Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 25
Rara tampak sedang bersiap untuk pergi ke Velvet & Gold malam ini. Ia memasukkkan dress satin panjang dengan potongan diatas lutut dan ditengahnya memiliki ornamen seperti ikat pinggang, kedalam totebag. Ia terpaksa harus membawa pakaian ganti karena kakak iparnya ada dirumah. Ia harus mematuhi batasan yang telah diberikan kakaknya.
Ponselnya diatas kasur berdering dan bergetar. Rara langsung melihat ke layar yang menyala, ternyata itu dari Rudi.
"kenapa sih, Mas Rudi nelpon," gumamnya.
Rara mengabaikan dering pertama. Sesaat kemudian ponselnya berdering untuk yang ke dua kalinya. Ternyata dari panggilan orang yang sama. Ia masih enggan menjawabnya dan memilih mengabaikannya. Setelah itu, muncul notifikasi pesan masuk. Ia masih tak mau menyentuh ponselnya.
Setelah semua beres, Rara siap meninggalkan kamarnya. Ia membawa totebagnya lalu meraih ponselnya diatas kasur. Sebelum melangkah, ia lihat dulu notifikasi di ponselnya. Banyak sekali misscall dari Rudi dan ada satu pesan darinya. Sekilas ia baca isinya.
Jawab telponku kalau kamu mau selamat.
Kalimat itu, membuat Rara mulai cemas.Beberapa detik kemudian muncul notifikasi pesan masuk. Ia masih tak mau menyentuhnya langsung, ia hanya baca sekilas.
Urusan kita belum selesai. Kalau mau selesai jawab, ayo bicara sekarang.
Setelah membaca sekilas kalimat pesan kedua, tiba-tiba ponselnya berdering dan bergetar ditangannya. Rudi memanggil lagi. Ada rasa cemas bila menjawab panggilan itu. Ia yakin pasti pria ini akan mengancamnya. Ia pun membiarkan ponsel berdering dan akhirnya berhenti sendiri.
Rara kini mulai melangkah kamar. Belum juga ada tiga langkah, ponselnya kembali berdering. Tenyata Rudi masih tidak menyerah.
"kenapa sih Mas Rudi ini ? urusan kita itu udah selesai," gumam Rara dengan kesal. Ia pun kembali mengabaikan panggilan Rudi. Ia lanjutkan langkahnya keluar kamar.
Saat Rara akan mengunci pintu kamar, dering pesan masuk terdengar. Ternyata Rudi kirim pesan lagi. Ia membaca sekilas pesan itu.
Kamu mau mati ! Aku udah tahu rumah kamu, jawab telponku atau aku kesana !
Kini pesan yang dikirim Rudi membuatnya takut. Sesaat kemudian, ponselnya berdering. Pria itu kembali menelpon. Akhirnya dengan perasaan cemas bercampur takut, Rara kembali masuk kamar untuk menjawab panggilan itu.
"halo ada apa ?" tanya Rara tegas.
Hahahaha. Akhirnya kamu jawab juga panggilanku, mesti kamu mulai takut kan, sayannng.
"nggak usah banyak basa-basi cepat katakan apa maumu mas ? Urusan kita itu udah selesai. Kita sudah tidak ada hubungan lagi, jangan coba-coba ganggu aku," kata Rara dengan kesal.
Tenang, tenang, kamu yakin kita sudah tidak ada hubungan ? Kamu yakin urusan kita selesai ?
"iya, kontrak kita sudah berakhir," jawab Rara.
Jangan terlalu cepat ambil keputusan. Dengarkan aku ya, kamu masih ada hubungan denganku, kamu masih belum kembalikan bungaku.
"bunga apa ? Aku tahu kamu itu, cuma mau manfatin aku kan. Katanya orang kaya," jawab Rara.
Diam ya ra !. Kalau kamu mau selesaikan kontrak temu kita, kamu harus bayar bunganya atau aku beri satu syarat mudah, kita ketemu dihotel malam ini.
"nggak, aku nggak mau. Dasar pria brengsek. Aku tahu kamu itu sudah nggak punya uang, makanya kamu manfaatin aku. Akui aja lah mas," jawab Rara penuh emosi.
Hahaha...kamu nolak ya ini. Kalau begitu tunggu aja. Aku pastikan, kamu akan aku temui dalam waktu dekat. Selamat malam sayang.
Rara langsung mematikan panggilan. Rasanya ia ingin langsung melampiaskan emosinya. Ia berdiri cukup lama dibalik pintu sampai suasana hatinya tenang. Setelah itu, ia keluar kamar. Ia mengunci pintu lalu turun ke bawah.
Di teras, Rara ketemu Nadia yang berdiri sambil tersenyum dan memandang mobil suaminya meninggalkan rumah.
"Mas Rio mau kemana kak, malam-malam gini ?" tanya Rara. Ia berdiri disamping Nadia.
"Mas Rio ada jadwal jaga malam ini dirumah sakit," jawab Nadia.
"Oh gitu. Aku juga pergi ya kak, seperti biasa," ucap Rara sambil berjalan menuju mobilnya.
"ingat ya ra, selalu jaga diri kamu," kata Nadia.
Rara langsung masuk ke mobil. Ia letakkan totebagnya ke kursi disampingnya. Tidak lama kemudian, ia melajukan mobilnya menuju kelab malam.