Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu di Balik Tembok Pesantren dan Air Mata Fatimah
Pagi hari di Pondok Pesantren Al Ihsan menyuguhkan pemandangan yang begitu kontras dengan dunia penuh mesiu dan beton dingin di istana Kenzie. Kabut tipis masih menggantung di atas pucuk-puncak pohon mahoni, berpadu dengan suara santri-santri yang melantunkan ayat suci Al-Qur'an dari balik jendela asrama. Udara sejuk pegunungan menyapa lembut siapa saja yang menghirupnya.
Setelah melewati malam yang penuh haru di ndalem di mana Kenzie mendapatkan kehangatan maaf dari Kiai Ahmad kini Kenzie membiarkan Aisyah menikmati waktu pribadinya bersama orang tua dan sahabat terdekatnya.
Di sebuah gazebo kayu sederhana yang dikelilingi taman bunga melati di area ndalem, Aisyah Humaira duduk bersanding dengan seorang gadis berkerabat dekat sekaligus sahabat setianya sejak kecil, Fatimah.
Fatimah menatap Aisyah dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan takjub bercampur rasa tidak percaya. Begitu melihat Aisyah membuka cadarnya sejenak saat mereka hanya berdua di tempat tersembunyi itu, Fatimah langsung menghambur memeluk erat tubuh sahabatnya.
"Aisyah! Ya Allah... benar-benar kamu, Syah!" tangis Fatimah pecah di bahu Aisyah, suaranya sarat akan kerinduan yang mendalam. "Aku hampir gila memikirkanmu selama sebulan terakhir! Sejak malam jahanam di mana kamu diseret oleh preman-preman suruhan pria iblis itu... pesantren seolah kehilangan cahayanya."
Aisyah balas memeluk Fatimah erat, membiarkan air matanya ikut menetes. Selama sebulan ini, beban mental yang ia tanggung seorang diri di istana megah itu akhirnya menemukan tempat untuk meluap.
"Aku baik-baik saja, Fatimah... Alhamdulillah, Allah senantiasa melindungiku," bisik Aisyah lembut, mencoba menenangkan sahabatnya.
Fatimah melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua bahu Aisyah. Ia menatap lekat-lekat wajah sahabatnya, mencari tanda-tanda penderitaan. Namun yang ia temukan justru binar ketenangan di sepasang mata biru jernih Aisyah, meski sisa-sisa kesedihan masih tampak membayang.
"Baik-baik bagaimana, Aisyah?!" seru Fatimah dengan nada tidak percaya, setengah berbisik karena takut terdengar orang lain. "Pria itu Kenzie Al-Ghazali adalah bos mafia paling ditakuti! Dia pembunuh berdarah dingin, pemeras, dan penguasa dunia hitam! Bagaimana mungkin kamu bisa hidup berdampingan dengannya selama berminggu-minggu tanpa terluka secara fisik maupun mental? Apa saja yang dia lakukan padamu di neraka itu?!"
Aisyah tersenyum tipis. Ia merapikan kembali kain cadarnya, lalu menatap Fatimah dengan pandangan yang menyiratkan ketulusan luar biasa.
"Dulu... aku juga berpikiran sama sepertimu, Fatimah," tutur Aisyah tenang. "Hari-hari pertama di istana itu adalah mimpi buruk yang ingin segera kuakhiri. Aku ketakutan, merasa duniamu dan dunianya bagaikan langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa bertemu."
Fatimah mengerutkan keningnya, semakin penasaran. "Lalu? Apa yang membuatmu bisa duduk di sini dengan senyuman seperti itu sekarang?"
Aisyah menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menceritakan semuanya kepada Fatimah tanpa ada yang ditutup-tutupi bagaimana Kenzie merawatnya dengan penuh rasa hormat setelah malam-malam mencekam itu, bagaimana pria tersebut berjuang menekan egonya, dan puncaknya: malam ketika Kenzie bersyahadat di hadapannya, belajar salat di atas sajadah, hingga momen semalam di mana Kenzie berlutut bersujud di kaki Kiai Ahmad untuk memohon ampun dan membatalkan seluruh rencana jahatnya atas tanah pesantren.
Mendengar cerita itu, Fatimah ternganga lebar. Mulutnya sedikit terbuka, dan air mata di pipinya mengering karena rasa terkejut yang teramat sangat.
"Tunggu... tunggu dulu," potong Fatimah dengan napas tercekat. "Jadi maksudmu... Kenzie Al-Ghazali, sang penguasa dunia hitam yang ditakuti seisi negeri itu... sekarang sudah masuk Islam? Dia salat? Dan dia bersujud di hadapan Abi-mu?!"
Aisyah mengangguk pelan sambil tersenyum. "Hidayah Allah itu Maha Luas, Fatimah. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Pria yang dulunya dikuasai oleh kegelapan amarah kini sedang berjuang merangkak menuju cahaya. Dan aku... sebagai istrinya, adalah saksi dari transformasi itu."
Fatimah terdiam seribu bahasa. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran gazebo, mencerna setiap kata yang diucapkan sahabatnya. Rasa benci dan takut yang selama ini bersemayam di hatinya terhadap Kenzie perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh rasa kagum yang luar biasa besar terhadap kekuasaan Allah SWT dalam membolak-balikkan hati manusia.
"Subhanallah..." lirih Fatimah akhirnya, suaranya bergetar. "Aku benar-benar tidak menyangka... kisah cintamu ternyata mirip dengan kisah dalam lembaran sejarah Islam, di mana hidayah datang dari arah yang paling tidak disangka-sangka."
Tiba-tiba, dari arah jalan setapak di dekat taman gazebo, terdengar suara langkah kaki tegap mendekat. Kedua gadis itu menoleh secara bersamaan.
Sosok tinggi tegap dengan balutan kaus polo hitam kasual dan celana bahan rapi tampak berjalan mendekat. Wajahnya yang tampan berahang tegas tampak begitu tenang, namun sorot matanya langsung melembut begitu menemukan sosok wanita yang dicarinya di balik rindangnya bunga melati.
Kenzie Al-Ghazali.
Fatimah sontak menegang. Meskipun ia sudah mendengar cerita heroik tentang pertobatan Kenzie dari Aisyah, aura intimidatif dan ketegasan alami yang terpancar dari diri sang bos mafia tetap membuat nyalinya ciut seketika. Fatimah segera menundukkan pandangannya, merapatkan kerudungnya.
Kenzie menghentikan langkahnya beberapa meter dari gazebo, menjaga jarak sopan agar tidak mengganggu obrolan kedua sahabat itu. Ia melirik sekilas ke arah Fatimah dengan ramah, lalu memindahkan tatapannya sepenuhnya kepada Aisyah.
"Aisyah," panggil Kenzie dengan suara baritonnya yang lembut dan menenangkan. "Apakah kamu masih lama? Jika belum, lanjutkan saja. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."
Aisyah menggeleng pelan. Ia berdiri dari tempat duduknya, merapikan abayanya. "Tidak, Mas. Aku sudah selesai."
Fatimah ikut berdiri dengan kikuk, memberikan salam hormat kepada suami sahabatnya itu dengan menundukkan kepala.
Kenzie melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya dengan sangat lembut kepada Aisyah—sebuah gestur perlindungan dan kepemilikan yang penuh cinta. Aisyah menyambut uluran tangan itu, merapatkan posisinya di sisi sang suami.
Sebelum mereka berdua berbalik untuk meninggalkan gazebo, Kenzie berhenti sejenak, menoleh menatap Fatimah yang masih berdiri terpaku.
"Fatimah, kan?" tanya Kenzie dengan suara tenang namun berwibawa.
Fatimah terlonjak kaget, lalu mengangguk cepat. "I-Iya, Tuan—eh, maksud saya... Kenzie."
Kenzie tersenyum tipis sebuah senyuman tulus yang sangat jarang ditunjukkannya kepada orang lain di luar istrinya. "Terima kasih karena selama ini telah menjadi sahabat yang menemani dan menjaga Aisyah. Jika suatu saat kamu atau pihak pesantren membutuhkan bantuan apapun, pintuku dan istanaku akan selalu terbuka lebar untuk kalian."
Mendengar ucapan tulus dari pria yang dulunya paling ditakuti di negeri ini, Fatimah merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia mengangguk takzim. "Terima kasih banyak... Kenzie."
Kenzie mengangguk, lalu menggenggam jemari Aisyah erat-erat, berjalan berdampingan meninggalkan gazebo menuju mobil yang menunggu di gerbang utama pesantren.
Di bawah teriknya matahari pagi Pondok Pesantren Al Ihsan, Aisyah menatap sisi wajah suaminya dengan senyuman terkembang di balik cadarnya. Badai masa lalu telah berlalu, menyisakan pelangi indah yang merajut takdir mereka dalam dekapan ridha Illahi.