Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turnamen eSport
Apa yang Reno katakan rupanya memang benar. Sekolah SMA Tunas Bangsa tidak lagi menjadi tuan rumah eSport selanjutnya. Dan disinilah kay, dengan aura kepemimpinannya memulai rapat OSIS yang diadakan secara dadakan. Mulai memberikan arahan perihal susunan acara, keamanan dan peraturan baru yang terpaksa dia terapkan.
"Kepala sekolah juga minta buat acara ditutup jam 5, nggak lebih. Pastiin sekolah kosong, dan buat panitia juga harus cabut kalau udah jam 5."
"Terus kita nggak beres-beres?"
"Kita lakuin Sabtunya. Acaranya kan tanggal 9, itu Hari Jumat. Sekalian biar bisa istirahat."
Sheila yang duduk di sebelah kay menghela napasnya pelan, tampak jelas tidak setuju dengan aturan yang ditetapkan, menurutnya Saga terlalu kolot dan serius tentang acara itu. “Kay, ini acara untuk seneng-seneng lho, refresing biar anak-anak lain juga enjoy. Kalau aturan lo ketat gini acara bisa jalan?"
"Yang lo maksud aturan ketat yang mana?" selidik kay kepada Sheila.
"Yang nggak ngebolehin pakai pakaian bebas, bukannya kalau acara Classmeet kepala sekolah ngeizinin buat kita berpakaian bebas?"
"Lagian lo kenapa nyuruh anak paskib jaga sih, ini kan acara OSIS."
"Ini acara sekolah, semua ekstra ikut andil Sheila. Dan lagi ini bukan Classmeet, ini turnamen ngelawan SMA Tunas Bangsa. Gue nggak mau ada kesalahan di acara besok."
Sheila mengernyit tidak mengerti, baru kali ini kay bertingkah serius ketika memimpin rapat dan bertindak berlebihan untuk acara seperti saat ini.
"Please deh Ga! Ini acara cuma buat fun, lo nggak perlu batesin anak SMA Tunas Bangsa, gue rasa mereka boleh masukin area sekolah dengan bebas tanpa perlu penjagaan dari anak Paskib."
"Iya Ga, kali ini gue setuju sama Sheila. Acara ini kesannya terlalu kolot. Mana lagi kalau acara kelar jam 5, seenggaknya kasih waktu buat panitia beresin properti yang kita sewa," sanggah Salsa.
"Ini perintah kepala sekolah, mereka minta sekolah tutup jam 5. Nggak kurang, nggak lebih. Banyak anak kelas 10 yang bakal nonton acaranya, kita nggak bisa biarin mereka pulang malem kalau acaranya kelamaan," balas Saga penuh penekanan.
Semua orang terdiam, Sheila sendiri memilih diam saja. Nyatanya menyatakan suara tidak akan didengar dengan posisinya yang hanya sebagai anggota biasa. "Terserah lo aja deh kay, kalau ada masalah sama susunan acaranya lo urus sendiri,sanggah Sheila yang membuat semua orang menelan salivanya gugup.
Bukan satu atau dua kali Sheila dan Kay Morgan kedapatan bertentangan argumen. Mereka tampaknya tak pernah berpikir dengan jalan yang sama, selalu cekcok karena perbedaan pendapat.
"Nggak akan ada masalah sama susunan acaranya, waktunya bakal pas. Lagi pula kepala sekolah yang minta buat acara ini kelar lebih cepat dari biasanya. Lo tenang aja," Kay Morgan kembali bersuara.
Kay Morgan kembali mengedarkan tatapannya ke penjuru ruangan, cowok jangkung itu menatap satu persatu anggotanya dengan wajah serius. Aura mendominasi dan kepemimpinan cowok itu menguar detik itu juga.
"Gue tegasin sekali lagi, jangan sampai anak SMA Tunas Bangsa keluyuran di area sekolah kecuali di lapangan. Minta anak paskib jaga yang benar, kalau ada masalah langsung hubungin gue!" Dirasa tidak ada yang akan bersuara untuk memberi masukan dan menyela seperti yang Sheila lakukan sebelumnya—Kay Morgan berdiri dari tempatnya.
"Rapat selesai, kalian bisa balik." Tak lama sosok Kay Morgan keluar dari ruang OSIS, membuat pasokan oksigen yang semula terasa surut kembali terasa lega.
"Gila! Gue dari tadi susah napas. Si Kay Morgan lagi ada "masalah apa gimana anjir!" ucap Rakha selepas kepergian ketua OSIS-nya itu.
"Hooh aneh banget sikapnya." Salsa membalas dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Rakha menoleh ke arah Sheila. "Lo berani banget Sheila ngejawab Kay Morgan."
"Hak kita sebagai anggota buat bersuara, tapi sayang banget ketua OSIS kaya dia nggak bisa ngehargain pendapat anggotanya." Semua orang mendadak terdiam mendengar jawaban tak terduga dari Sheila.
Biasanya gadis itu berbicara dengan lembut, sangat jarang meninggikan suara jika tidak sedang berdebat dengan Kay Morgan. Dan respon Sheila saat itu terdengar cukup dingin, belum lagi wajah cantik itu tidak menunjukkan senyuman khasnya lagi sejak rapat dimulai.
"Gue duluan ya." Tanpa menunggu respon dari teman-temannya, Sheila beranjak dari tempatnya untuk berjalan keluar dari ruangan itu.
"Anjrot! Itu dua orang punya masalah apaan coba?" cerocos Gabby merasa aneh dengan situasi yang tidak biasa itu.
"Udah biarin! Kita juga balik aja," pungkas Serly menengahi.
🐼🐼🐼
Hingga tiba acara turnamen…
Murid SMA Garuda Indonesia menyambut acara eSport dengan penuh suka cita—lebay banget! Tapi emang penuh suka-suka, orang jadinya mereka nggak ada pelajaran alias jamkos. Alhasil banyak anak kelas 11 yang merayap ke kantin, ada juga yang pengen cabut lewat gerbang belakang sekolah, terus anak kelas 10 udah pada menuhin sisi lapangan buat dapet tempat yang strategis.
Biasanya sih anak cewek, yang rela banget panas-panasan cuma biar bisa liat kakak kelas mereka tanding, mulai dari basket sampai futsal. Apapun dilakukan buat bisa lihat cogan-cogannya SMA Garuda Indonesia di garis terdepan. Apa lagi ada Kael William dkk yang tengah bersiap tanding basket mewakili sekolah tercinta mereka.
"Woy Kay! Sini lo!" teriak Kael William melihat Kay Morgan tengah membagikan minuman botol ke peserta bersama Rakha.
Cowok dengan pakaian panitia OSIS itu berjalan mendekat. "Apaan?" tanya Kay Morgan seraya melempar minuman ke arah teman-temannya, mereka menangkapnya tanpa kesulitan.
"Lo yakin nggak ikut tanding sama kita?" tanya Kael William serius.
"Lo nggak liat gue banyak urusan gini?" jawabnya melirik ke tempat duduk anak OSIS di pinggir lapangan.
"Lah monyet! Lo bilang bakal ikut juga," seru Digo sambil melakukan pemanasan.
"Jambu lo Kay! Janji busuk," celetuk Devandra yang membuat Kay Morgan menatapnya datar.
"Mulut lo busuk! Udah lo pada tanding aja kayak biasa, kan juga ada si Reyhan. Dia bisa diandelin."
"Iya, tapi kan biasanya kalau tanding sama lo nyet!"
Kay Morgan menarik senyum mengejeknya. "Kenapa, takut kalah kalau nggak ada gue?"
"Mati aja lo!" seru Devandra yang membuat Kay Morgan terkekeh.
"Awas aja sampai lo pada kalah!" kata Kay Morgan, lagi.
Mahendra yang sejak tadi diam hanya mengangkat jari tengahnya ke arah Kay Morgan. "Kita menang, lo balik cuma pakai kolor."
"Setuju!" balas Kay Morgan santai lantas melangkahkan kakinya menjauh ketika Rakha memanggil namanya.
Selepas kepergian Kay Morgan, di tempatnya Devandra langsung heboh. "Kita harus menang anjrit! Kapan lagi liat si Kay Morgan pakai kolor. Ayo semangat-semangat!" seru Devandra seraya mengulurkan tangannya—bersiap melakukan tos dengan semangat 45.
Tapi sialan! Tidak ada yang menggagasnya.
"Alah lontong. Sok asik lo!" cerca Digo seraya menendang bokong Devandra.
Kael William tertawa puas bersama Mahendra, sementara Tristan hanya diam—tapi doi emang selalu diam. Tak lama mereka berlari masuk lapangan ketika wasit meminta mereka bersiap. Meninggalkan Devandra yang sibuk mengabsen silsilah keluarga Digo.
"Kucing! Babi! Jangkrik! Cicak!" Devandra mengusap dadanya, prihatin. "Orang ganteng harus sabar."
🦋🦋🦋
"Kay Morgan resolusi mukanya 1080p anjir, bening banget!"
"Auranya ngajak berumah tangga."
Decakan kagum serta pujian yang di lontarkan secara terang-terangan dari murid lainnya adalah hal yang sudah menjadi makanan Kay Morgan sehari-hari.
"Ha-hai kak!" sapa seorang adik kelas yang memberanikan diri menyapa dirinya.
"Hai!" Sapa Kay Morgan singkat, tanpa senyum dan hanya melirik sekilas ke arah gadis itu. Namun siapa sangka, perlakuan kecil itu berhasil membuat adik kelasnya hampir pingsan kehabisan nafas.
Nggak sia-sia doi jaga lilin semalam!
"Gue juga mau di sapa lo, Kay!"
"Kay Morgan keringetnya di lap dulu, perlu bantuan nggak?"
Kay Morgan semakin melebarkan langkahnya melewati lorong kelas, mengabaikan bisikan-bisikan gadis yang secara terang-terangan memuji fisiknya. Tentu saja mereka terhipnotis dengan ketampanan Kay Morgan. Namun rupanya hal itu justru membuat Kay Morgan risih dan terganggu.
Tapi gimana nggak di puji, dengan kaos panitia yang super duper sialannya berwarna Hitam—yang mana membuat kadar ketampanan Kay Morgan naik kali-kali lipat, rambut yang tidak tertata rapi, wajah sedikit berkeringat lantaran kepanasan. Sukses menonjolkan sisi badboy seorang Kay Morgan.
Cowok itu berjalan menyeberangi sisi lapangan untuk bergabung bersama rekan OSIS-nya.
"Gimana pertandingannya?" bisik Kay Morgan kepada Sheila yang tengah membenarkan sound system. Menyadari itu Kay Morgan berjongkok di sebelah Sheila, mengambil alih kabel-kabel dari tangan gadis itu.
"Gue aja." Tanpa mengatakan apapun Sheila membiarkan Kay Morgan melanjutkan pekerjaannya.
"Gimana pertandingannya?" Kay Morgan kembali mengulang pertanyaannya
"Tim basket kita unggul dari babak pertama. Kayaknya kita bakal menang lagi," kata Sheila yang tanpa sadar membuat Kay Morgan mengulum senyum bangga.
Okay sip! Pulang pakai kolor.
🐼🐼🐼
Disis lain saat uni rora..
"Habis ini ke mall yuk Rora, gue mau beli jumpsuit."
"Okay!" jawab Aurora Grey setelah meneguk habis minumannya.
"Kenyang gue." Rami mengernyit, menatap dongkol Aurora Grey yang sedang memegangi perutnya.
"Gimana nggak kenyang kambing, lo makan bakso habis 2 mangkok. Ini lagi kalau beli es satu dulu nggak habis kan jadinya," omel Rami menunjuk es buah dan es jeruk yang Aurora Grey pesan.
Sebenarnya tadi Aurora Grey memesan makanan itu untuk Sheila, tapi gadis itu rupanya sedang sibuk dan tidak ada waktu untuk makan bersama—jadilah, dengan amat terpaksa Aurora Grey yang menghabiskannya.
"Habisin Rora! Gue udah kenyang."
Rora yang sedang menikmati fase kekenyangannya mengisyaratkan Rami untuk diam. "Gue mau ke toilet dulu," katanya merasa kebanyakan minum.
"Cepat ya! Habis ini paling bel, kalau lama gue tinggal," tungkas Rami seraya mengecek jam tangannya.
Sudah hampir jam 5 sore.
"Iya-iya bawel, ini bawain tas gue!" Rora menyerahkan tas sekolahnya kepada Rami, sebelum akhirnya berlari keluar dari area kantin.
"Misi-misi, gue kebelet!" bisik Rora berlari melewati orang-orang yang terlihat memenuhi lorong kelas—kebanyakan lagi pada nunggu bel sekolah yang makin ditunggu makin ngelunjak.
"Permisi ya," katanya lagi.
Rora melebarkan langkahnya ketika hampir sampai ke toilet, namun langkahnya mendadak berhenti tatkala berpapasan dengan Ruka. Keduanya saling menatap sinis, Rora menjadi orang pertama yang memutus kontak mata keduanya. "Permisi, gue mau lewat," katanya biasa aja.
Kalau mau ngajak tatap-tatapan mending nanti aja atau nggak besok, lagi kebelet woy!
Rora langsung berjalan melewati Ruka yang masih menatapnya dengan tatapan tidak suka yang ketara. Gadis itu memasuki salah satu bilik dan menuntaskan urusannya.
Akhirnya.
Beberapa saat kemudian. Ketika Rora hendak keluar dari bilik toilet, gadis itu mengernyit bingung ketika pintu di hadapannya tidak bisa dibuka. "Kok nggak bisa dibuka sih?"
Rora masih berusaha membuka paksa pintu di hadapannya. "Sialan! Gue dikunciin?" bisiknya mulai menggedor-gedor pintu toilet.
"Tolong dong! Ada orang nggak di luar?"
"Tolong woy!!!" Merasa percuma, Rora merogoh saku seragamnya, berharap menemukan ponsel miliknya.
Mampus lo Rora! Ponsel lo kan ada di dalam tas.
----------------
Sedangkan disisi lain tempat kay saat ini..
"Gue liat anak SMA Tunas Bangsa mulai dateng ke sekolah. Lo mending suruh anak OSIS buat balik, Kay." Kay Morgan langsung mematikan panggilannya dengan Mahendra.
Cowok bertubuh tegap itu mendatangi rekan-rekan OSIS-nya yang masih sibuk menyingkirkan sound system dan beberapa bangku dari lapangan.
"Lo pada mending balik, kita lanjut besok. Langsung minta pak Suripto tutup gerbangnya!"
Sheila menoleh dengan wajah tidak setuju. Semakin curiga dengan sikap Kay Morgan yang mendadak menjadi serius dan dingin. "Kita nggak bisa biarin barang-barang yang kita sewa ditinggal gitu aja. Lo mau tanggung jawab kalau ada barang yang hilang?"
"Gue bakal urus, tinggal lo semua pergi apa susahnya sih?!"
"Dan lo! Nggak usah jawab terus, kalau gue bilang pergi ya pergi, gue bisa handle semuanya sendiri." Kay Morgan sengaja meninggikan suaranya untuk menyanggah ucapan Sheila.
Gadis itu terkadang menyusahkan dan hanya membuatnya terpancing amarah dengan aturan-aturannya. Kay Morgan tahu betul jika Sheila sangat membencinya sebagai ketua OSIS; sebenarnya Kay Morgan tidak terlalu terganggu dengan itu, namun semakin lama sikap gadis itu membuatnya jengah.
"Balik lo semua!" tegas Kay Morgan seolah tidak menerima bantahan lagi.
Cowok itu berlari keluar lapangan sekolah yang sudah terlihat sepi. Sebenarnya acara sudah berakhir sejak tadi, hanya menyisakan panitia OSIS yang sekarang pun sudah Kay Morgan minta untuk segera pulang. Tapi sekali lagi cowok itu harus memastikan memang tidak ada murid lain yang berada di sana.
Kay Morgan merogoh sakunya, kembali menghubungi nomor Mahendra. "Minta anak-anak buat nge-check area sekolah sekali lagi, pastiin emang sekolah udah kosong!"
Kay Morgan menyipitkan matanya ketika melihat sosok Rami baru keluar dari kantin, langsung saja cowok itu berlari menghampiri gadis itu. "Lo kenapa masih di sini?"
"Anjir, kaget!" seru Rami merasa terkejut ketika melihat sosok Kay Morgan mendadak muncul di hadapannya.
"Balik lo sekarang!" suruh Kay Morgan dengan wajah dingin.
"Bentar! Temen gue masih di toilet, gue mau samperin dia lama banget," kata Rami dengan sorot mata khawatir.
Dahi Kay Morgan langsung berkerut. "Maksud lo Rora?"
Rami mengangguk kaku. "I-iya," gagap Rami tak berkutik mendengar Kay Morgan menyebutkan nama rora
"Lo balik aja, biar gue urus dia." Melihat Kay Morgan yang langsung berlari menuju toilet perempuan, Rami menganga di tempat. Merasa terkejut dan terheran-heran.
"Demi apa?! Mereka beneran pacaran?"