NovelToon NovelToon
TERTUKAR DI RS ELISABETH SEMARANG

TERTUKAR DI RS ELISABETH SEMARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pleno Penentuan dan Karma si Ratu Dengki

Langit di atas SMA Loyola tampak kelabu ketika awan tebal menggantung, menaungi halaman sekolah yang mulai basah oleh sisa hujan gerimis. Di dalam ruang rapat utama, ketegangan merayap di setiap sudut ruangan. Hari ini adalah hari penentuan, rapat pleno kurasi produk UMKM pameran budaya tingkat kota.

Di meja kehormatan, Rama selaku Ketua OSIS duduk diapit oleh Pembina OSIS, Bu Ratna, serta guru pembimbing laboratorium, Pak Joko. Di sisi meja seberangnya, Aurel duduk tenang dengan map biru di tangannya. Sementara itu, Clarissa duduk beberapa kursi darinya, mengenakan blazer formal berpotongan rapi, meski raut wajahnya menyiratkan kecemasan yang mati-matian ia sembunyikan di balik senyuman dingin. Jessica dan Felicia berdiri di barisan belakang, tampak gelisah.

"Baiklah, kita mulai agenda pleno hari ini," suara Bu Ratna memecah keheningan. "Agenda utama kita adalah memvalidasi daftar akhir produk lokal dari sub-divisi Kurasi yang akan mewakili SMA Loyola di pameran tingkat kota minggu depan. Silakan, perwakilan sub-divisi untuk memaparkan draf akhirnya."

Aurel berdiri dengan anggun, membuka mapnya, lalu membagikan salinan dokumen kepada para pimpinan rapat. Suaranya terdengar jernih dan berwibawa saat ia menjelaskan keunggulan produk jamu tradisional lereng Gunung Pati dan kerajinan bambu lokal. Ia memaparkan data perajin, rantai pasok yang adil, hingga nilai budaya yang diusung.

Clarissa mendengarkan dengan tangan mengepal di bawah meja. Begitu Aurel selesai, Clarissa langsung mengangkat tangan, memanfaatkan momentum untuk menyerang balik.

"Interupsi, Bu Pembina," ucap Clarissa dengan nada manis yang dibuat-buat. "Pemaparan Aurel memang terdengar sangat ideal. Namun, kita tidak boleh mengabaikan aspek keamanan dan kredibilitas. Hingga saat ini, saya meragukan standar higienitas produk jamu rumahan tersebut. Terlebih, ada banyak desas-desus di kalangan siswa bahwa produk itu tidak memenuhi standar kesehatan layak konsumsi."

Jessica dan Felicia langsung mengangguk-angguk mendukung argumen Clarissa.

Rama mengerutkan dahi, menatap Clarissa dengan tatapan menyelidik. "Clarissa, apakah kamu punya bukti autentik atas keraguan itu? Jangan hanya mengandalkan gosip koridor sekolah."

Clarissa tersenyum penuh percaya diri, merasa ia memegang kartu truf. "Tentu saja aku tidak bicara tanpa dasar, Ram. Sebagai ketua seksi acara, aku sudah meminta tim verifikasi independen untuk memeriksa sampel secara diam-diam, dan hasilnya... produk itu tidak layak masuk daftar eksklusif kita."

Suasana ruang rapat mendadak riuh rendah. Bu Ratna tampak mengerutkan kening, sementara Rama menatap Aurel, menunggu respons dengan raut cemas.

Namun, Aurel sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Ia justru tersenyum tipis, melirik sekilas ke arah Pak Joko yang duduk tenang di samping Bu Ratna.

Dengan gerakan santai, Aurel mengeluarkan sebuah dokumen resmi dari mapnya dan meletakkannya di atas meja pleno. "Terima kasih atas kekhawatiran Clarissa terhadap kesehatan publik. Namun, sangat disayangkan jika argumen penolakan dibangun di atas asumsi dan gosip murahan, bukan fakta ilmiah."

Aurel menoleh ke arah Bu Ratna dan Pak Joko. "Untuk mengantisipasi segala bentuk keraguan atau sabotase administratif, saya telah menyerahkan sertifikasi uji higienitas dan kandungan nutrisi resmi dari balai kesehatan daerah kepada Pak Joko selaku kepala laboratorium sejak minggu lalu. Silakan, Pak Joko jelaskan hasilnya kepada forum."

Pak Joko merapikan kacamatanya, lalu membuka dokumen di hadapannya. Ia tersenyum kecil sebelum berbicara.

"Hasil pengujian laboratorium daerah menunjukkan bahwa produk jamu tradisional dari Gunung Pati ini memiliki tingkat sterilisasi 99%, menggunakan bahan-bahan organik murni tanpa pengawet kimia, dan telah mengantongi izin edar serta kelayakan konsumsi resmi," tegas Pak Joko sambil menunjukkan dokumen berstempel basah kepada Bu Ratna dan Rama. "Dokumen ini bahkan jauh melampaui standar minimal yang ditetapkan oleh pihak sekolah."

Seketika, ruangan pleno terdiam seribu bahasa. Wajah Clarissa yang tadinya penuh kemenangan langsung memucat pasi. Warna merah jambu di pipinya seolah lenyap, menyisakan raut ketakutan yang nyata. Buku-buku jarinya mencengkeram tepi meja hingga memutih.

Rama menatap Clarissa dengan tatapan tajam dan penuh kekecewaan. "Clarissa? Tim verifikasi independen mana yang kamu maksud? Bukankah penandatanganan surat penolakan kemarin juga sempat kamu lakukan secara sepihak tanpa melibatkan pembina?"

"Aku... aku hanya..." Clarissa tergagap, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia kehilangan kendali atas kata-katanya sendiri. Skenario kehancuran yang ia siapkan untuk Aurel justru berbalik menghantam kredibilitasnya sebagai pemimpin seksi acara.

Bu Ratna menghela napas panjang, menatap tajam ke arah Clarissa. "Clarissa, tindakan memalsukan prosedur administratif dan menyebarkan disinformasi demi kepentingan pribadi adalah pelanggaran berat terhadap etika organisasi siswa. Keputusan pleno ini bersifat mutlak."

Bu Ratna mengetuk meja kecil di depannya. "Berdasarkan verifikasi ilmiah yang sah, produk jamu tradisional lereng Gunung Pati dan kerajinan bambu resmi diterima dan ditetapkan sebagai produk utama pameran tingkat kota mewakili SMA Loyola."

Ketukan palu kecil dari Bu Ratna bagaikan palu hakim bagi Clarissa. Jessica dan Felicia tertunduk lesu di belakang, tidak berani mengangkat muka. Rencana besar untuk menjatuhkan Aurel runtuh berkeping-keping dalam hitungan menit.

Sore harinya, setelah rapat pleno resmi ditutup dan seluruh berkas ditandatangani, koridor sekolah mulai sepi. Clarissa berjalan tergesa-gesa menuju parkiran, berusaha menghindari tatapan para siswa lain yang sudah mulai berbisik-bisik mengenai insiden di ruang pleno tadi.

"Clarissa!"

Panggilan itu menghentikan langkah Clarissa di dekat mobil sedannya. Ia berbalik dengan napas memburu, mendapati Aurel berdiri beberapa meter darinya dengan tangan bersilang di dada.

"Mau apa lagi kamu, Aurel?! Puas sudah mempermalukanku di depan pembina?!" bentak Clarissa dengan suara bergetar, pertahanannya runtuh sepenuhnya.

Aurel melangkah mendekat dengan tenang, tatapannya tajam namun menyiratkan kedewasaan yang luar biasa. "Aku tidak pernah berniat mempermalukanmu, Clarissa. Kamu sendiri yang menggali lubang itu dengan ambisi dan kelicikanmu. Kekuasaan dan nama besar keluargamu tidak akan pernah bisa menutupi integritas yang rapuh."

Clarissa menggigit bibirnya, air mata kekesalan hampir tumpah di pelupuk matanya. "Kamu pikir kamu menang? Pameran ini masih panjang, Aurel!"

"Silakan lanjutkan permainan licikmu kalau kamu masih punya sisa harga diri," balas Aurel datar. "Tapi ingat, aku berdiri di sini bukan untuk diinjak-injak, melainkan untuk membuktikan bahwa kerja keras seorang ibu di lereng gunung jauh lebih bernilai daripada kesombongan anak kota sepertimu."

Tanpa menunggu balasan dari Clarissa yang kini terdiam kaku menahan tangis, Aurel memutar tubuhnya dan meninggalkan area parkiran dengan langkah pasti.

Malam harinya, di dapur rumah yang hangat di lereng Gunung Pati, aroma jahe merah dan kunyit kembali mengepul memenuhi ruangan. Ibu tersenyum lebar sambil memeluk erat map hasil keputusan pleno resmi yang baru saja dibawa pulang oleh Aurel.

"Jadi... jamu kita resmi lolos ke pameran kota, Rel?" tanya Ibu dengan mata berkaca-kaca penuh rasa syukur.

Aurel mengangguk sambil tersenyum tulus, menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu. "Resmi, Bu. Pekan depan, botol-botol racikan Ibu bakal berdiri sejajar dengan produk-produk unggulan lainnya di balai kota."

Di luar, hujan gerimis perlahan reda, menyisakan udara malam pegunungan yang sejuk dan menenangkan. Aurel menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa badai telah berlalu, dan babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai dengan kepala tegak dan hati yang merdeka.

1
Gabutz
kalau aku pengen cepet" ketauan bhwa Clarissa itu sebenarnya bukan anak orkay wkwk
Siti Gemini 75
Ok siap
Gabutz
lanjuttt thor, gak sabar nunggu kebenaran bahwa mereka ketukerr
Siti Gemini 75
Ok kak 👍
Siti Gemini 75
Ok siap
Gabutz
lanjuttt ceritanya bagusss...
kalau bisa double up
Putri Sajak
Semngat nulis kak💪, yok singgah di karya aku komen komen n like kk🤭
ANGGA
🗿
ANGGA
kapan update lagi
Siti Gemini 75: ini udah aplod lagi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!