Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.32 Kebusukan Lily terbongkar di hadapan neneknya
"Ibu!" Mamah Ana menghampiri putrinya.
"Semua ini terjadi karena kalian terlalu memanjakannya. Bagaimana kamu membuat fitnah seperti ini Ana?"
Ana menoleh kepada nyonya Hermawan. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum tipis. Tapi di matanya memancarkan amarah yang begitu besar.
Nyonya Hermawan beranjak dari tempat duduknya. Dia melayangkan tamparan tepat di wajah mulus Ana.
Ana memegangi wajahnya yang terasa perih.
"Apa yang anda lakukan?"Teriak Ana.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya. Ana muda sepertimu melakukan hal yang begitu menjijikkan. Sangat memalukan."Ujar nyonya Hermawan.
Ana menoleh kepada neneknya. Wanita tua itu hanya diam tanpa berniat membantu cucunya. Nyonya Colins tahu kesalahan yang di lakukan oleh putranya.
Nyonya Colins membuang muka. Di tahu jika cucunya pantas mendapatkan itu.
"Nyonya Hermawan, bukankah anda terlalu kasar menampar putriku?"
Nyonya Hermawan menoleh kepada mamah Ana.
"Apa katamu? Terlalu kasar? Setelah dia mempermalukan ku di depan semua orang. Kamu bilang aku terlalu kasar karena menamparnya? Kamu tahu apa yang aku dapatkan? Suami ku menyeretku masuk ke dalam rumah. Hal itu sama sekali tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Tapi karena masalah ini, dia memperlakukan seperti itu. Sekarang kamu bilang aku terlalu kasar. Lucu sekali."Ujar nyonya Hermawan.
Nyonya Colins menghela nafas kasar.
"Maafkan sikap cucuku nyonya Hermawan. Saya akan mendidiknya jadi lebih baik lagi."Ujar nyonya Colins meminta maaf kepada nyonya Hermawan.
Nyonya Hermawan menoleh kepada nyonya Colins.
"Hanya anda yang mengerti saya. Kalau begitu saya pamit."
Nyonya Hermawan meninggalkan kediaman nyonya Colins. Begitu nyonya Hermawan pergi. Ana langsung mendekati neneknya.
"Nenek, jangan percaya dengan wanita tua itu. Dia pasti mengarang cerita tentang ku."Ujar Ana berbohong.
Nyonya Colins menghela nafas kasar. Dia menatap cucunya. Selama ini dia tahu bagaimana kelakuan cucunya. Dia hanya diam karena tidak membuat masalah semakin rumit.
Tatapan kekecewaan nyonya Colins terlihat jelas. Sementara Ana sama sekali tidak menyadari hal itu.
"Berhenti berbohong Ana. Nenek tahu bagaimana kamu. Nenek hanya diam selama ini tapi kali ini kamu sudah sangat keterlaluan. Kamu telah mencoreng nama baik keluarga Colins di mata keluarga Hermawan."
Ana menatap neneknya. Dia mulai merasakan kekecewaan yang terpancar di mata neneknya.
"Nenek, Ana tidak bohong. Wanita tua itu pasti mengarang cerita."Ana masih saja ingin membela diri di depan neneknya.
Melihat Ana yang masih kekeh dan merasa paling benar. Nyonya Colins begitu kecewa. Selama ini dia telah melakukan kesalahan kepada cucunya yang lain.
Dia mengira jika Ana akan berubah suatu saat nanti tapi nyatanya dia salah. Ana sama sekali tidak pernah memikirkan apa yang dia lakukan salah.
"Nenek kecewa dengan mu."
Nyonya Colins meninggalkan Ana dengan perasaan kecewa. Melihat kepergian mertuanya. Mamah Ana mendekati putrinya.
"Seharusnya kamu minta maaf kepada nenek mu Ana. Kamu pikir dia tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan? Dia tahu semuanya. Jangan sampai kasih sayangnya berpaling kepada Lily."Ujar mamah Ana.
Ana menoleh kepada mamahnya.
"Itu tidak mungkin mah. Nenek akan selalu menyayangiku. Buktinya dia sama sekali tidak pernah membantu Lily dalam hal apa pun."Ujar Ana dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Ana melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dia sama sekali tidak berniat meminta maaf ataupun mengakui kesalahannya.
Sementara nyonya Colins merasakan kekecewaan yang begitu besar.
"Apa keputusan ku ini sudah benar?" Batin nyonya Colins.
Wanita tua itu mulai membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Dia benar-benar merasa lelah saat ini.
Di sisi lain, Nyonya Morley mendapatkan laporan. Wajah wanita tua itu terlihat memerah karena kesal.
"Jika dia tidak ingin mundur maka aku akan memaksanya menyerah. Aku benar-benar sudah muak dengan semua ini."Ujar nyonya Morley berapi-api.
"Tenang bu. Jika anda emosi tekanan anda bisa naik."Ujar Mery menatap mertuanya.
Wanita paruh baya itu terlihat gugup. Jika mertuanya marah maka dia bisa berbuat nekat.
Benar saja apa yang di takutkan Mery. Nyonya Morley menghubungi orang kepercayaannya.
Wanita tua itu meninggalkan mansion miliknya. Dia masuk ke dalam mobil dan menuju ke suatu tempat.
Mery yang melihat hal itu terlihat khawatir.Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Dia juga tidak tahu kemana mertuanya pergi.
"Nyonya! Bagaimana jika tuan Eldirck tahu anda melakukan ini?"
Nyonya Morley terdiam sejenak. Tapi detik berikutnya dia kembali di kuasai amarah.
"Aku tidak apa-apa. Yang penting sekarang. Aku harus menyingkirkan wanita sialan itu dari hidup cucuku."Ujar nyonya Morley penuh emosi.
Tangannya memegang erat tas miliknya. Pandangannya hanya tertuju ke arah luar kaca mobil.
Tiga puluh menit berlalu. Nyonya Morley kini tiba di depan rumah sederhana. Melihat kondisi rumah itu semakin membuat nyonya Morley tersulut emosi.
"Hancurkan rumah itu tanpa sisa."Perintah nyonya Morley yang tidak ingin di bantah.
Meski sopirnya terlihat ragu. Dia tetap akan melakukannya.
Nyonya Morley turun dari mobil setelah sopirnya membuka pintu mobil untuknya. Wanita tua itu melangkah masuk dan mengetuk pintu.
Nyonya Morley hanya mengetuk pintu satu kali dan pintu telah terbuka. Mamah Lily berdiri di hadapannya.
"Hancurkan semuanya tanpa sisa."Perintah nyonya Morley.
Mamah Lily terlihat terkejut. Dia tidak tahu siapa wanita tua di hadapannya. Tiba-tiba saja rumahnya di hancurkan.
Pecahan kaca terdengar di mana-mana. Mamah Lily berteriak histeris melihat rumahnya di hancurkan.
"Hentikan nyonya! Apa yang anda lakukan?"Teriak mamah Lily.
Nyonya Morley menaikkan tangannya. Dia menyenggol Mamah Lily dan melangkah masuk ke dalam.
"Kamu takut rumah mu hancur? Apa yang bisa di banggakan dengan rumah jelek seperti ini?"Ujar nyonya Morley dengan nada merendahkan.
Mamah Lily terdiam sejenak. Dia mencerna perkataan nyonya Morley.
"Aku tidak tahu siapa anda tapi anda menghancurkan rumah ku."Lirih mamah Lily.
Dadanya terasa sesak. Bagaimana ada seseorang yang tidak berprasaan.
Nyonya Morley menoleh kepada mamah Lily.
"Salahkan putrimu. Dia begitu keras kepala. Aku sudah memintanya baik-baik tapi dia mengabaikan. Semua yang aku lakukan ini adalah salahnya sendiri."Ujar nyonya Morley.
"Sudah aku katakan untuk meninggalkan cucuku tapi dia mengabaikan peringatan ku. Sekarang aku mau lihat apa yang akan dia lakukan untuk menghentikan ku."Ujar nyonya Morley kembali.
Mamah Lily menatap nyonya Morley. Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini.
"Hancurkan semuanya tanpa sisa."Perintah nyonya Morley kembali.
"Hentikan nyonya. Anda tidak boleh melakukan ini."Mamah Lily berusaha menghentikan pria yang menghancurkan rumahnya. Meski pria itu mendorongnya dengan kasar dia tetap tidak peduli.
"Hentikan!"Teriak seseorang yang baru saja melangkah masuk.