NovelToon NovelToon
Menjadi Master Kuat Di Dunia Kultivasi

Menjadi Master Kuat Di Dunia Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Xianxia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

Apa jadinya jika pengetahuan kultivasi tingkat dewa dimiliki oleh jiwa pemuda modern

Qin Feng terbangun di dalam goa isolasi sebagai Master Legendaris Gu Tian. Namun, alih-alih bisa terbang membelah langit, musuh utamanya saat ini adalah encok, pinggang kram, dan jalur meridian yang kaku.

sang "Master Tua" berjiwa pemuda ini harus memutar otak agar tidak mati konyol untuk kedua kalinya di tengah kepungan musuh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Dunia tidak pernah bersikap adil pada Qin Feng, dan dia tahu betul hal itu.

Di usianya yang baru menginjak enam belas tahun—saat remaja lain disibukkan dengan ujian sekolah, mimpi masa depan, atau cinta monyet yang naif—sebuah panggilan telepon dari kepolisian menghancurkan hidupnya dalam semalam. Kedua orang tua tewas seketika dalam kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa mereka di jalan tol. Belum sempat air mata duka itu mengering di pipinya, pintu rumahnya sudah digedor kasar oleh orang-orang yang berbadan tegap dengan setumpuk surat tagihan di tangan.

Hutang usaha orang tuanya yang menumpuk sepenuhnya dilimpahkan ke pundaknya tanpa belas kasihan.

Sejak hari itu, kata "jenius" yang selalu melekat pada namanya menjadi barang resmi tak berguna. Qin Feng, anak laki-laki yang selalu meraih nilai sempurna dan memiliki pemikiran tajam di atas rata-rata, harus merelakan seluruh masa sebelumnya. Dia terpaksa putus sekolah, menjual apa saja barang berharga yang tersisa di rumahnya, dan mulai menjalani hidup bagaikan mesin yang tak kenal lelah.

Delapan tahun berlalu begitu saja. Dari usia enam belas belas hingga dua puluh empat tahun, hari-hari Qin Feng hanya diisi oleh dering alarm yang memekakkan telinga, pekerjaan paruh waktu yang bertumpuk hingga pagi, kepulan asap mi instan murah yang menjadi santapan utama setiap hari, serta makian kasar dari para penagih utang yang terus berburu. Otaknya yang cerdas tidak lagi digunakan untuk memecahkan soal matematika rumit atau teori sains tingkat tinggi, melainkan memutar otak bagaimana cara bertahan hidup dengan sisa uang belasan ribu rupiah di dompetnya yang nyaris kosong.

Dia tidak pernah benar-benar “hidup”. Dia hanya mengakhiri kematian.

Hingga pada suatu malam musim dingin, di dalam kamar kontrakan sempit dan lembap yang dindingnya dipenuhi jamur, tubuh Qin Feng akhirnya menyerah pada takdir kejam yang membelenggunya.

Dada pria dua puluh empat tahun itu terasa dihantam oleh bongkahan batu besar yang sangat berat. Napasnya terengah-engah dalam kepayahan, memutar mulai mengabur, dan sekujur persendiannya mati rasa akibat kelelahan kronis serta tekanan mental bertahun-tahun yang terus menggerogoti fisiknya tanpa henti. Qin Feng ambruk tersungkur di samping meja kerja yang dipenuhi tumpukan kertas tagihan dan brosur lowongan pekerjaan.

Bau mi instan basi dan udara dingin malam seolah mengelilingi raganya yang tak berdaya. Saat kesadarannya perlahan memudar dan kegelapan total mulai bermunculan, sebuah bisikan tak berwujud tiba-tiba menggema di dalam ketakutan yang dingin, menanyakan satu hal di ambang batas kematian:

Apakah Anda menyesali kehidupan ini?

Dengan sisa kesadaran terakhirnya, Qin Feng tertawa miris—sebuah tawa penuh ironi yang menertawakan kepahitan hidupnya yang terasa seperti lelucon buruk.

"Ya... aku menyesal," jawab keselamatan mantap di tengah kegelapan total tanpa titik pun keraguan. "Kalau tahu akhirnya mati konyol begini di ruangan sempit... seharusnya dulu aku tidak perlu hidup selurus dan seserius itu!"

Saat kalimat itu tuntas diucapkan dalam batinnya, kegelapan pekat yang mengelilinginya pecah oleh kilatan cahaya emas yang menyilaukan mata jiwa.

Tidak ada rasa sakit. Tidak ada suara gemeruduk kendaraan di jalanan, maupun dering telepon dari para penagih utang yang biasa meneror setiap detik.

Sensasi pertama yang dirasakan oleh kesadaran Qin Feng adalah suatu keharusan.

Jiwanya melayang bebas di tengah ruang hampa yang tak bertepi. Dia tidak bisa melihat apa-apa, tidak bisa mendengar suara apa pun, dan tak lagi memiliki wujud fisik untuk dirasakan. Namun anehnya, dibalik kegelapan total itu, kegelisahan sama sekali tidak merasa tersesat. Ada sebuah dorongan tak kasat mata—sebuah panggilan purba yang tak berwujud—yang menariknya untuk terus bergerak maju menuju ke suatu tempat yang sangat jauh di ujung Galaksi.

Ia mengembara menembus ruang dan waktu yang tak terbatas, melintasi jutaan benang-benang dimensi yang tak pernah terjangkau oleh akal sehat manusia. Rasa lelah, penyesalan, dan beban hidup yang menumpuk selama dua puluh tahun lebih di Bumi perlahan-lahan memudar, digantikan oleh sensasi asing yang semakin lama semakin menguat di dalam intinya.

Hingga akhirnya, dinding kegelapan di hadapannya perlahan-lahan terkoyak.

Sensasi penglihatannya kembali secara bertahap. Di bawah pijakan jiwa yang transparan, terhampar sebuah planet raksasa yang melayang megah di tengah lautan bintang yang tak berujung. Bentuknya sekilas menyerupai Bumi dengan daratan hijau yang luas dan samudra biru yang membendung, namun ukurannya luar biasa masif—setidaknya sepuluh kali lebih besar dari planet asal tempat dia dilahirkan.

Kabut tipis berwarna keemasan dan keperakan tampak mengelilingi planet tersebut, memancarkan aura tekanan gaib yang begitu pekat, bahkan bisa dirasakan dengan jelas oleh wujud jiwa yang sedang melayang.

Belum sempat Qin Feng memahami pemandangan luar biasa di hadapannya, ruang hampa di sekitarnya tiba-tiba bergetar hebat.

SWOOSH!

Gaya gravitasi tak terlihat tiba-tiba menghancurkan kedamaian dengan beringas. Seolah-olah ada tangan raksasa dari dasar planet nun jauh di sana yang meremas dan menariknya turun dengan kecepatan yang sangat dahsyat. Kesadaran Qin Feng terhempas jatuh menembus atmosfer planet baru tersebut, meluncur deras menembus lapisan awan badai, melewati barisan pegunungan batu yang terjal, hingga akhirnya menerobos masuk ke dalam perut bumi.

Penglihatannya kembali menggelap saat ketika jiwa dipaksa masuk dan tidak terkunci rapat ke dalam sebuah wadah fisik yang terasa sangat asing.

Astaga!

Setitik udara dingin yang pekat tiba-tiba merasuk ke dalam paru-parunya, memicu batuk kering yang memecah keheningan mencekam di dalam sebuah ruang berbatu yang gelap.

1
syarif ibrahim
jangan terlalu lama cerita di penerimaan murid baru.... 🤔🤔🤔
Hindra Hin: siap, terimakasih atas sarannya. itu sangat membantu
total 1 replies
syarif ibrahim
bunuh semua musuh mu yg dulu.... 👍
syarif ibrahim
perlahan-lahan saja.... yang penting bertambah kuat setiap hari..... 👍
syarif ibrahim
jadi sakti kayaknya nih... 🤔🤭
Hindra Hin: nikmati prosesnya 🙏🙏👍
total 1 replies
syarif ibrahim
lanjutkan petualanganmu.... 👍
zerotwo
Bagus up terus 🤭🤭🤭
Hindra Hin
Jangan lupa di komen dan like cerita ini, jika kalian suka.
Terima kasih sudah membaca cerita ini /Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!