Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Lagi?
Matahari pagi telah terbit, menenggelamkan segala perasaan yang berpadu. Bahagia bercampur ketakutan dan kecemasan, melahirkan kepasrahan dengan masa depan keduanya. Terjerat dengan cinta semu yang baru saja menampakkan kuncup bunga, Dania berharap bisa menjaga kuncup itu menjadi bunga yang mekar indah, tanpa merasakan layu dan berguguran lagi.
"Semoga ini bukan mimpi di siang bolong," gumam Dania ketika menatap suaminya yang sedang tertidur di sofa. Ia menangkap rona kelelahan di bawah mata Jax, lalu kedua tangan yang bersendekap tampak sangat tidak nyaman.
Ingin sekali dirinya secepatnya keluar dari rumah sakit, agar suami tercintanya bisa tidur nyaman seperti yang biasa ia lakukan.
Namun, membayangkan suaminya yang bugar tertidur di kamar mengingatkannya pada memori kelam perselingkuhan itu. Hatinya masih terasa teriris meskipun sudah berusaha menyingkirkan perasaan itu.
Padahal ia sudah bersumpah untuk menyerahkan cinta tanpa syaratnya, untuk menebus rasa bersalah bertahun-tahun lalu. Akan tetapi hatinya masih saja sakit. Mungkinkah rasa tanggung jawab dan penembusan dosa itu telah berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, seperti cinta?
Karena itukah saat Jax menyatakan cinta, ia menangis seperti sudah menantinya sangat lama?
Kalau benar itu cinta, lalu mau apa lagi?
Bahagia selamanya?
Pertanyaan itu bagai bor yang bisa melubangi hatinya kapan saja.
Kata bahagia rasanya terlalu fancy untuk Dania. Masa lalu kelam yang selalu ia pendam sekuat tenaga, mengharapkan Jax tidak pernah mengingatnya lagi. Karena itu lah Dania selalu mengiyakan apa yang Jax katakan. Agar dirinya bisa merasa impas. Meskipun itu tidak akan pernah impas.
"Bolehkah aku sebahagia ini?" Ucapnya seraya mendekati Jax dan membelai rambut acak-acakannya.
"Hoaaahmmm... Kamu sudah bangun?" Jax merenggangkan seluruh tubuhnya. Tangannya sangat cepat menyambar tangan halus Dania yang membelainya.
"Semoga operasinya lancar ya, Dan."
Dania hanya tersenyum simpul mendengar doa itu.
Benar, untuk apa terlalu memikirkan masa depan. Yang terpenting sekarang adalah Jax telah meraih tangannya.
Cintanya sudah bersambut, tinggal menjaganya agar tak tergores. Meskipun harus mengubur dalam-dalam fakta tragis itu dari Jax selamanya.
Dania ingin akhir yang bahagia selamanya.
.
.
.
Sementara di belahan bumi lainnya, Jason dan James sedang duduk di warung makan depan kampus.
Keduanya tampak sangat menikmati masakan rumahan yang tersaji menggiurkan di atas meja. Sampai mereka tidak menyadari salah satu anggota gank sudah dua hari tidak menampakkan diri. Apalagi James, dia terlihat sangat tenang, padahal sebelumnya ia sempat bertemu Jax dalam keadaan yang tidak terlalu baik.
Lalu, datanglah seseorang yang selalu mencari Jax. Siapa lagi kalau bukan gadis berambut merah bernama Bella. Ia menghampiri Jason, dan menepuk punggungnya sampai perkedel yang dilahapnya meluncur keluar.
"Hei!!!! Mana Jax???"
Tentu saja Jason langsung naik pitam. Cowok bar-bar yang kesabarannya setipis tisu yang dibagi sepuluh itu langsung bangkit dan melotot ke arah Bella.
"Bisa sopan dikit nggak sih? Kalau ada orang makan itu jangan ganggu! Paham kau betina!!!"
Sedangkan James masih duduk disana menyeruput kuah rawon dengan sangat anggun, tak terganggu.
"Hilih!!! Kayak kamu orang beradab aja. Kelakuan sebelas dua belas juga."
Adu mulut antara keduanya memang sangat sengit. Seperti kobaran api yang terkena bensin, pertikaian semakin memanas hingga saling dorong.
"Beraninya sama cewek!!! Dasar mamut!!!" Bentaknya.
"Daripada kamu, bekantan merah!!!"
Suara mereka sangat keras hingga membuat pelanggan lain menatap tidak senang.
"Ck, udah udah... Sesama hewan nggak usah berkelahi," ucap James berusaha menengahi. Namun ia masih duduk disana tak bergerak seolah-olah tidak benar-benar berniat melerai.
"Haaah... Baiklah bekantan. Ucapkan apa yang menjadi pertanyaanmu."
Jason dengan gaya sok kerennya kembali duduk di kursinya sambil menyedot es teh miliknya.
"Jax mana? Sudah dua hari aku nggak ketemu."
"Terus? Emang dia harus selalu ada di dekatmu gitu? Ck ck ck, emang sana siapa?" Ejek Jason.
"Lah, emang kan dia pacarku. Ya harusnya dia ngabarin dong."
Jason tertawa mendengarnya. Memang Jax itu terlalu pintar dalam mempermainkan cewek. Atau mungkin Bella saja yang terlalu naif.
"Pffft... Kamu? Pacarnya Jax? Heh aku kasih tahu ya, Jax itu cuma mainin kamu aja. Kamu itu nggak beda sama cewek-cewek lainnya. Kecuali ceweknya yang sekarang. Dibandingkan sama kamu, nggak ada apa-apanya."
Bella membulatkan matanya siap beradu tinju dengan Jason.
"Cewek? Cewek siapa? Dia cuma punya aku."
"Dia-- Aw!!!"
James menginjak kakinya, seolah memberi isyarat agar temannya itu tidak membocorkan informasi apapun, atau semua akan menjadi gosip hangat di kampus.
Kendati seperti itu, Bella merenungkan omongan Jason. Memang terakhir kali ia menelponnya, tidak ada orang yang menjawab.
'Mungkinkah ia bersama cewek lain waktu itu?' pikirnya.
"Haaah..." Bella yang semula berkacak pinggang dan menegangkan otot lehernya, kini ikut duduk di samping Jason.
"Mungkin benar, dia punya cewek lain. Hiiiihhhh sebel deh! Aku kurang apa coba? Bisa-bisanya di punya cewek lain."
"Kurang banyak. Makanya Ngaca dong sekali-kali. Wkwkwk," mulut Jason memang mengudang orang untuk memotongnya.
Bella tak menanggapi celotehan si mamut, tubuhnya sudah merosot karena kecewa yang dirasakan. Seketika kepalanya berubah menjadi agar-agar kenyal yang bisa jatuh sewaktu-waktu.
"Huffft.... Patah hati lagi nih barbie," ucapnya membuat Jason yang mendengarnya merasa ingin muntah.
Namun dengan sekejap mata, hanya butuh sepuluh detik mungkin, kepala jelinya kembali ke bentuk semula. Mata genitnya kembali beraksi ketika melihat sosok tampan yang datang membeli makanan.
"Wow.... Sungguh indah ciptaanmu Ya Tuhan..."
James hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kelakuan gadis jaman sekarang. Sedangkan Jason memutar kepalanya untuk menoleh ke arah obyek yang dimaksud Bella.
"Bukankah dia ganteng banget!!!!!" Serunya dengan kedua tangan yang mengepal menutupi wajahnya.
Histerisnya semakin menjadi-jadi ketika pria itu tersenyum ke arahnya.
"Siapa dia?" Sikunya menyenggol sembarangan ke lengan Jason yang sudah tidak tertarik dan lebih memilih untuk meneruskan makannya.
"Permisi..."
Bella mematung ketika laki-laki itu menghampirinya.
"Kalian tahu Fakultas Seni Rupa dan Desain?" Tanyanya.
"I-itu..." Otak Bella sudah tidak bisa berkata.
Lalu James yang paling bisa diandalkan, membatu Bella yang sudah membeku untuk menjawab.
"Bapak lurus saja ke kanan, ada palangnya kok. Bapak tinggal masuk saja."
"Oh, terimakasih ya. Maklum baru pindah kerja si sini."
"Ba--bapak dosen baru ya?" Bella berusaha mengumpulkan kepingan otaknya yang sudah melumer.
"Iya," jawabnya berpamitan untuk meneruskan langkahnya.
"Waah.... Kok bisa ada Dosen seganteng itu ya...." Matanya berbinar membuat Jason mengembalikan mangkoknya ke pemilik warung.
.
.
"Apa Dania juga mengajar di sini?" Gumamnya tersenyum seolah telah menantikan pertemuannya dengan teman masa kecilnya.
.
.
wkwkwk... jax minggir dulu yess...