NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Aku Baru Balik Padahal, Tapi... K-Kenapa Mereka Datangnya Sekarang...?!

Di rumah sore itu, Moiro ingin beristirahat setelah seharian jalan-jalan di Taman Hiburan bersama yang lain, ditambah banyak hal yang telah terjadi sebelumnya.

Meski sebelumnya sempat tertidur di gerbong—dan difoto diam-diam sama setan yang nyengir—itu tak menghilangkan semua kelelahan yang dirasakannya.

Diingetin lagi sama Author stres.

Saat Moiro duduk di atas kursi sofa, bersandar dan mulai santai hingga matanya terpejam. Namun, notifikasi pesan dari ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Matanya kembali terbuka perlahan, menampakkan tatapan kesal karena terganggu.

"Apa lagi yang datang kali ini...?" bisiknya sambil menatap langit-langit.

Ia langsung duduk tegak lalu mengambil ponselnya di samping.

Matanya membelalak saat melihat nama kontak yang mengiriminya pesan.

.......

...——————————...

Penagihan Utang: aktif

...---...

Oy, Asahi! Kapan kau bayar hutang?!

...——————————...

.......

Moiro menatap itu seketika bergidik, hingga jidatnya berkeringat dingin. Matanya melotot sampai menempel ke layar.

Gak manuk akal, woe!

"K... Kenapa malah dia yang ngechat?!" seru Moiro panik.

Moiro sempat membatu beberapa detik, sebelum akhirnya ia membalas pesan itu dengan jari yang gemetaran, yang justru membuatnya berkeringat semakin deras bak air terjun.

.......

...——————————...

^^^Akan saya bayar segera.^^^

Halah! Alasan! Dari dulu kayak gitu terus!

^^^Maaf, Pak. Saya baru beralasan sekali.^^^

Bodo amat!

Pokoknya kami bakalan datang ke rumahmu sekarang juga!

Titik!

...——————————...

.......

Pesen berhenti saat itu juga, dan penagih utangnya langsung tidak aktif.

Moiro terdiam, memegangi ponselnya dengan tangan yang gemetar, "G-Gimana ini?! Apa mereka beneran dateng...?!"

Tok! Tok! Tok! Brak!

Moiro terkejut hingga melompat lurus ke belakang sofa. Ponselnya terlepas dan ikut jatuh.

"Asahi, keluar kau!" seru seorang pria dari luar, "Bayar hutangnya cepet!"

Cepet amat nyampenya!

Moiro muncul di belakang sofa—setengah wajahnya saja—sambil melotot ke arah pintu rumahnya. Dua benjolan bertumpuk membulat sempurna terlihat di kepala.

"Aaaarghh...! Mereka dah datang pula!" serunya dalam hati sambil memegangi kepala dengan dua tangan, "Gimana ini...?!"

"Asahi! Cepet keluar kalo gak mau pintunya dijebol!" seru orang itu sambil menggedor-gedor pintu.

Kasar amat!

Moiro masih diam, melirik dengan tatapan melotot ke arah pintu keluar, memikirkan apakah ia harus mendatangi mereka atau membiarkannya saja.

Saat itu, hentakan di pintu berhenti dan malah membuatnya bingung.

Tak lama, ia mendengar perbincangan samar dari luar rumahnya, dan Moiro menduga kali ini dia (penagih utang) membawa orang baru—mesku sebelumnya sering datang sendirian.

Karena penasaran, Moiro berjinjit perlahan mendekat ke pintu, lalu menempelkan telinganya untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

"Apa kau bawa alat itu?"

"Kau yakin mau pake itu di sini?"

"Iya lah. Kalo dia gak mau keluar, kita yang masuk."

"Baiklah, baiklah." (mengangkat sesuatu yang berat) "Nih."

"Bagus. Nyalain cepet."

Moiro di dalam hanya bingung. Wajahnya mulai mendatar karena yang dibicarakan mereka tidak dapat dipahami.

"Mereka mau ngapain?" batinnya penasaran, telinganya masih menempel di pintu rumahnya, "Memangnya apa yang mereka bawa?"

Moiro sedikit menjauhkan wajahnya dan menatap datar ke arah pintu, dari bawah ke atas, merasa kecewa karena tidak memiliki lubang kecil untuk mengintip ke arah luar.

Ia pun kembali menempelkan telinganya, dan mulai mendengar sesuatu yang aneh.

Srekkkk...

Jrenggg... jrenggg...!

"Bunyi apa itu?" tanya Moiro dalam hati. Alisnya mulai mengerut sedikit terangkat. Wajahnya perlahan berubah serius.

Dug dug dug dug dug...

Brum... brum...!

Nge-ngeng...! Ngeeeng...!

Mata Moiro membelalak, wajahnya membiru, "J-JANGAN BILANG—?!"

Vroooommmm...!

Moiro langsung membuka pintu cepat dan merentangkan tangannya, "TUNGGU BENTAAR!"

Ia seketika mematung dengan mata melotot dan pelipis basah berkeringat, menatap benda yang dibawa oleh salah satu penagih utang itu—sebuah gergaji mesin full power.

PENAGIH UTANG MACAM APA YANG BAWA BEGITUAN?!

Tubuhnya seketika bergidik hingga ke dalam jiwa, membuat rohnya merasakan gempa dahsyat karena melihat benda yang sudah menyala, dan siap digunakan untuk membelah pintu rumahnya.

"DU... DUGAANKU BENER...!" teriaknya dalam hati ketakutan.

Salah satu orang di sana mengangkat satu tangannya singkat, lalu orang di sampingnya langsung mematikan gergaji mesin itu setelahnya dan kemudian diletakkan di tanah.

Kalian itu beneran penagih utang kan?!

Orang yang mengangkat tangan itu melipat keduanya di depan dada, menatap Moiro dengan tatapan dan aura mencekam lalu berkata dengan suara yang diberat-beratkan, "Akhirnya kau keluar juga, Asahi."

Moiro berkeringat dingin, tak membalas apa-apa. Matanya beralih ke sosok yang memegang gergaji mesin sebelumnya—orang yang baru dilihat olehnya.

Moiro hanya diam menatap keduanya, lalu menelan ludah karena takut. Saat itu ia akan merasa kesulitan menghadapi mereka berdua.

Gak kebayang, ternyata Moiro berurusan sama mereka terus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!