Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugatan di Balik Dinding Pengadilan
Berita mengenai pendaftaran gugatan cerai oleh Elena von Secilia terhadap Tuan Muda Adrian menjadi babak baru yang mengguncang panggung sosialita metropolitan. Pagi itu, Pengadilan Agama Distrik Pusat sudah dipenuhi oleh puluhan pemburu berita dan jurnalis bisnis. Mereka berkumpul di depan pintu gerbang utama dengan kamera yang siap membidik, menanti kedatangan dua tokoh utama dari salah satu keluarga paling berpengaruh di kota ini. Bagi publik, perceraian ini bukan sekadar urusan rumah tangga biasa, melainkan sebuah sinyal pergeseran kekuasaan finansial yang masif.
Di dalam ruang tunggu khusus eksekutif gedung pengadilan, Adrian von Secilia duduk dengan gelisah di atas kursi kulit. Wajahnya yang biasa tampak angkuh dan tegas kini terlihat kusam, dihiasi oleh lingkaran hitam tebal di bawah mata akibat tidak bisa tidur selama beberapa hari terakhir. Setelan jas hitam formal yang ia kenakan tampak sedikit longgar, mencerminkan berat badannya yang menyusut akibat tekanan mental yang luar biasa.
"Tuan Muda Adrian," suara Sekretaris Hendra terdengar sangat cemas saat melangkah masuk ke dalam ruangan. "Tim pengacara kita sudah memeriksa berkas gugatan dari pihak Nona Elena. Situasi kita sangat buruk. Mereka melampirkan seluruh rekaman bukti penindasan ekonomi, pengabaian hak istri selama tiga tahun, serta laporan audit internal yang memperlihatkan bagaimana Anda membiarkan para pelayan melakukan kekerasan psikologis terhadap beliau."
Adrian mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan. "Aku tidak peduli tentang berkas bodoh itu, Hendra! Yang ingin kuketahui adalah apakah Aethelgard Holdings benar-benar akan meluncurkan perintah sita saham jaminan kita jika aku menolak menandatangani surat cerai ini?!"
Hendra menunduk dalam-dalam, menelan ludah dengan susah payah sebelum berani menjawab. "Benar, Tuan Muda. Perwakilan hukum Nona Elena menyatakan bahwa jika sidang hari ini tidak berjalan lancar akibat penolakan dari pihak Anda... mereka akan langsung mengirimkan surat perintah likuidasi aset *Secilia Group* ke bursa efek distrik utara tepat pukul dua siang nanti. Perusahaan kita... akan hancur dalam semalam."
*Brak!*
Adrian menghantam lengan kursi kulit dengan kepalan tangannya yang gemetar akibat amarah yang bercampur dengan keputusasaan yang mendalam. "Dia benar-benar kejam! Dia ingin menguliti seluruh hidupku tanpa menyisakan apa pun!"
Pintu ruang tunggu eksekutif kemudian terbuka perlahan, memutus semua kepanikan Adrian. Suasana di dalam ruangan mendadak menjadi sangat dingin dan menekan saat beberapa pengawal bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan pin berlian hitam di kerah mereka melangkah masuk terlebih dahulu, membuat barisan pelindung yang kokoh.
Di tengah-tengah barisan pengawal elite tersebut, melangkah Elena dengan keanggunan yang menakjubkan. Sore itu, dia tampil memukau dengan mengenakan setelan gaun formal berwarna biru gelap yang memeluk tubuh proporsionalnya dengan sempurna. Rambut peraknya disanggul rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih tanpa cela. Di sampingnya, Duke Xavier von Obsidian berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura dominasi seorang penguasa yang membuat siapa pun di sekitar mereka reflex menundukkan kepala karena terintimidasi.
"Elena!" Adrian langsung berdiri dari duduknya, melangkah tergesa-gesa menghampiri mantan istrinya dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus harapan yang rapuh. "Tolong, kita perlu bicara berdua saja. Batalkan gugatan gila ini. Kita bisa memperbaiki semuanya dari awal. Aku berjanji akan memberikan posisi terbaik untukmu di dalam keluarga Secilia!"
Elena menghentikan langkah kakinya tepat tiga langkah di depan Adrian. Sepasang mata safir birunya yang jernih menatap pria di hadapannya dengan pandangan yang sangat datar dan kosong—sebuah tatapan sedingin es yang menegaskan bahwa Adrian tidak lebih dari sebutir debu yang tidak berharga di matanya.
"Memperbaiki dari awal, Tuan Adrian?" Elena mengulas senyuman sinis yang teramat tipis di bibir merahnya. "Jangan membuat saya tertawa dengan janji manis yang murahan. Tidak ada kata awal untuk sebuah hubungan yang sejak detik pertama sudah dibangun di atas pengkhianatan dan transaksi bisnis yang kotor. Waktu Anda untuk meminta maaf sudah habis sejak tiga bulan yang lalu, saat Anda membiarkanku mengemis perhatian di rumahmu yang dingin."
"Aku terpaksa melakukannya karena tekanan dewan komisaris dan Kakek, Elena!" suara Adrian mendadak merendah, kehilangan seluruh sisa keangkuhannya di hadapan wanita yang kini memegang leher perusahaan keluarganya. "Aku tahu aku salah karena mengabaikanmu. Tapi sekarang... sekarang aku sadar bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang paling pantas berdiri di samping takhtaku. Berikan aku satu kesempatan lagi, aku mohon!"
Duke Xavier yang berdiri di samping Elena mendengus hambar, sebuah suara tawa rendah yang terdengar sangat kejam di telinga Adrian. Xavier memajukan tubuh tegapnya, merangkul pinggang ramping Elena secara posesif di depan Sekretaris Hendra dan tim pengacara, menegaskan kepada dunia siapa pria yang kini berhak memiliki wanita perak tersebut.
"Tuan Muda Adrian, kata-kata Anda terdengar sangat menggelikan bagi seorang pebisnis," ucap Xavier dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan dipenuhi aura menekan yang mematikan. "Anda baru menyadari nilai dari seorang wanita setelah dia berdiri di puncak tertinggi distrik finansial dan memegang seluruh surat utang perusahaan Anda? Itu bukan cinta, Tuan Adrian. Itu hanyalah ketakutan seorang pecundang yang enggan kehilangan takhta semunya."
Xavier menatap Adrian dengan sepasang mata abu-abu gelapnya yang sedingin es kutub. "Mulai hari ini, Elena berada di bawah perlindungan mutlak dari nama besar keluarga Obsidian. Jika Anda berani melayangkan satu kata rayuan lagi kepadanya... saya pastikan sisa tiga puluh persen saham keluarga Anda akan berubah menjadi abu di bursa efek sebelum persidangan ini selesai."
Adrian mengepalkan tangannya di balik saku celana jasnya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Rasa cemburu yang membakar egonya bercampur dengan rasa takut yang tak terbendung melihat kekuasaan mutlak Xavier membuat Adrian tidak bisa lagi mengeluarkan satu patah kata pun.
Petugas pengadilan kemudian membuka pintu ruang sidang utama, memanggil nama kedua belah pihak untuk segera masuk ke dalam ruangan meja hijau.
Elena memperbaiki letak blazer biru gelapnya dengan keanggunan yang mutlak, lalu menatap Adrian untuk terakhir kalinya dengan pandangan penuh kemenangan yang dingin. "Adrian, simpan sisa tenagamu untuk membeli kembali saham keluargamu esok pagi dengan harga tertinggi di pasar sekunder. Sebab setelah ketukan palu hakim hari ini... aku akan memastikan nama Secilia hanyalah sebuah sejarah kecil yang terlupakan di kota ini."
Elena berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang sidang bersama Duke Xavier di sisinya tanpa menoleh ke belakang lagi sedikit pun, meninggalkan Adrian yang berdiri mematung di koridor pengadilan dengan dada yang terasa sesak akibat penyesalan yang terlambat di dalam hidupnya.
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄