Sebuah kecelakaan besar membuat hidup Ajeng berubah total. Karena sebuah balas budi dan intrik dari keluarga Demian dan Mahesa dia harus menikah dengan Raka, laki-laki yang diselamatkannya dengan seorang anak kecil.
Ajeng harus terjebak dalam konflik keluarga kaya. Kehadiran Ajeng membuatnya harus menjadi seorang mama untuk anak kecil yang dia selamatkan.
Apakah Ajeng bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi Mama anak itu. Atau dia justru terperangkap masalah dan konflik keluarga kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Theglang Town, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil Mama
Ajeng pertama kali nya ikut makan malam di rumah Raka. Dia melihat gadis berseragam yang dia lihat tadi siang nampak duduk di sebelah Raka. Mereka makan malam hanya berlima. Ibu Rika, Raka, gadis itu yang belum dia tahu namanya, Gea, dan dirinya. Dia tidak melihat anggota keluarga yang lain. Ajeng mau menanyakan perihal itu namun rasa sopannya lebih kuat daripada rasa kepo nya.
"Kamu makan yang banyak ya Jeng!" seru Ibu Rika pada Ajeng.
"Iya bu, aku mau suapin Gea dulu, nanti kalau Gea sudah kenyang, aku akan makan," jawab Ajeng.
"Sekarang panggil mama saja, jangan ibu, mulai sekarang kamu harus bisa membiasakan memanggil mama!" kata Bu Rika.
Ajeng hanya tersipu dan sedikit kurang nyaman. Apalagi dia sempat melihat raut muka masam gadis itu. Terlihat sekali kalau dia memang tidak suka dengan keberadaan Ajeng di rumah ini.
"Carla, ayo dong kamu dari tadi cuman ngaduk-ngaduk nasi doang, makan!" kata Bu Rika.
"Carla nggak napsu makan, Carla mau ke kamar saja," jawab Carla memundurkan kursinya ke belakang lalu beranjak meninggalkan meja makan sambil mendengus kesal. Ibu Rika dan Raka hanya bengong melihat sikap putrinya itu.
"Aduuh maafin sikap Carla yang kurang sopan." Bu Rika memohon maklum pada Ajeng.
'Tidak apa-apa kok Bu, eh Mah," jawab Ajeng sungkan memanggilnya mama. Raka dengan suara khas nya itu pun kembali tertawa. Ajeng melihat wajah Raka yang menatap lucu ke arahnya. Buat dia kesal, tapi Ajeng mengakui kalau Raka sangat tampan meskipun tertawa seperti itu.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Ajeng heran.
"Habisnya kamu lucu," jawab Raka sambil mendelikkan matanya.
"Apanya sih yang lucu, Mah apa Raka tipe orangnya gampang tertawa ya?" tanya Ajeng pada Bu Rika.
'Cieeeee, panggil mamah," goda Raka membuat wajah Ajeng merah karena malu diledek.
'Raka, sudah sih jangan bikin Ajeng malu dong, sudah bagus dia cepat tanggap manggil mamaa," sewot Bu Rika.
'Waduuuh, aroma-aromanya nih rumah ini bakal ada menantu kesayangan," goda Raka kembali membuat Ajeng jadi salah tingkah.
'Sudah-sudah Raka, kasihan Ajeng jadi malu gara-gara kamu godain terus." Bu Rika melihat Ajeng menjadi salah tingkah gara-gara Raka.
"Iya mamah," jawab Raka kemudian kembali menyendok nasi dengan sayur dan melahapnya sambil matanya tetap menatap memperhatikan Ajeng yang sedang menyuapi Gea makan.
"Setelah makan, kamu ke kamar mama ya!" pesan Ibu Rika pada Ajeng.
Ajeng terdiam mendengarnya. Dia merasa canggung kalau ke kamar Bu Rika.
"Tidak bisa, Ajeng ada urusan sama aku ma!" sahut Raka membuat mamanya melirik dengan tatapan ingin tahu.
"Ah mamah, Ajeng harus bantu aku latihan jalan," jawab Raka.
"Besok saja, ini sudah malam." Ajeng malah menolak membuat Raka jadi kecewa.
"Iya, itu betul, besok pagi-pagi saja kamu latihan jalan kakinya!" ujar Bu Rika.
"Tapi besok sepertinya saya harus masuk kerja lagi Ma, sudah lama aku cuti semenjak kecelakaan kemarin," sambung Ajeng membuat Raka tambah kecewa.
"Oh begitu, jadi kamu mau mengajar di TK lagi?" tanya Bu Rika.
"Iya Ma, sambil ajak Gea saja. Sepertinya umur Gea sudah 4 tahun, sambil kerja Gea juga dapat sekolah di tempat aku mengajar," ucap Ajeng.
"Hmm, boleh juga itu. Baiklah besok nanti kamu diantar Pak Udin ke sekolah bareng Carla."
Raka mendengar itu hanya mengerucutkan bibirnya. Dia akan merasa bosan di kala dia masih belum bisa kemana-mana. Tadinya dia berharap dengan hadirnya Gea dan Ajeng bisa sedikit menghilangkan rasa bosannya di rumah.
'Aku boleh ikut nggak ya ke TK?" tanya Raka.
"Apa, kamu mau ikut kelas TK lagi?" tanya Ajeng.
"Jiiiaa, bukanlah. Aku bosan di rumah. Anggap saja mengantar anak ke sekolah. Di TK kan pasti banyak orangtua yang mengantar anaknya," ucap Raka.
"Nggak, nggak boleh." Ajeng langsung menolaknya.
'Kenapa?" tanya Raka.
"Aku mau kerja dan mengajar, kalau kamu ikut, nanti aku bisa terganggu," jawab Ajeng jujur.
"Janji, aku nggak bakalan ganggu. Aku akan duduk manis saja, please aku ikut!" rengek Raka seperti anak kecil.
"Nanti kalau mau ke toilet bagaimana, nggak- pokoknya tidak boleh!" seru Ajeng keberatan. Ya jelas, nanti Raka bakal nyusahin dirinya di sekolah. Belum sifat jahil dan sifat playboynya itu. Nanti semua ibu-ibu di sana heboh dengan kedatangan Raka. Itu bisa saja membuat sekolah jadi tidak kondusif.
"Ya itu benar Raka, kalau kamu bosan di rumah, kamu bisa suruh Mas Karyo nemenin kamu." Bu Rika mencoba menengahi perdebatan anak manusia itu.
"Yah, sama Mas Karyo lagi, gak seru ah," dumel Raka sambil mengunyah sisa-sisa suapan terakhirnya. Ajeng hanya tersenyum melihat kekesalan Raka itu.
~ ~ ~ ~ ~ ~
Sesuai permintaan Bu Rika tadi. Ajeng kemudian menemui Bu Rika di kamarnya. Dia sudah memakai baju tidurnya dan siap-siap untuk tidur. Kedatangan Ajeng langsung disambut Bu Rika dan memintanya duduk di sebuah kursi sofa yang menghadap sebuah televisi yang berukuran besar.
"Ajeng, ada yang ingin mama sampaikan ke kamu." Ibu Rika kemudian duduk di sebelah Ajeng.
"Apa itu mah?"
"Mama belum menceritakan tentang anggota keluarga ini kan sama kamu?"
"Belum."
"Makanya mama panggil kamu ke sini, mama akan ceritakan."
Ajeng pun siap-siap mendengar semua cerita Bu Rika. Dia juga penasaran seperti apa keluarga yang akan menjadi keluarganya nanti.
Bersambung ya....
Tinggalkan cinta kalian untuk author dengan memberi like,komen, dan vote
mungkin dengan raka jujur di awal ajeng akan mengerti tidak salah paham begini