aiden berhasil menghalau serangan dari salah satu prajurit itu dan membuat pedang yang sedang digenggam oleh prajurit itu terlempar jauh. Mengetahui jika lawannya sudah tak berdaya, Aiden segera memanfaatkan kesempatan itu untuk memenggal kepala prajurit sombong itu. Tapi tanpa diduga, salah satu prajurit yang mengalami luka parah di punggung berhasil berdiri dan memungut pedang milik rekannya yang terlempar tadi. Dan tanpa disadari oleh Aiden, prajurit itu berhasil mendekat ke arahnya dan mengayunkan pedang itu tepat di lengan kirinya.
Cras
Darah segar merembes keluar dari lengan Aiden, menciptakan tetesan demi tetesan darah yang jatuh mengotori lantai marmer yang dipijaknya. Tapi kemenangan prajurit itu tidak berlangsung lama, karena sedetik kemudian Aiden segera membalas merek dengan mengarahkan mata pedangnya secara cepat pada kepala dan perut mereka, hingga mereka langsung tegeletak begitu saja di atas lantai dalam keadaan tak bernyawa. Aiden kemudian mengumpat keras dan menginjak tubuh prajurit itu dengan marah sambil menahan rasa perih yang menjalar disepanjang lengan kirinya.
"Argh, dasar prajurit sialan." maki Aiden geram. Ia kemudian lebih memilih untuk melupakan rasa sakit di lengannya sejenak dan bergegas untuk mencari Calistha di dalam istana Bibury.
Aiden terus melangkah ke dalam sambil mengandalkan instingnya untuk mencari Calistha. Ketika ia melewati sebuah persimpangan, Aiden samar-samar mendengar suara berang-barang yang sedang dibanting dengan keras. Ia kemudian berlari mengikuti arah suara itu untuk menemuka Calistha karena ia sangat yakin jika suara itu pasti berasal dari perbuatan bar-bar Calistha yang sering wanita itu lakukan padanya juga selama ini.
"Pergi, jangan mendekat atau aku akan menusukmu dengan pecahan kaca ini."
Calistha berteriak kencang pada Andrew sambil mengarahkan potongan kaca yang terlihat cukup runcing ke arah pria tampan yang saat ini sedang mencoba untuk mendekatinya. Dengan gerakan cepat, Andrew berhasil menjatuhkan potongan kaca itu dari tangan Calistha, dan pria itu cepat-cepat mengunci tubuh Calistha dengan tubuhnya yang tegap.
"Cukup main-mainnya sayangku, sekarang adalah saatnya untuk melayaniku di ranjang." geram Andrew gusar. Pria itu langsung menyeret Calistha dengan kasar ke arah ranjang dan melemparkan wanita itu begitu saja di sana. Dan ketika pria itu sudah bersiap untuk menindih tubuh Calistha, kilatan pedang emas yang entah darimana datangnya langsung menebas leher Andrew hingga cipratan darah pria itu langsung mengotori wajah Calistha yang berada tepat di bawahnya. Dengan jijik dan ngeri, Calistha langsung menyingkirkan tubuh pria itu dari atas tubuhnya untuk melihat siapa yang telah menyelamatkannya dari raja brengsek itu.
"Kau, kenapa kau bisa berada di sini?" Satu kalimat itu berhasil lolos dari bibir Calistha dengan tak tahu malunya. Padahal jelas-jelas jika wanita itu sejak tadi terus meneriakan nama Aiden di dalam kepalanya untuk meminta bantuan pada pria itu, tapi ketika Aiden telah datang dan menolongnya, wanita itu justru berteriak dengan tidak sopan sambil menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya yang lentik.
"Ya, terimakasih juga atas sambutanmu." ucap Aiden dingin sambil menyelipkan pedangnya di pinggang. Calistha kemudian segera bangkit dari atas ranjangnya dan bersiap untuk memakai gaun yang lebih pantas. Jujur, ia merasa malu pada pria itu karena saat ini ia sedang menggunakan sebuah gaun tipis yang begitu transparan dan memamerkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Selain itu, ia juga ingin membersihkan tubuhnya dari cipratan darah milik Andrew yang saat ini terasa begitu menjijikan dan membuat seluruh tubuhnya berbau anyir seperti telur busuk.
"Mau kemana kau?"
Calistha berhenti di tempat sambil menatap tajam pada Aiden. Meskipun pria itu memang telah menyelamatkannya dari raja busuk itu, tapi jangan harap ia akan mengucapkan terimakasih pada raja kejam itu, karena mereka berdua sebenarnya sama saja bagi Calistha.
"Membersihkan diri." jawab Calistha datar. Sungguh saat ini Aiden sedang menahan geram pada wanita itu, karena sikap wanita itu yang sangat menjengkelkan dan tak tahu terimakasih. Tapi ia kemudian memutuskan untuk diam karena ia sedang lelah untuk berdebat dengan Calistha. Apalagi lengannya saat ini sedang terluka, ia harus menghemat tenaganya untuk membawa Calistha pergi dari kerajaan ini, karena saat fajar nanti pasukannya akan segera menyerang kerajaan tak berguna ini dan memporak-porandakannya. Itu berarti ia akan kembali berhadapan dengan prajurit kerajaan Bibury sebelum ia benar-benar keluar dari kerajaan ini.
"Cepatlah, kita harus segera pergi dari kerajaan ini." perintah Aiden datar. Pria itu hendak berjalan menuju sofa yang berada di sudut ruangan, namun pergerakannya langsung terhenti ketika Calistha tiba-tiba menahan lengan kanannya dan menggunakan tangannya yang bebas untuk menyentuh lengan kirinya yang terluka.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau terluka?" tanya Calistha gusar.
"Untuk apa aku mengatakannya padamu jika pada akhirnya kau juga tidak akan mempedulikannya. Lebih baik kau segera membersihkan dirimu, karena kita tidak memiliki banyak waktu lagi." peringat Aiden sambil melepaskan cekalan tangan mungil itu dari lengannya. Namun, Calistha tetap bersikeras untuk mempertahankan tangannya di lengan pria itu. Dan dengan sedikit memaksa, Calistha langsung mendorong tubuh pria itu menuju sofa agar ia dapat mengobati luka sayatan yang sudah terlihat setengah mengering itu di lengan Aiden.
"Aku akan mengobatinya, jadi tunggu di sini dan aku akan mencari sesuatu untuk menutup luka sayatan ini." ucap Calistha tegas dan mencoba untuk mengacuhkan tatapan tajam Aiden yang tampak sedang menelisiknya.
"Aku tidak dapat menemukan obat atau perban yang bisa digunakan untuk membebat lukamu, jadi..."
Srekk
Calistha menyobek ujung gaunnya untuk dijadikan sebagai perban bagi luka sayatan Aiden yang tampak
menganga di lengannya. Wanita itu melambai-lambaikan kain putih itu di depan wajah Aiden sambil tersenyum malu karena ia tidak berhasil menemukan sesuatu yang layak untuk pria itu.
"Apa kau tidak
keberatan jika aku menggunakan ini?" tanya Calistha sambil mendudukan dirinya di sebelah Aiden. Aiden tampak menggeleng pelan pada wanita itu sambil terus memperhatikan raut wajah Calistha yang tampak berubah-ubah di depannya. Dengan perlahan, Calistha mulai menyentuh luka sayatan yang sedikit menghitam itu dan mencoba mengusapnya sedikit demi sedikit dengan kain basah yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
"Apa ini sakit?" tanya Calistha sedikit ngeri dengan luka itu. Aiden hanya mengangkat alisnya sekilas di depan Calistha karena menurutnya Calistha terlalu berlebihan dengan lukanya yang ringan itu.
"Luka ini bukan apa-apa. Bahkan, jika kau tidak mengobatinya pun, aku tetap akan baik-baik saja." jawab Aiden santai. Selama Calistha sedang membersihkan sisa-sisa darah yang mengering di lengannya, pria itu tampak tidak kesakitan sama sekali. Ia justru sedang sibuk menatap wajah Calistha yang tidak biasanya tampak begitu tenang di dekatnya.
"Kenapa kau bisa datang ke sini?"
"Kenapa memangnya? Bukankah kau yang memanggilku ke sini?"
Aiden tersenyum mengejek di hadapan Calistha ketika ia mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu. Aiden kemudian mengangkat tangannya tepat di depan wajah Calistha, dan dengan gerakan yang sangat lembut ia langsung menarik dagu Calistha agar menghadap ke arahnya.
"Apakah sesulit itu untuk mengakui semuanya?" tanya Aiden menggoda. Dalam hati Aiden ingin tertawa terbahak-bahak, menertawakan ekspresi wajah Calistha yang tampak bodoh itu. Tapi sedetik kemudian Calistha langsung memasang wajah garangnya di depan Aiden sambil menyentak tangan kekar itu dari dagunya.
"Lepaskan tanganmu dari daguku, kau pasti sedang mencari kesempatan untuk menyentuhku bukan?" tuduh Calistha sengit. Aiden akhirnya tertawa terbahak-bahak di depan Calistha setelah melihat reaksi wanita itu yang sangat tidak terduga.
"Kenapa tertawa? Apakah wajahku terlihat seperti badut?" dengus Calistha sebal. Wanita itu dengan sengaja menekan-nekan luka di lengan Aiden dengan sedikit keras, hingga refleks Aiden langsung menjauhkan lengannya dari tangan Calistha yang sangat mengerikan itu.
"Kau ingin membuat lukaku menjadi semakin parah?" amuk Aiden pada Calistha. Sedangkan Calistha tampak tidak peduli, dan justru menunjukan wajah tanpa dosanya yang berhasil membuat Aiden semakin geram.
"Bukankah luka itu bukan masalah besar untukmu? Huh, ternyata kau payah. Padahal aku tidak menekannya dengan keras." cibir Calistha mengejek.
"Kenapa diam? Kau merasa tersinggung?" tanya Calistha lagi. Sungguh wanita itu sangat menyebalkan, dan Aiden sangat ingin menyumpal bibir tipis itu dengan bibirnya agar ia tidak terus berbicara dengan cerewet.
"Apa kau masih ingin mengobati lukaku? Jika tidak, lebih baik kau segera bersiap, karena sebentar lagi matahari akan segera terbit." ucap Aiden datar sambil memandang jendela kamar Calistha yang menampilkan pemandangan langit pagi yang masih sedikit gelap. Namun, samar-samar Aiden dapat melihat adanya semburat orange kuning dari sang cakrawala yang hampir menampakan diri ke bumi.
"Berikan lenganmu. Aku hanya tinggal membebatnya dengan kain, jadi ini tidak akan lama." Dengan cekatan,
Calistha mulai melilitkan kain putih itu pada lengan Aiden yang sudah lebih bersih dari sebelumnya. Dan setelah selesai membebat luka itu, Calistha langsung tersenyum bangga di depan Aiden sambil memandangi hasil bebatannya dengan takjub.
"Ternyata aku cukup berbakat untuk mengobati seseorang." gumam Calistha sombong pada dirinya sendiri. Setelah itu ia segera bangkit berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang sudah kotor dengan cipratan darah milik Andrew.
Sementara Calistha sedang mengganti pakaiannya di kamar mandi, Aiden justru sibuk dengan hatinya. Hari ini perasaanya benar-benar kacau dan berubah-ubah tanpa bisa ia mengerti. Saat diperjalanan menuju kerajaan Bibury, perasaanya terasa terbakar dan jantungnya juga berdegup dengan kencang setiap ia melihat kilasan-kilasan gambar Calistha yang hampir dilecehkan oleh pria keparat itu. Dan saat Calistha mengobati lengannya, hatinya yang semula dingin tiba-tiba berubah menghangat. Wanita itu dengan caranya mampu meredam setiap gejolak emosi yang dirasakannya. Mungkinkah ini yang dimaksudkan oleh ramalan itu?
"Aku sudah selesai mengganti bajuku, apa kita akan pergi sekarang?" tanya Calistha tiba-tiba. Kini wanita itu telah menggunakan gaun merah yang lebih bersih dan rapi. Dengan wajah cemas, Calistha mulai mendekati Aiden sambil meremas kedua tangannya gugup.
"Katakanlah, tidak perlu meremas-remas kedua tanganmu seperti itu." ucap Aiden datar. Calistha kemudian menghebuskan napasnya pelan sambil menatap Aiden dengan intens.
"Apa... apa kau bermimpi kemarin malam?" tanya Calistha sedikit terbata-bata. Ia kemudian teringat akan mimpinya, atau lebih tepatnya mimpi wanita itu yang sedang bersandar di atas bahu Max di sebuah padang bunga Daisy yang indah. Dan kemudian ia hampir saja bercinta dengan wanita cantik itu, sebelum akal sehatnya kembali mengambil alih dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk melakukan hal itu pada Calistha.
"Bermimpi? Apakah yang kau maksud mengenai mimpi di sebuah padang bunga daisy, dan kemudian kita
melakukan ciuman..."
"Stop! Berhentilah, dan jangan kau teruskan lagi. Cukup, sekarang aku sudah mengetahui semua keanehan ini dan jawabanmu itu sudah cukup untuk menjawab semua rasa penasaranku." potong Calistha dengan wajah merah padam. Sungguh ia sangat malu dan tidak ingin mengingat semua mimpi itu. Ia lebih memilih untuk menganggap mimpi itu sebagai mimpi buruk belaka. Tapi, ketika ia berpikir demikian, hatinya justru menolak dengan keras. Ia tidak bisa mengaggap mimpi itu sebagai mimpi buruk belaka! Mimpi buruk itu terlalu manis untuk dianggap sebagai mimpi buruk.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Emm, tidak apa-apa. Ayo kita pergi sekarang, aku akan segera membangunkan Max dan Gazelle terlebihdahulu." ucap Calistha terbata-bata. Ia hampir saja berjalan pergi meninggalkan Aiden, sebelum lengan kekar itu menariknya dan mendudukannya tepat di atas pahanya yang keras.
"Kenapa kau terburu-buru sekali sayang, apa kau tidak ingin meraskannya lagi?" goda Aiden dengan wajah sensual. Sedangkan Calistha sudah terlihat panik sambil meronta-ronta untuk melepaskan diri. Sekarang ia menjadi takut jika Aiden tiba-tiba melakukan kontak dengan tubuhnya seperti ini, karena reaksi tubuhnya benar-benar diluar akal sehatnya. Jika Aiden sudah mulai bermain-main dengan pesonanya yang mematikan itu, maka ia akan seperti sebuah magnet yang dengan mudahnya akan langsung tertarik oleh pesona yang dimiliki oleh pria itu.
"Lepaskan! Aku sedang tidak ingin bermain-main atau memenuhi nafsu binatangmu itu, jadi lebih
baik lepaskan aku sekarang karena aku ingin membangunkan Gazelle dan Max." ucap Calistha tegas. Aiden tampak tidak suka ketika Calistha mulai membawa dua orang tidak penting itu ke dalam pembicaraan mereka karena semua kekacauan hari ini tak ubahnya adalah ulah mereka berdua. Sayangnya Calistha memang terlalu
baik pada dua makhluk sialan itu, sehingga ia sama sekali tidak berpikir jika kejadian yang menimpanya hari ini adalah kesalahan mereka. Dan wanita itu justru sama sekali tidak menunjukan rasa terimakasih padanya, padahal ia sudah menyelematkan wanita itu dari si brengsek Andrew. Yah, meskipun wanita itu sudah menunjukan etikad baik dengan mengobati lengannya, tapi itu belum cukup! Ia menginginkan sesuatu yang lebih tulus dan bermakna.
"Tinggalkan saja mereka disini. Semua ini adalah salah mereka. Bukankah sudah kukatakan padamu
jika mereka hanyalah pembawa petaka bagimu, kenapa kau sama sekali tidak mendengarkanku?" tanya Aiden geram. Calistha mengerutkan dahinya kesal pada Aiden. Dengan terang-terangan Calistha berani menatap manik legam itu dengan pandangan menantang, bahkan ia sudah tidak berniat untuk pergi dari pangkuan Aiden, ia sekarang lebih terfokus pada nama baik sahabat-sahabatnya yang sudah dihina oleh Aiden. Karena bagaimanapun juga, Gazelle dan Max adalah sahabat sekaligus keluarganya. Dan Calistha tidak mungkin akan memusuhi keluarganya sendiri, meskipun perlakukan mereka sangat buruk padanya.
"Dasar licik! Mereka adalah keluargaku, aku tidak akan mungkin meninggalkan mereka. Jika kau ingin pergi, maka pergilah! Aku akan pergi bersama mereka!" ucap Calistha lantang dan penuh kemarahan. Sekuat tenaga ia menghentakan tangan Aiden yang berada di sekitar pinggangnya, tapi Aiden dengan tenaga yang lebih besar sudah mengantisipasinya dengan mengeratkan cengkeraman itu di pinggangnya hingga menciptakan rasa terhimpit yang cukup menyakitkan.
"Bisakah sekali saja kau mendengarkan kata-kataku? Dan juga, seharusnya kau menunjukan rasa terimakasihmu padaku karena aku telah menyelamatkanmu dari raja brengsek itu. Apa jadinya jika aku tidak datang untuk memenggal kepala si brengsek itu, kau pasti sudah menjadi salah satu wanita jalangnya!"
Plak
Satu tamparan berhasil lolos dari tangan Calistha, dan tepat mengenai pipi kanan Aiden. Pria itu, meskipun cukup terkejut, tapi ia berhasil mengendalikan dirinya dengan hanya bersikap datar di hadapan Calistha sambil mencengkeram pinggang wanita itu dengan lebih erat. Ia marah. Ia merasa terhina. Dan untuk pertama kalinya perasaanya merasa terluka. Ia terluka karena perlakukan wanita itu padanya. Pantaskah wanita itu menamparnya setelah apa yang ia lakukan untuk wanita itu?
"Tidak tahu diri! Wanita sialan." umpat Aiden dalam hati. Sementara itu Calistha masih menatap tajam pada Aiden sambil mencengkeram kerah jubah kebesaran pria itu. Hatinya merasa sakit karena ucapan pria itu yang sangat menohok hatinya. Apakah selama ini ia tidak pernah diajari untuk menghargai wanita? Pantas saja jika Gazelle begitu membenci pria ini, karena ia pun juga sangat membenci sikap pria itu yang semena-mena dan tak memiliki perasaan dengan wajah dingin sedingin salju.
"Kau menamparku?" desis Aiden akhirnya setelah cukup lama mereka saling terdiam untuk memikirkan tindakan selanjutnya yang akan mereka lakukan. Calistha tampak tak gentar ketika iris pekat itu mulai menatapnya dengan begitu tajam. Bahkan jika pria itu akan menghunuskan pedanya tepat ke arah nadinya, ia tidak akan takut, karena harga dirinya saat ini sedang diinjak-injak oleh pria itu. Dan sudah menjadi kewajibannya untuk mempertahankannya.
"Ya, dan itu
memang pantas kau dapatkan karena kau sudah menghinaku. Kau boleh saja menghancurkan semua hal yang kumiliki di dunia ini, tapi tidak dengan harga diriku! Kau tidak berhak menginjak-injak harga diriku dengan seluruh kekuasaanmu dan keangkuhanmu yang memuakan itu." balas Calistha tegas. Aiden tersenyum miring di depan Calistha. Sejujurnya ia sama sekali tidak menyesal telah mengatakan wanita itu ******, karena ia sendiri sudah merasa gusar dengan sikap Calistha yang pembangkang dan selalu mengaggung-agungkan kedua manusia tak berguna itu.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Aiden sebagai bentuk protes dari hatinya karena ia tidak pernah mendapatkan perlakuan yang adil dari Calistha. Namun, wanita itu nyatanya tidak menyadari adanya sebuah nada getir yang tersirat dari kalimat itu.
"Aku ingin kau mati. Aku ingin terbebas darimu dan semua keanehan yang kurasakan setelah kau masuk ke dalam hidupku. Aku muak hidup seperti ini, dan aku menginginkan kehidupan normalku kembali!"
Aiden semakin mengencangkan cengkeramannya pada pinggang Calistha, dan setelah itu ia langsung ******* bibir Calistha dengan kasar hingga Calistha merasa sakit karena bibirnya seperti dirobek paksa oleh Aiden. Tapi meskipun Calistha terus meronta-ronta di dalam cekalannya, Aiden tidak peduli. Saat ini ia sedang marah, dan ia ingin wanita tak tahu diri itu merasakan kemarahannya yang terasa begitu bergejolak di dalam dirinya.
"Sayangnya keinginanmu itu tidak akan pernah tercapai. Aku dan kau, kita tidak akan pernah mati dengan mudah." bisik Aiden parau sebelum ia kembali ******* bibir merah yang tampak bengkak itu. Calistha bergumam marah di sela-sela ciumannya karena lagi-lagi ia tak berdaya di bawah kuasa Aiden. Akal sehatnya menolak ini
semua, namun tubuhnya justru tergerak untuk membalas setiap ciuman dan sentuhan yang diberikan oleh Aiden. Bahkan kedua tangannya justru semakin erat mencengkeram kerah baju kebesaran Aiden agar pria itu semakin memperdalam ciumannya. Jika seperti ini, dengan berat hati ia akan mengakui, jika semua yang dikatakan oleh Aiden tentangnya memang benar. Ia adalah wanita ******, wanita ****** yang terlalu munafik dan terlalu memandang tinggi pada harga dirinya yang sudah terlanjur jatuh pada pesona seorang raja Aiden.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments