Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Dekrit Pembelah Angin
Berita kehancuran Lembah Obat Abadi menyebar ke seluruh Surga Sembilan Lapis seperti wabah yang dibawa badai.
Dalam waktu kurang dari dua belas jam, sekte-sekte aliran lurus di pegunungan suci hingga kota-kota di dataran rendah diliputi ketakutan. Sebuah sekte yang berada di bawah perlindungan langsung Istana Dao Surgawi telah diratakan dalam semalam.
Tak ada mayat yang utuh. Tak ada bangunan yang tersisa. Bahkan esensi kehidupan di seluruh lembah telah terserap hingga tanahnya berubah menjadi padang abu.
Di tengah reruntuhan, bendera Istana Dao Surgawi yang telah tercabik masih tertancap di tanah.
Itu bukan sekadar pembantaian. Itu adalah tantangan terhadap wibawa langit.
Di puncak tertinggi Surga Sembilan Lapis, Aula Penghakiman Istana Dao Surgawi dipenuhi hawa pembunuh yang menyesakkan.
Di tengah aula melayang sebuah takhta giok putih. Seorang pria duduk di atasnya dengan wajah tersembunyi di balik tirai cahaya pedang yang terus berputar.
Dialah Jian Feng, Leluhur Pedang Pembelah Angin.
Sebagai ahli Tranformasi Ilahi yang berdiri di puncak dunia kultivasi. Setiap tarikan napasnya mampu mengubah angin menjadi ribuan bilah pedang yang membelah kekosongan.
Di hadapannya, tiga Jimat Kehidupan tingkat Jiwa Baru Lahir telah hancur di atas altar.
Salah satunya milik kultivator Xuan Ji. Dua lainnya milik penjaga formasi Hutan Kabut Ilusi dan pemimpin kota.
"Seekor iblis dari Sembilan Kegelapan berhasil naik ke dunia kita."
Suara Jian Feng mengguncang seluruh aula. Suara itu tidak bergema melalui udara, melainkan langsung menghantam tulang ratusan komandan kultivator Jiwa Baru Lahir yang berlutut di hadapannya.
"Dan kalian membiarkannya menginjak-injak wibawa Istana Dao kita?"
Tak seorang pun berani mengangkat kepala.
"Belum genap sepekan. Tiga Kultivator Jiwa Baru Lahir telah mati di tangannya, Lembah Obat Abadi telah menjadi kuburan, dan Hutan Kabut Ilusi kehilangan penjaganya."
Seorang Tetua Agung akhirnya memberanikan diri berbicara.
"Leluhur, makhluk itu memiliki tubuh yang sangat aneh. Serangan spiritual sulit melukainya. Kami juga telah menyebarkan para pelacak ke berbagai wilayah, tetapi auranya seolah lenyap tanpa jejak."
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Yang lebih aneh, aura iblisnya tertutup oleh kekuatan Yang yang sangat murni."
"Karena dia menggunakan tulang orang-orang kita untuk memperkuat tubuhnya."
Jian Feng mengangkat satu tangan.
Wusss!
Ruang di tengah aula seketika terbelah. Pusaran hitam muncul dan mengembuskan angin tajam yang membuat para kultivator di sekitarnya merasakan dingin hingga ke tulang.
"Turunkan Dekrit Pemburu Dewa." Nada suaranya berubah dingin. "Buka gudang pusaka dan keluarkan Kompas Karma Surgawi."
Cahaya pedang di sekitar wajahnya berputar semakin cepat. Niat membunuh yang mengerikan memenuhi seluruh aula.
"Dia boleh menyembunyikan auranya, tetapi karma dari ribuan nyawa yang telah direnggutnya tidak akan lenyap begitu saja."
Jian Feng bangkit dari takhtanya.
"Kerahkan Pasukan Penakluk Langit dan tutup seluruh wilayah selatan. Aku sendiri akan turun tangan."
Suara terakhirnya mengguncang langit di luar aula.
"Aku ingin melihat berapa lama iblis itu mampu melarikan diri."
Hari itu, langit Surga Sembilan Lapis berubah merah keemasan.
Dekrit telah turun.
Ratusan kultivator Inti Emas Puncak dan belasan Jiwa Baru Lahir bergerak menuju wilayah selatan. Pasukan aliran lurus terbesar yang dikerahkan Istana Dao Surgawi dalam seratus tahun akhirnya bergerak.
Dan hanya ada satu sasaran.
Iblis Kematian.
***
Dua minggu telah berlalu sejak pembantaian di Kawah Es Abadi.
Jauh di wilayah selatan yang tak bertuan, berdiri sebuah ngarai curam yang dipenuhi kabut beracun dan batu-batu tajam seperti taring monster raksasa.
Tempat itu dikenal sebagai Ngarai Tengkorak.
Hawa Yin yang pekat dan medan yang mematikan membuat hampir tak ada kultivator berani mendekatinya. Di dasar ngarai terdapat sebuah gua dangkal yang tersembunyi di balik curam bergerigi.
Di dalamnya, Mo Xie duduk bersila di atas batu hitam dengan tubuh bagian atas terbuka.
Daging fananya yang pucat tampak sederhana dibandingkan perubahan mengerikan yang telah terjadi pada tubuhnya.
Di tengah dadanya, Tulang Emas yang telah menyatu dengan tubuhnya memancarkan cahaya keemasan yang stabil. Tulang itu menjadi penyangga sekaligus penyaring kekuatan liar yang terus mengalir di dalam tubuhnya.
Lengan kirinya telah berubah menjadi lengan Harimau Kegelapan berwarna obsidian, sementara lengan kanannya menjadi lengan Kera Iblis yang jauh lebih padat dan kokoh. Urat-urat hitam menjalar di sepanjang lengannya, dialiri kekuatan iblis yang pekat.
Di bahu dan pangkal lehernya, jahitan hitam kemerahan buatan Ling'er telah menyatu sempurna dengan daging. Tulang belikat dan tulang selangka Jiwa Baru Lahir menjadi penyangga tubuhnya.
Dua minggu lalu, tubuh ini hampir hancur akibat benturan dua jiwa iblis.
Kini semuanya telah menyatu.
Kerangka Besi Hitam Kegelapan miliknya telah mencapai kesempurnaan.
Di samping Mo Xie tergeletak sembilan tulang rusuk yang diselimuti kabut Yin abu-abu. Semuanya berasal dari iblis Inti Emas Puncak yang mereka dapatkan dari Lembah Obat Abadi.
Di seberangnya, Xue Ling'er melayang beberapa jengkal di atas tanah.
Zirah Darah hitam kemerahannya membungkus tubuhnya dengan erat. Hawa dingin Sembilan Kegelapan bercampur dengan panas Teratai Darah Yang Ekstrem, sementara rambut merah darahnya bergerak perlahan seperti ular hidup.
Ia sedang memurnikan sisa tenaga dari ribuan nyawa yang telah diserapnya ketika menghancurkan lembah.
"Sembilan tulang rusuk ini sudah cukup untuk memperkuat dadamu."
Ling'er membuka matanya.
Iris berbentuk teratai emas berkilau di tengah kegelapan gua.
"Dada fanamu adalah bagian terakhir yang masih lemah. Setelah tulang-tulang ini menyatu, kau bisa mulai mencoba menerobos ke tahap Kerangka Iblis Kuno."
Mo Xie mengambil salah satu tulang rusuk dengan cakar obsidiannya.
Sisa kebencian dan rasa sakit dari pemilik tulang itu masih terasa.
"Kita akan membutuhkannya." Ia menatap ke luar gua. "Mereka datang, Ling'er."
Ling'er sedikit mengernyit.
"Kau merasakannya?"
"Bukan." Mo Xie meletakkan kembali tulang itu. "Aku mendengarnya."
Ia memejamkan mata. Tanah di bawah kakinya bergetar sangat halus.
"Mereka bergerak dalam barisan besar. Binatang buas di ngarai ini tidak bergerak seperti itu."
Belum sempat Ling'er menjawab, langit di atas Ngarai Tengkorak bergemuruh.
Kabut beracun terbelah. Sebuah kompas emas raksasa perlahan turun dari langit.
Kompas Karma Surgawi.
Pilar cahaya merah darah memancar dari permukaannya dan menembus kabut hingga mencapai dasar ngarai. Cahaya itu kemudian jatuh tepat ke mulut gua.
Kompas tersebut tidak mencari aura Yin ataupun Yang.
Ia mencari karma.
Benang tak kasatmata dari ribuan nyawa yang telah direnggut Mo Xie dan Ling'er.
Puluhan kultivator berzirah perak turun mengelilingi kompas. Dua puluh di antaranya berada di tahap Inti Emas Puncak. Mereka membawa pedang, palu, serta berbagai jimat pembunuh, lalu membentuk formasi yang langsung menyelimuti seluruh langit Ngarai Tengkorak.
Seorang pria bertubuh besar mengangkat palu petirnya.
"Target ditemukan!" Suaranya mengguncang seluruh ngarai. "Kunci ruang sejauh sepuluh li! Jangan biarkan satu pun lolos!"
Dua puluh Inti Emas Puncak segera berpencar.
Formasi pembunuh terbentuk di udara. Cahaya keemasan turun seperti jaring raksasa dan menekan seluruh ngarai.
Batu-batu di dinding tebing mulai retak. Cairan di atas tebing berjatuhan dan hancur di tanah.
Formasi itu bukan untuk bertarung.
Tujuannya hanya satu.
Melumpuhkan mangsanya sampai Leluhur Pedang Pembelah Angin tiba.
Di dalam gua, cahaya merah Kompas Karma Surgawi menyinari wajah Mo Xie.
Namun pemuda itu tidak menunjukkan sedikit pun ketakutan.
Ia berdiri.
Sembilan tulang rusuk iblis disimpan ke dalam cincin penyimpanan yang telah ia rampas dari para korbannya. Setelah itu, Mo Xie mengenakan jubah abu-abu yang dijahitnya sendiri.
Jubah tersebut sengaja dibuat longgar agar dadanya tetap terbuka dan kedua lengannya bebas bergerak.
Ling'er turun dan berdiri di sampingnya.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Zirah Darahnya bergetar, lalu beberapa duri darah perlahan muncul di sekitar pergelangan tangannya.
"Mereka mengirim dua puluh serangga untuk menguji ketajaman pisau kita."
Mo Xie menggerakkan Lengan Kera Iblisnya.
Krek!
Sendi lengannya mengeluarkan bunyi keras.
"Kultivator Transformasi Ilahi itu terlalu percaya diri."
Ia melangkah keluar dari gua. Cahaya merah Kompas Karma Surgawi langsung menyinari tubuhnya.
Dua puluh kultivator di langit menatap sosok yang selama ini mereka buru.
Mo Xie mengangkat wajahnya. Mata hitamnya memancarkan cahaya merah samar.
"Jika kalian ingin melihat iblis yang kalian cari..." Senyum tipis muncul di wajahnya. "...maka lihatlah baik-baik."
Kedua kakinya menekuk.
Kekuatan Kaki Jenderal Iblis meledak dalam sekejap. Pada saat yang sama, Domain Penghancur Gunung terbuka.
Ledakan!
Tanah di bawah kakinya retak. Retakan menjalar puluhan meter seperti jaring laba-laba, membuat kabut beracun berguncang dan batu-batu di seluruh ngarai berjatuhan.
Mo Xie berdiri di tengah retakan itu seperti iblis yang baru keluar dari Alam bawah.