Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN TUJUH BELAS
Selama perjalanan Rindu dan Langit tak sungkan untuk berbincang, bahkan Rindu tak malu meminjam sebelah headset yang sedang terpasang ditelinga Langit, untuk mendengarkan lagu bersama. Perjalanan dari SMAN Lembang sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya beberapa kilumeter saja, namun jalanan yang sangat padat oleh kendaraan ditambahl agi adanya kendaraan umum yang sedang berhenti dijalan, membuat perjalanan itu membutuhkan waktu yang bertambah lama.
Perjalanan ini terasa semakin lama, bis hanya bergerak sekitar 2 hingga 3 meter setiap beberapa menit sekali. Wajah letih kian terlihat jelas pada diri Rindu, sambil mendengarkan Lagu "surat cinta untuk starla" yang dinyanyikan virgoun dari sebelah headset yang dipinjam dari Langit, membuat letih dari Rindu berubah menjadi rasa mengantuk yang dalam. Entah dimulai dari mana, Rindu perlahan mulai tertidur dibahu Langit. Langit yang melihat Rindu masih mengenakan pakaian cheerleader yang bisa dikatakan sedikit seksi dimata Langit, segera melepaskan jaketnya untuk dipakaikan menutupi tubuh Rindu.
Bis akhirnya tiba di penginapan, dengan perlahan Langit berusaha membangunkan Rindu yang tengah tertidur dibahunya."Rin, Rin, bangun udah sampai" perlahan Langit membangunkan Rindu dengan suara pelan. Rindu perlahan mulai membuka matanya, Rindu terkejut melihat dirinya ditutupi jaket yang dia ingat tadi dikenakan oleh Langit.
"Sorry tadi gue yang tutupin badan lu pake jaket gue, bukannya nggak sopan, tapi ya sedikit risih aja gue , lihat lu masih pakai baju begitu senderan dibahu gue, sekali lagi sorry ya" ujar Langit meminta maaf kepada Rindu
"Iya nggak apa-apa kok, malah gue yang ngerasa nggak enak sama lu, lu pasti tadi pegel kan? Sekali lagi makasih ya" jawab Rindu
Mereka berdua bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu bis. Langit turun dari bis terlebih dahulu diikuti oleh Rindu, sesaat Rindu akan menuruni anak tangga bis tersebut, kaki Rindu tergelincir hingga akan terjatuh, untung saja Langit menyadari dan segera menahan tubuh Rindu dengan tangannya saat terjatuh.
"Hati-hati dong lu, untung ada gue" ucap Langit lembut.
"Iya masih ngantuk gue hehehe, makasih ya" jawab Rindudengan senyuman yang tidak pernah dikeluarkan kepada Langit.
Langit meletakkan tangannya di pipi Rindu, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rindu. Spontan kejadian itu membuat Rindu terkejut, dengan refleksnya tangan Rindu menampar Langit. "Waduh kok gue ditampar" terkejut Langit sambil memegang pipinya yang ditampar Rindu.
"Ya abis lu mau ngapain gue" Rindu sedikit emosi karena mengira Langit akan menciumnya.
"ih GR lu, gue cuma mau niup mata lu tuh ada kotoran atau binatang gitu di mata lu" Langit berusaha menjelaskan maksudnya.
Rindu merasa malu mendengar hal tersebut, dia ternyata telah salah sangka kepada Langit, Langit yang bermaksud baik dikira akan berniat jelek ke dia. "Eh maaf deh abis nya lu tau-tau nyosor gitu, ya gue kan jaga-jaga aja" Rindu merasa malu atas sikapnya.
Dengan rasa bersalahnya Rindu berusaha mengusap pipi Langit yang ditamparnya. "nggak apa-apa kan lu? sekali lagi maafin gue ya , nggak geger otak kan lu? maafin ya, sakit ya" Rindu merasa bersalah telah menampar Langit
"nggak kok, nggak kenapa-kenapa, masa iya geger otak, ada-ada aja lu hahaha, paling pipi gue nyengsol sedikit aja, nanti gue bawa ke ketok magic biar lempeng lagi " Canda Langit mencoba mencairkan suasana.
"Sini gue tampar lagi sebelahnya biar sama hahaha" timpa Rindu dengan bercanda.
Mereka akhirnya pergi kedalam penginapan mengikuti temannya yang lain, yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam penginapan sedari tadi. Langit dan Rindu berjalan bersama hingga menaiki tangga, dan di tangga itulah mereka harus berpisah, Langit harus naik kembali ke lantai tiha menuju kamarnya sedangkan Rindu cukup hingga lantai dua saja dimana kamarnya berada.
Di depan kamarnya , Rindu langsung membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak dikunci. Kamarnya masih kosong, hanya terdengar suara siraman kluset dari kamar mandi. Sesaat Rindu melangkah masuk, sekali lagi dia menginjak secarik kertas bertuliskan namanya beserta sebait puisi. Rindu langsung mengambil kertas tersebut, dia menanyakan kepada yang dikamar mandi mungkin mengetahui.
"Nila atau Allisya ya yang dikamar mandi?" tanya Rindu.
"Ini Allisya kak, Nila tadi turun bis langsung kekamar temen nya di sebelah" suara perempuan dari kamar mandi yang ternyata adalah Allisya.
"ohh kamu sya, be te we kamu tahu nggak, siapa yang naruh kertas dibawah pintu?" tanya Rindu.
"Kertas apa ya kak? Tadi aku masuk sih nggak ada kertas kak, terus aku buru-buru ke kamar mandi, kebelet soalnya ehhehe" jawab Allisya dari dalam kamar mandi.
"Ohh ya udah, bukan apa-apa sih cuma sampah doang kok. Ini juga mau langsung dibuang aja" jawab Rindu sambil menyimpan kertas tersebut kedalam tas yang dibawanya.
Tidak lama Allisya keluar dari kamar mandi, bergegas Rindu menuju ke dalam kamar mandi. Di depan cermin Rindu mengeluarkan kertas itu kembali lalu membacanya.
"Menjagamu adalah tugasku ,
Membahagiakanmu adalah usahaku,
Diamku adalah cara ku menjagamu,
Air matamu adalah duka ku,
Sedihmu adalah Deritaku,
-Rindu-"
Rindu membaca isi dalam kertas tersebut dalam hatinya.
Entah apa yang harus Rindu unggapkan akan pemuja rahasianya ini, dua kali sudah dia mendapatkan untaian kata yang menyentuh jiwanya. Apakah ini semua nyata? Apakah memang ada seorang yang sebenarnya menyukai dirinya tapi enggan berterus terang? atau ini hanya perbuatan tangan jahil untuk membuat dirinya merasa bahagia dalam kepalsuan?.
Di tempat lain, dikamar Langit menginap, terlihat ketiga rekan sekamar Langit tengah beristirahat di temoat tidurnya, sementara Langit baru saja mengeluarkan laptop dari dalam lemari yang kemudian diletakkan di atas sebuah meja. Langit memindahkan kursi yang sebelumnya diletakkan oleh rekan sekamarnya didekat tempat tidur menuju ke depan meja dimana laptop Langit berada, dengan perlahan Langit melangkah agar tidak mengganggu yang lainnya.
"Ini adalah hari dimana gue mulai bertanding dalam kejuaraan basket terbuka yang diadakan salah satu sekolah dikota kembang. Sekolah gue masuk ke grup B, dimana di grup itu sekolah gue bertanding pada pertandingan pertama setelah pertunjukan cheerleader sekolah tuan rumah.
Pertandingan pertama sebenarnya membuat gue sedikit takut karena gue belum bisa menilai permainan dari musuh, tapi gue tetap optimis, apalagi kebetulan disana ada DIA, DIA yang juga kebetulan akan bertanding sebagai cheerleader sekolah gue. Pertandingan pertama yang berlangsung sangat sengit itu alhamdulillah bisa menetapkan tim gue sebagai pemenangnya.
Setelah tim gue bertanding, tiba waktunya DIA dan tim cheerleadernya tampil, entah ada angin apa dengan refleks gue mencoba menyemangatinya, tapi yang gue heran DIA membalas nya dengan senyuman yang tak pernah DIA beri selama ini. Semua berasa berbeda hari ini, seakan ada yang indah dari DIA, seakan kami itu sangat akrab walau diketahui gue dan DIA selalu saja dalam konflik selama ini.
Tak sungkan DIA menerima ucapan selamat dari gue, bahkan DIA memeluk gue saat tahu tim basket gue ke babak berikutnya. Perjalanan pulang tanpa sungkan DIA mau sebangku sama gue, bahkan tertidur di bahu gue. Seperti bermain dalam hujan, gue kebasahan, gue kedinginan tapi gue bahagia bisa bermain hujan, itu yang gue rasakan sama DIA hari ini. Sepertinya gue mulai jatuh cinta sama DIA........"