NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Canggung Menjadi Manis

Malam selepas kepulangannya dari halte bersama Evan berlalu seperti ujian kesabaran yang paling menyiksa bagi Auren. Tulisan tangan rahasia di halaman kedua buku sketsanya terus berputar-putar di dalam kepala, membuat matanya enggan terpejam hingga jarum jam dinding menunjuk angka dua dini hari. Pertanyaan Evan sangat jelas, begitu jujur, dan menuntut sebuah keberanian yang tak kalah besar untuk menjawabnya.

Keesokan harinya, hari Jumat pagi, atmosfer di kelas 7-B terasa sedikit berbeda. Sisa-sisa bau tanah basah akibat guyuran hujan deras kemarin sore masih tercium samar dari balik jendela kaca yang berembun. Auren melangkah masuk ke dalam ruang kelas dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia meremas tali tas ranselnya erat-erat, mencoba menenangkan debaran dadanya sendiri.

Begitu sampai di barisan pojok belakang, ternyata Evan sudah duduk manis di kursinya. Cowok itu memakai jaket olahraga sekolah di luar seragam putihnya—mungkin karena bahu dan lengan bajunya sempat basah kuyup akibat memiringkan payung untuk melindungi Auren kemarin. Begitu menyadari langkah kaki Auren mendekat, Evan langsung mendongak.

Tok... tok...

Evan mengetuk permukaan meja kayu mereka sebanyak dua kali dengan buku jemarinya. Namun, kali ini ketukan yang menjadi ciri khasnya itu terdengar jauh lebih pelan, seolah diselimuti keraguan yang jarang ia tunjukkan. Senyuman jahil yang biasanya langsung terkembang di wajah Ketua Kelas itu kini berganti menjadi senyuman tipis yang tampak sangat canggung. Sepasang matanya yang jernih menatap Auren lekat-lekat, seolah langsung mencari tahu apakah gadis itu sudah membaca lembaran kedua bukunya semalam.

"Pagi, Ren," sapa Evan, suaranya terdengar sedikit lebih rendah dan pelan dari biasanya.

"Pagi, Van," jawab Auren hampir berbisik. Ia segera mengambil posisi duduk di kursinya, buru-buru meletakkan tas, dan berpura-pura sangat sibuk merapikan tumpukan buku serta kotak pensil agar Evan tidak bisa melihat rona merah yang mulai menjalar hebat di kedua pipinya.

Keheningan yang amat canggung namun terasa begitu manis mendadak menyergap bangku belakang mereka sepanjang jam pelajaran pertama dan kedua berjalan. Mereka berdua sama-sama menegakkan punggung dan fokus menatap ke arah papan tulis di depan kelas, namun fokus pikiran mereka yang sebenarnya jelas tertuju pada satu sama lain. Setiap kali lengan seragam mereka tidak sengaja bersenggolan saat menyalin catatan dari guru, Auren bisa merasakan tubuh Evan sedikit menegang, sementara dada Auren sendiri rasanya sudah mau meledak oleh debaran yang kaku.

Bel panjang tanda istirahat pertama akhirnya berbunyi, memecah ketegangan yang membekukan bangku belakang sejak pagi. Anak-anak kelas 7-B langsung berhamburan keluar ruangan menuju kantin dengan riuh. Putra sempat menepuk bahu Evan untuk mengajaknya ikut serta, namun Evan menggeleng pelan sambil menolak halus dengan alasan ingin menyelesaikan sisa rangkuman materi yang tertinggal. Sementara itu, Balisya pun langsung melangkah keluar kelas bersama rombongannya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Kini, barisan pojok belakang kelas kembali menyisakan mereka berdua dalam kesunyian.

Evan meletakkan pulpennya ke atas meja, menarik napas dalam-dalam, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap ke arah meja Auren. Ia menopang dagunya dengan tangan kiri, menatap wajah Auren yang masih berpura-pura sibuk mencatat agenda sekretaris kelas.

"Ren," panggil Evan pelan, memecah keheningan di antara mereka.

"Ya?" Auren akhirnya menyerah, ia meletakkan pulpennya dan memberanikan diri untuk mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih milik Evan.

"Lo... udah buka halaman kedua buku dari gue, kan?" tanya Evan langsung tanpa basa-basi lagi. Tatapan matanya yang tajam namun memancarkan kehangatan yang pekat mengunci pandangan Auren, membuat ruang kelas yang kosong itu mendadak terasa begitu sunyi dan intim.

Auren menelan ludah dengan gugup. Ia tahu ia tidak bisa melarikan diri lagi dari momen ini. Perlahan, ia membuka ritsleting tas ranselnya, meraba bagian terdalam, lalu mengeluarkan buku sketsa tebal bersampul biru langit itu dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja mereka. Dengan jemari yang sedikit gemetar karena sisa rasa canggung, Auren membuka halaman pertama yang berisi siluet Evan, lalu membalik kertas tebal itu ke halaman kedua.

Di sana, tepat di bawah tulisan pertanyaan rahasia milik Evan yang ia baca semalam, ternyata sudah ada sebuah goresan tulisan baru. Tulisan itu digoreskan menggunakan tinta pulpen gel hitam—pulpen yang pernah Evan hadiahkan kepadanya. Tulisan tangan Auren yang rapi berbaris manis di sana, membalas pertanyaan sang Ketua Kelas dengan sebuah kalimat jujur yang ia rangkai semalaman penuh:

“Di sketsa putih-biru aku, posisi kamu gak pernah cuma jadi ketua kelas biasa, Van. Kamu... sudah jadi bagian paling berwarna di lembar cerita yang mau aku tulis sampai selesai.”

Begitu lembaran itu terbuka, Auren langsung menundukkan wajahnya dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri demi menyembunyikan pipinya yang kini sudah merona merah jambu sempurna. Rasa malu bercampur debaran hebat di dadanya membuat ia ingin sekali bersembunyi. Ia cemas jika jawabannya terdengar terlalu memalukan di depan cowok itu.

Namun, keheningan yang canggung itu mendadak pecah oleh suara kekehan rendah yang sangat renyah dan tulus dari mulut Evan.

Auren mendongak dengan ragu, dan pemandangan di depannya langsung membuat seluruh sisa rasa canggungnya meleleh menjadi rasa manis yang utuh. Evan sedang menutupi setengah wajah bagian bawahnya dengan telapak tangan kanan, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan senyuman lebarnya yang sampai membuat kedua matanya menyipit bahagia. Lesung pipit tipis di wajah cowok itu terlihat begitu manis di bawah pantulan cahaya matahari siang yang menerobos celah jendela kelas.

Evan perlahan menurunkan telapak tangannya, lalu menatap Auren dengan sorot mata hangat yang begitu dalam, pekat oleh rasa lega dan kebahagiaan yang membuncah dari lubuk hatinya. Ia mengulurkan tangan kirinya di atas meja, lalu dengan sangat lembut mengetuk punggung tangan Auren sebanyak dua kali menggunakan ujung jari telunjuknya—meniru gestur ketukan meja khasnya, namun kali ini sentuhan itu langsung mendarat hangat di atas kulit Auren.

"Makasih ya, Ren," bisik Evan lirik, suaranya terdengar sedikit bergetar halus oleh rasa bahagia yang tertahan. Ia mempererat sedikit sentuhan jarinya di atas tangan Auren, mengunci pandangan mereka berdua. "Mulai hari ini, gue janji bakal bikin lembar-lembar berikutnya di hidup lo jadi jauh lebih berwarna lagi. Kita tulis cerita putih-biru ini sama-sama sampai selesai, ya?"

Auren tidak bisa menahan senyum manisnya lagi yang akhirnya ikut terkembang sempurna di wajahnya. Rasa canggung yang membekukan mereka sejak pagi kini telah sepenuhnya menguap, berganti menjadi kedekatan yang jauh lebih manis dan hangat. Di ruang kelas 7-B yang sepi di hari Jumat siang itu, di antara tumpukan buku agenda sekretaris yang berserakan, dua remaja berusia dua belas tahun itu saling melempar senyum penuh arti. Sebuah komitmen manis telah tertoreh di atas tinta hitam halaman kedua, menegaskan bahwa sketsa putih-biru mereka kini resmi menjadi awal dari sebuah kisah romansa remaja yang akan mereka jaga selamanya.

Balisya berdiri di sana dengan satu tangan masih memegang gagang pintu kelas yang setengah terbuka. Jilbab putihnya yang selalu tegak sempurna tanpa cela seolah menjadi kontras dari raut wajahnya yang mendadak berubah kaku, dingin, dan pucat pasi. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah bundel formulir iuran kelas yang rencananya ingin ia serahkan kepada Evan selaku Ketua Kelas.

Namun, pemandangan yang baru saja ia tangkap dari balik kaca pintu sebelum melangkah masuk telah menghancurkan seluruh rasa percaya dirinya. Balisya telah menyaksikan semuanya dari awal.

Ia melihat bagaimana buku sketsa biru langit itu terbuka lebar di tengah meja. Ia melihat cara Evan menatap Auren dengan sorot mata hangat yang tidak pernah cowok itu berikan kepada siapa pun di sekolah ini—termasuk kepada dirinya yang selalu berusaha tampil paling sempurna di depan kelas. Dan yang paling memukul hatinya, ia menyaksikan sendiri bagaimana ujung jari telunjuk Evan mengetuk lembut punggung tangan Auren dengan gestur penuh kasih sayang.

Keheningan yang mencekik mendadak menguasai ruangan kelas 7-B. Sepasang mata Balisya menyipit tajam. Ada kilatan rasa kecewa, cemburu, dan amarah yang luar biasa yang berusaha ia tahan sekuat tenaga di balik topeng kesantunannya. Setelah semua taktik notasinya dibongkar oleh Putra di ruang OSIS tempo hari, Balisya mengira ia masih memiliki celah untuk menarik perhatian Evan melalui urusan organisasi. Namun siang ini, di depan matanya sendiri, ia sadar bahwa ia telah kalah sepenuhnya. Benteng di antara Evan dan Auren sudah terlalu kokoh untuk ia runtuhkan.

"Balisya?" panggil Evan, memecah kecanggungan. Suaranya langsung berubah datar, tegas, dan formal, kehilangan seluruh kelembutan yang baru saja ia tunjukkan kepada Auren beberapa detik lalu. Cowok itu sedikit menegakkan posisi duduknya, kembali menjadi sosok Ketua Kelas yang berwibawa. "Ada perlu apa?"

Mendengar suara Evan yang terdengar begitu berjarak dan asing, Balisya menelan ludah dengan susah payah. Ia meremas bundel kertas di tangannya hingga sedikit kusut di bagian ujungnya. Sebagai seseorang yang perfeksionis dan memiliki harga diri tinggi, ia menolak untuk terlihat lemah atau menangis di depan Auren.

"Aku... aku cuma mau mengembalikan formulir iuran mading dari ruang guru," kata Balisya, suaranya terdengar agak bergetar dan sedikit serak, sangat berbeda dari logat santunnya yang biasa terdengar lantang.

Ia melangkah masuk dengan kaku, meletakkan bundel kertas itu di atas meja paling depan dekat tempat duduknya sendiri, sama sekali enggan berjalan ke barisan belakang untuk mendekati meja mereka. Setelah meletakkan kertas itu, Balisya memutar tubuhnya kembali menghadap pintu, membelakangi barisan pojok belakang.

"Rapat madingnya minggu depan diganti hari Rabu. Aku cuma mau menyampaikan itu," lanjut Balisya tanpa sudi menoleh sedikit pun. Dengan gerakan cepat, ia kembali menggeser pintu kelas dan melangkah keluar, menghilang di balik koridor dengan langkah kaki yang menghentak cepat di atas lantai ubin.

Auren mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Rasa takut sempat menyergap dadanya, membayangkan gosip atau rencana apa lagi yang mungkin akan dibuat oleh Balisya setelah ini. Namun, sebelum kecemasannya berkembang lebih jauh, sebuah ketukan lembut kembali terdengar dari sisi kanannya.

Tok... tok...

Evan mengetuk tepi meja Auren lagi, menarik perhatian gadis itu sepenuhnya. Saat Auren mendongak ragu, ia mendapati Evan sedang menatapnya dengan binar mata yang sangat tenang, seolah ingin meyakinkan bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang perlu ia takuti selama mereka menghadapi masa SMP ini bersama.

"Gak apa-apa, Ren. Gak usah dipikirin," kata Evan dengan senyuman tipisnya yang sangat menenangkan, memamerkan lesung pipitnya yang manis. Ia membantu Auren merapikan halaman kedua buku sketsa biru mereka, lalu menutupnya dengan perlahan seolah sedang mengunci rahasia manis mereka rapat-rapat. "Mau Balisya atau siapa pun yang melihat, itu gak bakal mengubah apa yang sudah kita tulis di buku ini. Hari Senin besok, kita lanjut isi halaman ketiga, ya?"

Mendengar kalimat penuh keyakinan dari Evan, seluruh kekhawatiran Auren seketika menguap terbang bersama angin siang. Rasa canggung yang membekukan mereka sejak pagi kini telah sepenuhnya menguap, berganti menjadi kedekatan yang jauh lebih manis, berani, dan hangat.

Auren mengangguk pelan sambil mendekap buku biru langit itu erat-erat di depan dadanya. Di ruang kelas 7-B yang kembali sunyi di hari Jumat siang itu, di antara tumpukan buku agenda sekretaris yang berserakan, dua remaja yang memiliki selisih 2 tahun itu saling melempar senyum penuh arti. Sebuah komitmen manis telah tertoreh di atas tinta hitam halaman kedua, menegaskan bahwa sketsa putih-biru mereka kini resmi menjadi awal dari sebuah kisah romansa remaja yang akan mereka jaga selamanya, tidak peduli seberapa banyak mata yang mengawasi mereka dari bangku depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!