Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Pertunangan yang Dibatalkan
Empat hari setelah bantahan Damar, Mbak Laras datang ke Rawon Bu Lina menjelang tutup.
Ia turun dari mobil sendirian. Wajahnya pucat, rambutnya hanya diikat rendah, dan cincin pertunangan yang selama berbulan-bulan selalu berkilau di jarinya sudah tidak ada.
Sendok di tanganku berhenti di atas mangkuk.
Bu Lina melihat kami bergantian. Tanpa bertanya, ia mematikan papan lampu depan dan membawa Pak Bambang masuk ke dapur.
Mbak Laras duduk di kursi plastik paling dekat pintu. "Mas Damar membatalkan pertunangan."
Aku tidak langsung memahami kalimat itu. Semua persiapan yang memenuhi rumah kami, kain kebaya, daftar seserahan, nama tamu, dan percakapan yang selalu menempatkanku sebagai bayangan, mendadak lenyap hanya melalui enam kata.
"Kapan?"
"Tadi siang. Lewat telepon dulu, lalu perwakilan keluarganya datang malam ini." Ia tertawa pendek, tetapi matanya memerah. "Sangat sopan. Sangat rapi. Mereka bilang ada persoalan keluarga yang membuat pernikahan sebaiknya tidak dilanjutkan."
"Dia bilang persoalan apa?"
"Tidak ada."
Tangannya mengepal di atas meja. Bekas cincin tampak lebih pucat mengelilingi jari manisnya.
"Mbak, aku ikut sedih."
Tatapannya terangkat cepat. "Benarkah?"
Pertanyaan itu menusuk karena aku tahu alasan ia meragukanku. Di matanya, aku adalah adik yang menuduh calon suaminya, lalu menarik kembali tuduhan, kemudian kabur dari rumah. Jika pernikahan gagal setelah semua itu, siapa lagi yang mudah dipersalahkan?
"Aku nggak menginginkan ini terjadi pada Mbak."
"Tapi kamu menginginkan dia menjauh."
"Dari aku. Bukan dari Mbak."
Mbak Laras memejamkan mata. "Apa bedanya sekarang?"
Ponselnya bergetar. Nama Ibu tampak di layar sebelum ia membalikkan perangkat itu.
"Ibu menangis dari tadi," katanya. "Bukan karena aku kehilangan orang yang akan kunikahi. Karena keluarga besar akan bertanya apa yang salah. Karena uang muka gedung mungkin tidak kembali. Karena semua orang akan bilang putri sulungnya ditolak."
Aku menahan keinginan meraih tangannya. Luka di antara kami terlalu baru untuk disentuh tanpa izin.
"Mbak mau tinggal di sini malam ini? Bu Lina pasti mengizinkan."
"Aku cuma datang untuk melihatmu." Tatapannya menyapu kamar kecil di belakang warung, celemek yang kupakai, dan tumpukan nota di meja. "Kamu benar-benar memilih hidup begini daripada pulang?"
"Di sini aku bisa mengunci pintu tanpa ada yang memaksaku membukanya."
Wajahnya berubah. Hanya sesaat, tetapi cukup untuk membuatku tahu kalimat itu sampai kepadanya.
"Mas Damar bilang pembatalan ini tidak ada hubungannya denganmu," katanya.
"Kalau begitu kenapa Mbak datang menemuiku?"
Ia tidak menjawab.
Suara motor Rangga terdengar berhenti di halaman. Mbak Laras menoleh ke luar, lalu kembali menatapku dengan kesedihan yang bercampur curiga.
"Kamu dekat dengan Rangga sekarang?"
"Dia dan keluarganya menolongku."
"Ibu bilang kamu kabur supaya bisa tinggal dengannya."
"Ibu juga bilang aku mengarang semuanya."
Mbak Laras mengusap wajah. "Aku nggak tahu harus percaya kepada siapa."
"Percaya pada apa yang Mas Damar lakukan hari ini," kataku pelan. "Dia bisa membuang rencana hidup Mbak tanpa penjelasan. Jangan jadikan itu kesalahanku hanya karena dia tidak mau menjawab."
Pintu dapur terbuka. Rangga masuk membawa dua tabung gas kecil. Begitu melihat Mbak Laras, langkahnya melambat.
"Malam, Mbak."
Mbak Laras berdiri. "Aku mau pulang."
"Aku antar," kataku.
"Nggak perlu."
Ia mengambil tas, tetapi sebelum keluar, ia berhenti di sampingku.
"Kalau ternyata semua ini karena kamu, aku nggak tahu apa aku bisa memaafkanmu."
"Aku juga nggak tahu apa Mbak akan memaafkanku kalau suatu hari tahu aku berkata jujur."
Bahunya menegang. Ia pergi tanpa menoleh.
Rangga meletakkan tabung gas dan tidak langsung bertanya. Baru setelah mobil Mbak Laras menghilang di ujung gang, ia duduk di kursi seberangku.
"Pertunangannya batal?"
Aku mengangguk. "Damar yang membatalkan."
"Alasannya?"
"Persoalan keluarga."
Rangga mengerutkan kening. "Alasan yang cukup kabur untuk menyalahkan siapa saja."
Seolah membenarkan ucapannya, pesan Ibu masuk.
Puas sekarang? Kakakmu dipermalukan karena mulutmu.
Pesan kedua menyusul.
Kalau kamu masih punya hati, telepon Mas Damar dan perbaiki semuanya.
Nomor tak dikenal mengirim pesan hampir bersamaan. Isinya foto sebuah kotak cincin terbuka di atas meja, kosong, disertai kalimat resmi yang seolah berasal dari staf keluarga Damar.
Seluruh barang pertunangan akan dikembalikan melalui perwakilan. Mohon pihak keluarga tidak menghubungi Bapak Damar untuk sementara.
Aku memperbesar foto itu. Di sudut meja terlihat ujung map hitam dengan lambang perusahaan Kencana. Tidak ada nama pengirim, tetapi mereka jelas memiliki nomor pribadiku. Bahkan pembatalan hubungan Mbak Laras dipakai untuk memberitahuku bahwa Damar dapat menemukan jalan menuju layar ponselku kapan saja.
"Kamu kenal nomor ini?" tanya Rangga.
Aku menggeleng. "Mungkin stafnya."
"Masukkan juga ke folder. Jangan balas."
Di depan warung, beberapa orang sengaja memperlambat motor. Seorang perempuan yang tadi siang membeli rawon kini berdiri di seberang gang sambil mengetik cepat. Kabar pembatalan bahkan belum berumur setengah hari, tetapi lingkungan kami sudah mencium bahan baru untuk dibicarakan.
Bu Lina muncul dari dapur membawa papan menu yang sudah dilipat. "Kalian masuk. Biar Ibu yang tutup pintu depan."
"Bu, kalau ada yang bertanya..."
"Ibu jual rawon, bukan keterangan keluarga orang." Ia menatap perempuan di seberang sampai perempuan itu pergi. "Yang patah pertunangannya Laras. Yang mereka kejar malah Sekar. Berarti ada orang yang sengaja mengarahkan cerita."
Aku memikirkan akun gosip yang pertama menyebut namaku, pilihan kata yang mirip dengan tuduhan Ibu, dan bantahan Damar yang terlalu siap. Mungkin ia tidak menyebarkan kabar itu sendiri. Orang seperti Damar tidak perlu mengotori tangan untuk membuat sebuah versi dipercaya.
Aku menunjukkan layar kepada Rangga. Rahangnya mengeras, tetapi ia menyerahkan ponsel itu kembali tanpa mengambil alih.
"Jangan jawab saat kamu masih gemetar."
"Kalau aku diam, Ibu menganggap aku mengaku salah."
"Kalau kamu jawab, dia akan mencari kalimat untuk dipakai melawanmu. Simpan dulu."
Aku menambahkan tangkapan layar ke folder bukti. Lalu panggilan Ayah masuk.
"Sekar," katanya terburu-buru. Di belakangnya terdengar Ibu menangis keras. "Jangan pulang malam ini. Ibu sedang sangat marah."
"Ayah percaya aku penyebabnya?"
Napas Ayah berat. "Ayah percaya keputusan itu dibuat Damar. Bukan kamu."
"Kenapa dia melakukannya?"
Hening lama.
"Itu yang Ayah takutkan," katanya akhirnya. "Mungkin karena sejak awal dia tidak datang untuk Laras."
"Ayah pernah melihat sesuatu?"
"Tatapannya," jawab Ayah. "Cara dia selalu tahu kamu berada di bagian rumah yang mana. Ayah mengira dia hanya terlalu memperhatikan keluarga calon istrinya. Setelah kamu bicara malam itu, Ayah mulai mengingat semuanya dengan cara berbeda."
Dadaku terasa sesak. "Kenapa Ayah nggak bilang di depan Ibu?"
"Karena Ayah pengecut," katanya lirih. "Dan karena tanpa bukti, Ibu akan menjadikan kecurigaan Ayah sebagai alasan baru untuk menyerangmu. Tapi Ayah sedang mencari cara bertemu denganmu sendiri."
Sebelum menutup telepon, ia memintaku menjaga kunci kamar lama. Aku menyentuh rantai tipis di leher. Kuncinya masih tergantung di sana, dingin di kulitku, padahal perkataan Damar membuatku ragu apakah benda kecil itu pernah benar-benar melindungi apa pun.
Kulit lenganku meremang.
Aku teringat cara Damar menatapku dari seberang meja Lebaran. Cara ia menyebut Rangga dalam telepon pribadi. Cara ia mengetahui benda di dalam laci terkunci.
Selama ini pertunangan itu adalah dinding yang kupakai untuk meyakinkan diri bahwa semua tindakannya tidak mungkin berarti seperti yang kutakuti.
Sekarang Damar sendiri merobohkan dinding itu.
Dan tanpa Laras di antara kami, tidak ada lagi alasan resmi yang menahannya untuk mendekat.