Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sore harinya, bel pintu apartemen berbunyi tepat waktu.
Rimba membukakan pintu untuk menyambut tim dokter fisioterapi pribadi yang telah ia sewa khusus untuk merawat Dayang.
Dokter spesialis bersama seorang asistennya melangkah masuk ke kamar utama.
Dengan sangat hati-hati, dokter memeriksa tingkat kerapatan gips, kondisi kebersihan kulit di sekitarnya, serta meraba refleks pergelangan kaki dan jemari Dayang.
"Perkembangannya sangat bagus dan stabil, Mbak Dayang," ujar dokter fisioterapi seraya mencatat beberapa hal di papan klinisnya.
"Melihat regenerasi tulangnya yang cepat, kira-kira dua minggu lagi gips ini sudah bisa kita buka total. Setelah dibuka, baru kita bisa mulai latihan fisioterapi secara intensif."
Dayang mendongak, menatap Rimba yang berdiri tepat di samping tempat tidurnya.
Namun, sebelum Dayang sempat berucap, Rimba lebih dulu membungkukkan tubuhnya.
Pria itu mengusap lembut puncak kepala Dayang, menatap matanya dengan binar kehangatan yang melimpah.
"Setelah fisioterapi selesai, kita akan menikah, Sayang," bisik Rimba dengan suara bariton yang begitu dalam dan penuh kepastian, memanggilnya dengan sebutan terindah yang membuat jantung Dayang berdesir hebat.
Dokter tersenyum ramah menyaksikan momen manis di hadapannya, lalu menambahkan penjelasan medis dengan nada santai.
"Tapi harus sabar sedikit ya, Pak Rimba, Mbak Dayang. Setelah gips dibuka nanti, masih perlu beberapa minggu proses fisioterapi bertahap supaya Mbak Dayang bisa belajar berjalan dan menopang berat badan dengan sempurna lagi seperti semula."
"Tidak apa-apa, Dok," sahut Rimba mantap tanpa ragu sedikit pun. Jemarinya menggenggam erat telapak tangan Dayang, menempelkannya ke pipinya sendiri.
"Berapa minggu pun akan saya tunggu. Yang paling penting Dayang sembuh total tanpa ada rasa sakit lagi."
Dayang menatap Rimba dengan mata berkaca-kaca.
Pipi cantiknya bersemu merah mendengar janji manis dan panggilan 'sayang' dari pria yang kini begitu mengayomi dan mencintainya sepenuh hati.
Setelah menjelaskan seluruh prosedur pemulihan dan meresepkan vitamin pendukung, dokter spesialis fisioterapi beserta asistennya berpamitan dan melangkah keluar dari apartemen.
Rimba mengantar mereka hingga ke depan pintu, mengucapkan terima kasih atas pelayanan terbaik mereka.
Setelah pintu tertutup rapat, suasana apartemen kembali tenang dan hangat.
Rimba melonggarkan ikatan dasinya, menggulung kemeja putihnya hingga ke siku, lalu berjalan menuju area dapur terbuka yang bersih dan modern.
Seperti biasa, Rimba yang sangat mahir memasak mulai menyiapkan makan malam spesial untuk mereka berdua.
Dengan sigap, tangan kokoh sang CEO memotong butter, meracik bumbu herbs, lalu memanggang potongan daging daging steak pilihan hingga aromanya yang gurih mewangi mengudara ke seluruh penjuru ruangan.
Di pan terpisah, ia menumis batang asparagus segar hingga warnanya hijau mengkilap dan renyah.
Tak lupa, Rimba menuangkan minuman hangat favorit mereka ke dalam dua gelas kaca anggun.
Beberapa saat kemudian, Rimba membawa nampan berisi dua piring steak asparagus yang tertata cantik bak hidangan restoran bintang lima, beserta dua gelas minuman segar ke kamar utama.
Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja lipat khusus tempat tidur, lalu duduk di tepi ranjang tepat di samping Dayang yang menatapnya dengan binar kagum.
"Aromanya harum sekali, Mas." puji Dayang dengan senyum manis terukir di bibirnya.
Rimba terkekeh pelan, memotongkan daging steak itu menjadi ukuran-ukuran kecil yang pas agar Dayang mudah memakannya.
"Khusus buat calon istriku tercinta," ujar Rimba lembut, lalu menyodorkan potongan daging pertama ke depan bibir Dayang.
"Ayo buka mulutnya, Sayang. Dagingnya lembut banget, cocok buat nambah energi kamu."
Dayang menerima suapan itu dengan pipi yang kembali merona merah, menikmati kelezatan masakan sang calon suami yang penuh dengan perhatian dan kasih sayang.
Dayang mengunyah potongan daging yang begitu empuk itu dengan mata berbinar.
Rasa gurih bumbu resep rahasia Rimba berpadu sempurna dengan renyahnya tumisan asparagus.
"Enak banget, Mas. Mas Rimba pinter banget memasak," puji Dayang tulus setelah menelan makanan di mulutnya.
Rimba tersenyum tipis, sorot matanya yang biasanya tajam saat memimpin rapat kini melunak penuh kehangatan.
Ia menyodorkan gelas minuman hangat ke bibir Dayang, membantunya meminum beberapa teguk dengan sangat sabar.
"Dulu waktu kuliah di luar negeri, Mas harus biasa menyiapkan makan sendiri," cerita Rimba santai seraya mengambil garpunya sendiri untuk menyantap potongannya.
"Tapi sekarang, Mas punya alasan yang jauh lebih indah buat turun ke dapur, yaitu masak buat kamu."
Mendengar ucapan manis yang meluncur santai namun jujur dari bibir Rimba, dada Dayang terasa makin hangat.
Kehidupan mewah di apartemen ini sungguh tak pernah ia bayangkan sebelumnya, namun sikap Rimba yang tetap membumi dan penuh perhatian membuat Dayang merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita.
Di luar jendela kaca besar apartemen, gemerlap lampu kota mulai menyala indah di balik pekatnya malam.
Setelah mereka berdua menyelesaikan makan malam dan Rimba membereskan piring-piring kotor ke dapur, pria itu kembali ke kamar membawa secangkir susu hangat dan obat harian Dayang.
"Minum obatnya dulu ya, Sayang," ujar Rimba mendudukkan diri di samping Dayang.
Dayang menerima obat dan meminum susunya hingga kandas.
Namun, saat Rimba hendak mengambil gelas kosong itu dari tangannya, Dayang menahan jemari Rimba pelan.
"Mas," panggil Dayang lirih, menatap mata pria di hadapannya.
"Iya, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Rimba cepat dengan raut khawatir.
Dayang menggelengkan kepala pelan.
"Tidak ada. Hanya mau bilang terima kasih. Terima kasih karena Mas Rimba sudah berubah sejauh ini buat Dayang, Bintang, dan Bang Jaka."
Rimba mengulas senyum paling tulus. Ia meletakkan gelas ke meja samping, lalu memeluk tubuh mungil Dayang dengan sangat hati-hati, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dada bidangnya yang hangat.
"Mas yang harusnya terima kasih sama kamu, Dayang. Kamu sudah mengajari Mas artinya cinta yang sebenarnya," bisik Rimba lembut seraya mengusap-usap rambut panjang Dayang hingga matanya mulai terasa berat dan terkantuk-kantuk.
Rimba mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Dayang, lalu perlahan merenggangkan pelukannya.
Ia menarik selimut tebal hingga menutupi dada Dayang, memastikan calon istrinya itu merasa benar-benar hangat dan nyaman.
"Sudah malam, Sayang. Kamu harus segera tidur ya, supaya proses pemulihan tulang dan fisikmu berjalan cepat," bisik Rimba sangat lembut, jemarinya membelai pelan pipi Dayang yang halus.
Dayang mengangguk pelan.
Rasa kantuk memang sudah mulai menguasai matanya akibat efek obat pemulihan yang baru saja diminumnya.
"Mas Rimba tidur di mana?" tanya Dayang lirih dengan suara khas orang mengantuk.
Rimba mengulas senyum manis, mengusap lembut kening Dayang.
"Mas tidur di kamar sebelah, tepat di samping kamar Bintang. Tapi Mas bakal menyalakan lampu tidur dan membiarkan pintu kamar ini sedikit terbuka. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, kamu tinggal panggil Mas, ya?"
"Iya, Mas." jawab Dayang pasrah dalam kehangatan.
Rimba merapikan sisa helai rambut yang menutupi wajah Dayang, lalu sekali lagi mengecup keningnya dengan penuh rasa kasih sayang.
"Selamat tidur, calon istriku. Mimpi indah ya."
"Selamat tidur juga, Mas Rimba." bisik Dayang sebelum akhirnya perlahan-lahan memejamkan mata, menyambut tidur yang sangat lelap dan tenang dalam rasa aman yang sempurna.
Rimba berdiri di sisi tempat tidur memandangi wajah damai Dayang sejenak dengan binar bahagia yang tak mampu ia sembunyikan.
Setelah memastikan hembusan napas Dayang sudah teratur, pria itu mengambil nampan piring kotor dan melangkah keluar kamar dengan sangat pelan agar tak menimbulkan suara sedikit pun.
suami yg sayang dan triam dayang serta Bintan apa adanya ,,
punya anak kembar yg lucu2 ,, punya keluarga lain seperti bang Jaka , Jamal dan para nelayan serta pedagang di pasar yg selalu solid ma dayang ,,
bahagia selalu dayang dan kluarga ,,
kak makasih buat cerita ny ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
sukses trus kak ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂