NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029

Tangga Darurat

Tangan itu menyambar lengan Cici dari belakang.

Cici berteriak.

Kiara berputar, masih menggenggam tasnya. Pria berjas hitam menarik Cici mundur dengan kasar. Kamera Cici membentur dinding koridor, suaranya keras seperti tulang retak.

"Lepasin!" Kiara menjerit.

Cici berusaha menendang, tetapi seorang staf sponsor lain muncul dari samping. Ia tidak memukul dengan kepalan. Ia hanya mendorong bahu Cici ke dinding, cepat dan kasar, cukup untuk membuat kepala Cici terbentur.

Mata Cici kosong seketika.

"Ci!"

Tubuh Cici merosot. Kamera masih menggantung di lehernya, miring, lensa terantuk lantai. Alarm dari tas Kiara terus menjerit, tetapi suara itu tiba-tiba terasa jauh.

Kiara menubruk ke arahnya. Ia berhasil memegang ujung jaket Cici, tetapi pria berjas itu mendorong bahunya. Punggung Kiara membentur sisi pintu tangga. Rasa sakitnya tidak seberapa dibanding melihat sahabatnya mencoba membuka mata dan gagal fokus.

"Tolong!" Kiara berteriak ke koridor. "Ada orang pingsan!"

Beberapa pintu terbuka. Wajah-wajah muncul, lalu menghilang lagi ketika melihat Reza dan pria berjas. Ada yang mengangkat ponsel, ada yang hanya mundur. Tidak ada yang langsung maju.

Cici menggerakkan bibir. Kiara menunduk, hampir tidak mendengar.

"HP..."

Satu kata itu membuat Kiara sadar. Cici tidak menyuruhnya tinggal. Cici menyuruhnya menjaga bukti.

Kiara ingin berlari kembali.

Ia benar-benar ingin sekali.

Namun pria berjas hitam sudah mengulurkan tangan ke tasnya lagi. Di belakangnya, Reza berdiri dengan wajah pucat dan marah, bukan lagi wajah penyanyi yang tadi tersenyum untuk kamera.

"Kasih ponselnya, Kiara," kata Reza.

Tidak ada Mbak. Tidak ada senyum. Tidak ada panggung.

Kiara mundur satu langkah. "Cici butuh dokter."

"Dia tidak apa-apa kalau kamu tidak bikin masalah."

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam Kiara pecah.

"Kamu yang bikin masalah."

Reza menatapnya tajam. "Kamu tidak tahu siapa yang kamu lawan."

"Aku tahu apa yang kurekam."

Pria berjas hitam maju.

Kiara melihat Cici di lantai. Melihat kamera yang patah posisi. Melihat ponselnya sendiri bergetar di dalam tas. Satu detik yang aneh dan panjang membentang di antara keputusan buruk dan keputusan lebih buruk.

Kalau ia berhenti, rekaman itu hilang.

Kalau ia lari, Cici tertinggal.

"Ki..." Suara Cici lemah sekali, tetapi masih ada. "Lari..."

Kiara menggigit bibir sampai terasa asin.

"Aku panggil bantuan," bisiknya.

Lalu ia lari ke tangga darurat.

Pintu besi terbanting ketika ia mendorongnya. Suara alarm terperangkap di ruang sempit, memantul dari dinding beton. Lampu tangga redup, beberapa berkedip. Bau lembap, debu, dan cairan pembersih menusuk hidung.

Kiara menuruni anak tangga secepat yang bisa ia lakukan tanpa jatuh. Satu tangan memegang railing. Tangan lain memeluk tas.

Ponselnya bergetar lagi.

Ia tidak boleh berhenti.

Namun ia harus tahu apakah rekaman itu sampai.

Di jeda landing pertama, Kiara merogoh tas, menarik ponsel dengan jari gemetar. Layar retak sedikit di sudut, tetapi masih menyala.

Pesan ke Galih menunjukkan dua centang.

Pesan ke Rayhan baru satu centang.

Ada panggilan masuk dari Rayhan.

Nama itu muncul di layar seperti napas.

Kiara ingin mengangkat. Ia ingin mendengar suaranya, ingin mengatakan Cici jatuh, Reza, tangga darurat, tolong.

Di bagian atas layar, ikon location sharing masih menyala. Setidaknya Rayhan bisa melihat titiknya. Setidaknya Galih sudah menerima video itu. Ia tidak tahu apakah mereka akan percaya secepat itu, tidak tahu apakah Galih sedang membuka pesan, tidak tahu apakah Rayhan sudah berdiri dari kursinya di Kota Barat.

Tapi ada jejak.

Ia bukan lagi hanya perempuan yang berteriak di klub.

Ada bukti. Ada lokasi. Ada pesan yang bisa diikuti.

Langkah kaki menghantam tangga di atas.

"Di bawah!" suara pria itu menggema.

Kiara menekan tombol pesan suara cepat, tetapi ibu jarinya tergelincir karena keringat. Panggilan Rayhan terputus. Ia hanya sempat mengetik tiga kata di kolom chat.

Cici jatuh. Tangga

Ia menekan kirim.

Lingkaran kecil berputar.

"Kiara!"

Suara Reza terdengar lebih dekat.

Ia memasukkan ponsel ke tas lagi dan berlari.

Di kepalanya, suara Rayhan muncul begitu jelas sampai ia hampir merasa laki-laki itu ada di belakangnya.

Jangan panik. Cari pintu keluar. Jangan masuk lift kalau dikejar. Cari orang banyak.

Ia mencari tanda exit, mencari cahaya, mencari apa saja yang berarti lantai bawah. Tangga darurat itu seperti lorong beton yang sengaja dibuat untuk menelan suara. Setiap langkahnya sendiri terdengar asing.

Anak tangga turun seperti tidak ada habisnya. Musik dari klub sudah berubah menjadi getaran jauh. Di bawah, ia mendengar suara orang-orang panik, mungkin karena alarm, mungkin karena pintu VIP terbuka, mungkin karena seseorang akhirnya sadar bahwa ini bukan bagian dari acara sponsor.

Kiara sampai di landing berikutnya ketika sepatu kanannya terpeleset.

Bukan jatuh besar.

Belum.

Ia berhasil memegang railing, tetapi pergelangan kakinya terpuntir sedikit. Nyeri menusuk naik ke betis.

"Ah!"

Ia menggigit suara, memaksa berdiri. Tidak boleh berhenti. Tidak sekarang.

Di atas, pintu tangga terbuka lagi. Pria berjas hitam muncul di tikungan. Matanya langsung menemukan Kiara.

"Berhenti!"

Kiara menuruni tiga anak tangga lagi.

Tasnya tersangkut pegangan railing.

Tarikan mendadak membuat tubuhnya berputar. Ponsel terlepas dari genggaman di dalam tas yang terbuka, memantul ke anak tangga, lalu berhenti di landing bawah dengan layar menghadap atas.

Di layar, nama Rayhan menyala lagi.

Kiara menerjang turun untuk meraihnya.

Saat itulah pria itu berhasil menangkap ujung tasnya dari belakang.

"Lepas!"

Tarikan itu membuat keseimbangan Kiara hilang.

Tubuhnya jatuh ke depan.

Waktu seperti pecah menjadi potongan-potongan.

Railing dingin yang gagal ia pegang.

Suara alarm yang masih menjerit.

Layar ponsel dengan nama Rayhan.

Bayangan Cici di lantai koridor.

Lalu kakinya menghantam anak tangga dengan sudut yang salah.

Nyeri meledak.

Kiara tidak sempat berteriak penuh. Napasnya terputus saat tubuhnya berguling beberapa anak tangga dan berhenti di landing bawah. Bahunya membentur dinding. Siku kirinya terasa panas. Tetapi semua itu kalah oleh rasa sakit di pergelangan kaki kanan.

Ada sesuatu yang tidak berada di tempatnya.

Kiara membuka mulut, tetapi suara yang keluar hanya tarikan napas kasar.

Matanya berair tanpa ia sadari.

Kaki kanannya tidak bisa digerakkan. Begitu ia mencoba menariknya sedikit, nyeri menyambar sampai ke pinggang. Bentuk sepatunya tampak salah. Pergelangan itu membengkak cepat, menekan tali sepatu dan membuat kulit di sekitarnya terasa ditarik dari dalam.

Ia menekan bibir kuat-kuat agar tidak berteriak. Kalau ia berteriak, mereka tahu ia tidak bisa lari lagi.

Ponselnya terletak tidak jauh dari tangan. Layar retak lebih besar, tetapi masih menyala. Panggilan Rayhan terputus lagi. Di bawah kolom chat, pesan terakhir akhirnya berubah.

Terkirim.

Cici jatuh. Tangga

Kiara merangkak satu siku, mencoba meraih ponsel.

Langkah kaki berhenti di landing atas.

Pria berjas hitam menatapnya, ragu. Mungkin ia tidak menyangka Kiara benar-benar jatuh separah itu. Mungkin ia takut alarm yang masih menjerit sudah menarik terlalu banyak perhatian.

"Ambil HP-nya," suara Reza terdengar dari atas, lebih panik daripada marah.

Kiara memaksa tubuhnya bergerak. Rasa sakit di kaki membuat pandangannya putih.

Jari-jarinya menyentuh tepi ponsel.

Ia menyeretnya ke dada dan memeluknya seperti satu-satunya benda yang masih bisa menyelamatkan mereka.

Pintu bawah tangga terbuka keras.

Suara asing berteriak, "Ada orang jatuh!"

Suara lain menyusul, "Panggil ambulans!"

Seorang perempuan berseragam staf klub berlutut di dekatnya, tetapi Kiara langsung menggeleng panik.

"Jangan..." napasnya patah. "Jangan ambil HP."

"Mbak, saya nggak ambil. Saya mau bantu."

"Cici... di atas..."

"Siapa?"

Kiara memaksa membuka mata, menunjuk ke tangga dengan tangan gemetar. "Teman saya. Dipukul. Di atas."

Staf itu menoleh ke orang lain. "Cek atas! Ada korban lain!"

Langkah-langkah baru berlari melewati Kiara. Seseorang mencoba mendekati kakinya, tetapi staf perempuan itu menahan.

"Jangan digeser. Tunggu medis."

Kata medis membuat Kiara makin sadar bahwa sesuatu benar-benar buruk terjadi pada tubuhnya. Bukan sekadar terkilir. Bukan luka yang bisa ia tahan lalu pulang pura-pura baik-baik saja.

Ia memeluk ponsel lebih erat.

Langkah-langkah baru naik dari bawah. Bukan langkah pria berjas. Bukan langkah Reza. Lebih banyak, lebih kacau, penuh suara panik.

Kiara mencoba mengatakan Cici. Cici di atas. Tolong Cici.

Tetapi lidahnya terasa berat.

Di layar ponsel yang ia peluk, nama Rayhan muncul untuk ketiga kalinya.

Kali ini, Kiara berhasil menggeser tombol jawab.

"Kak..." Suaranya keluar sangat kecil.

Di seberang, suara Rayhan langsung pecah menembus dengung di telinga.

"Kiara? Kamu di mana?"

Kiara membuka mulut, tetapi hanya udara yang keluar.

"Kiara, jawab aku." Suara Rayhan berubah. Tidak lagi rendah. Tidak lagi tenang. "Aku lihat lokasimu. Club Monarch? Kamu di dalam?"

Di belakang suara itu, Kiara menangkap bunyi pintu dibuka keras, langkah cepat, sesuatu jatuh di lantai. Rayhan pasti sudah bergerak. Ia bisa membayangkan wajahnya, rahang mengeras, mata gelap, semua checklist yang tadi ia buat berubah menjadi ketakutan nyata.

"Kiara, dengar aku. Jangan tutup telepon. Aku hubungi bantuan di sana. Kamu tetap sadar."

Tetap sadar.

Kiara mencoba memegang kalimat itu, tetapi rasa sakit menyeretnya seperti arus gelap.

Ia ingin menjawab.

Ia benar-benar ingin.

Namun cahaya tangga berputar, nyeri menariknya ke tempat gelap, dan satu-satunya kata yang sempat ia bisikkan sebelum semuanya hilang adalah, "Cici..."

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!