NovelToon NovelToon
EQUILIBRIUM

EQUILIBRIUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: RIKI RIFEL

Gara-gara keserakahan manusia merobek batas dimensi, bumi kiamat dan peradaban malah mundur ke abad pertengahan yang kejam. Dua ratus tahun kemudian, ras manusia dianggap sebagai makhluk paling lemah di dunia baru ini.

Tapi aturan itu tidak berlaku bagi Leo, Cheeta, dan Rheno tiga pemuda yatim piatu super nekat dari Lembah Karat. Ambisi mereka awalnya sederhana: bertahan hidup, menjarah, dan jadi kaya raya! Sialnya, gara-gara tergiur harga jual buah magis yang selangit, aksi nekat Leo malah menyeret mereka ke dalam takdir misterius.

Tanpa disadari, kekuatan purba Equilibrium yang terkunci di dalam darah mereka mulai terbangun. Bersiaplah mengikuti perjalanan epik yang seru, kocak, dan penuh kejutan dari trio penjarah amatir ini dalam mengocok isi dunia atas dan bawah!

Gaya Cerita: Santai & Humoris. Pas buat kamu yang suka petualangan fantasi seru tapi bikin ngakak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelindung kota, Iblis penyendiri

Melihat raut hancur di wajah kelompok Leo, Arsia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Tanpa perlu bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam kuil, ia menuntun mereka untuk duduk di sudut ruangan, berniat membeberkan seluruh kebenaran yang selama ini sengaja disembunyikan.

Meskipun saat ini Arsia bersikap seolah mengetahui garis besar situasinya, jauh di dalam lubuk hatinya, ia benar-benar terguncang. Arsia sama sekali tidak menyangka bahwa kekacauan di kuil pusat digerakkan oleh Leo, atau fakta bahwa Cheeta, Rheno, dan Ely ikut terseret ke dalam pusaran masalah sedalam ini.

"Kalian tahu soal kuil megah di tengah kota itu... Sebenarnya, kuil itu adalah mekanisme pertahanan utama kota ini," ucap Arsia dengan suara yang merendah, matanya menatap kosong ke arah cangkir kayu di atas meja. "Kalian ingat, kan, kalian pernah bertanya padaku tentang bagaimana sistem keamanan di Castra Metropolis bekerja?"

Arsia mengalihkan pandangannya, menatap Cheeta sejenak sebelum kembali menunduk menatap cangkir kosongnya yang sepi.

“Maafkan aku karena tidak memberi tahu kalian sejak awal,” ucap Arsia lirih, guratan sesal tercetak jelas di wajah iblisnya. “Sebenarnya, jika suatu saat kalian memutuskan untuk pergi dari kota ini... tepat saat kalian melangkah melewati batas perbatasan kota, kalian akan langsung melupakan segalanya tentang Castra Metropolis.”

Sejujurnya, Arsia sempat dilanda keraguan besar untuk menceritakan rahasia ini kepada Trio Gubuk. Namun, mengingat Ely adalah seorang ras Elf itu menandakan bahwa Leo adalah salah satu dari mereka yang menginginkan perdamaian, ia memantapkan niatnya untuk terus berbicara.

“Ada dinding magis tebal tak terlihat yang menyelimuti seluruh wilayah Castra Metropolis. Dinding itu akan aktif secara otomatis jika ada siapa pun yang mencoba melewatinya dari dalam, lalu menghapus seluruh ingatan mereka tanpa sisa.”

Arsia meremas jemarinya sendiri, membayangkan kembali kuil yang kini telah runtuh. “Kuil besar di tengah kota adalah pusat energinya, sebuah jantung pertahanan yang terhubung langsung dengan kesadaran Lucifer.

Aku pernah kesana sendiri dulu. Tempatnya benar-benar tidak dijaga sama sekali di bagian luar.

Namun, baru melangkah beberapa meter ke dalam aula, sosok Lucifer tahu-tahu sudah muncul secara instan di hadapanku. Sistem sensor magis di sana sangat sensitif.”

Ia menghela napas berat, merasakan atmosfer kota yang kini terasa hampa tanpa pelindung. “Begitulah cara pertahanan kota ini bertahan selama bertahun-tahun, yaitu dengan menjaga ketat informasinya dari dunia luar.

Namun malam ini, aku melihat pelindung itu menipis dan hilang dari langit. Aku punya firasat yang sangat buruk soal ini.”

Arsia bangkit berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menuju jendela besar penginapan dan menatap langit malam yang kelam.

“Entah apa yang akan terjadi pada Lucifer. Dia selalu memikul seluruh beban berat kota ini seorang diri. Dalam pikirannya, konsep tentang manusia, elf, dan iblis yang bisa hidup berdampingan dengan damai adalah ideologi murni miliknya sendiri.

Kami semua yang tinggal di sini, pada awalnya hanya terpaksa ikut dan patuh karena rasa takut pada kekuatannya.”

Ia membalikkan badan, menatap Leo dan teman-temannya dengan pandangan sendu.

“Iya, benar seperti cerita awal ku di toko kemarin. Banyak dari kami yang memang takut dan terpaksa mengikuti semua aturan ketat Lucifer.

Tapi setelah tinggal di sini, hampir semua penduduk justru merasa sangat senang dan entah bagaimana bisa hidup bahagia. Aku hanya berharap... entah kapan Lucifer akan sadar dan mau sedikit membagi beban berat kota ini kepada kami.”

Mendengar penuturan panjang Arsia, keheningan di sudut penginapan itu terasa kian mencekam. Leo hanya bisa menatap pedangnya dengan rasa bersalah yang teramat dalam, sementara ingatan mereka berempat mendadak terlempar pada sosok Lucifer yang saat ini sedang melesat sendirian demi memburu kelompok Grim di perbatasan kota.

Keesokan paginya, Castra Metropolis tidak lagi terbangun dalam harmoni yang damai. Begitu fajar menyingsing, kabar mengenai runtuhnya benteng pelindung gaib kota telah menyebar luas layaknya api yang berkobar, menembus ke seluruh penjuru distrik.

Suasana kota seketika berubah menjadi riuh dan kocar-kacir. Prosedur evakuasi darurat massal langsung diberlakukan secara mendadak. Ribuan warga dari ras manusia, Elf, dan Iblis tampak berlarian panik di sepanjang jalanan metropolis, mengemas barang-barang berharga mereka ke atas kereta kuda di bawah kepemimpinan dan arahan para tetua kota.

Leo, Cheeta, Rheno, dan Ely berjalan perlahan di tengah kerumunan massa yang panik tersebut. Di sepanjang jalan samping toko, telinga mereka dipenuhi oleh riuh rendah hinaan, makian, dan cemoohan dari para warga kota yang frustrasi karena kedamaian mereka direnggut paksa dalam semalam.

"Siapa bajingan bodoh yang sudah merusak kuil?!" teriak seorang pedagang ras Iblis dengan wajah merah padam sembari menaikkan barang-barangnya ke atas gerobak.

"Gara-gara orang gila itu, kita semua harus kembali ke medan perang yang mengerikan!" sahut seorang wanita ras Elf dengan suara bergetar sembari memeluk erat anaknya yang menangis ketakutan.

Walaupun tidak ada satu pun warga kota yang mengetahui kejadian sebenarnya di kuil malam itu, dan tidak ada satu pun mulut yang menyebutkan nama mereka, setiap kata hinaan dan cemoohan yang melayang di udara itu terasa seperti belati yang menancap telak ke dalam harga diri Leo.

Sang ketua yang biasanya selalu tebar pesona dan sok keren, kini hanya bisa berjalan membisu dengan pandangan mata yang kosong ke arah tanah, menelan bulat-bulat konsekuensi pahit dari tindakan ugal-ugalan nya.

Ketika Lucifer akhirnya kembali dari pengejarannya, debu tebal mengepul pekat saat tubuh tinggi besarnya mendarat di tengah alun-alun kota. Melihat kedatangan sang pelindung, Leo, Cheeta, Rheno, dan Ely segera berlari cepat menghampirinya, membelah kepanikan warga yang kian riuh.

Namun, belum sempat mereka membuka mulut untuk bersuara, Lucifer menoleh. Seolah-olah sudah tahu apa yang hendak mereka tanyakan dari raut cemas di wajah mereka, sang panglima tertinggi langsung membuka suara dengan nada berat yang berwibawa.

"Mereka lolos," ucap Lucifer pendek, matanya menatap tajam ke arah langit luar kota yang kini telanjang tanpa perlindungan. "Kini tinggal masalah waktu saja. Faksi luar pasti akan segera melancarkan serangan besar ke kota ini."

Mendengar konfirmasi pahit itu, cengkeraman rasa bersalah di dada Leo kian mencekik. Ia melangkah maju dengan kepala terangkat, menantang langsung sepasang mata merah menyala milik Lucifer yang mengintimidasi.

"Ini semua salah kami! Karena itu... biarkan kami membantu menahan serangan mereka!" seru Leo dengan nada memohon, sebuah intonasi rendah hati yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya.

Lucifer hanya menatap Leo dengan pandangan dingin yang datar. "Kalian hanyalah sekelompok petualang, kan?" ucap Lucifer dengan suara lurus tanpa emosi. "Lebih baik kalian cepat pergi dari sini. kalian sudah cukup membantu. Urusan pertahanan kota ini adalah tugasku."

Tanpa menunggu bantahan lagi, Lucifer berbalik dan berjalan pergi menuju barisan pertahanan dalam, meninggalkan kelompok Leo dalam keheningan yang canggung.

Tidak punya pilihan lain, Leo and kawan-kawan akhirnya terpaksa melangkah pergi mengikuti arus evakuasi warga. Sepanjang jalan, pemandangan warga yang berlarian panik, anak-anak yang menangis, dan barang-barang yang berserakan di jalanan kian menambah bobot rasa bersalah yang teramat pekat di dalam hati mereka.

Cheeta memeluk tas kecilnya dengan gemetar, sementara Rheno berjalan dengan kepalan tangan yang mengeras hingga urat-uratnya menonjol.

Namun, sebuah kejutan besar menanti mereka saat tiba di area perbatasan terluar kota.

Langkah kaki mereka mendadak terhenti total. Di depan mereka, di balik batas vegetasi hutan yang gelap, kumpulan pasukan Iblis dari faksi luar sudah berdiri berbaris dengan sangat rapi dan rapat. Zirah hitam mereka berkilau mengerikan di bawah temaramnya langit, memancarkan aura haus darah yang mencekam seisi hutan.

Menyaksikan kekuatan tempur berskala besar yang siap dalam waktu singkat yang akan meratakan kota itu, Cheeta, Rheno, dan Ely seketika terdiam dengan rasa takut sekaligus takjub yang luar biasa. Tekanan magis dari ratusan prajurit itu seolah membekukan udara di sekitar perbatasan, membuat napas mereka terasa berat.

Kecuali Leo.

Sepasang mata pemuda ugal-ugalan itu sama sekali tidak melihat ke arah ratusan barisan pasukan Iblis yang mengintimidasi di depannya. Matanya seolah-olah terkunci mati secara fokus pada barisan paling depan dari pasukan kegelapan tersebut.

Di sana, berdiri Grim, Snap, Rocky, dan Mona dengan senyuman licik penuh kemenangan, menatap remeh ke arah kota.

"Aku tidak akan membantu kota itu...," ucap Leo dengan suara yang teramat rendah dan dingin. Kehangatan dan kekonyolan yang biasanya melekat pada dirinya menguap tanpa bekas, digantikan oleh hawa membunuh yang pekat. "Tapi aku memiliki urusan yang belum selesai dengan orang itu."

Cheeta dan Rheno seketika menoleh ke arah ketuanya dengan mata terbelalak kaget. Selama bertahun-tahun hidup bersama sejak kanak-kanak di gubuk Lembah Karat, mereka berdua belum pernah sekalipun melihat gurat kemarahan yang begitu pekat dan mengerikan di wajah Leo. Aura di sekitar tubuh Leo mendadak terasa sangat asing, dingin, dan berbahaya.

Tanpa memperdulikan tarikan napas panik dari Ely yang mencoba menahannya, Leo membalikkan tubuhnya. Dengan langkah kaki yang mantap dan tegas, pemuda itu mulai melangkah kembali masuk menuju ke dalam kota, siap menuntut balas atas harga dirinya yang telah diinjak-injak.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!