NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Frekuensi yang Tidak Pernah Sama

Ada satu hal yang enggak pernah diajarin di buku panduan mahasiswa baru manapun, bahwa minggu ketiga kuliah itu minggu di mana ilusi "ini bakal jadi pengalaman yang ngubah hidup" mulai luruh pelan pelan dan digantiin sama kenyataan bahwa kuliah, pada dasarnya, adalah sekolah dengan kursi yang lebih enggak nyaman dan enggak ada yang negur kamu kalau telat masuk kelas.

Aku nemuin itu sendiri di Selasa pagi minggu ketiga, waktu aku duduk di baris ketiga ruang kuliah Algoritma Dasar dengan mata yang baru tujuh puluh persen kebuka dan kopi dari kantin bawah gedung yang suhunya udah turun ke level "suam suam kuku tapi masih layak diminum" di tangan kiri.

Di papan tulis depan, Pak Hendra, dosen Algoritma yang udah ngajar sejak zaman komputer masih seukuran lemari, lagi nulis pseudocode buat sorting algorithm dengan kecepatan yang ngasih sinyal bahwa beliau enggak terlalu peduli mahasiswanya bisa ngikutin atau enggak. Di sekitarku, beberapa temen seangkatan nyatet dengan semangat yang berbanding terbalik sama ekspresi wajah mereka. Bimo, yang duduk dua kursi di kananku, lagi nyalin kode ke buku catatan sambil sesekali nggumam pelan soal sesuatu yang aku enggak berhasil tangkep karena jarak dan juga karena aku emang enggak terlalu berusaha.

Hapeku bergetar di atas meja, mode senyap, tapi getaran.

Aku lirik layarnya dengan sudut pandang minimum yang enggak butuh gerakan kepala yang terlalu mencolok.

Cahaya ☀️: kamu udah makan siang belum

Aku lirik jam di sudut layar. Jam sepuluh empat puluh. Makan siang, secara definisi standar, berlangsung antara jam dua belas sampe satu.

Aku ketik balik: Belum. Ini masih pagi.

Cahaya ☀️: iya aku tau. tapi nanti makan siangnya sama aku ya. ada yang mau aku omongin

Ada yang mau aku omongin.

Kalimat yang, dalam konteks obrolan normal antar manusia, bisa berarti banyak hal, dari "aku mau bagi informasi enggak penting soal drama temen sekelas" sampe "ada sesuatu yang serius yang perlu kita diskusiin". Cahaya make kalimat itu buat kedua kategori dengan frekuensi yang hampir sama, sampe setelah belasan tahun, aku udah berhenti nyoba dekode itu sebelum ketemu langsung.

Oke, balasku.

Di depan, Pak Hendra selesai nulis satu blok pseudocode dan balik badan ke kelas dengan ekspresi orang yang bakal sangat kecewa kalau ada yang ngangkat tangan dan ngaku enggak ngerti.

Enggak ada yang ngangkat tangan.

Aku sesep kopi yang udah hampir dingin dan balik ke layar laptop.

Kantin pusat kampus di jam makan siang mirip ekosistem sendiri yang punya aturan dan hierarki yang enggak tertulis tapi dipatuhin secara kolektif.

Meja deket jendela, area premium, selalu penuh sejak lima menit sebelum jam makan siang mulai, biasanya diisi anak anak yang udah punya established friend group atau yang cukup berani buat naruh tas di kursi sebagai reservasi.

Meja tengah, middle ground, rame tapi enggak sesak, cocok buat kelompok yang datang cukup cepet.

Meja deket kasir, area yang paling jarang diperebutin karena posisinya yang berisik dan sering kena lalu lalang orang yang antre, biasanya diisi orang orang yang lebih mementingkan makanan daripada lokasi duduk.

Aku selalu berakhir di meja deket kasir.

Bukan karena aku enggak punya preferensi, tapi karena tiap kali aku sampai di kantin dengan niat nyari meja yang lebih strategis, aku udah terlanjur duduk di sini sebelum bener bener mroses pilihan lain. Semacam default behavior yang udah kelamaan jalan buat diubah tanpa usaha yang lebih gede dari yang aku rasa perlu.

Hari itu, aku udah duduk di meja pojok dengan sepiring nasi ayam geprek dan segelas es jeruk waktu Cahaya sampai, enggak sendirian, karena Cahaya hampir enggak pernah sampai di tempat manapun sendirian sejak tiga minggu belakangan. Di sebelah kirinya, Salsabila Anggraini, yang sejak minggu pertama udah netapin diri sebagai sahabat baru Cahaya di kampus dengan kecepatan yang bahkan bikin aku harus ngaku ada orang yang kemampuan sosialisasinya bahkan ngelebihin Cahaya, jalan sambil nenteng nampan dengan tiga menu sekaligus.

"Kenapa meja kasir lagi?" tanya Cahaya begitu sampai, naruh nampannya di seberangku.

"Karena kosong."

"Meja yang lain juga ada yang kosong."

"Meja ini lebih cepet ditemuin."

Cahaya natap aku dengan ekspresi yang udah aku kenal baik, campuran antara aku enggak kaget dan aku juga enggak tahu kenapa aku masih kaget. Dia duduk di hadapanku. Sasa duduk di sebelahnya, langsung buka ketiga menu nasinya dengan efisiensi orang yang nganggep makan siang sebagai misi yang perlu diselesaiin dalam waktu tertentu.

"Kamu Rendy ya?" kata Sasa ke arahku sambil mulai makan, tanpa basa basi pendahuluan. "Yang dari TK sama Cahaya?"

"Iya."

"Aku Sasa." Dia nunjuk dirinya sendiri pakai sendok. "Psikologi. Satu kos sama Cahaya."

"Rendy. Informatika."

"Tau." Sasa ngangguk sekali. "Cahaya udah cerita banyak."

Aku lirik ke Cahaya. Cahaya tiba tiba sangat sibuk milah lauk di nasinya dengan konsentrasi yang kayaknya enggak proporsional buat tugas tersebut.

"Banyak dalam artian apa?" tanyaku.

"Banyak dalam artian banyak," jawab Sasa dengan nada yang enggak ngasih informasi tambahan apapun.

Aku mutusin buat enggak lanjutin pertanyaan itu karena sesuatu di intonasi Sasa ngasih sinyal bahwa lanjutinnya enggak bakal ngasilin jawaban yang lebih jelas, cuma lebih bikin bingung.

"Kamu makan dulu," kata Cahaya, akhirnya selesai sama lauk lauknya. "Nanti ngobrolnya."

Ngobrolnya mulai kira kira tujuh menit kemudian, waktu masing masing dari kami udah cukup jauh ngabisin makan siang buat bisa ngomong tanpa ngerasa buru buru.

Atau lebih tepatnya, ngobrolnya mulai waktu Cahaya naruh sendoknya, natap ke arahku dengan ekspresi yang sedikit lebih serius dari ekspresi makan siang biasa, dan buka mulutnya.

"Ren," katanya.

"Hm."

"Kamu itu penting banget buat aku, tau enggak?"

Hening dua detik.

Di sebelah Cahaya, Sasa berhenti ngunyah.

Aku mroses kalimat itu dengan kecepatan normal, mecahinnya jadi komponen komponen, ngidentifikasi konteks yang paling logis, nyari trigger obrolan yang paling masuk akal buat munculin pernyataan kayak gitu di tengah makan siang di hari Selasa biasa.

"Penting dalam konteks apa?" tanyaku.

Cahaya kedip. "...Apa?"

"Kalimatmu ambigu. 'Penting' bisa ngacu ke banyak hal." Aku naruh sendok, itung pake jari. "Apa maksudmu penting secara fungsional, misalnya, aku sering bantuin kamu urusan teknis kayak ngurus koneksi WiFi atau benerin error di tugasmu yang berbasis komputer? Atau penting secara logistik, aku temen yang tinggal deket dan bisa dihubungin cepet dalam situasi darurat? Atau penting dalam pengertian yang lebih filosofis soal..."

"Rendy."

"Ya?"

"Aku ngomong serius."

"Aku juga ngerespons dengan serius. Aku lagi ngeklarifikasi definisi biar bisa ngasih respons yang tepat."

Cahaya nutup matanya sebentar. Buka lagi. "Maksudku adalah... kamu berarti buat aku. Secara keseluruhan. Sebagai orang."

"Oh." Aku ngangguk. "Aku ngerti."

"Bagus." Cahaya sedikit ngendurin bahu. "Jadi..."

"Kamu juga penting buat aku secara fungsional maupun emosional, walau aku akui bahwa kemampuanku dalam ngekspresiin hal tersebut mungkin enggak selalu konsisten sama standar ekspresi emosi rata rata manusia."

Di sebelah Cahaya, ada suara yang kedengeran kayak orang yang berusaha sangat keras buat enggak keselek minumannya.

Cahaya natap aku.

Aku natap balik.

"...Itu," katanya akhirnya, dengan nada yang enggak bisa aku identifikasi dengan tepat, "bukan yang aku harepin buat kamu bilang."

"Kamu mau aku bilang apa?"

"Enggak tau." Dia ambil sendoknya lagi. "Tapi bukan itu."

Sasa, yang dari tadi diem, naruh gelasnya dengan gerakan yang sangat terkontrol dan natap satu titik di permukaan meja dengan ekspresi orang yang lagi ngelakuin meditasi aktif.

Ada yang mau aku omongin ternyata bukan satu hal, tapi beberapa hal.

Hal pertama, rupanya, udah selesai dengan cara yang enggak memuaskan siapapun kecuali mungkin aku yang enggak sepenuhnya paham apa yang enggak memuaskan dari obrolan tersebut.

Hal kedua soal tugas Komunikasi Massa yang Cahaya dapat dari dosennya minggu ini, esai analisis soal pola komunikasi dalam hubungan interpersonal yang butuh observasi langsung ke minimal satu pasang individu yang punya hubungan jangka panjang. Cahaya mau pake aku dan dirinya sebagai subjek.

"Kamu mau?" tanyanya.

"Boleh. Tapi aku enggak punya data kuantitatif soal pola komunikasi kita kalau itu yang kamu butuhin."

"Bukan itu yang aku butuhin. Cukup kamu jadi diri kamu sendiri dan aku observasi."

"Aku selalu jadi diri sendiri."

"Iya, itu yang jadi masalah..." Cahaya hentiin kalimatnya di tengah. "Maksudku, bagus. Itu yang aku perluin."

Sasa, di sebelahnya, buka bungkus es krimnya dengan perhatian yang jauh ngelebihin yang diperluin buat tugas tersebut.

"Temanya apa?" tanyaku.

"Miscommunication patterns in long-term interpersonal relationships." Cahaya nyebutin dengan nada yang terlalu datar buat sebuah judul esai yang dia pilih sendiri.

"Pola kesalahpahaman dalam hubungan interpersonal jangka panjang."

"Iya."

"Kamu milih kita sebagai subjek buat topik itu?"

Cahaya angkat satu bahu. "Kita representatif."

Aku nimbang nimbang ini. Secara objektif, kami emang punya sejarah komunikasi yang cukup panjang buat dianalisis. Ada enggak pola kesalahpahaman yang signifikan dalam hubungan kami yang layak diangkat sebagai subjek penelitian? Aku enggak bisa langsung ngidentifikasiinnya, yang mungkin aja merupakan data itu sendiri.

"Oke," kataku.

Di sebelah Cahaya, Sasa gigit es krimnya dengan ekspresi orang yang baru aja nyaksiin sesuatu yang sangat menarik buat dianalisis secara psikologis.

Sisa makan siang berjalan dengan obrolan yang lebih ringan, Sasa nanya soal jurusan Informatika dengan rasa penasaran yang kerasa genuine, Cahaya cerita soal temen temen barunya di kelas Komunikasi, dan aku dengerin sambil sesekali kontribusi kalau ada pertanyaan yang diarahin langsung ke aku.

Ini, aku sadar, adalah pola yang udah sangat baku dalam dinamika kami. Cahaya ngomong, aku dengerin. Bukan karena aku enggak punya hal yang mau disampein, tapi karena cara Cahaya cerita selalu kerasa kayak sesuatu yang lebih menarik buat diikutin daripada diinterupsi.

Kebiasaan lama yang kebentuk sejak kami masih cukup kecil buat duduk di lantai dan Cahaya bakal cerita soal apa yang kejadian di sekolah hari itu dengan energi yang enggak pernah habis sementara aku dengerin sambil main game di sampingnya.

Enggak banyak yang berubah, sebenernya. Cuma lantainya yang sekarang udah diganti kursi kantin.

"Kamu ngelamun lagi," kata Cahaya tiba tiba.

"Enggak. Aku dengerin."

"Kamu tadi aku tanya soal jadwal kelas besok dan kamu enggak jawab selama dua puluh detik."

"Aku lagi mroses."

"Dua puluh detik buat jawab pertanyaan soal jadwal."

"Prosesornya lagi nanganin beberapa thread sekaligus."

Sasa naruh stik es krimnya di atas nampan dengan gerakan yang sangat tenang. "Kamu selalu ngomong pake analogi komputer?"

"Enggak selalu. Kadang anime."

"Gantian." Sasa ngangguk pelan, ekspresi orang yang lagi nyatet sesuatu secara mental. "Menarik."

"Sasa ambil konsentrasi Psikologi Klinis," kata Cahaya ke aku dengan nada yang entah kenapa kedengeran kayak peringatan.

"Aku enggak ambil minor apapun," koreksi Sasa. "Psikologi Klinis itu konsentrasinya. Dan aku enggak lagi nganalisis kamu, Ren. Tenang aja."

"Aku enggak enggak tenang."

"Bagus." Sasa senyum tipis. "Karena kalau kamu sampe enggak tenang cuma karena aku bilang aku ngobservasi, itu sendiri udah cukup menarik buat diobservasi."

Aku enggak tau harus ngerespons apa buat kalimat itu, jadi aku milih buat enggak ngerespons sama sekali dan balik ke sisa es jerukku yang udah hampir abis.

Dari sudut mata, aku bisa liat Cahaya nahan senyum.

Jadwal hari Selasa ngeharusin aku balik ke gedung Teknik buat satu sesi praktikum jam dua siang, artinya aku punya sekitar dua puluh menit setelah makan siang buat jalan santai atau, lebih realistisnya, duduk di bangku koridor sambil baca sambil nunggu waktu.

Aku milih opsi kedua.

Koridor antara gedung utama dan gedung Teknik relatif sepi jam segitu, sebagian besar mahasiswa masih di kantin atau lagi pindah kelas di gedung yang beda. Ada beberapa bangku panjang yang dipasang di sisi koridor, di bawah atap tapi terbuka ke arah taman kecil di tengah kampus, dan aku udah nemuin bangku ketiga dari kiri sebagai lokasi paling konsisten buat transisi antara aktivitas.

Aku baru aja buka buku catatan Algoritma waktu seseorang duduk di sebelahku.

"Kamu enggak ada kelas jam dua?" tanya Cahaya.

"Praktikum. Masih dua puluh menit."

"Aku juga ada waktu." Dia naruh tasnya di pangkuan, natap ke arah taman kecil di depan. "Sasa balik dulu ke kos. Ada sesuatu yang ketinggalan."

Aku ngangguk, balik ke buku catatan.

Hening selama beberapa menit, jenis hening yang bukan perlu diisi tapi juga enggak kerasa berat. Di taman kecil di depan, ada satu pohon mangga muda yang daunnya gerak pelan ditiup angin siang, dan seseorang dari kejauhan lagi nyiram tanaman di pot pot yang berjajar di sisi koridor satunya.

"Ren," panggil Cahaya.

"Hm?"

Dia enggak langsung lanjut. Natap ke taman, jari jarinya maininin tali tas dengan ritme yang enggak teratur, kebiasaan kecil yang biasanya muncul waktu dia lagi mikirin sesuatu dengan cukup serius.

"Kalau ada orang yang suka sama kamu," katanya akhirnya, pelan, "kamu bakal gimana?"

Aku tutup buku catatan.

Pertanyaan yang cukup spesifik buat butuh pemikiran lebih dari superfisial, tapi juga cukup umum buat bisa diartiin dalam beberapa arah. Aku milih pendekatan paling langsung.

"Tergantung konteksnya," jawabku. "Siapa yang dimaksud 'orang', dan 'suka' dalam definisi yang mana."

Cahaya noleh ke arahku. "Suka dalam artian... suka. Romantis."

"Oh." Aku nimbang nimbang. "Kalau seseorang nyatain perasaan romantis ke aku?"

"Iya."

"Secara jujur, aku enggak tau." Aku natap ke depan, nganalisis pertanyaan itu dengan serius. "Aku enggak pernah bener bener berada dalam situasi tersebut, jadi respons aku bersifat hipotetis. Tapi kalau ngacu ke pemahaman aku soal dinamika emosi dan pengambilan keputusan interpersonal, kemungkinan besar aku bakal butuh waktu buat mroses informasi tersebut sebelum ngasih respons."

"...Berapa lama?"

"Enggak bisa dipastiin. Variabelnya kebanyakan."

Cahaya natap aku dengan ekspresi yang aku enggak bisa baca sepenuhnya.

"Selain itu," lanjutku, karena aku ngerasa pertanyaannya belum sepenuhnya kejawab, "respons aku juga bakal tergantung sama apakah perasaan tersebut mutual atau enggak. Ini faktor penentu utama. Di sebagian besar narasi yang aku konsumsi, anime, manga, light novel, protagonis yang enggak sadar sama perasaan pihak lain sampe telat cenderung jadi sumber konflik utama yang bisa dihindarin dengan komunikasi yang lebih langsung sejak awal."

"...Kamu serius jawab pake referensi anime."

"Anime itu sumber data naratif yang valid soal pola hubungan antar manusia."

"Itu data fiksi, Rendy."

"Fiksi yang didasarin pada observasi dunia nyata."

Cahaya hela napas, panjang, penuh, jenis napas yang ngandung banyak kata yang pada akhirnya enggak diucapin. Dia balik badan natap ke taman lagi.

"Aku nanya secara hipotesis," katanya akhirnya, nada suaranya balik ke register yang lebih netral. "Buat bahan esai."

"Esai soal pola kesalahpahaman komunikasi?"

"...Iya."

"Respons aku tadi udah cukup buat dijadiin data?"

"Lebih dari cukup," kata Cahaya, dan ada sesuatu di cara dia ngucapinnya yang kedengeran kayak dia lagi bilang dua hal sekaligus, tapi aku enggak bisa ngidentifikasi yang kedua, jadi aku enggak lanjutin.

Kami duduk dalam hening beberapa menit lagi.

Di ujung koridor, suara langkah kaki deketin. Sasa muncul dari arah yang berlawanan sama yang dia pergi tadi, tas selempangnya lebih berat dari sebelumnya, rupanya yang ketinggalan di kos bukan benda kecil.

Dia liat kami berdua di bangku. Liat ekspresi Cahaya. Liat ekspresi aku.

"Aku dateng di waktu yang salah?" tanyanya.

"Enggak," jawabku.

"Enggak," jawab Cahaya, satu detik setelahnya.

Sasa duduk di sebelah Cahaya, natap keduanya gantian sekali, terus natap ke depan dengan ekspresi yang paling bisa aku deskripsiin sebagai "orang yang baru aja nambahin satu lagi data point ke dalam sebuah hipotesis yang udah hampir selesai dia susun".

Praktikum Algoritma berjalan tiga jam dengan intensitas yang naik turun kayak sinyal WiFi di area yang jangkauannya enggak stabil.

Satu jam pertama: aku cukup ngikutin. Satu jam kedua: aku ngikutin tapi dengan usaha yang lebih aktif. Satu jam ketiga: aku selesain tugasnya tapi enggak terlalu yakin apa cara yang aku pake adalah cara yang dimaksudin instruktur atau cuma cara yang berhasil karena kebetulan.

Bimo, yang duduk di sebelahku di lab komputer, keliatan dalam kondisi sebaliknya, makin menderita seiring waktu.

"Ini loop nya harusnya nested atau enggak?" bisiknya ke arahku di menit kelima puluh.

"Nested," jawabku.

"Tapi kalau nested, kompleksitasnya jadi O(n²)..."

"Buat kasus ini, itu masih dalam batas yang bisa diterima. Kita enggak berurusan sama dataset yang cukup gede buat n² jadi masalah signifikan."

Bimo ngangguk pelan, mulai ngetik. Berhenti. "Kamu jelasinnya kayak orang yang udah ngoding dari dalam kandungan."

"Aku mulai belajar coding kelas tiga SD."

"...Itu hampir sama."

Aku enggak bantah ini karena secara kronologis emang enggak terlalu jauh.

Selesai praktikum, aku keluar dari gedung Teknik dengan tas di punggung dan sisa energi hari yang udah ngalamin penyusutan signifikan sejak pagi. Langit di luar udah berubah, enggak lagi siang yang terang, tapi belum sepenuhnya sore. Warna abu kekuningan yang merupakan transisi antara dua waktu, jenis pencahayaan yang bikin segala sesuatu keliatan sedikit beda dari versi siang atau malam harinya.

Hapeku bergetar.

Cahaya ☀️: udah selesai praktikum?

Baru selesai, balasku.

Cahaya ☀️: tunggu di depan gedung teknik. aku ke sana.

Aku liat pesan itu, terus liat ke sekitar. Di depan gedung Teknik, ada area terbuka dengan beberapa bangku semen yang udah jadi tempat kumpul standar buat mahasiswa yang nunggu siapapun atau apapun. Aku milih satu yang enggak terlalu rame, duduk, dan buka manga yang udah nunggu sejak tadi pagi.

Delapan menit kemudian, Cahaya sampai, lari kecil dari arah gedung Ilmu Sosial, tas bergoyang, rambutnya yang tadi kunciran udah diurai dan sekarang dibiarin terurai sebahu. Dia sampai dengan napas sedikit enggak teratur dan ekspresi orang yang baru aja selesai dari kegiatan yang lebih nguras energi dari yang dia perkiraiin.

"Lama?" tanyanya.

"Delapan menit."

"Itu enggak lama."

"Aku enggak bilang lama."

Dia duduk di sebelahku, rebut botol minum dari samping tasnya dan minum beberapa teguk. Di sekitar kami, beberapa kelompok mahasiswa lain ngelakuin hal yang kurang lebih sama, nunggu, ngobrol, atau diem masing masing dengan ekspresi akhir hari kelas yang relatif universal.

"Tadi di kelas ada yang presentasi soal pola komunikasi dalam pertemanan," kata Cahaya setelah napasnya teratur lagi.

"Relevan sama esaimu."

"Iya. Tapi yang mereka bahas lebih ke komunikasi verbal eksplisit. Dosenku bilang yang lebih menarik justru komunikasi non verbal dan implisit, hal hal yang enggak diucapin tapi tetep ter-transmit antara dua orang yang udah saling kenal lama."

Aku nimbang nimbang ini. "Apa transmisi kayak gitu bisa dianggap komunikasi yang efektif kalau penerimanya enggak berhasil dekode pesannya?"

Cahaya noleh ke arahku pelan. "Maksudmu?"

"Komunikasi, secara definisi, butuh transfer informasi yang berhasil dari pengirim ke penerima. Kalau pesannya dikirim tapi enggak berhasil dipahamin penerima, apa itu masih dihitung sebagai komunikasi atau cuma sebagai transmisi satu arah yang gagal?"

Cahaya natap aku cukup lama tanpa ngomong apapun.

Aku nunggu, ngira dia lagi nyusun argumen counter.

"Ren," katanya akhirnya.

"Iya."

"Kadang aku enggak tau kamu ini dense atau pura pura dense."

"'Dense' dalam artian apa?"

"Enggak peka."

Aku ngerutin dahi. "Terhadap apa?"

Cahaya hela napas. Natap ke depan. Di kejauhan, matahari udah geser cukup jauh ke barat sampe bayangannya sendiri keliatan lebih panjang dari versi siang harinya di permukaan beton di depan gedung.

"Serius deh, Ren," katanya, nada suaranya berubah ke register yang sedikit beda. Lebih pelan. Lebih sungguh sungguh. "Kamu enggak pernah ngerasa ada something yang... enggak tersampaikan antara kita berdua?"

Pertanyaan yang butuh pemrosesan lebih dari rata rata.

Aku telaah. "Dalam komunikasi kita sehari hari?"

"Iya."

"Secara objektif, kemungkinan ada informasi yang enggak tersampaikan secara sempurna dalam tiap interaksi antar manusia. Ini sifat inheren dari komunikasi bahasa, media yang kita pake enggak punya presisi satu ke satu dengan pikiran yang mau disampein." Aku berhenti sebentar, nyari referensi yang tepat. "Ada satu arc di anime yang aku tonton semester lalu yang bahas ini dengan cukup mendalam, karakternya ngabisin dua episode penuh ngalamin kesalahpahaman yang bisa diselesaiin dalam lima menit kalau mereka ngomong langsung, tapi karena keduanya sama sama nunggu pihak lain yang mulai, enggak ada yang maju. Secara naratif itu frustrating, tapi secara realistis itu sangat nggambarin gimana..."

"Rendy."

"Ya?"

"Aku bukan karakter anime."

"Aku tau."

"Dan ini bukan arc episode."

"Aku juga tau."

Cahaya nutup matanya sebentar. Buka lagi. Natap ke depan lagi dengan ekspresi yang aku enggak bisa kasih label yang tepat.

"Lupain deh," katanya akhirnya. "Nanti kamu jadi bahan esai aku yang paling menarik semester ini."

"Aku ngerasa itu seharusnya kerasa kayak pujian tapi nadanya enggak kayak gitu."

"Itu karena bukan pujian." Cahaya berdiri, masang tali tasnya. "Ayo pulang. Nanti kita makan malam dulu di tempat biasa."

"Tempat biasa itu warung Pak Agus?"

"Mana lagi." Dia udah mulai jalan. "Sasa juga ikut katanya."

Aku simpen manga, berdiri, ikutin, setengah langkah di belakang, kayak biasa.

Warung Pak Agus terletak di gang belakang kampus yang lebarnya cuma cukup buat dua orang jalan berdampingan, diapit tembok gedung lama di sisi kiri dan pagar besi rumah warga di sisi kanan. Warungnya sendiri enggak gede, enam meja kayu yang sebagian permukaannya udah enggak rata, bangku plastik berbagai warna yang udah kehilangan identitas warna aslinya, dan menu yang ditulis tangan di papan putih yang udah ditulis ulang berkali kali sampe tulisannya berlapis.

Tapi masakannya bagus. Itu yang penting.

Sasa udah ada di sana waktu kami sampai, duduk di meja paling pojok yang ngadep ke pintu masuk, dengan segelas teh manis di depannya dan ekspresi orang yang udah mesen sebelum orang lain dateng karena tau apa yang mau dia makan dan enggak perlu waktu buat mutusin.

"Telat empat menit," komentarnya waktu kami duduk.

"Kami enggak bilang jam berapa," jawab Cahaya.

"Aku estimasi dari biasanya." Sasa seruput tehnya. "Gimana praktikumnya?" tanyanya ke arahku.

"Selesai."

"Dengan hasil yang bagus?"

"Dengan hasil yang cukup buat lulus."

"Orang Informatika punya standar kelulusan yang beda dari jurusan lain rupanya."

"Bukan gitu. Sesi praktikumnya bukan penilaian formatif, cuma latihan. Mengoptimalkan waktu dan energi buat ngasilin output yang ngelampauin minimum yang diperluin enggak bawa nilai tambah yang signifikan dalam konteks ini."

Sasa natap aku sebentar. "Kamu selalu ngomong panjang kayak gitu atau cuma waktu kamu capek?"

"Selalu, kalau topiknya butuh presisi."

"Dan kalau enggak butuh presisi?"

Aku mikir. "Lebih pendek."

Sasa ngangguk pelan, balik ke tehnya. Cahaya udah buka menu walau isinya enggak pernah bener bener berubah dari minggu ke minggu.

Malam di warung Pak Agus berjalan dengan ritme yang udah familiar dalam tiga minggu terakhir ini, makanan yang dateng dalam urutan yang enggak selalu sesuai sama urutan pesenan tapi selalu dalam kondisi yang layak, obrolan yang gerak dari topik ke topik tanpa struktur yang jelas, dan cahaya lampu kuning yang ngasih kesan hangat ke semuanya.

Di tengah tengah nunggu pesenan, Cahaya sandarin dagu di tangan, natap ke arahku dengan ekspresi yang tiba tiba kerasa beda dari ekspresi makan malam biasa.

"Ren," panggilnya.

"Hm."

"Menurutmu aku bisa ngandalin kamu selamanya?"

Pertanyaan ketiga hari itu yang punya muatan lebih berat dari yang kedengeran di permukaan.

Di sebelah Cahaya, aku bisa liat dari sudut pandangku bahwa Sasa pelan pelan naruh gelasnya dan noleh ke arah obrolan kami dengan perhatian yang enggak dia usahain sembunyiin.

Aku nimbang nimbang pertanyaan itu. "'Selamanya' itu rentang waktu yang enggak terdefinisi dan secara praktis enggak mungkin dijamin siapapun. Tapi dalam konteks jangka pendek sampe menengah yang lebih realistis buat diprediksiin..." Aku berhenti sebentar. "Apa yang kamu maksud dengan 'ngandalin' dalam hal ini? Karena cakupannya bisa sangat bervariasi."

Cahaya kedip pelan. "Maksudku... kamu bakal selalu ada buat aku?"

"Oh." Aku ngangguk. "Itu lebih gampang dijawab. Dalam kondisi enggak ada perubahan variabel eksternal yang signifikan kayak pindah kota atau keadaan force majeure lainnya, iya. Kamu udah ada di hidup aku selama empat belas tahun, aku enggak liat alasan struktural buat itu berubah."

"...Empat belas tahun."

"Dari TK sampe sekarang. Empat belas tahun."

"Kamu ngitung."

"Kamu enggak?"

Cahaya diam sejenak. Ada sesuatu yang gerak di ekspresinya, terlalu cepet buat aku tangkep sepenuhnya, kayak bayangan yang lewat di belakang kaca.

"Ren," katanya pelan. "Kamu tuh..."

Makanan datang.

Pak Agus naruh tiga piring di meja dengan urutan yang enggak sesuai pesenan kayak biasa, punyaku dateng terakhir padahal aku mesen pertama, dan suasana geser balik ke ritme makan malam biasa.

Pertanyaan Cahaya menggantung, enggak selesai, di udara di antara kami.

Aku nunggu dia lanjutin, tapi dia udah ambil sendoknya dan mulai makan.

Aku juga mulai makan.

Di sebelah Cahaya, Sasa enggak langsung nyentuh makanannya. Dia natap satu titik di permukaan mejanya selama beberapa detik dengan ekspresi yang aku enggak bisa artiin dari posisiku, sebelum akhirnya pelan pelan ngambil sendoknya juga.

Malam itu, di kamarku yang udah gelap kecuali cahaya monitor laptop, aku duduk di kursi meja belajar dengan dokumen catatan Algoritma kebuka di satu tab dan tab lain yang udah diam tanpa aktivitas selama dua puluh menit terakhir.

Aku lagi ngingetin tiga pertanyaan Cahaya hari itu.

Kamu itu penting banget buat aku, tau enggak?

Kalau ada orang yang suka sama kamu, kamu bakal gimana?

Menurutmu aku bisa ngandalin kamu selamanya?

Ada sesuatu di ketiganya yang enggak bener bener aku bisa tempatin dengan tepat, benang merah yang aku bisa rasain ada tapi enggak berhasil aku tarik sampe keluar sepenuhnya. Bukan karena ketiga pertanyaan itu enggak masuk akal secara individual. Sebaliknya, masing masing punya jawaban yang cukup jelas.

Mungkin aku ngerespons semuanya dengan terlalu teknikal, aku akui itu. Ada feedback dari Cahaya di tiap pertanyaan yang ngasih sinyal bahwa jawaban yang aku kasih enggak sepenuhnya menuhin apa yang dia cari.

Masalahnya, aku enggak sepenuhnya tau apa yang dia cari.

Aku buka tab baru. Ketik di kolom pencarian: cara membaca pesan tersirat dalam komunikasi interpersonal.

Hasil pencarian muncul. Aku mulai baca.

Sepuluh menit kemudian, hapeku bergetar.

Sasa 🔬: rendy

Aku ngerutin dahi. Ini pertama kalinya Sasa hubungin aku secara langsung, kami baru saling simpen nomor minggu ini dan belum pernah komunikasi di luar konteks grup atau ketemu langsung.

Ya? balasku.

Sasa 🔬: tadi kamu ngomong apa waktu cahaya nanya soal ngandalin kamu selamanya

Aku jawab bahwa dalam kondisi enggak ada perubahan variabel eksternal yang signifikan, kemungkinan besar hubungan kami enggak akan berubah secara struktural, ketikku.

Tiga titik muncul. Ilang. Muncul lagi. Ilang lagi. Proses ini berlangsung lebih lama dari yang diperluin buat ngetik respons terhadap kalimat yang aku kirim.

Akhirnya:

Sasa 🔬: rendy

Ya.

Sasa 🔬: aku ambil konsentrasi psikologi klinis

Cahaya udah bilang.

Sasa 🔬: dan sebagai seseorang yang belajar soal pola komunikasi dan perilaku manusia

Sasa 🔬: aku mau bilang sesuatu dengan penuh hormat dan tanpa tendensi merendahkan

Aku nunggu.

Sasa 🔬: kamu adalah subjek penelitian paling menarik yang pernah aku temuin dalam hidup aku

Sasa 🔬: dan aku belum pernah sekalipun ngerasa pengen ngguncang guncang bahu seseorang sekuat ini sejak aku mulai kuliah

Sasa 🔬: selamat malam

Pesan terakhir masuk dan tiga titik enggak muncul lagi sesudahnya, selesai, ditutup, enggak ada ruang buat diskusi lanjutan.

Aku baca ketiga pesan itu dua kali.

Terus tiga kali.

Kemudian naruh hape di meja dan balik ke hasil pencarian di browser yang masih kebuka.

Cara membaca pesan tersirat dalam komunikasi interpersonal.

Artikel pertama yang muncul kebuka dengan kalimat: "Seringkali, pesan yang paling penting dalam sebuah komunikasi adalah yang enggak pernah diucapin secara langsung."

Aku baca sampe abis.

Tutup laptop.

Rebahan di tempat tidur, natap langit langit dalam gelap.

Di suatu tempat di antara semua yang kejadian hari itu, ada sesuatu yang aku lewatin. Aku bisa ngerasain itu dengan cara yang sama kayak ngerasain bug dalam kode, ada sesuatu yang enggak jalan sebagaimana seharusnya, tapi aku belum berhasil nemuin baris mana yang salah.

Mungkin besok, pikirku.

Atau lusa.

Atau kapan pun waktu aku akhirnya berhasil nemuin variabel yang selama ini enggak masuk dalam perhitunganku.

Aku tutup mata.

Enggak nyadar bahwa variabel itu udah nyoba ngasih tau aku sebanyak tiga kali hari ini, dalam tiga pertanyaan beda, dengan sabar, dan mungkin bakal terus nyoba, dengan kesabaran yang punya batas waktunya sendiri, buat waktu yang lebih lama dari yang seharusnya diperluin.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!