Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keringat Dingin di Ruang BK
Pak Antonio Roberto menelan ludah dengan susah payah. Kacamata minus di pangkal hidungnya sedikit melorot, namun jemarinya terlalu kaku untuk sekadar membetulkannya. Sebagai kepala BK yang terbiasa menghadapi siswa bermasalah dan para wali murid yang menuntut, tatapan yang ia terima dari Damien Vance sore ini berada di level yang sama sekali berbeda.
Di hadapannya bukan seorang kakak kelas yang sedang membela junior, bukan pula remaja labil yang mencari gara-gara. Damien Vance adalah representasi langsung dari keluarga Vance—investor terbesar kedua yang menopang pembaruan fasilitas riset dan laboratorium Rexanswood Academy.
"T-Tuan Damien..." Antonio bangkit dari kursi kerjanya, mencoba mengais kembali sisa wibawa seorang pendidik. Suaranya sedikit serak. "Ada keperluan apa Anda datang ke ruangan saya? Dan... kenapa membawa Clyrine kemari?"
Damien tidak repot-repot membalas sapaan itu dengan senyuman. Netra gelapnya melirik sekilas tumpukan map di meja, tepat pada lembar laporan kedisiplinan yang baru saja ditandatangani Antonio.
"Saya tadi bertanya dengan bahasa yang cukup jelas, Pak Antonio," ujar Damien dengan intonasi rendah yang menekan. "Kenapa siswi bimbingan saya dihukum fisik berjam-jam di lapangan dan dicap curang tanpa ada pembuktian yang sah?"
Antonio berdeham, berusaha menegakkan punggungnya agar tidak terlihat terintimidasi di hadapan Clyrine yang masih berdiri diam di samping Damien.
"Saya menjalankan peraturan akademi, Tuan Vance," jawab Antonio, mencoba membentengi diri dengan regulasi sekolah. "Tadi pagi saat ujian Sejarah Politik, ditemukan secarik kertas contekan berisi rangkuman materi lengkap di dalam saku tas Clyrine. Hal itu disaksikan langsung oleh Claire dan Genevieve. Bukti fisiknya ada di sini."
Antonio membuka laci mejanya, mengambil sobekan kertas lipat kecil yang tadi siang ia sita, lalu meletakkannya di atas meja di hadapan Damien.
Damien melirik kertas itu sekilas tanpa berniat menyentuhnya. Sudut bibirnya tertarik tipis, membentuk seringai sinis yang membuat bulu kuduk Antonio meremang.
"Bagus," ucap Damien datar. "Sekarang saya tanya. Apa Bapak memeriksa tulisan tangan di kertas itu sebelum menjatuhkan hukuman?"
Antonio mengerutkan kening, tampak sedikit goyah. "Kertas itu ditemukan di dalam tas Clyrine saat ujian berlangsung. Dalam kode etik kedisiplinan sekolah kita, kepemilikan materi tidak sah di area meja peserta ujian sudah cukup untuk—"
"Kode etik?" potong Damien cepat, nada suaranya membelah ruangan seperti bilah es. "Kode etik macam apa yang membiarkan seorang guru menghukum murid hanya berdasarkan pengakuan sepihak dari dua siswi yang punya riwayat konflik pribadi dengan tertuduh?"
Damien mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua manik matanya menghujam lurus ke pupil Antonio.
"Pertama, tulisan tangan di kertas itu terlalu rapi dan menggunakan tinta gel biru tipis ukuran nol koma tiga delapan. Clyrine selalu menggunakan pulpen bolpoin hitam standar. Bapak bahkan tidak repot-repot membandingkannya dengan lembar jawaban ujiannya di meja."
Antonio tersentak kecil. Tangannya bergerak tanpa sadar meremas tepi jasnya.
"Kedua," lanjut Damien tanpa memberi ruang untuk sang guru bernapas, "siapa yang menjatuhkan botol minum ke arah meja Clyrine sebelum kertas itu 'ditemukan'? Claire. Apakah Bapak memeriksa rekaman CCTV ruang kelas tiga belas sebelum memaksa Clyrine menandatangani surat peringatan dan menyuruhnya menyapu lapangan sampai dehidrasi?"
Kata CCTV membuat wajah Antonio seketika pucat pasi.
Di Rexanswood Academy, kamera pengawas di setiap sudut kelas memiliki resolusi tinggi dengan sudut pandang lebar. Antonio tahu betul bahwa tadi siang ia bertindak terburu-buru, didorong oleh reputasi buruk Clyrine di masa lalu serta status Claire sebagai siswi teladan yang omongannya selalu dianggap kebenaran mutlak.
"S-soal CCTV... sistem rekaman hari ini sedang dalam perawatan berkala dari pihak IT yayasan—"
"Jangan membodohi saya dengan alasan teknis murahan, Antonio," potong Damien dingin, menghilangkan panggilan formalnya seolah berbicara pada bawahannya sendiri. "Server utama yayasan sekolah ini terhubung langsung ke sistem Vance Tech Consultancy untuk audit keamanan jaringan tiap semester. Mau saya buka akses rekamannya dari ponsel saya sekarang juga, biar kita tonton sama-sama di proyektor ruangan ini?"
Clyrine yang berdiri di belakang Damien terperangah. Mulutnya sedikit terbuka menatap punggung tegap pria itu. Segala rasa sesak, lelah, dan ketakutan yang menindih dadanya sejak siang mendadak menguap, digantikan gelombang keterpukauan yang teramat sangat. Pria ini tidak hanya datang untuk melindunginya dengan kata-kata manis; ia datang membawa fakta, wewenang, dan menghancurkan kebohongan lawan hingga tak bersisa.
Keringat dingin kini benar-benar membasahi dahi dan leher Antonio. Tangannya yang memegang pena gemetar tipis. Jika Damien benar-benar membuka rekaman itu dan melaporkannya ke dewan pengawas yayasan atas tuduhan kelalaian prosedur penanganan siswa dan diskriminasi, jabatannya sebagai kepala BK bisa melayang dalam hitungan hari.
"T-tidak perlu sampai sejauh itu, Tuan Vance..." cicit Antonio, nada bicaranya melunak drastis, sepenuhnya kehilangan taji. "M-mungkin... ada kekeliruan kecil dalam penyelidikan cepat tadi siang. Situasi kelas saat itu sedang tegang karena ujian..."
"Kekeliruan kecil?" Damien mendengus sinis. "Kekeliruan Bapak bikin siswi saya pingsan karena kelelahan di lapangan, kehilangan hak nilainya, dan hampir merusak reputasinya di depan keluarga."
Damien melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Antonio dengan tatapan menghakimi.
"Saya beri Bapak waktu sampai besok pagi jam delapan," titah Damien mutlak tanpa ada kompromi. "Batalkan surat peringatan atas nama Clyrine Elamora Rexander. Hapus poin pelanggarannya dari sistem. Jadwalkan ujian susulan dengan pengawas yang netral. Dan satu lagi..."
Damien menjeda kalimatnya, matanya menyipit tajam.
"...panggil Claire dan Genevieve ke ruangan ini untuk dimintai pertanggungjawaban atas tindakan manipulasi bukti. Kalau besok pagi berkas pembatalan ini belum ada di meja dewan yayasan, surat resmi peninjauan ulang jabatan Bapak sebagai kepala BK yang akan lebih dulu sampai di meja kepala sekolah."
Antonio menelan ludah dengan suara tercekat, lalu mengangguk cepat berulang kali seperti boneka pajangan. "B-baik, Tuan Vance. Saya mengerti... saya akan segera meninjau ulang rekamannya dan memproses pembatalan sanksi tersebut."
"Bagus," pungkas Damien datar.
Tanpa menunggu Antonio menyelesaikan kalimat permohonan maafnya, Damien berbalik badan. Ia kembali meraih pergelangan tangan Clyrine yang dingin, menuntun gadis itu melangkah keluar dari ruang BK.
Pintu tertutup rapat di belakang mereka, meninggalkan Antonio yang ambruk kembali ke kursinya dengan napas tersengal dan wajah yang pucat pasi bak mayat hidup.
Di sepanjang lorong lantai dua yang mulai gelap, Clyrine berjalan di samping Damien dengan langkah yang jauh lebih ringan. Ia mendongak, memandangi rahang tegas pria itu yang masih tampak mengeras oleh sisa-sisa amarah.
"Kak..." bisik Clyrine pelan, jemarinya sedikit meremas balik tangan Damien yang menggenggamnya.
Damien melirik ke bawah, sorot matanya yang semula sedingin baja perlahan melunak begitu menatap wajah lelah Clyrine.
"Apa?"
"Keren banget," gumam Clyrine polos, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tulus meski wajahnya masih kotor oleh sisa keringat dan debu lapangan. "Bener-bener keren parah tadi."
Damien mendengus pelan, menahan senyum tipis yang hampir lolos dari bibirnya. "Makanya, punya mulut dipakai buat ngomong yang bener kayak tadi, bukan cuma buat nanya hal-hal ngawur di mobil."
"Ih, kok malah dibahas lagi sih!" rajuk Clyrine dengan pipi yang mendadak bersemu merah.
Damien menarik pelan tangan gadis itu, mempercepat langkahnya menuju tangga lobi. "Udah, nggak usah banyak omong. Masuk mobil sekarang. Kita balik ke rumah lo, dan lo harus liat gimana muka Claire waktu tahu rencananya hancur total malam ini."