Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
"Sudah, kamu pulang sana," perintah Lucas tiba-tiba. Suaranya datar, tapi matanya menatapku dengan serius. Dia melirik jam tangannya yang elegan.
Aku mengangguk pelan, memahami kekhawatirannya. Rasa nyaman sesaat bersama Lucas harus dibayar dengan kewaspadaan. Aku tidak bisa egois. Jika Ibu pulang dan tidak menemukan aku di kamar, dia akan panik, dan itu bisa memicu pertanyaan-pertanyaan yang sulit kujawab.
"Aku mengerti," jawabku pelan. Aku berdiri dari kursi, merapikan jaket tipis yang kupakai. "Terima kasih banyak, Lucas. Untuk kopinya... dan untuk semuanya."
Lucas juga berdiri. Dia tidak memelukku atau memegang tanganku. Dia hanya mengangguk singkat, ekspresi dinginnya kembali menutupi emosi apa pun yang mungkin tadi sempat terlihat. "Hati-hati di jalan. Jangan gunakan ojek online sembarangan. Pakai taksi biru saja, dan catat nomor platnya. Kirimkan padaku saat kamu sampai di gerbang rumah."
Instruksinya spesifik dan masuk akal. Itu menunjukkan bahwa dia benar-benar memikirkan keselamatanku, bukan sekadar basa-basi.
"Baik," jawabku.
Aku berbalik dan berjalan keluar dari cafe. Udara mulai terasa dingin, angin sepoi-sepoi menerpa wajahku. Aku segera mencari taksi biru yang terparkir di pinggir jalan. Setelah memastikan sopirnya terlihat profesional, aku naik dan memberikan alamat rumah Samudra.
Sepanjang perjalanan, aku terus memeriksa ponselku. Tidak ada pesan dari Samudra. Tidak ada panggilan darinya. Hening. Dan hening kali ini terasa berbeda. Bukan hening yang mencekam, tapi hening yang memberi ruang bernapas.
Taksi berhenti di depan gerbang besar rumah mewah itu. Matahari hampir tenggelam, menyisakan langit berwarna ungu keabu-abuan. Gerbang besi hitam itu tertutup rapat.
Aku membayar ongkos taksi, lalu mencatat nomor platnya seperti instruksi Lucas. Aku mengirimkannya ke chat Lucas: Sampai di gerbang. Plat B 1234 XYZ.
Balasan datang cepat: Masuklah. Bersikap normal.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menekan bel interkom. Beberapa detik kemudian, suara Bi Inem terdengar.
"Non Angel? Sudah pulang?"
"Iya, Bi. Tolong buka pintunya," jawabku, berusaha agar suaraku terdengar tenang.
Gerbang terbuka perlahan. Mobil taksi pergi, meninggalkanku sendirian di halaman depan yang luas. Rumah itu tampak megah, tapi kali ini tidak terasa seperti penjara. Lampu-lampu di teras menyala hangat, menyambut kepulanganku.
Aku berjalan menuju pintu utama. Tanganku tidak gemetar saat mencapai gagang pintu. Aku membuka pintu.
Hening.
Tidak ada siapa-siapa di foyer. Sepatu Samudra tidak ada di rak. Sepatu Ibu juga belum ada.
Mereka belum pulang.
Rasa lega menghempasku lagi. Aku segera masuk, menutup pintu, dan menguncinya. Lalu, aku berlari kecil naik ke kamarku. Aku perlu mengganti pakaian ini sebelum mereka pulang. Aku perlu menghapus jejak perjalanan ini.
Saat aku membuka lemari, aku menyadari sesuatu. Hari ini, Samudra tidak pulang. Meeting-nya mungkin memang sangat panjang, atau dia memutuskan untuk menginap di hotel dekat kantornya seperti biasa dilakukan eksekutif sibuk.
Artinya... malam ini, aku benar-benar sendirian di rumah besar ini. Hanya ada aku, Ibu yang akan pulang sebentar lagi, dan para pembantu.
Tidak ada ancaman. Tidak ada tatapan menusuk. Tidak ada kunci emas misterius.
Aku mengganti pakaian dengan gaun tidur yang nyaman, lalu duduk di tepi tempat tidur. Aku mengambil buku yang tadi pagi kubaca, tapi kali ini, aku tidak benar-benar membacanya. Aku hanya menikmati keheningan.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara mobil masuk ke garasi. Suara pintu mobil tertutup. Dan langkah kaki Ibu yang ringan terdengar di tangga.
"Angel! Ibu pulang!" teriak Ibu ceria dari lantai bawah.
Aku tersenyum. Senyum tulus. Malam ini, aku bisa tidur nyenyak. Tanpa mimpi buruk. Tanpa ketakutan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa... bebas.
Aku tidak berniat turun ke bawah untuk menyambut Ibu. Rasa lelah mental dan fisik setelah ketegangan seharian membuatku hanya ingin menyendiri di dalam "benteng" kamarku. Aku butuh waktu untuk memproses semuanya, pertemuan dengan Lucas, rasa lega karena Samudra tidak ada, dan kecemasan yang masih tersisa di sudut hati.
Aku segera berbaring di atas kasur empukku, menarik selimut tipis hingga dada. Aku mengambil tablet dari meja samping tempat tidur dan membuka aplikasi streaming favoritku. Deretan drama Korea terbaru muncul di layar. Aku memilih salah satu yang bergenre romantis-komedi, sesuatu yang ringan dan jauh dari realitas kelam hidupku saat ini. Aku ingin tenggelam dalam dunia fiksi di mana masalah utamanya hanya cinta segitiga, bukan ancaman pembunuhan atau manipulasi psikologis.
Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu kamarku.
"El? Ibu masuk ya," suara Ibu terdengar sebelum dia mendorong pintu terbuka sedikit. Dia mengintip ke dalam, melihatku yang sudah berselimut rapi dengan tablet di tangan.
"Oh, Nduk sedang santai?" tanya Ibu sambil masuk sepenuhnya. Dia membawa beberapa kantong belanjaan bermerek yang diletakkan di kursi dekat jendela. Wajahnya berseri-seri, pipinya merona merah karena kebahagiaan berbelanja. Aroma parfum mahal yang baru saja disemprotkannya tercium samar.
"Iya, Bu. El lagi nonton drakor," jawabku singkat, mencoba terdengar santai meski mataku tetap tertuju pada layar tablet. Aku tidak ingin terlibat dalam obrolan panjang yang mungkin akan menanyakan ke mana aku tadi siang. Aku takut suaraku akan bergetar jika harus berbohong lebih banyak.
Ibu duduk di tepi kasur, menatapku dengan lembut. "Kamu tidak mau lihat apa yang Ibu beli? Ada tas baru lho, warnanya cocok banget sama kulitmu. Terus ada juga kalung mutiara yang cantik..."
Aku menggeleng pelan, tetap mempertahankan alasan malas-malasan. "Nanti saja, Bu. El lagi pusing dikit, mau istirahat dulu sambil nonton. Biar tenang."
Ibu tampak sedikit kecewa, tapi dia menghargai keinginanku untuk sendiri. Dia mungkin mengira aku hanya lelah secara fisik. "Yah, sayang sekali. Tapi ya sudahlah, kalau Nduk mau istirahat, istirahat saja.
"Siap, Bu," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar, berharap dia cepat pergi.
Ibu mengelus rambutku sekilas, sentuhan ibu yang hangat dan tulus. "Ibu mandi dulu ya. Capek banget jalan-jalan di mall."
Dia keluar kamar, menutup pintu pelan-pelan. Suara langkah kakinya menjauh menuju kamar mandinya di ujung koridor.
Sekarang, aku benar-benar sendirian.
Hening kembali menyelimuti kamarku, tapi kali ini hening itu terasa nyaman. Hanya ada suara dialog para aktor di tablet dan dengungan AC yang halus. Aku merasa aman. Tidak ada siapa-siapa yang mengintai. Tidak ada ancaman yang menggantung di udara. Samudra masih sibuk dengan meeting-nya, entah di mana pun dia berada, yang jelas dia tidak ada di sini.
Aku melanjutkan menonton dramaku, tersenyum kecil melihat adegan lucu antara tokoh utama pria dan wanita. Untuk sesaat, aku lupa pada Samudra. Aku lupa pada amplop misterius. Aku lupa pada ketakutan yang selama ini membelenggu.
Aku adalah Angel biasa, seorang gadis muda yang menikmati akhir pekan dengan bersantai di kamar, menonton drama favoritnya. Dunia di luar sana mungkin keras, tapi di dalam kamar ini, dengan selimut hangat dan cerita cinta di layar, aku bisa berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.