Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Bidak dan Papan Catur
Beberapa hari setelah Valentine, Jakarta kembali panas, macet, dan penuh gosip.
Keira kembali ke laboratorium HEALER seolah tidak pernah melihat namanya menyala di langit London. Ia mengenakan jas lab, rambut diikat rapi, kalung safir tersembunyi di balik kerah kemeja. Di luar ruangan kaca, Tari berusaha keras menahan rasa ingin tahu setiap kali batu biru itu terlihat sekilas.
“Ci,” bisik Tari, “itu hadiah dari Ko Ray?”
“Fokus pada sampel.”
“Berarti iya.”
Keira tidak menjawab.
Pagi itu, Rayhan datang ke HEALER hanya untuk satu kalimat.
“Keputusan brand ambassador lini baru ada di kamu.”
Direksi marketing yang duduk di ruang rapat langsung saling pandang. Nama Vanessa Tanujaya masih menjadi rekomendasi utama. Image bersih, popularitas tinggi, koneksi keluarga kuat. Nama Jessica Liem muncul sebagai opsi kedua, masih besar meski skandal kecil mulai beredar setelah insiden Rio.
Keira membuka folder presentasi. “Saya pilih Jessica Liem.”
Ruang rapat hening.
Tari hampir menoleh terlalu cepat.
Rayhan duduk di ujung meja, satu tangan mengetuk ringan sandaran kursi. “Alasannya?”
“Kontras.”
Keira menggeser slide. “Vanessa terlalu aman. Untuk lini baru yang tajam dan sensual, Jessica lebih memicu percakapan. Risiko reputasinya bisa dikendalikan selama kontrak punya klausul moral yang kuat.”
Manajer legal membuka berkas. “Klausul moralnya harus ketat. Kalau ada penggunaan zat terlarang, kekerasan, atau pelanggaran hukum, kontrak bisa diputus sepihak.”
“Masukkan penalti publik,” kata Keira. “Bukan hanya denda. HEALER harus berhak mengeluarkan pernyataan bahwa tindakan pribadi brand ambassador tidak mewakili nilai perusahaan.”
Tari menatapnya cepat.
Keira tidak melihat Tari. Ia menulis catatan di margin proposal seolah sedang membahas risiko biasa.
Rayhan memperhatikan gerakan pena Keira. Ada sesuatu yang terlalu rapi dalam cara perempuan itu menyiapkan jalan keluar bahkan sebelum pintu dibuka.
Seorang manajer marketing ragu. “Tapi fans Vanessa...”
“Akan marah,” potong Keira. “Dan kemarahan itu akan membuat mereka membicarakan produk kita.”
Rayhan menatapnya lama. “Setuju.”
Satu kata dari Rayhan menutup semua keberatan.
Siang itu, kabar HEALER memilih Jessica sebagai brand ambassador bocor ke media hiburan. Dalam dua jam, fans Vanessa dan fans Jessica saling menyerang di kolom komentar. Video lama, foto pesta, rekaman suara, potongan wawancara, semuanya keluar seperti laci rahasia yang dibuka paksa.
Di apartemen Vanessa, Jessica menelepon dengan suara tinggi.
“Kamu pikir aku tidak tahu timmu yang menyebar artikel itu?”
Vanessa menjawab dingin, “Kamu dipilih HEALER, Jess. Seharusnya kamu bersyukur.”
“Bersyukur? Fans-mu bilang aku merebut jatahmu!”
“Kalau kamu memang lebih layak, kenapa takut?”
Panggilan itu berakhir dengan makian tertahan.
Keira membaca ringkasan percakapan publik dari tablet Tari. Wajahnya datar.
“Ci, mereka benar-benar saling makan.”
“Mereka hanya diberi meja.”
“Dan pisaunya?”
Keira menutup tablet. “Mereka bawa sendiri.”
Sore itu, Vanessa mengirim pesan pada Keira untuk pertama kalinya.
Pilihan yang menarik. Aku kira HEALER lebih menghargai reputasi.
Keira membacanya di ruang lab, lalu membalas setelah tiga menit.
HEALER menghargai efektivitas.
Balasan Vanessa datang cepat.
Hati-hati, Keira. Efektivitas tanpa posisi hanya membuatmu terlihat seperti alat.
Keira menatap kalimat itu. Tidak marah. Tidak tersinggung. Hanya menyimpan tangkapan layar ke folder khusus.
Tari yang berdiri di sampingnya berbisik, “Ci, itu ancaman?”
“Bukan. Itu kebiasaan orang yang merasa kursinya mulai digeser.”
Malamnya, sebuah portal gosip online merilis foto dan video kehidupan pribadi Jessica yang berantakan: pesta liar, pertengkaran dengan manajer, dan rekaman mabuk di parkiran klub. Sumbernya anonim. Bahasanya ditulis seolah berasal dari orang dalam industri hiburan.
Jessica mengamuk di media sosial.
Vanessa memilih diam.
Diamnya justru membuat fans Jessica semakin yakin bahwa Vanessa berada di balik serangan itu.
Di laboratorium HEALER, setelah semua staf pulang, Keira masih bekerja.
Lampu putih menyorot meja stainless. Di depannya ada botol kecil berlabel kode bahan, bukan nama umum. Di sisi lain, catatan stok tanaman kaktus langka untuk riset aroma kering gurun sudah ia periksa dua kali.
Ia tidak membutuhkan banyak.
Terlalu banyak meninggalkan jejak. Terlalu sedikit tidak cukup untuk membuka topeng orang yang terbiasa berakting.
Keira menggunakan sarung tangan, masker, dan prosedur lab tertutup. Tidak ada gerakan terburu-buru. Tidak ada ekspresi puas. Semua terlihat seperti pekerjaan riset parfum biasa: menimbang, mencatat, menyegel, menyimpan.
Namun Tari, yang kembali karena lupa mengambil charger, berhenti di pintu.
“Ci?”
Keira menoleh. “Kenapa kembali?”
“Charger.” Tari menatap botol kecil di meja. “Itu bahan untuk lini baru?”
“Eksperimen.”
“Aman?”
“Kalau dipakai dengan benar.”
Tari tidak bertanya lagi, tetapi bulu kuduknya meremang. Ia mengenal Keira cukup lama untuk tahu bahwa kalimat pendek kadang berarti pintu yang sebaiknya tidak dibuka.
Di lantai eksekutif, Kevin Widjaja menerima laporan stok lab yang otomatis masuk ke sistem. Angka kecil itu membuat jarinya berhenti.
Lophophora.
Stok berkurang sangat sedikit. Hampir tidak terlihat.
Kevin menatap layar lama sekali.
Ia tidak menghubungi siapa pun.
Ia justru membuka arsip lama yang tersimpan di drive pribadinya. Foto seorang gadis berseragam sekolah muncul di layar, senyumnya lembut, matanya hangat. Safira Surya, sepuluh tahun lalu, sebelum semua berita buruk mengubah namanya menjadi sesuatu yang tidak boleh ia ucapkan keras-keras.
Kevin menutup foto itu.
Jika Keira sedang bergerak ke arah yang ia duga, maka targetnya bukan sekadar Jessica. Ada rantai yang lebih panjang, dan di ujung rantai itu ada seseorang yang pernah membuat Kevin menunggu di gerbang sekolah hanya untuk melihatnya lewat.
Untuk alasan itu, Kevin memilih diam.
Keesokan paginya, ia memanggil Keira ke ruangannya.
Tidak ada staf. Tidak ada Tari. Hanya dua cangkir kopi yang belum diminum dan laporan stok terbuka di layar.
“Ada bahan lab yang berkurang,” kata Kevin.
Keira melihat layar itu. “Banyak bahan lab berkurang setiap hari.”
“Tidak semua bahan punya efek yang bisa membuat acara peluncuran berubah menjadi berita kriminal.”
Keira menatapnya.
Kevin tidak menaikkan suara. “Aku tidak bertanya apa rencanamu. Aku hanya ingin tahu apakah kamu sudah menghitung semua risikonya.”
“Sudah.”
“Termasuk kalau Rayhan tahu?”
Jeda kecil muncul.
Keira mengambil cangkir kopi, tetapi tidak meminumnya. “Rayhan tidak ada di papan ini.”
“Justru itu yang paling berbahaya,” kata Kevin pelan. “Orang yang merasa tidak ada di papan sering kali baru sadar setelah menjadi bidak.”
Keira meletakkan cangkir. “Kamu akan menghentikanku?”
Kevin memandangnya lama. “Tidak.”
“Kenapa?”
Nama Safira hampir keluar, tetapi Kevin menelannya kembali.
“Karena ada orang yang seharusnya mendapat keadilan sejak lama.”
Malam hampir lewat ketika ponsel Keira menyala.
Pesan dari nomor Jessica masuk.
Bersiaplah.
Keira membaca pesan itu, lalu meletakkan ponsel di samping botol kecil yang baru saja selesai ia segel.
Di kaca laboratorium, pantulan wajahnya tampak tenang.
Sangat tenang.
Ia tersenyum tipis, dingin seperti aroma pertama setelah botol racun dibuka.