mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
muka dua
Silla menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak emosi yang sedari tadi sudah membakar dadanya. Hari ini benar-benar menjadi hari yang terkutuk baginya. Belum hilang rasa lelah dan dongkol akibat ulah Sagara—CEO sekaligus mantan kekasihnya yang bersikap kekanak-kanakan dan menyebalkan di kantor—kini ia harus dihadapkan pada kenyataan pahit lainnya tepat di depan pintu kosannya.
Pak Ardi, sopir pribadi ayahnya, berdiri di sana dengan wajah serba salah. Kehadiran pria tua itu hanya berarti satu hal: perintah mutlak dari sang ayah untuk pulang ke rumah utama. Rumah yang bagi Silla tak ubahnya seperti neraka personal, tempat di mana Ratih, sang ibu tiri yang berhati culas bagai nenek lampir, dan Teresa, anak kandung Ratih yang bermuka dua, siap menyambutnya dengan sindiran dan drama baru.
Rasa lelah yang menumpuk di pundak Silla seketika berubah menjadi gumpalan amarah dan keputusasaan yang siap meledak.
Silla mengembuskan napas berat, meratapi nasibnya yang harus berganti dari satu panggung drama ke panggung drama lainnya hari ini.
"Selamat sore, Non Silla."Pak Ardi membungkuk sopan, guratan tidak enak hati terlihat di wajah tuanya.
Silla Tersenyum tipis, berusaha tetap sopan meski energinya sudah minus "Sore, Pak Ardi. Bapak sudah lama nunggu di sini? Kok nggak ngabarin Silla dulu?"
"Lumayan, Non. Maaf ya, Non, Bapak sengaja tidak telepon dulu. Soalnya... Bapak diperintah langsung sama Tuan besar untuk jemput Non Silla hari ini."
Silla Memijat pelipisnya yang mulai berdenyut "Jemput ke rumah utama ya, Pak? Ayah ada acara apa lagi sih? Silla capek banget hari ini, Pak. Kantor lagi repot banget."
"Bapak tidak bilang ada acara apa, Non. Tapi pesan Bapak tadi jelas sekali, saya tidak boleh pulang ke rumah kalau belum membawa Non Silla ikut. Ibu Ratih dan Non Teresa juga... katanya sudah menunggu di rumah."
Silla Bergumam sinis, setengah berbisik "Menunggu? Paling nunggu mau cari bahan buat nyindir lagi. Nenek lampir sama anaknya itu mana pernah bosan."
Pak Ardi hanya bisa tersenyum canggung, serba salah karena tahu betul dinamika keluarga majikannya "Bagaimana, Non? Mobilnya sudah Bapak parkir di depan depan gang. Kalau Non Silla mau ganti baju atau istirahat sebentar, Bapak tunggu di luar."
Silla Melihat ke pintu kosannya, lalu menghela napas pasrah"Nggak usahlah, Pak. Kalau Silla nolak sekarang, besok Ayah pasti kirim orang lagi. Malah makin ribet bikin heboh kosan. Ayo deh Pak, kita jalan sekarang aja sebelum Silla makin malas."
Pak Ardi Membukakan jalan dengan lega"Baik, Non. Mari, biar tasnya Bapak yang bawakan ke mobil"
"Nggak usah, Pak, Silla bawa sendiri aja. Yuk."
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, mobil itu akhirnya sampai di pekarangan rumah klasik ala Eropa. Rumah dua lantai yang terbilang cukup luas. Ya, keluarga Silla memang bukan keluarga prasejahtera, tapi tidak bisa dibilang kaya raya juga
Silla terus bergumam dalam hati. Ia jelas sudah tahu bahwa malam ini akan menguras tenaga dan mentalnya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Pak Ardi—sang sopir—ia melangkah masuk ke dalam rumah begitu saja, tanpa memencet bel terlebih dahulu.
Begitu pintu jati besar itu terbuka, aroma pengharum ruangan mahal langsung menyengat indra penciuman Silla. Di ruang tamu bergaya klasik dengan sofa beludru merah maroon, ketiga orang itu sudah berkumpul. Ayahnya, berpenampilan rapi namun tatapannya selalu sayu, duduk diapit oleh Ratih yang tersenyum penuh kemenangan, dan Teresa yang sibuk memainkan kuku-kuku cantiknya.
"Wah, anak emas akhirnya pulang," suara cempreng Teresa memecah keheningan, memutus lamunan Silla.
Ratih segera menyikut suaminya, memberi kode dengan kerlingan mata yang tajam. Ayah Silla berdeham, mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang. "Silla, kamu sudah datang? Ayo duduk dulu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan malam ini."
Silla mengepalkan tangannya di dalam saku mantel. Ia tahu persis, 'hal penting' versi mereka biasanya berarti 'masalah besar' untuk dirinya. Menghela napas panjang demi menguatkan mentalnya yang mulai terkikis, Silla melangkah maju menghadapi badai yang sudah menantinya
Ruang tamu rumah keluarga. Ayah silla , Ratna (ibu tiri), dan Teresa (saudara tiri) sedang duduk berkumpul. Silla langsung meletakkan tasnya dengan kasar di meja.
Ayah silla berdeham, memasang wajah melas "Silla, duduk dulu. Ada hal penting yang mau Ayah bicarakan sama kamu. Ini soal masa depan keluarga kita."
Silla Duduk menyilangkan kaki, menatap malas"To the point aja, Yah. Silla capek habis kerja. Ada apa?"
Ratna menatap silla dengan Tersenyum manis yang dibuat-buat, mengusap lengan Ayah silla.
"Silla sayang... begini, bisnis Ayahmu kan lagi agak seret. Kita lagi butuh dana segar yang lumayan besar untuk mutar modal."
Teresa saudara tiri silla Ikut menyahut dengan suara lembut, mata berbinar-binar sok polos "Iya, Kak Silla. Kita semua lagi prihatin banget."
" Kemarin aku mau bayar uang kuliah aja sempat bingung. Untung ada Ayah yang selalu usahain."
Silla Menatap Teresa sinis "Muka lo gak usah disedih-sedihin gitu, Teresa. Kemarin gue lihat postingan lo abis flexing tas baru di mall. Kuliah apa belanja bulanan?"
Teresa Wajahnya langsung berubah masam, melirik ibunya "P-punya temen aku itu, Kak!"
Ayah Menghela napas, mulai terpengaruh bisikan istrinya " Sudah, sudah, jangan berantem. Silla, Ayah mau minta tolong. Kamu kan punya aset tanah luas yang di pusat kota, yang atas nama kamu pemberian dari kakek mu,Ayah minta kamu jual tanah itu sekarang. Ayah butuh uangnya segera."
Ratna Menimpali cepat, mata berbinar serakah "betul, Silla. Lagipula tanah kosong gitu kan mubazir, cuma bayar pajak aja. Kalau dijual sekarang, uangnya bisa buat bantu Ayahmu, sisanya kan bisa buat kita renovasi rumah ini juga. Bagus kan?"
Silla terdiam. Suasana hening sejenak. Silla menatap satu per satu wajah orang di depannya dengan tatapan dingin, lalu mendengus remeh.
Silla dengan Tegas dan lantang "Enggak. Nggak akan pernah gue jual."
" Silla! Kamu kok egois banget? Ini demi Ayah! Demi keluarga kita!"suara ayah silla meninggi
Silla yang sudah emosi berdiri, menunjuk Ratna "Demi keluarga atau demi memuaskan nafsu belanja mak lampir ini, Yah? Hebat ya Tante Ratna, otaknya licik banget. Minta Ayah ngebujuk gue biar dapet duit instan. Emang lu pikir gue gak tahu lu punya utang judi online sama arisan bodong?lo bisa begoin ayah tapi gue engga ya lampir!!"
Ratna Wajahnya memerah, berlagak terzalimi "Mas! Lihat anakmu! Kurang ajar banget menuduh saya begitu! Saya ini ibu tirinya, harusnya dihormati!"
Teresa ikut membela ibunya, nada sok bijak tapi memprovokasi " Kak Silla keterlaluan banget sih! Harusnya Kakak berbakti sama Ayah, jangan ceplas-ceplos gak punya sopan santun gitu dong!"
Silla Menatap Teresa, tertawa renyah "Heh, Teresa! Gak usah sok suci pake muka dua lo itu! Di depan Ayah lo akting jadi anak baik yang prihatin, tapi di belakang, lo yang paling getol ngomporin Tante Ratna buat ngerebut aset gue kan?Muka lo tuh kayak koin, dua sisi tapi gak ada nilainya!"
Ayah Memukul meja "SILLA! CUKUP! Kenapa kamu jadi anak bar-bar begini? Ayah yang besarkan kamu! Ayah cuma butuh uang itu!"
Silla Menatap Ayahnya dengan tatapan lurus dan tegas " Dan Ayah adalah tipe cowok yang paling gampang disetir! Gampang dipengaruhi sama air mata buaya dua perempuan ini! Denger ya, Yah. Tanah itu peninggalan kakek kandung gue. Hak mutlak ada di tangan gue. Sampai kiamat pun, Silla gak akan sudi jual tanah itu cuma buat jadi santapan dua benalu di rumah ini!"
Silla mengambil tasnya kembali, bersiap pergi ke luar dari rumah itu .sebelum sampai pintu ia Menengok ke belakang "Kalau bisnis Ayah seret, potong tuh uang jajan mereka. Bukan malah ngerampok anak kandung sendiri. Paham?"