Harap bijak dalam memilih bacaan⚠️
Area 21++
Nadiyya Anita Putri seorang gadis yatim piatu yang kini hidup bersama ibu tirinya yang bernama Ibu Naya dan adik tirinya yang bernama Natasya Amora Silvia dirumah lantai dua peninggalan ayahnya.
Suatu hari ada seorang Nyonya besar dari keluarga Gonz'alez datang. Keluarga kaya raya dan sangat berkuasa di london - inggris.
Kedatangannya ke kediaman mereka karena ingin melamar seorang gadis untuk menjadikannya sebagai menantunya dan itu artinya dia akan menjadi istri dari putranya - Rahim Aditya Gonz'alez seorang yang berwajah dingin datar namun tampan dan sangat kaya raya.
Lantas siapakah yang dipilih oleh Nyonya besar untuk menjadi menantunya? apakah Natasya Amora Silvia atau kah Nadiyya Anita Putri?.
Dan bagaimana kah cerita perjalanan kisah pernikahan mereka yang tanpa adanya cinta sama sekali?.
Apakah ditengah tengah perjalanan pernikahan mereka nanti akan tumbuh benih-benih cinta? ataukah perceraian menjadi jalan terbaik?.
Yukkk ikuti cerita kisah mereka hanya di My Cold Husband
SLOW UPDATE 🙏🏻
NOVEL PERTAMA, MOHON DUKUNGANNYA ♥️
JANGAN LUPA KLIK FAVORIT ❤️, LIKE👍🏻, TINGGALKAN JEJAK 👣.
Tanpa kalian author bagaikan burung tak bersayap💔.
شكرا جزيلا♥️
Terimakasih banyak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10 - Beb?
Nyonya besar menghela napas nya. Dia mengusap layar ponsel nya dan menghubungi seseorang.
"Kau mau menghubungi siapa kak pagi pagi begini?"
"Diamlah". Dhifya mengangguk dan mendengarkan.
"Drt...drt" bunyi ponsel berdering di samping wastafel. Nita yang sedang mencuci piring bekas sarapan Amora hanya melihat ponsel nya sekilas, tertera nomor tidak dikenal.
"Kenapa tidak di angkat?" tanya Nyonya besar pada Dhifya, namun Dhifya hanya mengangkat bahu nya saja, menandakan dia tidak tahu. "huh...aneh sekali kakak ku ini kenapa bertanya padaku? memang aku ini operator!" sungut Dhifya dalam hati.
Nyonya besar mencoba sekali lagi untuk menghubungi Nita.
"Hemmm nomor yang sama" gumam Nita mengambil ponsel nya setelah selesai mencuci piring. "Apa aku angkat saja? siapa tahu penting bukan?" Nita pun mengangkat ponsel nya.
"Di angkat" ucap Nyonya besar senang.
"Siapa kakak?" tanya Dhifya lagi.
"Kau diamlah"
"Huuh! dasar kakak yang aneh! dari tadi dia berbicara dan bertanya padaku saat aku bertanya pada nya. Dia pasti bilang diamlah-diamlah"
"Hallo" terdengar suara disebrang sana. "Nyalakan speaker nya kak" ucap Dhifya dengan berbisik.
"Hallo dengan siapa ini?" terdengar suara nita yang begitu merdu. Senyum tertarik di ujung bibir Nyonya besar.
"Hallo Na...ini Ibu mertua mu"
"Kenapa kau baru mengangkat ponsel nya?"
"Ibu mertua?" tanya Nita dalam hati.
"Nyo-Nyonya?" tanya Nita terkejut di sebrang sana.
"Untuk apa Nyo-Nyonya menghubungi saya?. Sa-saya tadi sedang mencuci piring, maaf Nyonya."
"Tidak apa-apa Na. Panggil saja aku Ibu" ucap Nyonya besar dengan lembut.
"Ibu" cibir Dhifya tanpa suara. Mendengar Nyonya besar berbicara dengan Nita dengan lembut nya. "kalau berbicara dengan ku dia pasti kasar dan pedas!".
"Na... " panggil Nyonya besar, karena tidak ada suara sahutan dari Nita.
"I-iya. Apa ada yang Nyonya perlukan?"
"Tidak, Ibu hanya ingin memberitahukan pada mu, untuk baju pengantin sudah Ibu pesankan jadi kau tidak akan lelah karena Ibu tidak ingin kau lelah, apa kau mengerti?"
"I-iya Nyonya"
"Nyonya?" Nyonya besar menekan kata 'Nyonya' pada Nita di sebrang sana. Seperti mengatakan kalau dia tidak menyukai nya.
"Iya Ibu" jawab Nita pasrah.
"Baiklah sampai jumpa nanti sayang"
Tut...tut...tut. sambungan ponsel mati.
Nita menghela napasnya dengan sangat berat saat menatap layar ponsel nya yang sudah mati.
"Kenapa kakak bisa berbicara lembut sekali dengannya? tapi tidak dengan ku" gerutu Dhifya.
"Apa maksud mu?" tanya Nyonya besar. "Apa maksud mu mau mengatakan kalau aku ini galak?" Nyonya besar mulai emosi.
"Kakak Nana itu ternyata gadis yang sangat rajin ya" ujar Dhifya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Dia bilang tadi pada kakak bukan kalau dia baru selesai mencuci piring. Aku saja tidak bisa mencuci piring" ucap Dhifya dengan tertawa kaku.
"Karena itulah kau itu memang tidak sebanding dengannya"
"Iya...kau benar kakak. Aku yakin dia tidak hanya rajin saja kakak, tapi baik, sopan dan pasti nya cantik. Dan aku juga yakin kalau Ibu mengetahui nya pasti Ibu dengan senang hati menerima Nana sebagai menantu cucu nya bukan" puji Dhifya panjang lebar dengan senyum nya. Dia merasa sudah bebas dari kemarahan kakak nya. "Ah untung saja aku pintar mengalihkan pembicaraan!" gumam Dhifya dalam hati senang.
"Ya semoga saja Ibu bisa menerima Nana dengan baik" jawab Nyonya besar seraya mengirimkan pesan pada Vans untuk datang ke Mansion sore hari.
Nita berjalan ke kamar nya, menjatuhkan diri nya di atas kasur tanpa ranjang. Dia melihat jam di layar ponsel, masih ada waktu tiga jam lagi sebelum dia pergi ke sekolah.
Mengambil ponsel nya kembali, Nita mengusap layar ponsel nya dan menghubungi seseorang.
Drt...drt bunyi ponsel berdering. Hanya dalam dua kali dering telepon Nita sudah di angkat.
"Bebbb!" suara teriakan di sebrang sana. Membuat Nita menjauh kan ponsel dari telinga nya.
"Bisakah kau itu tidak berteriak? kuping ku ini sakit!"
"Oke-oke beb, apa kau merindukanku?" tanya seseorang di sebrang sana.
"Padahal kita baru bertemu empat hari yang lalu" goda nya pada Nita.
"Diamlah! apa kau tidak lelah selalu saja menggoda ku?." Yang hanya di tanggapi dengan tertawa kecil.
"Apa kita bisa bertemu?" tanya Nita penuh harap.
"Aku tahu kau itu pasti merindukan ku bukan?" goda nya lagi dengan tertawa keras. "Baiklah kita akan bertemu dua jam lagi di caffe pasola, oke beb?
"Oke, Thanks. Muach" satu kecupan jarak jauh dari Nita untuk seseorang di sebrang sana.
Terdengar suara Tut...tut...tut. "Padahal aku belum sempat membalas kecupan mu" gumam seseorang yang baru saja di telepon Nita, sambil menggeleng-gelengkan kepala nya menatap pada layar ponsel yang sudah dimatikan oleh Nita.
.
Jangan lupa dukung aku dengan cara Like, vote, tinggalkan jejak dengan cara komen dan share♥️