NovelToon NovelToon
The Thirteen Fault

The Thirteen Fault

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona

Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Because I Am Not Cute

"Memangnya ngerokok di sekolah bukan termasuk pencemaran nama baik? Lagian kalaupun aku emang mencemari nama baik sekolah, bukan sekolah bapak kalian, kan? Dan satu lagi, aku bisa dispesialin di sekolah ini bukan karena jual diri atau sogokan uang," ujar Billby dengan senyum manis, lalu langsung melenggang pergi meninggalkan mereka yang tampaknya sedang menahan napas bersamaan.

"Gila... kok bisa tiba-tiba dia muncul di sini?" ujar Afghan setelah berhasil mengontrol napasnya kembali.

"Masalahnya bukan itu... dia tahu kita ngerokok, bahkan tahu semua omongan kita waktu di parkiran kemarin. Kita bakal di-drop out gak ya?" Mex menimpali dengan wajah yang masih sedikit tegang karena keterkejutan yang luar biasa.

"Dia kan biasanya gak pernah ke kantin. Kenapa pas banget waktu kita lagi ngomongin dia, dia langsung nongol?" Afghan melirik takut-takut ke arah Billby yang kini sedang mengambil makanan di loket khusus guru.

"Hufttt... gimana ini? Lo tahu sendiri, kan? Siswa yang dikeluarkan dari sekolah ini bakal susah banget buat diterima di sekolah lain," Mex tampak mulai frustrasi. Ia yakin seratus persen kalau dirinya akan didepak dari sekolah. Mana sekarang posisi mereka sudah kelas tiga.

"Coba lo ngomong sama dia, Han," pinta Afghan sambil memandang Vahan yang sedang menyuap makanan ke mulutnya dengan ekspresi yang terlampau santai.

"Han..." panggil Afghan lagi karena Vahan sama sekali tidak menggubrisnya.

Vahan menatap Afghan dengan malas. "Lo pikir gue siapanya? Temen dekat aja bukan."

Mex menghela napas panjang. "Tapi kan lo sekelas dan kenal sama dia... please lah, Han. Lo gak mau orang tua lo dipanggil ke sekolah lagi, kan, buat ngewakilin kenakalan kita?"

"Emang gue peduli orang tua gue dipanggil ke sekolah? Asal dipanggilnya bukan karena kesalahan yang gue perbuat, gue bodo amat," balas Vahan acuh tak acuh.

Vahan dan kedua temannya ini memang sudah tinggal satu rumah sejak mereka masih kecil. Bisa dibilang, Afghan dan Mex menumpang di rumah Vahan karena kedua orang tua mereka tidak tinggal di negara ini. Orang tua mereka memercayakan dan menitipkan anak-anaknya kepada orang tua Vahan. Alhasil, orang tua Vahan menjadi wali sepenuhnya bagi Afghan dan Mex. Jika mereka melakukan kesalahan di sekolah, otomatis orang tua Vahan yang harus turun tangan.

"Alah... jahat banget lo, Han. Terus menurut lo sekarang kita harus gimana?" tanya Afghan dengan nada merajuk yang terdengar menggelikan.

"Kata siapa kita bakal dikeluarkan?" tanya Vahan balik.

"Kita? Emang lo ikut terlibat juga? Kayaknya yang terancam cuma gue sama Mex deh," ucap Afghan.

Vahan menatap keduanya dengan pandangan lelah. "Emangnya dia tahu kalau gue gak ikut ngerokok kemarin? Terus pas di parkiran tadi, emangnya gue gak ikut nimbrung obrolan? Lagian kalau lo berdua kena masalah, gue juga pasti kena imbasnya."

***

Tok... tok...

Billby mengetuk pintu ruang guru yang terbuka lebar. Salah satu guru perempuan yang melihatnya langsung menyapa dengan ramah, "Eh, Billby... masuk aja, Nak," ujarnya mempersilakan.

Setelah mendapat izin, Billby melangkah masuk menuju meja kerja Jack yang terletak di posisi paling belakang. Pria itu sedang fokus menatap layar komputer di depannya sambil memegang mouse.

"Nih, Om," Billby meletakkan sekotak makanan yang ia ambil dari kantin tadi di atas meja.

"Makasih, ya," balas Jack singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

Billby menganggukkan kepala lalu segera pergi dari ruangan tersebut tanpa berbasa-basi lagi. Ia tahu omnya sedang sangat sibuk, jadi ia tidak ingin mengganggu.

Billby kembali menuju kelasnya dengan langkah santai. Namun, tiba-tiba di tengah koridor, ada seseorang yang sengaja menyenggol bahunya dengan cukup keras. Billby menatap sang pelaku yang kini sedang memandangnya dengan tatapan sinis.

"Lagi ngedeketin Vahan, ya?" tuduh cewek bernama Kezia itu. Kalau Billby tidak salah ingat, cewek di depannya ini adalah Ketua OSIS. Berani sekali dia.

"Jangan pikir Vahan bakal suka sama cewek tepos kayak lo. Apalagi dia selalu juara satu di kelas, pasti standarnya mau sama cewek yang berprestasi. Bukan cewek yang hobinya cuma ngorok di dalam kelas kayak lo," tambah Kezia ketus.

"Oh... jadi kamu suka sama Vahan? Ambil aja, gak ada yang larang kok. Tapi sesuai yang kamu bilang tadi, dia selalu juara satu, jadi pasti dia gak mau pacaran sekarang karena mau fokus belajar," balas Billby santai tanpa emosi.

"Dan satu lagi, gak usah gangguin aku. Kalau suka sama Vahan, sana bilang langsung ke orangnya, gak ada hubungannya sama aku tahu. Lagian kelakuan kamu labrak-labrak gini bisa bikin kamu dikeluarkan dari sekolah loh. Gak takut?" tambah Billby membalikkan keadaan.

"Dikeluarin?" Kezia tersenyum remeh. "Jadi lo mau ngadu ke guru? Ngadu juga harus punya bukti kali!"

Billby menatap kedua teman Kezia yang sejak tadi ikut memandangnya dengan tatapan meremehkan. "Kamu ngeremehin aku, ya? Kalau aku yang lapor ke pihak sekolah, aku gak butuh bukti apa pun untuk bikin orang didepak. Tapi tenang aja, aku gak bakal ngeluarin kamu dari sekolah sekarang. Asalkan kamu gak ganggu ketenangan aku lagi. Kalau kamu masih nekat, jangan salahin aku kalau besok nama kamu udah gak ada di daftar murid sekolah ini."

"Dih... emang lo siapa? Songong banget. Yang punya sekolah juga bukan!" Kezia tampak meradang kesal.

Namun, kedua temannya dengan cepat menyenggol lengan Kezia, memberikan isyarat agar ia tidak bertindak terlalu jauh pada Billby. Bukan karena mereka kasihan, melainkan mereka diserang rasa takut jika ancaman Billby barusan bukanlah bualan belaka.

Karena merasa urusannya sudah selesai, Billby langsung meninggalkan mereka begitu saja.

"Tuh cewek sok banget! Liat aja kalau dia berani deket-deket sama Vahan. Vahan itu cowok incaran gue, punya gue! Setelah lulus nanti, Vahan pasti bakal jadi pacar gue," Kezia memandang kepergian Billby dengan tatapan nyalang penuh dendam.

Well, sebenarnya bukan hanya Kezia yang mengincar Vahan, melainkan hampir seluruh siswi di sekolah ini. Namun, karena peraturan ketat sekolah yang melarang keras muridnya untuk berpacaran, alhasil mereka terpaksa menyimpan perasaan tersebut untuk diungkapkan setelah lulus nanti.

Setibanya di dalam kelas...

Billby langsung duduk di bangkunya. Ia menoleh ke samping, ke arah tempat duduk Vahan. Laki-laki itu ternyata belum kembali dari kantin. Syukurlah.

Billby membuka tasnya untuk mencari makanan yang bisa mengisi rasa bosannya. Ia mengacak-acak isi tas ranselnya, namun tidak ada satu pun camilan yang menggugah selera saat ini. Akhirnya ia menutup kembali ritsleting tasnya dan memilih untuk tidur saja.

Namun bersamaan dengan itu, dua siswa laki-laki melangkah masuk ke dalam kelas. Itu Vahan dan Mex. Sebelum Vahan berpisah dengan Mex untuk duduk di meja masing-masing, Mex sempat membisikkan sesuatu ke telinga Vahan yang langsung dibalas dengan anggukan singkat.

Lalu, Vahan melangkah ke tempat duduknya dan mendaratkan bokongnya di kursi dengan sangat hati-hati.

Ah... sial*n, batin Billby kesal. Ia sedang tidak ingin berinteraksi dengan laki-laki tersebut. Ia berniat untuk pura-pura merajuk karena insiden di kantin tadi, sekaligus karena kesal dituduh oleh cewek tidak jelas yang menyukai Vahan. Apalagi cewek itu sekelas dengannya.

Billby langsung menelungkupkan kepalanya di atas meja, berusaha keras menghindari eksistensi Vahan.

"Lo marah?" tanya cowok di sampingnya dengan suara lirih.

Billby tidak memberikan respons atau jawaban apa pun.

"Gue minta maaf, ya..." tambah Vahan lagi, merasa bersalah. "Jangan marah sama temen-temen gue—"

Billby langsung menyela kalimat Vahan tanpa sudi mengangkat kepalanya. "Diam. Aku mau tidur."

"Tapi,—"

"Aku bilang diam," ulang Billby dengan nada suara yang seketika berubah sedingin salju.

"Lo... gak bakal bikin kita bertiga dikeluarkan dari sekolah, kan?" Vahan tetap nekat bersuara. Bagaimanapun, ia sudah terlanjur berjanji kepada kedua temannya untuk membujuk gadis ini.

Vahan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia benar-benar bingung harus berkata apa lagi untuk melunakkan hati Billby. Saat tangannya hendak bergerak menepuk pelan lengan gadis itu, seorang guru lebih dulu melangkah masuk ke dalam kelas dengan membawa buku Fisika yang cukup tebal, membuat atmosfer kelas seketika hening.

Pelajaran siang itu berjalan dengan cukup kondusif bagi murid lain, namun tidak bagi Vahan. Fokusnya benar-benar buyar karena ia belum berhasil menuntaskan janjinya untuk membujuk Billby. Dan sesuatu yang sulit ia akui di dalam hati... ia merasa sangat tidak nyaman karena gadis itu mendiamkannya.

Hingga saat bel pulang berbunyi dan pelajaran usai, Billby dengan kecepatan kilat langsung menyampirkan tasnya lalu melangkah keluar kelas, membuat Vahan semakin dirundung rasa gelisah.

Dia beneran ngehindarin gue, batin Vahan nelangsa seraya menatap punggung Billby yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu.

Sebenarnya, Vahan ingin sekali berlari mengejar gadis itu untuk meluruskan masalah. Namun, ia tidak siap menanggung risiko. Guru di depan kelas bahkan belum membereskan bukunya secara total. Kalau ia nekat kabur begitu saja mendahului guru, sudah pasti reputasi baiknya akan hancur dan ia akan mendapat hukuman berat.

Karena bagaimanapun... ia tidak memiliki hak istimewa dan tidak seimut Billby.

1
@Biru791
pliss deh up yg banyak gemesa deh
Dini
sama sama
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.

good story
@Biru791
dobel up dong tur
chill: okeh deh.. besok ya.. makasih banget sudah ngikutin terus
total 1 replies
@Biru791
thour ayoo upp di tunggu
chill: aku up setiap hari jam 15📝⌛
total 1 replies
@Biru791
semangatt upp
chill: makasih 😍😍 seneng banget ada yang komen🩷🩷
total 1 replies
chill
tinggalin jejak dong 😍
chill
jangan lupa di like ya..🙏
chill
komentar ya say.. buat motivasi penulis baru💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!