Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Bab 33: Keraguan Sang Dewi Rubah, Sumpah William, dan Kehangatan Penyembuhan Jiwa
SWOOSH—!
Sorak-sorai puluhan ribu penonton di Koloseum Aethelgard yang memuja kemenangan Darkness mendadak terputus oleh hening yang mencekam. Di tengah pasir arena yang hancur berantakan dan berasap pekat, Ren perlahan menurunkan bilah pedang Pandora’s Eclipse dari udara. Empat sayap iblis hitam legam yang membentang gagah perlahan melebur menjadi abu keperakan, dua tanduk iblis di dahinya menyusut melenyap, dan guratan-guratan pola purba di wajah tampannya luntur tanpa bekas.
Cakar iblisnya kembali menjadi jemari tangan manusia biasa, dan pendar api ungu-hitam yang membakar udara seketika padam. Begitu kembali ke wujud manusia murninya, pertahanan fisik Ren yang ditopang oleh adrenalin pertarungan runtuh sepenuhnya. Kelopak matanya tertutup rapat, dan tubuhnya yang bertelanjang dada serta dipenuhi luka tebasan fatal langsung terjatuh tak sadarkan diri!
Namun, sebelum tubuh Ren menyentuh pasir arena yang kotor...
FLASH!
Sebuah kilatan cahaya perak melintasi kubah pelindung sihir dengan kecepatan melampaui konsep waktu! Nona Kitsune telah berada di sisi Ren, menyambar dan menangkap tubuh tegap pria itu ke dalam dekapan hangatnya sebelum ia tersungkur. Jemari lentik Kitsune menopang leher Ren, raut wajah cantiknya dipenuhi oleh rasa cemas dan ketakutan yang teramat sangat besar.
Tanpa menguapkan sepatah kata pun kepada panitia atau memberikan penghormatan pada penonton yang terperangah, Kitsune merengkuh pinggang Ren dan mengepakkan aura sihir peraknya.
SWOOSH!
Dalam sekejap mata, sosok Kitsune dan Ren melenyap sepenuhnya dari arena pertarungan!
Tindakan tak terduga dari Penguasa Gunung Seribu Kabut itu seketika membuat seluruh isi Koloseum Aethelgard meledak dalam kegemparan luar biasa!
"T-Tunggu! Nona Kitsune menangkap tubuh Darkness?!"
"Dia membawanya pergi?! Hubungan apa yang sebenarnya dimiliki oleh Sang Dewi Rubah Purba dengan petarung bertopeng itu?!"
"Apakah Darkness adalah murid rahasianya? Atau... ada hubungan yang jauh lebih dalam di antara mereka?!"
Di tribun VIP utama, Hephaestus yang menyaksikan kepergian kilat Kitsune hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menyunggingkan senyuman tipis. Kakek tua itu meneguk sisa anggurnya di botol kayu, lalu bangkit berdiri seraya mengikat kembali sabuk tempaannya.
"Yah, tontonannya sudah selesai. Tidak ada alasan bagiku untuk bertahan di tempat bising ini lebih lama lagi," gumam Hephaestus santai sebelum melangkah pergi meninggalkan kegemparan publik yang kian liar.
di kediaman rahasia Hephaestus, gubuk kayu bawah tanah yang sepi kini berubah menjadi ruang perawatan darurat.
Kitsune menidurkan tubuh Ren yang bersimbah darah di atas ranjang kayu bermiras kapuk yang empuk. Wajah anggun Kitsune pucat pasi saat melihat betapa parahnya kerusakan fisik pada tubuh pria yang dicintainya. Luka tebasan kapak raksasa Vorgath menganga lebar dari bahu kanan hingga ke dada, belum lagi luka-luka dalam akibat hantaman Konsepsi Diri Archmage yang membekukan aliran darahnya.
"Ren... Ren, bertahanlah..." bisik Kitsune dengan suara gemetar, jemari tangannya yang menyalurkan sihir perak penyembuh bergetar hebat akibat rasa panik yang tak terkendali.
CREAK...
Pintu kamar terbuka, Hephaestus melangkah masuk membawa baskom berisi air hangat, kain kasa, serta berbagai ramuan herba langka kelas mitos yang ia ambil dari ruang simpanan tempaannya.
"Singkirkan rasa panikmu dulu, Kitsune," ujar Hephaestus tegas seraya meletakkan baskom di samping ranjang dan ikut bersimpuh mengobati luka-luka di tubuh Ren. "Penyaluran mana yang tidak stabil dari jemarimu justru bisa merusak jaringan jiwanya yang sedang membeku."
"Tapi dia kehabisan banyak sekali darah dan energi jiwa, Hephaestus!" cerca Kitsune dengan mata merah menahan tangis. "Ritual penyerahan darah kemarin belum sepenuhnya stabil, lalu dia memaksakan Wujud Iblis Murni dan bertarung mati-matian melawan seorang Archmage! Jika energi jiwanya hancur—"
"Dengarkan aku!" potong Hephaestus seraya menekan kain kasa basah ke luka dada Ren, menyalurkan energi pembakaran besi murni untuk menghentikan pendarahan hebat. "Anak ini tidak akan mati secepat itu. Kau lupa siapa dia? Di dalam pembuluh darahnya terikat struktur Tulang Demi-God yang sangat kokoh! Tulang keturunan dewa itulah yang menahan inti organ vitalnya dari kehancuran total. Dia hanya mengalami luka fatal luar dan kelelahan ekstrem. Dia akan selamat."
Mendengar penegasan sang Dewa Pengrajin, napas Kitsune yang memburu perlahan mereda. Namun, genggaman tangannya pada jemari dingin Ren tidak mengendur sedikit pun.
Selama beberapa jam berikutnya, Hephaestus dan Kitsune bekerja sama membersihkan darah, membebat luka dengan racikan herba purba, dan menyegel retakan energi di dalam dada Ren.
Namun, di tengah-tengah proses penyembuhan yang intensif itu, bibir Ren yang pucat mulai bergetar pelan. Gelombang kesadaran yang terombang-ambing di batas antara hidup dan mati membuat Ren mengigau tak sadarkan diri.
"Nngghh... A-Anya..." bisik Ren parau di balik napasnya yang berat.
Kitsune tertegun. Jemari tangannya yang sedang membalut kasa di lengan Ren membeku di udara.
"Anya... tunggu aku..." igau Ren lagi dengan raut wajah yang menegang menahan rindu yang teramat sangat dalam. "...aku pasti kembali... Anya..."
Nama istri pertamanya—Anya—terus diucapkan oleh Ren secara berturut-turut di dalam ketidaksadarannya. Setiap patah kata yang keluar dari bibir Ren bagaikan jarum-jarum es murni yang menancap telak di dalam dasar dada Kitsune.
Kitsune perlahan melepaskan pegangan tangannya dari jemari Ren. Wajah cantiknya menunduk dalam, tertutup oleh helai rambut peraknya yang jatuh. Dinding keraguan, rasa takut akan penolakan, serta kesadaran bahwa ia bukanlah satu-satunya wanita yang bernaung di dalam hati Ren seketika merebak hebat, memeras jiwanya yang telah ribuan tahun hidup dalam kesendirian.
Kitsune berdiri secara perlahan dari tepi ranjang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu berbalik dan melangkah keluar dari dalam kamar perawatan dengan langkah kaku.
Hephaestus yang menyaksikan seluruh kejadian tersebut menghentikan usapan kainnya. Sang Dewa Pengrajin menatap punggung Kitsune yang menghilang di balik pintu, lalu menyapu pandangannya pada Ren yang masih mengigaukan nama Anya.
Hephaestus menghela napas panjang penuh kebiasaan tua. "Ah... urusan asmara anak muda zaman sekarang sungguh rumit. Tapi biarlah... wanita itu butuh ruang dan waktu untuk menata kehormatan jiwanya sendiri."
Hephaestus memilih untuk tidak mencampuri perselisihan emosional tersebut dan membiarkan Kitsune pergi kembali ke istananya.
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang panjang.
Di dalam kamar perawatan gubuk bawah tanah, sinar matahari siang menerobos masuk dengan lembut. Ren perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang berat. Pandangannya yang samar-samar mulai menyatu, menangkap langit-langit kayu gubuk yang familiar.
Ren mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa nyeri yang membakar dari sekujur tubuhnya membuat ia meringis pelan. Seluruh dadanya, bahunya, hingga ke kedua tangannya telah terbalut rapi oleh kain perban putih yang wangi herba penyembuh.
Di samping tempat tidur, Hephaestus baru saja selesai merapikan sisa-sisa gulungan perban dan meletakkannya di atas meja kayu.
"Oho! Akhirnya kau bangun juga, Anak Muda," sapa Hephaestus seraya menyunggingkan senyuman lebar di balik janggut tebalnya. "Tidurmu nyenyak sekali selama tiga hari penuh."
Ren memegang dahinya yang terasa agak pusing, lalu menoleh ke sekeliling kamar yang kosong. Sepasang mata kelabunya memancarkan keraguan dan kekosongan yang mencari.
"Hephaestus..." panggil Ren dengan suara yang masih sangat parau. "...di mana Kitsune?"
Hephaestus meletakkan baskom airnya, lalu menatap Ren dengan raut wajah datar. "Dia sudah tidak ada di sini sejak malam pertarunganmu. Dia kembali ke kediaman pribadinya di Istana Gunung Kabut."
Mendengar jawaban itu, dada Ren seketika berdesir hebat! Firasat buruk dan rasa bersalah yang tak menjelaskan mendadak menekan rongga dadanya. Ren memposisikan kedua tangannya di atas ranjang dan berusaha bangkit berdiri dengan nekat!
"Ugh...!" Ren meringis sakit saat luka menganga di dadanya tertarik hebat, membuat langkah kakinya limbung dan hampir tersungkur ke lantai!
"Woi! Apa yang kau lakukan, Bodoh?!" seru Hephaestus panik seraya melompat maju dan menangkap kedua bahu Ren, menahan tubuh muridnya agar tidak roboh. "Tubuhmu belum pulih sepenuhnya! Tulang-tulangmu baru saja tersambung dan energi jiwamu masih belum stabil! Diam di ranjang dan beristirahatlah!"
"Tidak, Hephaestus!" tolak Ren tegas seraya menatap sang dewa dengan pandangan mata yang dipenuhi keteguhan absolut. "Aku punya firasat buruk... Aku harus menemui Kitsune sekarang juga! Aku harus menyelesaikannya!"
Hephaestus menatap sepasang mata kelabu Ren yang tidak memancarkan sedikit pun rasa ragu. Sang Dewa Pengrajin menghela napas pasrah, menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.
" Watakmu benar-benar keras kepala bagaikan besi mentah yang belum ditempa," gumam Hephaestus. "Baiklah. Aku tidak akan menghentikanmu."
Hephaestus mengangkat tangan kanannya, menggelekkan jemarinya di udara.
SWOOSH—CREAK!
Sebuah lingkaran portal sihir keemasan terbelah tepat di depan Ren, menghubungkan lorong gubuk langsung ke dalam ruangan utama Istana Gunung Seribu Kabut!
"Pergilah. Selesaikan urusan hatimu," ujar Hephaestus seraya melepaskan pegangannya dari bahu Ren.
Ren mengangguk dalam-dalam. "Terima kasih, Hephaestus."
Dengan langkah kaki yang limbung dan teratur menahan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, Ren menerobos masuk melintasi portal sihir tersebut.
di dalam ruang singgasana Istana Es Gunung Seribu Kabut, pilar-pilar kristal keperakan berdiri megah memantulkan pendar remang-remang. Suasana ruangan teramat sangat dingin, sepi, dan dipenuhi oleh aura kemurungan yang pekat.
Di atas singgasana batu kristal murni, Nona Kitsune duduk bersandar kaku. Ia mengenakan kimono ungunya yang megah, namun sepasang mata emas kemerahannya meredup kehilangan binar kehangatan. Tujuh ekor peraknya terkulai lemas melingkari kaki singgasananya. Ia menatap kosong ke arah lantai batu es, tenggelam dalam pusaran ketakutan akan kesendirian yang membayanginya selama ribuan tahun.
CREAK...
Mendadak, riakan sihir portal terbelah di ujung lorong istana.
"Kitsune...!"
Sebuah panggilan suara yang teramat sangat dikenalinya bergema nyaring memecah keheningan ruangan!
Kitsune mendongak kaget. Sepasang mata emas kemerahannya melirik ke arah pintu masuk, dan seketika itu juga matanya membelalak tak percaya!
Ia melihat sosok Ren—yang kini ia sebut sebagai William—berlari-lari kecil ke arahnya dengan langkah yang teramat sangat limbung! Seluruh tubuh William masih terbalut kain perban putih, jubahnya compang-camping, dan wajah tampannya pucat pasi menahan rasa sakit luka fatal yang belum sembuh!
"William...?! Kenapa kau ada di sini?!" jerit Kitsune panik.
Melihat keadaan William yang begitu memprihatinkan namun tetap bersikeras berlari menuju ke arahnya, pertahanan ketegaran Kitsune runtuh seketika! Sang Dewi Rubah melompat turun dari singgasananya, berlari cepat menghampiri William!
HUG!
Sebelum William tersungkur menghantam lantai es, Kitsune menyambar dan menangkap tubuh tegap William ke dalam pelukannya!
William merengkuh pinggang Kitsune dengan erat, menyandarkan dagunya di bahu mulus Kitsune seraya bernapas terengah-engah.
"Kitsune..." bisik William parau di samping telinga sang dewa rubah. "...aku minta maaf... Aku sungguh minta maaf jika aku telah berbuat salah atau melukai hatimu..."
Mendengar permohonan maaf yang begitu tulus dan penuh kepanikan dari pria di pelukannya, Kitsune menggelengkan kepalanya dengan cepat. Air mata kehangatan mulai merebak menggenangi sepasang mata cantiknya.
"Tidak, William... Tidak... Kau tidak berbuat salah apa pun..." tangis Kitsune pecah seraya membalas pelukan William dengan teramat sangat erat!
SWOOSH!
Ketujuh ekor perak raksasa Kitsune mekar sepenuhnya, meliuk melingkari dan memeluk tubuh William yang penuh luka rapat-rapat dalam kepompong bulu perak yang sangat hangat dan aman.
Di dalam dekapan ekor-ekor perak tersebut, William merasakan gelombang kehangatan, rasa aman, dan kedamaian murni yang mengalir menentramkan seluruh luka di tubuhnya.
Air mata Kitsune menetes deras, membasahi bahu telanjang William. Sang dewa rubah meremas jubah William, meluapkan seluruh ketakutan dan kerentanan jiwanya yang paling dalam.
William merenggangkan pelukannya sedikit, menatap wajah cantik Kitsune yang basah oleh air mata dengan raut bingung dan cemas. "Kitsune... kenapa kau menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Kitsune menatap lurus ke dalam sepasang mata kelabu William, menyatukan jemarinya di pipi William yang hangat seraya berseru dengan suara tersedu-sedu yang memilukan hati.
"William... tolong jangan tinggalkan aku...!" tangis Kitsune histeris namun penuh kejujuran murni. "Aku takut... Aku teramat sangat takut jika harus kembali merasakan kesendirian dan kesepian yang membunuh itu lagi! Ribuan tahun aku hidup sendiri di dunia yang dingin ini... Aku tidak sanggup jika harus kehilangan kehangatanmu!"
Kitsune mendekatkan dadanya, menempelkan dahinya di dahi William.
"William... aku ini... aku ini isterimu juga, kan?!" bisik Kitsune dengan suara bergetar meminta kepastian jiwa. "Aku tahu ada wanita lain di dalam hatimu... Aku tahu nama Anya yang kau panggil saat kau sekarat... Tapi tolong... sisakan tempat abadi untukku di sisimu... Tolong, jangan pernah tinggalkan aku!"
Mendengar pengakuan emosional yang begitu jujur, rentan, dan pasrah dari sosok wanita agung yang telah melindunginya selama ini, jantung William bergetar hebat.
William mengangkat kedua tangannya, menghapus air mata di pipi Kitsune dengan jemarinya yang terbalut kasa. William menyunggingkan senyuman paling hangat dan penuh kasih sayang, lalu menggelengkan kepalanya lembut.
"Kitsune..." bisik William dengan nada suara yang teramat sangat dalam dan menenangkan. "Dengarkan aku baik-baik. Kau adalah istriku. Pendamping sah jiwaku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian lagi di dunia ini. Kasihku padamu dan pada Anya tidak akan pernah saling menghancurkan... Kau adalah bagian dari jiwaku sekarang."
William melangkah maju satu tapak, merapatkan tubuhnya dan mencium bibir Kitsune dengan teramat sangat dalam dan penuh kehangatan suci.
Kitsune memejamkan matanya, membalas ciuman William dengan kepasrahan dan kebahagiaan yang meluap-luap. Ketujuh ekor peraknya memeluk tubuh mereka berdua semakin rapat, menyalurkan aura sihir penyembuh purba yang perlahan-lahan meredakan rasa sakit luka-luka di tubuh William.
Di balik bayangan pilar kristal utama istana...
Hephaestus yang menyusul melintasi portal berdiri menyandarkan badannya di dinding batu. Kakek tua itu menyaksikan adegan penyatuan cinta dan sumpah suci di antara William dan Kitsune seraya menyunggingkan senyuman lebar yang dipenuhi rasa puas.
"Oho... Drama anak muda ini akhirnya berakhir dengan manis juga," gumam Hephaestus seraya terkekeh pelan.
Sejak hari penyatuan jiwa dan sumpah suci tersebut, William menetap di Istana Gunung Seribu Kabut untuk menjalani masa pemulihan penuh. Dan kini, panggilan Ren telah sepenuhnya digantikan oleh nama aslinya, William, oleh Kitsune dan Hephaestus.
Hari-hari penyembuhan William di istana berubah menjadi deretan momen romantis yang penuh dengan interaksi manis dan kehangatan yang tak terhingga.
Pagi hari di taman bunga kristal istana, William duduk di bangku batu seraya bertelanjang dada, membiarkan Kitsune mengganti perban di dadanya.
Kitsune yang mengenakan kimono rumah tangga yang lebih santai bersimpuh di samping William. Jemari lentiknya yang diolesi minyak herba murni mengusap lembut kulit dada William, merapikan kasa perban baru dengan ketelitian yang teramat sangat protektif.
"Pelan-pelan, Kitsune... itu agak sedikit geli," kekeh William seraya menatap Kitsune yang begitu serius merawat lukanya.
Kitsune mendongak, menyunggingkan senyuman godaan yang teramat sangat manis. Jemari tangannya sengaja mengusap dada tegap William agak lama.
"Geli atau kau menyukainya, Suamiku?" goda Kitsune dengan kedipan mata emas kemerahannya. Sebelah telinga peraknya bergetar jahil.
Wajah William memerah tipis. "K-Kitsune... kau sengaja menggoda orang yang sedang terluka, ya?"
"Tentu saja," jawab Kitsune renyah seraya melompat dan duduk bersimpuh di pangkuan William! Kitsune melingkarkan kedua tangannya di leher William, menyandarkan kepalanya di dada William yang berdenyut hangat. "Merawat suami yang tampan adalah hak istimewa seorang istri, bukan?"
William terkekeh pelan, melingkarkan tangannya di pinggang mulus Kitsune dan mencium puncak kepala wanita itu dengan penuh kasih.
Namun, momen kemesraan pagi yang begitu indah itu mendadak terganggu saat—
CREAK...
Hephaestus melangkah masuk ke taman membawa nampan berisi sup herba panas dan martil penempaannya!
"WOI! BISAKAH KALIAN BERDUA TIDAK MEMAMERKAN KEMESRAAN DI HADAPAN SEORANG BUJANG TUA SETIAP HARI?!" teriak Hephaestus dengan suara cempreng raksasanya seraya meletakkan nampan makanan di meja batu secara kasar!
William dan Kitsune refleks menoleh, sementara Kitsune tetap santai duduk di pangkuan William seraya menyunggingkan senyuman mengejek ke arah sang dewa tua.
"Ada apa, Hephaestus? Kau iri karena tidak ada dewi yang mau duduk di pangkuanmu?" sindir Kitsune tajam namun bercanda.
Hephaestus menghentakkan kakinya ke tanah, wajah tuanya yang berjanggut melipat cemberut luar biasa!
"IRI?! TENTU SAJA AKU IRI KEPADA WILLIAM!" seru Hephaestus dengan sangat terang-terangan tanpa rasa malu sedikit pun! "Lihat dirimu, Anak Muda! Kau terluka parah tapi malah dirawat oleh salah satu eksistensi tercantik di alam semesta! Disuapi sup, dipeluk ekor hangat setiap malam, dan dipangku setiap pagi! Sedangkan aku?! Aku harus menempa besi panas seharian dan minum anggur sendirian di gubuk dingin!"
William tidak mampu menahan tawa renyahnya melihat keluhan jujur dari sang Dewa Pengrajin. "BHAHAHA! Kalau begitu carilah seorang dewi penempa untuk menjadi pendampingmu, Hephaestus!"
"Bah! Wanita penempa zaman sekarang semuanya pemarah dan suka mengayunkan martil ke kepalaku!" gerutu Hephaestus seraya tuang anggur ke cangkirnya dan duduk di samping mereka dengan raut wajah iri yang mengocok perut. "Sudah! Cepat minum sup herba ini, William! Kita harus membicarakan agenda penting!"
Atmosfer santai dan bercanda di taman kristal perlahan berubah menjadi lebih serius ketika Hephaestus meletakkan peta peta turnamen Koloseum Aethelgard di atas meja batu.
William membantu Kitsune berdiri, lalu memposisikan duduknya dengan tegak. Kitsune duduk rapat di samping William, memegang tangan pria itu seraya mendengarkan penuturan Hephaestus.
"Dengarkan aku baik-baik, William," ujar Hephaestus dengan nada suara yang berubah berat dan mengintimidasi. "Karena kerusakan parah pada arena akibat pertempuran gila milikmu dan Vorgath kemarin, panitia Koloseum dan Dewan Penguasa Aethelgard telah memutuskan satu hal."
Hephaestus menunjuk angka di peta turnamen.
"Pertandingan FINAL babak puncak akan ditunda dan diadakan satu bulan dari sekarang (1 Month Later)," jelas Hephaestus. "Penundaan ini dilakukan untuk merenovasi total arena pertempuran serta memberikan waktu pemulihan penuh bagi dua kontestan tersisa."
William mengerutkan alisnya. "Satu bulan... Itu waktu yang cukup lama. Siapa lawan yang akan kuhadapi di babak final nanti, Hephaestus?"
Hephaestus menatap mata William dengan tatapan yang sangat tajam.
"Lawanmu di babak final nanti bukannya petarung sembarangan," jawab Hephaestus pelan. "Dia adalah Archmage Tingkat Puncak putra mahkota dari Panteon Dewa Perang Utara, Valerius sang Pemotong Langit. Dia menghancurkan lawannya di babak semifinal hanya dalam waktu tiga detik tanpa terluka sedikit pun."
Mendengar nama Valerius, aura sihir perak Kitsune di samping William sempat bergetar tipis.
"Valerius..." gumam Kitsune dingin. "Dia menggunakan Konsepsi Diri Dominasi Alam Semesta. Kekuatan fisiknya melampaui Vorgath secara absolut."
William mengepalkan tangan tangannya yang terbalut kasa. Pendar semangat dan tekad yang membara kembali menyala di dalam sepasang mata kelabunya. Satu bulan waktu persiapan yang diberikan adalah kesempatan emas baginya untuk menyempurnakan Wujud Iblis Murni, menguasai gabungan Darah Rubah, serta mengasah Konsepsi Diri Tekad Pelindung Kosmik-nya hingga ke tingkat puncak!
William menoleh ke arah Kitsune, menyunggingkan senyuman tegar yang dipenuhi keyakinan.
"Satu bulan..." bisik William mantap seraya menggenggam erat jemari Kitsune. "Dalam waktu satu bulan ini, aku tidak hanya akan sembuh total... tapi aku akan menjadi jauh lebih kuat untuk menaklukkan panggung final Koloseum Aethelgard!"
Kitsune membalas genggaman tangan William dengan senyuman paling indah, siap menemani sang suami menembus segala batas takdir di masa depan.