Safa Zaina adalah seorang gadis yang tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Namun karena kecerdasannya dia berhasil mendapatkan beasiswa di Universita Negeri terbaik di kotanya. Pertemuannya dengan Azka Imam Haqiqi, seorang pria kaya membawa perubahan pada dirinya. Imam adalah cinta pertama Safa. Namun berbeda dengan Azka. Safa adalah wanitanya yang entah yang ke berapa. Tak dapat lagi di hitung saking banyaknya. Namun satu yang pasti, Safa adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Hubungan jarak jauh tak menjadi halangan bagi kisah cinta mereka. Dan di usia hubungan mereka yang ke 8 tahun, mereka akan melangsungkan pernikahan. Bertepatan dengan selesainya masa program dokter internship Imam.
Namun manusia hanya mahir berencana, dan Tuhanlah yang menentukan takdirnya. Malapetaka itu datang. Malapetaka yang membuat hidup Safa hancur. Malapetaka yang membuatnya tak lagi mempunyai alasan untuk hidup.
Mampukah safa bertahan? Atau dia akan mengalah pada takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristiyana Nopiyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal Total
Azka Imam Haqiqi
Azka melirik jam di dinding kamarnya. Jarumnya menunjukan pukul 7 malam. "Masih 1 jam lagi" gumannya pada diri sendiri. Seperti yang telah dia janjikan kemarin pada Safa, jika dia akan menjemputnya lagi malam ini. Kembali mengajak wanita itu untuk makan malam. Dengan gerakan tergesa dia meraih ponsel yang tadi saat sebelum mandi dia letakan di atas bed cover yang menutupi hampir seluruh kasurnya.
Azka : Jadikan kita jalan malam ini?
Ketiknya di layar ponsel.
1 menit... 2 menit...
Notif pesan yang di tunggunya berbunyi. Segera dia baca pesan yang di kirim Safa untuknya.
Safa : Iya jadi. Jam 8 kan? Sebentar. Sekarang jam sibuk di perpustakaan.
Azka : oke.
Balasnya singkat. Dengan gerakan teratur, dia meraih jaket yang sudah di siapkannya di atas kasur. Tak lupa ia mengambil tas kecil yang selalu di bawanya saat pergi kemanapun, kecuali ke sekolah. Dia memperhatikan dirinya kembali di depan cermin sebelum akhirnya dia melangkah keluar kamar. Berjalan santai menuruni anak tangga di rumahnya untuk menuju ke pintu garasi.
"Tuh dia orangnya" telinganya menangkap suara pak Suyoto, pappinya. "Azka kemari sebentar" perintah Pappi padanya dari arah ruang keluarga. Dengan sangat terpaksa, dia mengikuti keinginan Pappinya itu. Dari kejauhan matanya menangkap sosok Oom Anwar sahabat Pappinya, Tante Amira istrinya Oom Anwar, juga putrinya Dinda.
"Apa kabar Oom? Lama gak ketemu" Sapa Azka basa-basi pada Oom Anwar. "Eh, tante sehat?" Kini dia beralih pada tante Amira. "Hai, Din" sapanya lagi pada Dinda, sembari dia menyalami satu persatu tamu pappinya itu.
"Wah, makin ganteng aja kamu. Gimana sekolahnya?" Jawab Oom Anwar dengan wajah berseri.
"Lancar Oom Lancar" jawabnya sembari tersenyum.
"Kapan tiba Oom? Perjalanan lancar?" Tanya Azka.
"Baru sampai, dari bandara langsung kesini. Belum sempat ke rumah juga. Sudah terlalu lama tidak bertemu pappimu ini" jawab Oom Anwar yang hanya di balas senyuman oleh Azka.
"Iya sudah hampir 6 bulan ya kita tak bertemu. Sudah lama juga. Hahah" kali ini pappi yang berbicara pada Oom Anwar.
Oom Anwar adalah sahabat Pappinya sejak masa sekolah. Persahabatan mereka masih berjalan baik hingga saat ini. Meski dalam hal bisnis perusahaan mereka selalu bersaing. Dulu sebelum Oom Anwar pindah ke new Citty negara tetangga Alexander, dirinya dan Dinda selalu bersekolah di sekolah yang sama sejak di sekolah dasar. Hingga SMA kemarin. Namun saat kenaikan kelas 3 entah kenapa Oom Anwar tiba-tiba saja mengajak keluarga kecilnya pindah ke New Citty. Yang dia dengar sih, karena Oom Anwar membangun kerajaan bisnisnya di negara itu.
"Eh istrimu kemana?" Kali ini Tante Amira yang bertanya.
"Sebentar lagi juga pulang, biasalah ibu-ibu arisan" jawab Pappi yang di sambut gelak tawa mereka semua. Tentu saja kecuali dirinya yang sudah mulai gusar karena memikirkan bagaimana caranya lolos dari kedua sahabat ini yang sedang reunian.
"Lah iya. Mirip mammi kan? Kalau sudah kumpul dengan kawan tak tahu waktu. Hahah" kata Oom Anwar sambil melirik istrinya.
"Oom, tante Azka pamit dulu ya. Ada perlu sebentar" kata Azka lagi seraya mengembangkan sebuah senyuman. Akhirnya kalimat itu bisa keluar juga dari bibirnya, setelah sekian lama dia menunggu kesempatan.
"Lho mau kemana?" Tanya Pappinya.
"Ada perlu sebentar pi" jawab Azka.
"Ajak Dinda sekalian, kasiankan dia belum sempat jalan-jalan di Alexander" lanjut Pappi sambil menatapnya.
"Tapi pi..., Dinda kan baru sampe. Kasian kalau di ajak jalan sekarang. Masih cape pasti" jawabnya sambil melirik ke arah Pappi dan Dinda secara bergantian.
Jelas saja itu hanya sebuah alasan untuk tak mengajak Dinda pergi bersamanya. Tak mungkin juga kan dia mengajak Dinda untuk ikut makan malam bersama dirinya juga Safa.
"Dinda gak capek ko Oom" jawab Dinda segera yang membuatnya merasa sangat kesal. Ya jelas saja kesal, karena jawaban Dinda tadi takan mungkin membuatnya bisa lolos kali ini. "Ka, aku boleh ikut kamu kan? Sekalian aku juga kangen makan di Genesis. Kamu bisa nemenin kan?" Kali ini Dinda menatapnya.
Tidak. Bukan hanya Dinda, tapi semua orang yang ada di ruangan itu menatapnya. Membuatnya tak dapat menolak permintaan Dinda. Dia bukan tak tahu, jika sudah sejak dulu Dinda memberinya perhatian lebih. Perhatian yang lebih dari hanya seperti seorang sahabat. Perhatian yang menurutnya lebih seperti seorang wanita dewasa pada kekasihnya.
Sudah sejak dulu pula dia mati-matian menghindar dari Dinda. Bukan karena Dinda tidak cantik, tapi dia memang tak memiliki rasa yang lebih pada Dinda. Terlebih orang tua mereka bersahabat. Jika dia nekad berpacaran dengan Dinda, apa jadinya jika suatu saat nanti dia bosan? Yang dia sangat yakin, jika itu terjadi akan membuat persahabatan 2 keluarga ini akan mulai merenggang.
"Yakin kamu gak cape?" Tanya Azka yang lebih tepatnya bukan di sebut pertanyaan, melainkan penolakan. Jika saja Dinda peka dan mengerti.
"Gak koq. Perjalan kan cuma 3 jam doang di pesawat. Udah biasa sih traveling, jadi udah gak kerasa lelahnya perjalanan. Apalagi cuma 3 jam" jawab Dinda yang kini sudah mulai bangkit dari duduk nya dan mulai menghampiri Azka. "Berangkat sekarang?" Tanya Dinda lagi pada dirinya yang sedari tadi diam mematung.
"Oh ya. Tentu" jawab Azka gelagapan. Karena barusan ia sempat melamun memikirkan bagaiman caranya untuk memberitahu Safa, karena menolak Dinda sudah pasti satu hal yang tak mungkin dilakukannya.
Mereka melangkah beriringan menuju garasi mobil. Tanpa berkata Azka membuka mobil miliknya dan mendudukam dirinya di balik kemudi.
"Kita mau kemana sekarang?" Tanya Dinda yang mulai kesal menunggu Azka membuk pembicaraan.
"Genesis kan?" Jawabnya tanpa melirik ke arah Dinda.
"Bukannya kamu tadi ma..." Belum sempat Dinda menyelesaikan kalimatnya, Azka keburu menjawab.
"Gak penting..." Katanya dengan wajag yang masih setengah kesal.
"Kamu marah aku ikut kamu?" Tanya Dinda dengan wajah mengkerut.
"Gak" jawabnya singkat. Namun dapat dipastikan jika nada suaranya memperlihatkan emosi dari dalam hatinya, meski dia jelas menolak mengakui.
"Kalau gak, kenapa dari tadi kamu bentak-bentak aku?" Tanya Dinda lagi.
"Siapa sih yang bentak-bentak. Aku gak ada bentak-bentak" katanya dengan suara yang seolah dibuat sedatar mungkin, meski terkesan terlalu di buat-buat.
Suasana kembali sunyi. Tak ada suara apapun yang terdengar. Tidak juga suara musik dari yang biasanya meraung-raung dari dalam audio mobil. Dia memang sengaja tak menyalakan benda itu ketika masuk. Suasana hatinya yang tak karuan membuat aktifitas menekan tombol power di audio nya pun terasa begitu sulit.
Berkali-kali dia melirik jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. Jarum yang terus saja bergerak membuat waktu hampir mendekati jam 8 malam. Jam dimana menjadi waktu yang telah di janjikannya pada Safa.
Mobil memasuki pekarangan parkir Genesis pada jam 7:50 menit. Membuatnya berkata pada Dinda,
"Kamu duluan masuk. Aku mau telepon dulu" kata Azka tanpa melihat Dinda yang sebenarnya telah menatapnya dengan perasaan kecewa.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dinda segera keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu masuk Cafe Genesis. Azka yang sedari tadi pura-pura menyibukan dirinya dengan ponsel di tangannya bernafas lega. Segera membuka aplikasi WhatsApp, mencari nama Safa dan kemudian mengetikan sesuatu di layarnya.
Azka : Masih sibuk?
Lama tak ada jawaban. Dia kemudian mengetikan lagi satu kalimat,
Azka : Maaf, hari ini kita batal makan malam bareng. Aku ada keperluan lain. Jadi kamu gak usah nunggu.
Azka : Kalau kamu udah gak sibuk, cepet kabarin aku.
Begitu kalimat yang dia tulis di layar ponselnya. Dan setelah dia yakin jika semua pesannya tercentang 2, meski masih berwarna abu-abu dia kemudian turun dari mobilnya dan mulai berjalan menuju Cafe.
#gadis imut diantara dua raja
mksh ya ka
lanjut