NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tarian Belati di Ruang Bawah Tanah

Uap dingin dan aroma mesiu kuno yang menyengat memenuhi lorong sempit Pegunungan Terlarang. Cahaya dari pedang kuno Long Junwei bergetar, memantulkan bayangan puluhan ujung anak panah beracun milik Pasukan Naga Hitam yang mengarah tepat ke arah mereka. Di hadapan mereka, Pangeran Keempat, Shen Chia, berdiri dengan senyuman kemenangan yang tampak sangat menyebalkan di bawah temaram obor.

"Xianle, Junwei... menyerahlah," ucap Shen Chia sembari menutup kipas bulu bangaunya dengan ketukan halus yang bergaung di dinding batu.

"Kalian memang berhasil meruntuhkan faksi ibuku dan Li Feng yang bodoh itu. Namun, bermain catur militer denganku adalah kesalahan terbesar dalam hidup kalian."

Xianle tidak menjawab. Tubuhnya merunduk rendah, mengambil posisi kuda-kuda bertarung yang paling efisien. Di balik lengan bajunya, jemarinya meraba permukaan belati perak yang dingin. Tatapan matanya tidak berkedip, mengunci setiap pergerakan Shen Chia.

"Junwei," bisik Xianle dengan nada yang nyaris tidak terdengar di tengah desingan angin lorong. "Formasi pemanah di belakangnya terlalu rapat. Jika kita menyerang dari depan, kita akan menjadi sasaran empuk."

"Aku akan membuka jalur tengah," balas Junwei, suara baritonnya bergaung dengan ketegasan. "Gunakan teknik Langkah Bayangan Tanpa Jejak untuk langsung mengincar Shen Chia. Begitu kepalanya jatuh, pasukan ini akan kehilangan arah."

"Maju! Habisi mereka!" seru Shen Chia, membaca isyarat bahaya dari sepasang sekutu di hadapannya.

Syuuutt! Syuuutt! Syuuutt!

Hujan anak panah kembali melesat memotong kegelapan lorong. Namun kali ini, Long Junwei tidak lagi bertahan. Pangeran Bayangan itu menerjang maju bagai badai hitam. Pedang kunonya diayunkan dalam gerakan melingkar, menciptakan tameng angin internal yang murni dan padat, menghancurkan setiap anak panah yang mencoba menembus pertahanannya.

Tring! Cring! Brak!

Junwei menabrak barisan depan prajurit zirah biru laut dengan kekuatan luar biasa. Tebasan pedangnya yang dilapisi energi biru keperakan memotong tombak-tombak musuh seolah itu hanya ranting kering. Dalam hitungan detik, jalur tengah lorong berantakan oleh amukan sang Pangeran Bayangan.

Memanfaatkan celah yang diciptakan Junwei, Xianle bergerak. Tubuhnya menjelma menjadi bayangan hitam yang melesat di sepanjang dinding batu lorong. Langkah kakinya sangat ringan, bahkan tidak menimbulkan getaran sedikit pun pada debu-debu lantai bawah tanah.

Dua orang pembunuh elit Naga Hitam mencoba menghadangnya dari samping, namun belati perak Xianle bergerak lebih cepat.

Sret! Sret!

Dua tikaman presisi di sela zirah leher membuat kedua pembunuh itu tumbang tanpa sempat mengeluarkan suara. Xianle melompati tubuh mereka, mendarat tepat tiga langkah di hadapan Shen Chia. Kipas bulu bangau di tangan Pangeran Keempat berganti menjadi sebilah pedang tipis bersimbol naga laut yang berkilat tajam.

"Kau memang licik, Adikku!" seru Shen Chia sembari mengayunkan pedang tipisnya ke arah tenggorokan Xianle.

Tring!

Benturan belati perak Xianle dan pedang tipis Shen Chia menimbulkan percikan api yang menerangi wajah mereka yang sama-sama dipenuhi tekad membunuh. Berbeda dengan Li Feng yang mengandalkan kekuatan fisik, teknik pedang Shen Chia sangat cepat dan penuh tipu muslihat, persis seperti ular laut yang lincah.

Xianle terpaksa mundur dua langkah untuk menghindari serangkaian tusukan cepat yang mengincar titik vitalnya. Namun, rasa perih di bahu kanannya akibat luka lama yang tergores di gerbang kota mulai berdenyut kembali, memperlambat refleks gerakannya.

"Refleksmu melambat, Xianle! Kau terluka!" Shen Chia terkekeh sinis, menyadari darah segar mulai kembali merembes di zirah kain hitam bagian bahu Xianle. Pangeran Keempat meningkatkan intensitas serangannya, menekan Xianle hingga terpojok ke arah dinding batu yang dipenuhi mekanisme kuno.

Di sudut lorong yang lain, Long Junwei yang sedang dikepung oleh belasan prajurit elite melihat posisi Xianle yang terdesak. Amarah yang pekat meledak dari dalam dadanya. Energi internal biru keperakan dari pedangnya mendadak membesar dua kali lipat, menghempaskan para prajurit di sekelilingnya hingga muntah darah.

"Shen Chia! Menjauhlah darinya!" Junwei menggeram, melemparkan pedang kunonya dengan kekuatan penuh ke arah Pangeran Keempat.

Wuuush! Krak!

Pedang kuno Junwei melesat memotong udara, memaksa Shen Chia untuk melompat mundur demi menghindari tebasan terbang tersebut. Pedang itu menancap sedalam tiga inci ke dalam dinding batu, tepat di atas tombol mekanisme raksasa perbendaharaan kuno.

Akibat hantaman pedang raksasa Junwei pada tombol mekanisme terlarang tersebut, suara gemuruh yang jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya mendadak mengguncang seluruh Pegunungan Terlarang.

BRUUUMMMM! KRAAAKKK!

Langit-langit lorong batu mulai retak, menjatuhkan bongkahan-bongkahan batu raksasa yang menghancurkan apa saja di bawahnya. Mekanisme darurat perbendaharaan kuno rupanya telah terpicu; tempat ini dirancang untuk runtuh dan mengubur dirinya sendiri jika terjadi pertempuran skala besar di dalam ruang penyimpanan senjata rahasia.

"Sial! Tempat ini akan runtuh!" teriak Shen Chia, wajah tampannya kini dipenuhi kepanikan. Ia mengabaikan Xianle dan buru-buru berbalik, berlari menuju lorong terdalam tempat peti-peti bubuk mesiu dan cetakan senjata rahasia disimpan, mencoba menyelamatkan aset paling berharga tersebut sebelum hancur.

"Xianle! Kita harus keluar sekarang!" Long Junwei berlari menerjang reruntuhan batu, meraih lengan Xianle dan menariknya menuju pintu keluar yang kian menyempit karena tertutup longsoran tanah.

Rulan—Xianle—menoleh ke belakang sesaat. Di balik kepulan abu dan runtuhnya dinding-dinding batu, ia melihat siluet Shen Chia yang mencoba menyeret sebuah peti emas raksasa sebelum akhirnya gua tersebut tertutup sepenuhnya oleh runtuhan batu besar dengan suara berdentum yang mengerikan.

BOOOMMMM!

Getaran terakhir menghempaskan Xianle dan Junwei keluar dari lubang tebing, berguling di atas tanah Pegunungan Terlarang yang basah oleh sisa hujan malam. Mo Reng dengan cepat membantu mereka berdiri seiring dengan tertutupnya gerbang perbendaharaan rahasia tersebut untuk selamanya oleh jutaan ton batu gunung yang longsor.

Mereka selamat, namun perbendaharaan rahasia dinasti terdahulu yang mereka butuhkan untuk menghancurkan armada laut Shen Chia kini telah terkubur habis di dasar bumi.

Xianle berdiri dengan tubuh yang gemetar karena kehabisan tenaga, menatap reruntuhan tebing di hadapannya dengan napas tersengal-sengal. "Senjata rahasia itu... semuanya lenyap..."

Long Junwei melangkah di sampingnya, jubahnya yang robek berkibar ditiup angin gunung yang dingin. Meskipun rencana mereka untuk mendapatkan bubuk mesiu gagal, sepasang mata elangnya tetap memancarkan ketegasan yang mutlak.

"Senjata kuno itu mungkin lenyap, Xianle," ucap Junwei, suaranya berat menembus kesunyian malam pegunungan. "Namun Shen Chia juga belum tentu mati di dalam sana. Dan yang lebih penting... Pasukan Angkatan Laut Naga Hitam miliknya saat ini sudah berada di jalur sungai pedalaman, hanya berjarak satu hari perjalanan dari gerbang air ibu kota. Tanpa persenjataan baru, kita harus menghadapi mereka dengan pedang telanjang esok hari."

Xianle mencengkeram belati peraknya yang kini telah tumpat oleh darah musuh. Di kejauhan, fajar mulai menyingsing kembali, menyinari ibu kota yang sebentar lagi akan menjadi target banjir darah dari selatan. Tanpa benteng pertahanan air dan tanpa senjata rahasia, takhta Dinasti Magnolia Baru yang baru berumur beberapa hari kini sedang berada di titik paling rapuh dalam sejarahnya.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!