NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7 Gedung Wayang Enam

Ancaman Sinta tidak langsung dijawab oleh Puri Timur.

Pagi harinya, gerbang tetap dibuka seperti biasa. Abdi dalem menyapu halaman, Wulan membawa daftar nama dayang yang menyebarkan gosip, dan Anindya duduk di dekat jendela membaca catatan lama keluarganya. Dari luar, Puri Timur tampak tenang.

Namun malamnya, Arjuna meninggalkan keraton lewat pintu samping dengan jubah gelap tanpa lambang Pangeran Mahkota.

Adi ingin ikut, tetapi Arjuna menolaknya.

"Kau tetap di Puri Timur. Jika Anindya bertanya, katakan aku memeriksa laporan Bendahara."

Adi tampak tidak rela. "Yang Mulia pergi ke tempat berbahaya."

"Karena itu kau harus tinggal. Jangan biarkan bahaya lain mendekati Puri Timur."

Adi menunduk, rahangnya mengeras. "Hamba mengerti."

Di luar gerbang kecil, Garuda sudah menunggu bersama dua anggota Pasukan Garuda berpakaian seperti pedagang kain. Mereka bergerak tanpa banyak suara, melewati gang belakang Kota Raja yang malam itu ramai oleh penjual wedang, tukang sate, dan rombongan orang yang baru selesai bekerja.

Semakin dekat ke Pasar Sentosa, suara gamelan terdengar makin jelas.

Di depan sebuah warung jamu yang hampir tutup, Raden Darmawan berdiri seperti pedagang yang sedang menghitung uang malam. Ia tidak memberi hormat. Dalam jalur rahasia, hormat justru bisa membunuh.

"Paman," kata Arjuna pelan saat melewati meja bambu.

Darmawan menyelipkan gulungan kecil ke bawah bungkus daun pisang. "Tiga malam terakhir, orang Puri Baskara memesan ruang belakang. Mereka tidak menonton wayang. Mereka menunggu kiriman."

"Kiriman apa?"

"Yang dicatat sebagai alat gamelan, tapi beratnya seperti logam dan rempah basah."

Arjuna mengambil bungkusan itu tanpa berhenti. "Tetap buka telinga."

"Pasar selalu mendengar, Yang Mulia."

Gedung Wayang Enam berdiri di ujung jalan besar, terang oleh lampu minyak dan lentera merah. Dari depan, bangunan itu tampak seperti tempat hiburan bangsawan biasa. Pendopo luas, ukiran kayu halus, halaman bersih, dan papan nama dengan enam ukiran tokoh wayang yang tersenyum kaku. Para tamu datang dengan kain bagus, beberapa mengenakan penutup kepala untuk menyembunyikan identitas.

Di kehidupan lalu, Arjuna pernah dua kali diundang ke tempat ini. Ia menolak karena menganggapnya hanya kesenangan Baskara. Ternyata di balik kelir wayang, tempat ini menjadi mulut besar yang menelan uang, rahasia, dan nyawa.

"Dalang Surya ada di dalam," bisik Garuda.

"Ia tahu kita datang?"

"Tidak sebagai Yang Mulia."

Arjuna mengangguk. "Bagus."

Mereka masuk sebagai tamu biasa. Seorang penjaga menilai pakaian mereka, lalu menerima keping emas dari Garuda tanpa banyak tanya. Di dalam, aroma minyak kelapa, dupa, dan keringat manusia bercampur. Penonton duduk menghadap kelir putih. Bayangan tokoh wayang bergerak di bawah cahaya lampu, diiringi suara sinden yang melengking halus.

Cerita malam itu tentang seorang pangeran yang kehilangan istrinya karena percaya pada saudara yang salah.

Jari Arjuna menegang di balik lipatan jubah.

Garuda melihat perubahan kecil itu, tetapi tidak bertanya.

Di sisi panggung, Dalang Surya memainkan wayang dengan suara merdu. Pria itu tampak seperti seniman sejati. Rambutnya mulai memutih, tangannya lincah, dan setiap tamu penting ia sambut dengan senyum rendah hati. Namun Arjuna memperhatikan hal lain. Setiap kali seorang pelayan berkain cokelat lewat membawa nampan minuman, Dalang Surya mengetuk kotak kayu di sampingnya sekali atau dua kali. Setelah itu, tamu tertentu akan bangkit dan menghilang ke lorong kiri.

Kode.

"Lorong kiri," gumam Arjuna.

Garuda bergerak lebih dulu.

Arjuna tetap duduk, matanya mengikuti permainan wayang. Tidak lama kemudian, seorang laki-laki bertubuh kurus mendekati kursinya. Ia membawa kipas bambu dan berpura-pura menawarkan udara segar.

"Tuan baru pertama kali datang?" tanya laki-laki itu.

"Apakah terlihat begitu?"

Laki-laki itu tersenyum. "Gedung ini punya banyak ruangan. Pertunjukan di depan untuk semua orang. Pertunjukan lain hanya untuk tamu yang tahu pintu."

Arjuna menatapnya. "Pintu seperti apa?"

"Tergantung yang dicari. Permainan dadu, tarian pribadi, barang langka, atau kabar yang tidak boleh keluar dari istana."

Jadi bukan hanya uang.

Arjuna mengambil satu keping emas dan meletakkannya di meja kecil. "Aku mencari kabar tentang Puri Baskara."

Senyum laki-laki itu menghilang terlalu cepat.

"Tuan salah tempat."

"Benarkah?"

"Di sini orang menonton wayang. Tidak membicarakan pangeran."

Arjuna mendorong keping emas itu sedikit. "Mungkin aku salah orang."

Laki-laki itu menelan ludah. Ia tidak mengambil emas. Keputusan itu membuat Arjuna yakin. Orang biasa akan mengambil. Orang yang takut pada nama Baskara akan mundur.

Sebelum laki-laki itu pergi, suara gaduh kecil terdengar dari lorong kiri. Seorang tamu mabuk keluar dengan wajah merah, ditahan dua pelayan. Di balik celah tirai, Arjuna melihat sekilas tangga menurun.

Garuda muncul di sisi lain ruangan. Tatapannya cukup menjadi jawaban.

Arjuna berdiri.

Mereka keluar dari pintu samping seolah bosan dengan pertunjukan. Di halaman belakang, suara gamelan lebih redup. Ada kandang kuda, gudang kayu, dan sumur tua yang ditutup papan. Dua penjaga berdiri di dekat pintu kecil, terlalu tegap untuk disebut penjaga gedung biasa.

"Mantan prajurit," bisik Garuda.

"Baskara suka memakai orang yang merasa dibuang kerajaan."

Mereka tidak menyerang. Bukan malam ini. Arjuna hanya perlu melihat bentuk sarangnya.

Dari balik gudang, salah satu anggota Pasukan Garuda muncul dan memberi tanda. Mereka bergerak ke belakang bangunan, melewati tumpukan kulit kerbau untuk wayang dan kotak-kotak alat gamelan. Di sana, bau tanah lembap lebih kuat.

Sebuah pintu kayu rendah tersembunyi di balik rak rusak.

Garuda berlutut, menyentuh tanah di depan pintu. "Sering dipakai. Jejak roda kecil. Mungkin gerobak sempit."

"Ke mana?"

"Belum tahu."

Arjuna menatap pintu itu. Dalam ingatan lamanya, banyak orang menghilang dari Kota Raja tanpa meninggalkan jejak. Beberapa pejabat kecil, saksi dagang, satu pelayan Ratih yang terlalu banyak mendengar. Dulu ia mengira mereka dibuang lewat jalur sungai.

Mungkin jawabannya ada di sini.

Tiba-tiba dari dalam gedung terdengar tiga ketukan kotak kayu, lebih cepat dari sebelumnya. Para penjaga halaman belakang langsung bergerak.

Garuda menarik Arjuna ke bayangan gudang.

Dua laki-laki keluar dari pintu rendah. Mereka membawa karung kecil, bukan karung pertunjukan. Salah satunya berkata lirih, "Kirim sebelum subuh. Orang Pangeran Baskara menunggu di luar tembok."

Darah Arjuna terasa dingin, tetapi pikirannya justru jernih.

Setelah kedua orang itu pergi, Garuda memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengikuti dari jauh. Arjuna tetap menunggu sampai halaman belakang kembali sepi.

"Jangan bongkar malam ini," katanya.

"Siap."

"Aku ingin tahu ujungnya. Semua ujungnya."

Garuda menunduk. "Hamba akan mengirim orang terbaik."

Mereka kembali ke Puri Timur menjelang tengah malam. Anindya tidak bertanya apa pun ketika Arjuna melewati koridor, tetapi dari celah pintu kamarnya, ia melihat lampu masih menyala. Ia tahu istrinya belum tidur.

Untuk sesaat, langkahnya berhenti.

Namun sebelum ia sempat mendekat, Garuda muncul dari bayangan belakang dengan napas lebih cepat dari biasanya.

"Yang Mulia," katanya rendah, "lorong belakang Gedung Wayang Enam bukan gudang biasa."

Arjuna menoleh.

Mata Garuda gelap dan tajam. "Ada jalan rahasia. Arahnya keluar Kota Raja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!