Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Keluarga Hartono
Empat tahun.
Keira mengulang angka itu dalam hati, tetapi kepalanya belum mampu menampung maknanya. Empat tahun seseorang mencarinya. Empat tahun ada rumah yang mungkin menyalakan lampu untuknya. Empat tahun ia hidup sebagai Anisa, menunduk di keluarga Gondokusumo, sementara di tempat lain ada orang yang memanggilnya Nona Besar.
"Mencari saya?" Suaranya keluar parau. "Kenapa?"
Om De menatapnya dengan mata yang masih basah. Ia tidak langsung menjawab. Pria tua itu seperti sedang memilih kata yang tidak akan melukai lebih dalam.
"Karena Anda hilang dari keluarga Anda, Nona Besar."
Keluarga.
Kata itu tidak lagi kosong, tetapi juga belum terasa utuh. Keira menatap wajah Om De, mencoba mencari ingatan yang lengkap. Yang muncul hanya pecahan: tangan tua menaruh selimut di bahunya, suara yang memanggilnya saat ia berlari di lorong, mobil hitam menunggu di halaman besar.
"Keluarga Hartono," bisiknya.
Om De mengangguk. "Benar. Nama Anda Keira Hartono. Cucu pertama yang paling disayang Engkong Hartono. Putri Bapak Richard dan Ibu Lina Hartono."
Nama-nama itu menghantam dadanya satu per satu.
Richard.
Lina.
Engkong.
Ada rasa hangat yang muncul, lalu langsung ditindih rasa takut. Kalau mereka benar-benar keluarganya, kenapa ia bisa hilang? Kenapa ia berakhir sebagai perempuan tanpa ingatan yang menikah dengan Galang? Kenapa selama empat tahun tidak ada yang menemukannya sampai ia hampir mati di jalan?
Keira menarik napas, tetapi rusuknya sakit. Aqil bergerak setengah langkah, refleks ingin membantu, lalu berhenti ketika Keira mengangkat tangan.
"Jangan mendekat dulu."
Aqil langsung menunduk. "Baik, Nona."
Om De juga tidak memaksa. Justru itu yang membuat Keira lebih waspada. Mereka menghormati batasnya. Tidak seperti orang-orang yang selama ini mengatur hidupnya atas nama kasihan.
"Kalau saya benar Keira Hartono," kata Keira pelan, "buktikan."
Om De tidak tersinggung. Ia malah tampak lega, seolah sikap curiga itu lebih mirip Keira yang ia kenal.
"Tentu."
Ia mengeluarkan tablet dari tas kulit yang dibawa Aqil. Dengan gerakan hati-hati, Om De membuka beberapa dokumen digital. Foto pertama muncul di layar.
Seorang gadis remaja berdiri di samping pria tua berambut putih. Gadis itu tersenyum lebar, mata berbinar, rambut panjangnya diikat sederhana. Wajahnya lebih muda, tetapi garis hidung, bentuk mata, dan lesung samar di pipi kiri tidak bisa disangkal.
Itu dirinya.
Keira menatap foto itu sampai matanya perih.
"Ini Anda saat ulang tahun ketujuh belas," kata Om De. "Engkong memaksa semua keluarga pulang. Anda marah karena acara dibuat terlalu besar, tapi diam-diam senang."
Sebuah kilatan datang.
Balon putih. Kue bertingkat. Suara Bryan tertawa. Seorang pria muda bersuara tegas berkata, `Kei, jangan lari. Mama mencarimu.`
Keira memejamkan mata. "Ko Kevin..."
Om De membeku. Lalu senyum kecil yang penuh tangis muncul di wajahnya. "Anda mengingat Tuan Kevin?"
"Tidak jelas." Keira menekan pelipis. "Hanya suara."
"Itu sudah cukup untuk hari ini." Om De menahan napas. "Dokter bilang ingatan Anda tidak boleh dipaksa."
Keira membuka mata lagi. "Anda bicara dengan dokter?"
"Saya meminta izin sebagai wali keluarga setelah identitas Anda kami verifikasi." Om De cepat menambahkan, "Tapi semua keputusan medis tetap menunggu persetujuan Anda. Kami tidak akan memindahkan Anda tanpa izin."
Kalimat itu sederhana, tetapi Keira merasakannya dalam. Persetujuan. Izin. Selama tiga tahun, dua kata itu jarang diberikan padanya. Galang memutuskan. Keluarga Gondokusumo mengatur. Sherly mengambil ruang. Bahkan perceraian pun disiapkan sebelum ia diajak bicara.
Sekarang orang yang mengaku mencarinya justru menunggu jawabannya.
"Bagaimana Anda menemukan saya?" tanya Keira.
Aqil yang menjawab kali ini, singkat. "Sistem rumah sakit mencatat pasien tanpa identitas lengkap dengan ciri luka lama di bahu kiri. Om De memasang pemantauan di beberapa rumah sakit sejak empat tahun lalu."
Keira refleks menyentuh bahu kirinya. Di bawah pakaian rumah sakit, ada bekas luka samar yang selama ini tidak pernah ia pahami.
Om De menjelaskan lebih lembut, "Sejak Anda hilang, kami tidak pernah berhenti mencari. Polisi, penyelidik swasta, rumah sakit, pelabuhan, sampai data orang tanpa identitas. Semua kami pantau."
"Tapi saya ada di Surabaya selama tiga tahun."
Rasa pahit menyelinap ke suaranya. Ia tidak ingin menyalahkan mereka, tetapi luka yang terlalu lama sendirian tidak tahu cara bersikap lembut.
Wajah Om De pucat. "Saya tahu. Itu kesalahan kami. Ada pihak yang sengaja menghapus jejak Anda. Nama Anisa tidak pernah terhubung dengan data asli Anda. Pernikahan Anda dengan Galang Gondokusumo juga dibuat tampak seperti urusan keluarga kecil yang tidak masuk radar kami."
Keira diam.
Galang.
Nama itu sudah terasa jauh, tetapi bekas lukanya masih dekat. Ia menatap cincin di jarinya. Kali ini, dengan bantuan perawat dan cairan pelicin medis yang disiapkan dokter, cincin itu akhirnya berhasil dilepas beberapa jam kemudian.
Saat lingkaran logam itu jatuh ke nampan kecil dengan bunyi tipis, Keira tidak menangis.
Ia hanya merasa jarinya akhirnya bisa bernapas.
Dokter datang lagi malam itu untuk memeriksa kondisinya. Om De menunggu di luar saat pemeriksaan berlangsung, sementara Aqil berdiri di koridor seperti tembok hidup. Dokter menjelaskan bahwa Keira butuh beberapa hari observasi, pengobatan nyeri, dan kontrol lanjutan untuk trauma kepala. Tidak ada larangan dipindahkan bila fasilitas perawatan di rumah keluarga memadai dan dokter pribadi bisa datang rutin.
"Jangan terlalu banyak tekanan emosional," pesan dokter. "Ingatan bisa kembali bertahap. Kalau dipaksa, nyeri kepala dan insomnia bisa memburuk."
Keira mengangguk.
Tekanan emosional. Ia hampir ingin bertanya bagaimana caranya menghindari itu setelah bercerai, ditabrak, lalu mengetahui dirinya ahli waris keluarga besar dalam rentang beberapa hari.
Namun, ia hanya berkata, "Saya mengerti."
Keesokan harinya, Om De membawa lebih banyak informasi, tetapi tidak menumpahkan semuanya sekaligus. Ia menunjukkan susunan keluarga inti.
Engkong Hartono, William Hartono, kepala keluarga.
Richard Hartono, ayahnya.
Lina Hartono, ibunya.
Kevin Hartono, kakaknya.
"Mereka tahu saya ditemukan?" tanya Keira.
Om De menunduk. "Engkong sudah tahu. Bapak dan Ibu juga. Mereka ingin datang saat itu juga, tetapi dokter meminta suasana tidak terlalu ramai. Engkong hampir memarahi dokter."
Untuk pertama kalinya sejak bangun, sudut bibir Keira bergerak sedikit.
Bayangan pria tua yang keras kepala muncul samar. Tongkat kayu. Tatapan tajam. Tangan yang gemetar saat mengelus kepalanya.
"Engkong..." gumamnya.
"Beliau menunggu Anda pulang," kata Om De.
Kata pulang membuat tenggorokan Keira tercekat.
Selama menjadi Anisa, ia selalu pergi ke tempat orang lain. Rumah Galang. Acara keluarga Galang. Ruang tamu yang harus ia rawat tetapi tidak boleh ia miliki. Tidak pernah ada yang berkata tempat itu menunggunya pulang.
"Hartono Group sebesar apa?" tanya Keira tiba-tiba, seolah ingin berpegangan pada fakta yang bisa dihitung.
Om De menjawab dengan hati-hati. "Cukup besar untuk membuat keluarga mana pun di Surabaya berpikir dua kali sebelum meremehkan nama Hartono. Bidang utama kami finansial, properti, teknologi, dan beberapa investasi strategis di Jakarta."
Aqil menambahkan singkat, "Keamanan keluarga juga ketat."
Keira menatapnya. "Tapi saya tetap hilang."
Aqil menunduk lebih dalam. "Itu kegagalan kami, Nona."
Keira tidak menjawab. Ia tidak ingin memberi maaf hanya karena sedang lemah. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan empat tahun pencarian yang terlihat di mata Om De.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Kepala Keira masih sering nyeri. Kadang ia terbangun tengah malam dengan keringat dingin, mendengar lagi suara benturan van. Kadang ia melihat kode komputer bergerak di balik kelopak mata. Kadang tangannya tanpa sadar membentuk gerakan seperti memegang alat bedah.
Om De tidak pernah memaksanya mengingat.
Ia hanya hadir.
Membawakan bubur hangat. Mengurus administrasi rumah sakit. Mengganti pelayan jaga dengan perawat pribadi perempuan. Memastikan tak ada nama Gondokusumo yang muncul di daftar pengunjung.
Pada hari ketujuh setelah kecelakaan, dokter akhirnya mengizinkan Keira keluar dengan syarat kontrol ketat.
Pagi itu, Aqil sudah menunggu di depan lobi rumah sakit. Sebuah mobil hitam mengilap berhenti tanpa suara. Bukan mobil keluarga Gondokusumo. Tidak ada aroma dingin Galang di dalamnya. Hanya jok kulit lembut, sebotol air hangat, selimut tipis, dan satu map berisi dokumen medis yang tertata rapi.
Om De membuka pintu untuknya.
"Kita ke mana?" tanya Keira, meski ia sudah tahu jawabannya.
Mata Om De melembut.
"Pulang, Nona Besar. Ke rumah Hartono."
Keira menatap jalan Surabaya yang basah sisa hujan semalam. Kota ini pernah menjadi tempat ia dibuang, ditinggalkan, dan hampir dibunuh.
Mobil bergerak pelan meninggalkan rumah sakit.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Keira tidak sedang pergi dari sesuatu.
Ia sedang menuju pintu yang mungkin sejak lama menunggu dirinya kembali.