Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Desa Hutan Batu
Keesokan harinya...
Fajar menyingsing di atas Desa Hutan Batu, membawa serta udara dingin menusuk tulang yang merembes lewat celah-celah dinding kayu gubuk.
Lin Wanru membuka matanya lebih awal dari siapa pun. Di dalam kepalanya, rencana besar sudah tersusun rapi, ia harus pergi ke hutan pinggir desa sebelum matahari terlalu tinggi untuk mencari tanaman obat liar atau umbi yang bisa dijual atau diolah.
Namun, begitu ia mencoba bangkit dari ranjang, kenyataan pahit langsung menampar wajahnya.
Tubuh remajanya yang kurang gizi ternyata tidak bisa diajak berkompromi secepat pikirannya. Begitu kedua kakinya menapak ke lantai tanah, gelombang rasa pusing yang luar biasa langsung menghantam kepalanya.
Pandangannya menggelap seketika, dan ia hampir saja tersungkur jika tangannya tidak dengan cepat mencengkeram tepi tempat tidur.
"Sial," batin Wanru menggerutu dalam hati, seraya menggigit bibirnya hingga terasa asin. "Di dunia modern, aku bisa memerintahkan bawahan hanya dengan sekali klik. Di sini, untuk sekadar berdiri saja tubuh ini menolak tunduk pada kemauanku."
Nyonya Lin yang terbangun karena mendengar suara gesekan pelan, segera mendekat dengan cemas. "Wan-er? Mau ke mana, Nak? Badanmu masih panas dan sangat lemah. Jangan memaksakan diri..." ucap ibunya dengan suara parau penuh kekhawatiran.
Wanru menarik napas dalam-dalam, dan mencoba menstabilkan napasnya yang memburu. Ia tahu jika ia menunjukkan kelemahan di hadapan keluarganya, mereka hanya akan semakin ketakutan.
Ia pun memaksakan seulas senyum tipis untuk menenangkan sang ibu.
"Ibu, aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin menghirup udara segar di depan pintu," bohong Wanru halus. Ia tahu jika ia jujur ingin pergi ke hutan sendirian dalam kondisi seperti ini, ibunya pasti akan melarang keras.
Setelah matahari benar-benar naik dan menyinari halaman gubuk, Nyonya Lin terpaksa pergi ke sumur umum untuk mencuci beberapa helai pakaian sisa tetangga demi upah sekecil biji beras, sementara Lin Bao menjaga ibunya dari dekat.
Memanfaatkan kesempatan itu, Wanru memutuskan untuk melangkah keluar.
Ia berjalan tertatih-tatih menyusuri jalan setapak desa, menggunakan sebatang ranting kayu kering sebagai tongkat penopang tubuhnya.
Setiap langkah terasa seperti menapak di atas serpihan kaca, sendinya berderit, dan dadanya terasa sesak karena kekurangan oksigen.
Namun, rintangan fisik bukanlah satu-satunya hal berat yang harus ia hadapi hari itu.
"Wah, wah... lihat siapa yang berjalan seperti orang sakaratul maut itu? Bukankah itu gadis sial dari keluarga Lin?"
Sebuah suara sinis dan melengking memecah keheningan pagi hingga membuat Wanru mendongak.
Di dekat halaman rumah yang lebih layak, berdiri Nyonya Liu, wanita tambun yang kemarin merusak kendi airnya, serta beberapa tetangga lain yang sedang bergosip. Mereka menatap Wanru dengan pandangan jijik dan merendahkan.
Wanru menghentikan langkahnya, menegakkan punggungnya meski lututnya bergetar hebat. Ia lantas menatap Nyonya Liu dengan sorot mata dingin tanpa rasa takut.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan berjalannya seseorang di jalan umum, Bibi Liu?" balas Wanru dengan suara tenang namun terdengar menusuk.
Nyonya Liu terkejut sesaat mendengar keberanian gadis miskin itu. Biasanya Lin Wanru yang asli akan langsung menangis ketakutan jika ditatap tajam seperti itu.
Wajah Nyonya Liu pun langsung memerah karena kesal.
"Berani sekali mulut lancangmu menjawab, hah?!" bentak Nyonya Liu, melangkah mendekat sambil berkacak pinggang. "Kau pikir karena pamanmu memberimu waktu tiga hari, kau bisa berkeliaran dengan gaya sombong? Dengar ya, gadis miskin! Seluruh desa tahu keluargamu itu parasit! Ayahmu mati berutang, ibumu sakit-sakitan, dan kau... dalam tiga hari pasti akan diseret ke rumah bordil! Jangan mencemari pemandangan desa ini dengan wajah pucatmu!"
Beberapa warga desa yang menonton ikut tertawa mengejek. "Benar! Lebih baik kau bersiap-siap saja menyerahkan diri daripada membuat malu keluarga besar Lin!" sahut seorang pria paruh baya dari pinggir jalan.
Di dunia modern, orang-orang seperti ini sudah lama hancur di hadapan departemen hukum perusahaan Wanru. Namun di sini, di bawah sistem feodal yang kejam, cemoohan sosial adalah senjata mematikan yang bisa membunuh mental seseorang.
Untuk sesaat, dada Wanru terasa sesak. Amarah yang membara bergemuruh di dalam dadanya. Ia ingin membalas setiap kata-kata mereka dengan logika bisnis dan argumen tajam yang membuat mereka bungkam selamanya.
Namun, saat ia melirik tangannya sendiri yang kurus kering dan tubuhnya yang gemetar, ia sadar, di dunia ini, orang miskin tidak memiliki hak untuk berbicara keras. "Sebelum kekayaan dan kekuasaan berada di tanganmu, kata-katamu tidak lebih dari angin lalu."
Wanru mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya menancap ke telapak tangannya. Ia menarik napas panjang, dan menelan mentah-mentah penghinaan itu, lalu membuang muka.
"Waktu kalian untuk tertawa tidak akan lama lagi," bisik Wanru pelan pada dirinya sendiri, lalu dengan sisa tenaganya, ia membalikkan badan dan berjalan melewati mereka tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Sikap dingin dan acuh tak acuh itu justru membuat Nyonya Liu mendengus marah di belakangnya, ia merasa tidak puas karena tidak berhasil membuat Wanru menangis histeris.
(Hehehe... Kasiaaan...)
Wanru terus berjalan menjauhi area pemukiman hingga akhirnya ia tiba di batas kaki bukit, pintu masuk menuju Hutan Hantu, begitu penduduk desa menyebutnya.
Di hadapannya terbentang barisan pohon tinggi berkanopi lebat yang menghalangi sinar matahari langsung, menciptakan suasana yang lembab, gelap, dan dipenuhi suara-suara serangga liar serta gemerisik semak belukar.
Bagi penduduk desa, hutan ini angker dan berbahaya karena banyak hewan buas serta tanaman beracun.
Begitu ia melangkah masuk ke dalam area hutan, udara berubah menjadi lebih dingin. Bau tanah basah dan daun membusuk menyengat hidungnya.
Baru berjalan beberapa ratus meter, napas Wanru sudah tersengal-sengal. Keringat dingin pun bercucuran di pelipisnya.
"Ini jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan," batin Wanru, yang lalu terduduk lemas di atas sebuah batu besar yang tertutup lumut hijau. Ia memegang dadanya yang bergemuruh hebat, lalu bergumam, "Dengan kondisi fisik seperti ini, jangankan mencari rempah langka, berjalan sepuluh meter lagi saja aku bisa pingsan."
Kenyataan menghantamnya dengan telak, menjadi seorang mantan CEO dengan pengetahuan strategi tingkat tinggi tidak ada gunanya jika wadah fisiknya sendiri sudah berada di ambang kehancuran.
Tanpa tenaga, tanpa modal, dan tanpa sekutu, ia terjebak di dalam tubuh yang lemah ini.
Grusak!
Tiba-tiba, suara gemerisik keras terdengar dari balik semak-semak di dekatnya. Sesuatu yang bergerak cepat di balik dedaunan lebat membuat bulu kuduknya merinding. Di era kuno tanpa perlindungan ini, seekor hewan buas kecil saja bisa merenggut nyawanya dalam sekejap.
"Apa itu!"
Wanru membeku di atas batu, jantungnya berdegup kencang di luar kendali. Apakah perjalanan pertamanya untuk mengubah nasib harus berakhir di cakar hewan buas di tengah hutan antah berantah ini?
Bersambung...