Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nggak Mau Ditinggal, Maunya Dikeloni
Jam hampir mendekati pukul sembilan malam ketika rombongan kecil Yudha akhirnya melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara.
Yogi yang menjemput mereka. Wajahnya tampak cemas karena akan bertemu kembali dengan sang mama, sementara matanya awas mencari-cari anggota keluarganya di antara para penumpang yang datang dari pesawat yang sama.
Langkah Yogi mendadak terkunci. Di sebelah Yudha, berjalan seorang wanita yang sangat dikenalnya. Kanaya. Yogi tahu jika mamanya ikut dalam penerbangan ke Bali kali ini. Namun, ia sama sekali tidak mengira kalau Kanaya pun ikut serta.
Detik itu juga, pandangan mereka bertemu. Ada rasa canggung di hati Yogi. Sementara Kanaya memasang wajah datar. Namun, sepasang matanya terlihat seperti sedang menghakimi atas kesalahan Yogi.
Yogi terpaku dengan rasa malu yang begitu kuat. Rasa malunya lebih dominan menyiksa ketimbang rasa bersalah atas perbuatannya kabur dari pernikahannya dulu.
"Apa kabar, Kanaya?" Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Yogi, sekedar berbasa-basi.
"Baik."
Jawaban Kanaya begitu singkat, padat dan diucapkan dingin. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi lanjutan, membuat Yogi merasa semakin tersudut dan serba salah.
Melihat gelagat yang semakin tidak nyaman, Yudha sengaja memotong interaksi antara istrinya dan sang kakak.
"Hmm, kita langsung ke hotel aja, Mas. Biar Mama sama Kanaya bisa cepat istirahat," Bersamaan dengan itu, Yudha melingkarkan lengannya di pinggang Kanaya, menarik tubuh wanita itu mendekat ke sisinya. Sebuah pelukan erat dan posesif yang dilakukannya seperti menegaskan, bahwa Kanaya kini adalah miliknya, dan wanita itu bahagia setelah menikah dengannya.
Mata Yogi tak sengaja turun, mengikuti arah gerakan tangan adiknya yang kini melingkar intim di pinggang ramping Kanaya. Ia tahu jika Yudha yang menggantikannya di pelaminan untuk menikahi Kanaya. Namun, menyaksikan sendiri bagaimana keduanya terlihat begitu dekat dan romantis di depan matanya, membuatnya terkejut. Dia pikir pernikahan Yudha dan Kanaya akan hambar dan jalan masing-masing.
Mereka berempat kemudian berjalan menuju area parkir. Mobil yang dibawa Yogi berlogo hotel tempat mereka akan menginap nanti. Kebetulan Yogi sendiri yang merekomendasikan tempat itu kepada Yudha setelah memastikan Yudha akan datang.
Setelah semua koper masuk ke bagasi, Yudha mengambil posisi di kursi depan, tepat di samping Yogi yang memegang kemudi. Sementara itu, Kanaya dan Rima duduk di baris belakang.
"Ini mobil hotel yang aku booking Mas?" tanya Yudha agak heran.
Yogi mengembuskan nafas, sementara matanya tetap fokus ke jalanan. "Iya, Yud. Mas kerja jadi driver di hotel itu sekarang."
Jawaban Yogi seketika membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Kanaya. Wanita itu sempat melirik ke arah spion tengah, namun sekejap kemudian langsung memalingkan wajah. Ekspresinya kembali datar,
"Mas jadi driver?" Sama sekali tidak bermaksud merendahkan. Hanya saja, Yudha tahu betul, selama ini kakaknya selalu bekerja nyaman di balik meja kantoran, dengan posisi terakhir sebagai seorang supervisor.
Yogi tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan. "Iya. Yang penting sekarang ada pekerjaan halal, Yud."
Yudha terdiam. Ada rasa iba sekaligus getir melihat kehidupan kakaknya saat ini.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, suasana di dalam mobil terasa kaku. Hanya suara Yudha dan Yogi yang terdengar. Rima sesekali ikut menimpali. Sedangkan Kanaya memilih menutup rapat mulutnya. Kepalanya disandarkan ke kaca mobil dengan mata menatap ke luar kaca jendela, menikmati rasa penat dan kantuk yang mulai menjalar
Sesampainya di hotel, proses check in berlangsung cepat. Yudha memesan dua kamar yang posisinya saling bersebelah. Satu untuknya dan Kanaya, satu lagi untuk sang mama.
Yogi membantu membawa barang-barang dan mengantar mamanya sampai benar-benar masuk ke dalam kamar. Sedangkan Yudha dan Kanaya masuk ke kamar di sebelahnya.
Begitu pintu kamar mereka tertutup, Yudha berbalik menatap Kanaya yang sedang membuka koper.
"Kamu istirahat duluan ya, Yank. Aku mau keluar sebentar, mau ngobrol-ngobrol dulu sama Mas Yogi," kata Yudha sambil melepas jaketnya. Ia merasa perlu bicara dari hati ke hati, sebagai sesama lelaki dengan sang kakak.
Kanaya menoleh cepat, dahinya berkerut. "Aku tidur di kamar Mama aja ya malam ini? Kasihan Mama sendirian di sebelah," cetusnya.
Yudha langsung mendengus. "Jangan macam-macam, deh. Kita ke sini kan sekalian bulan madu, ngapain kamu malah tidur nemenin Mama?
Kanaya melipat tangannya di dada, wajahnya sengaja dibuat memberengut. "Lagian kamu juga mau pergi ngobrol sama kakakmu, kan? Ngapain aku di sini nungguin kamu sendirian?
Melihat wajah cemberut istrinya, senyum usil Yudha langsung terlihat. "Oh, jadi ceritanya istriku nggak mau ditinggal sendirian nih?"
Yudha menyergap tubuh Kanaya dari belakang. Ia memeluk tubuh itu erat-erat, lalu dengan sengaja menjatuhkan tubuh mereka berdua ke atas tempat tidur.
"Maunya dikeloni kayak gini dulu, hmm?" goda Yudha dengan suara berat tepat di telinga Kanaya, membuat wajah istrinya seketika merona merah.
"Yudha! Lepas, ah! Aku capek tau!" Kanaya meronta, mencoba melepaskan kungkungan tangan kekar suaminya yang mulai bertingkah nakal. "Udah, sana pergi! Katanya tadi mau ngobrol sama Yogi!" usir Kanaya seraya memalingkan wajahnya yang menghangat. Saat ini, mengizinkan Yudha untuk pergi mengobrol dengan Yogi rasanya jauh lebih aman, ketimbang membiarkan tubuhnya kelelahan habis dicumbu habis-habisan oleh suaminya itu.
Sementara di kamar sebelah.
"Makasih Mama udah mau datang." Yogi memeluk tubuh ringkih Rima. Dia bahagia sang mama bersedia menghadiri hari bahagianya esok lusa.
"Kewajiban Mama untuk hadir saat anak-anak Mama menikah." Rima tak sekeras Wirawan. meskipun dia juga sempat kecewa dengan sikap Yogi yang kabur dari pernikahan beberapa waktu lalu, Yogi tetaplah darah dagingnya.
"Mama hanya nggak nyangka nasib kamu jagi seperti ini, Yogi." Rima tak kuasa menahan kesedihannya hingga akhirnya air mata menetes di pipinya.
Yogi mempererat pelukannya. Dia sadar, sebagai anak, dia lebih banyak mengecewakan orang tuanya ketimbang membuat mereka bahagia.
"Yogi baik-baik saja, Ma. Mama jangan khawatir." Yogi berusaha menenangkan sang mama, meskipun ia akui, hidupnya kini lebih berat setelah kehilangan pekerjaannya dulu.
❤️❤️❤️
Bersambung...
pasti senang sekali Yudha kalo tau Yaya tetiba positif
semoga garis dua ya nay