Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Perburuan dan Pembunuhan Zass
Di ibu kota Kerajaan Aiteria, atmosfer di dalam markas besar militer terasa begitu mencekam dan sarat akan ketegangan. Ratusan ksatria berzirah tembaga, pemburu hadiah (bounty hunter) tingkat tinggi, serta para pembunuh bayaran (assassin) berbahaya berkumpul di dalam aula terbuka yang amat luas. Udara malam yang dingin tertutup oleh aura intimidasi dari ribuan senjata yang terhunus dan siap diayunkan.
Di atas panggung utama yang diterangi oleh obor-obor raksasa, Pangeran Helix berdiri tegap. Jubah mewahnya berkibar tertiup angin malam, sementara sarung tangan kulitnya memancarkan pendar tipis Api Biru yang mematikan. Di sampingnya, empat anggota party Tier SSS miliknya—Raiven sang pencabut nyawa, Sisil sang Healer, Emma sang Marksman, dan Gorex sang pengendali tanah—berdiri anggun bagaikan jajaran dewa kematian.
"Dengar semuanya!" suara Helix menggelegar menembus riuh rendah ribuan pasukan di hadapannya. Suaranya dingin, dipenuhi ambisi yang tak terintimidasi.
Seluruh aula seketika menjadi hening tanpa suara. Setiap pasang mata tertuju pada pangeran ketiga Aiteria tersebut.
"Rencana besar kita untuk menguasai Kerajaan Imperial sudah berjalan di jalur yang benar," lanjut Helix seraya menyunggingkan senyum licik. "Namun, ada satu kerikil kecil yang berpotensi mengganggu stabilitas ini. Seorang pemuda buronan dari Imperial... pengguna elemen langka petir ungu bernama Zass!"
Helix mengibaskan tangannya ke udara. Seketika, beberapa prajurit kepercayaan menyebarkan tumpukan poster buronan bernuansa kertas tebal ke tengah kerumunan. Di dalam poster tersebut, terlukis wajah Zass dengan detail ciri-ciri fisik, lengkap dengan keterangan aura petir ungunya.
"Saat ini, kita tidak tahu secara pasti di mana pemuda itu bersembunyi atau berkelana," ucap Helix dengan nada tajam. "Namun aku tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun! Aku mengumumkan Operasi Perburuan dan Pembunuhan Zass berskala internasional mulai malam ini!"
Helix menaikkan dua jarinya ke udara, memancing rasa penasaran seluruh pemburu hadiah dan tentara di ruangan itu.
"Siapa pun di antara kalian—baik faksi militer resmi maupun kelompok petualang independen—yang berhasil menemukan keberadaan Zass, menghabisi nyawanya, dan membawa kepalanya ke hadapanku... akan diganjar dengan imbalan fantastis!" Helix menunjuk ke arah beberapa peti besi raksasa yang dibuka oleh para pengawal.
CLANG!
Kilauan ribuan koin emas murni, batu permata kelas atas, serta dokumen kepemilikan tanah kekuasaan memantulkan cahaya obor. Jumlah hadiah tersebut sangat luar biasa—sebuah nominal gila yang cukup untuk membuat seorang rakyat biasa menjadi bangsawan kaya raya tujuh turunan dalam sekejap!
"Gaji gila-gilaan, jabatan panglima daerah, serta akses ke perbendaharaan senjata sihir Aiteria akan menjadi milik tim yang berhasil membunuh Zass!" tegas Helix. "Tetapi ingat... aku hanya menerima jasadnya yang sudah tak bernyawa. Jangan biarkan dia bernapas lebih lama di daratan ini!"
Seruan riuh dan sorak-sorai keserakahan seketika meledak di seluruh aula markas Aiteria. Ribuan mata para prajurit dan bounty hunter mendadak berubah merah dipenuhi hawa nafsu membunuh dan keserakahan akan harta berlimpah.
Raiven, sang assassin berambut merah yang menutupi mata kirinya, melangkah mendekati Helix lalu berbisik dengan nada rendah. "Pangeran Helix, apakah kau yakin perlu mengerahkan begitu banyak tikus kecil untuk memburu satu pemuda saja? Jika kau memerintahkanku, aku bisa menyelesaikan tugas ini sendirian dalam hitungan hari."
Helix terkekeh dingin, memandang Raiven dari sudut matanya. "Zass bukan sekadar pemuda biasa, Raiven. Dia memegang kekuatan petir ungu legendaris dan telah mencapai tingkatan petualang kelas atas. Mengerahkan ribuan pasukan dan perburu hadiah ini bukan hanya untuk membunuhnya, tetapi juga untuk terus memburunya tanpa henti, membuatnya kelelahan, dan menghancurkan mentalnya sebelum dia sempat mengumpulkan kekuatan."
Emma sang Marksman mengelus busur petir raksasanya sambil tersenyum tipis. "Perburuan ini akan menjadi sangat menarik. Begitu lokasi pemuda itu terendus oleh salah satu spionase kita, panah petirku akan langsung melacak jiwanya dari jarak puluhan kilometer."
"Tepat sekali," sahut Helix dengan mata berkilat penuh kebencian. "Tenggat waktu pernikahan politikku memang masih beberapa tahun lagi, namun aku ingin memastikan bahwa ketika hari pernikahan itu tiba, pemuda bernama Zass itu sudah membusuk di dasar tanah tanpa ada seorang pun yang mengingat namanya."
Dengan lambaian tangan Helix, ribuan pasukan pemburu dan bayangan-bayangan pembunuh bayaran langsung melesat keluar dari gerbang kota Aiteria. Mereka menyebar ke berbagai penjuru daratan Magical World—menelusuri setiap desa perbatasan, kota-kota perdagangan, hingga belantara pegunungan selatan.
Sebuah badai perburuan berdarah dengan skala terbesar dalam sejarah Aiteria kini resmi dimulai, menargetkan satu nama yang menjadi ancaman terbesar bagi ambisi takhta mereka: Zass sang Pemilik Petir Ungu.