NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KERAGUAN

Sena membiarkan keheningan menggantung sejenak di udara pondok kayu itu. Ia memberi waktu bagi pikiran Anusapati untuk mencerna setiap kata yang baru saja diucapkannya.

"Sekarang, pilihan ada di tangan Raden," lanjut Sena dengan suara tenang namun membimbing. "Ada dua jalan yang bisa Raden tempuh."

Sena mengangkat satu jarinya. "Jalan pertama, Raden pulang ke kedaton dan menunggu momen yang tepat. Di saat sunyi, ketika Raden dan Gusti Dedes hanya berdua tanpa ada mata dan telinga prajurit Sri Rajasa, tanyakan semuanya. Bongkar rahasia itu dari mulut ibumu sendiri, dan dapatkan kepastian yang utuh. Tapi ketahuilah, begitu pintu itu dibuka dan rahasia itu terbongkar, dunia Raden tidak akan pernah sama lagi."

Sena lalu mengangkat jari kedua. "Atau jalan kedua... Raden memilih untuk tidak pernah menanyakannya secara langsung. Raden menyimpan kebenaran pahit ini rapat-rapat di dalam dada, menguncinya di balik senyum dan kepatuhan Raden di kedaton. Namun, seiring berjalannya waktu, setiap kali Raden melihat perlakuan beda Sri Rajasa pada Tohjaya, setiap kali Raden melihat mata dingin sang raja, Raden hanya akan membatin dalam hati... 'Ternyata, benar apa yang dikatakan Sena.'"

Anusapati menatap dua jarinya Sena dengan napas tertahan. Kedua opsi itu sama-sama berat dan sama-sama mengubah garis hidupnya.

Jika ia memilih membongkarnya kepada Ken Dedes, ia akan mendapatkan kepastian, namun ibunya harus menanggung duka lama yang terkoyak kembali. Namun jika ia memilih menyimpan rapat rahasia itu sambil terus membatin kebenaran kata-kata Sena, ia harus hidup di dalam kedaton sebagai seorang akktor yang paling lihai—berpura-pura menjadi anak penurut di luar, sambil menimbun dendam dan kewaspadaan di dalam.

Anusapati memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya mengepal di samping tubuhnya.

"Pilihan mana pun yang Raden ambil," bisik Sena pelan sambil menepuk pelan bahu sang pangeran, "Raden tidak akan pernah lagi menjadi Anusapati yang sama seperti saat Raden melangkah masuk ke Panawijen sore tadi."

Anusapati terdiam sejenak, menatap tajam ke dalam mata Sena. Pertanyaan baru kini mengusik pikirannya seorang murid padepokan biasa tidak akan mungkin memiliki wawasan setajam ini, apalagi mengetahui rahasia kelam.

"Siapa kau sebenarnya, Sena?" tanya Anusapati, suaranya penuh rasa curiga.

"Bagaimana seorang murid di Panawijen bisa tahu begitu banyak tentang rahasia darah dan kedaton Tumapel?"

Sena hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang tak sedikit pun menyibakkan tabir dirinya.

"Semua akan terjawab seiring berjalannya waktu, Raden," jawab Sena tenang. "Untuk saat ini, cukuplah ketahui bahwa aku bukanlah musuhmu."

Anusapati menarik napas panjang, menatap Sena sekali lagi sebelum akhirnya mengangguk pelan.

Kerapuhan dan kegelisahannya kini mengeras menjadi topeng ketenangan yang dingin. Raut wajahnya tak lagi sama seperti saat ia pertama kali melangkah melewati gapura Panawijen sorot matanya kini dalam, penuh rahasia, dan menyimpan beban takdir yang berat.

Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Anusapati melangkah keluar dari pondok sepi itu, kembali menuju balai utama.

Di balai utama, Mpu Parwa dan Mahisa Wong Teleng masih duduk bersila, menikmati teh daun jati. Begitu Anusapati masuk, Mahisa mendongak dan menyadari perubahan atmosfer pada diri kakaknya.

"Kita harus kembali ke Tumapel sekarang, Mahisa," ujar Anusapati singkat, suaranya datar namun tak membendung perintah.

Mahisa mengerutkan dahi, terkejut dengan perubahan sikap Anusapati yang mendadak. "Sekarang, Kangmas?."

"Hari semakin sore," potong Anusapati, menatap Mahisa. "Ibu mungkin sudah menunggu kabar kita."

Mpu Parwa menyipitkan mata, mengamati garis wajah Anusapati yang mendadak tertutup rapat bagai dinding benteng.

Sang Mpu menyadari ada gejolak besar yang baru saja terjadi, namun ia memilih diam. Mahisa pun akhirnya bangkit berdiri, pamit dan menghormati sang Mpu meski pikirannya dipenuhi tanda tanya.

Setelah kedua pangeran itu memacu kuda mereka meninggalkan Panawijen, Mpu Parwa berdiri di tangga balai, menatap debu jalanan yang membubung.

Sena melangkah mendekat dari balik bayang-bayang pondok.

"Apa yang terjadi di antara kalian, Sena?" tanya Mpu Parwa tanpa menoleh, suaranya berat dan sarat rasa curiga. "Anusapati pulang membawa wajah yang berbeda."

Sena membungkuk hormat, memasang wajah polos tanpa cela. "Hanya obrolan biasa, guru."

Mpu Parwa menatap Sena lama, mencoba membaca raut wajah muridnya, sebelum akhirnya menghela napas panjang.

"Jika tidak ada hal lain, guru" lanjut Sena dengan suara tenang, "saya izin pamit untuk melanjutkan aktivitas lain di belakang."

Tanpa menunggu balasan yang lebih panjang, Sena menunduk hormat lalu berbalik arah, melangkah santai meninggalkan sang Mpu yang masih menatap punggungnya dengan penuh prasangka.

Setelah kembali ke kedaton, Anusapati langsung masuk ke kamarnya, ia memikirkan perkataan Sena yang baru saja membuatnya terkejut, lalu mulai mencari-cari catatan sejarah Anusapati mengacak-acak tumpukan gulungan lontar di atas meja dengan napas memburu. Jemarinya menarik satu demi satu catatan kuno, silsilah kedaton, hingga sangkalan tahun peristiwa penting Tumapel yang pernah ia kumpulkan.

Ia mencari nama ayahnya, nama ibunya, atau sekadar tanggal pasti kelahirannya yang bisa membantahnya. Ia butuh sesuatu—sebuah bukti tertulis yang bisa membuktikan bahwa Sena salah, bahwa dirinya memang darah daging Sri Rajasa.

Namun, semakin jauh ia membongkar isi lemari dan tumpukan lontar itu, semakin hampa yang ia dapatkan.

Tidak ada satu pun catatan tentang masa transisi kekuasaan dari Tunggul Ametung ke Ken Arok. Catatan silsilah resmi kedaton seolah sengaja dipotong. Tahun kelahirannya sendiri tidak tertera dalam lontar silsilah para pangeran, seolah ada tangan yang sengaja menghapus jejak masa lalunya dari sejarah Tumapel.

Brak!

Anusapati menghempaskan gulungan lontar terakhir yang kosong ke atas meja. Lilin kecil di sudut meja bergoyang hebat, memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi di dinding kamar.

Kebisuan catatan sejarah itu justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

Jika ia memang putra kandung Sang Amurwabhumi yang dibanggakan, mengapa kelahirannya tak dicatat seperti pangeran lainnya? Mengapa masa lalunya dibiarkan menjadi lubang hitam yang gelap? Ketidakadaan bukti itu justru menegaskan satu hal: sejarah dirinya telah disembunyikan rapat-rapat.

Anusapati mundur perlahan, menyandarkan punggungnya pada tiang kamar yang dingin. Matanya menatap hampa tumpukan lontar yang berantakan di meja. Tidak ada fakta yang bisa menyelamatkannya dari kenyataan. Kebenaran kata-kata Sena di Panawijen kini makin terasa nyata dan tak terbantahkan.

Tak terasa waktu berlalu begitu lama hingga akhirnya pintu kamarnya diketuk "Raden Saya membawakan makan malam," panggil seorang pelayan tua dari luar dengan suara pelan dan penuh hormat.

Anusapati tidak menjawab. Ia masih berdiri mematung di samping meja, menatap hampa tumpukan lontar yang berantakan.

Pintu perlahan didorong terbuka.

Pelayan wanita setengah baya itu melangkah masuk sambil membawa nampan kayu berisi mangkuk sup hangat dan buah-buahan. Namun, begitu matanya menangkap pemandangan di dalam kamar gulungan-gulungan lontar tua yang berhamburan di atas meja hingga berserakan di lantai tanah langkahnya seketika terhenti.

Wajah pelayan itu memucat.

Ia menatap lontar-lontar tersebut, lalu beralih menatap Anusapati yang berdiri di balik remangnya cahaya lilin dengan napas masih memburu.

1
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!