Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pagi itu suasana di dalam ruang direktur perusahaan kosmetik milik Nadhira terasa sangat sunyi dan menegangkan.
Nadhira duduk mematung di balik meja kerjanya dengan sepasang bola mata yang melebar sempurna tanpa berkedip.
Di atas meja kerjanya kini berserakan puluhan lembar dokumen kertas dan buku laporan keuangan tebal.
"Bara, tolong katakan padaku kalau semua kertas ini cuma hasil cetakan palsu yang kamu buat untuk menakutiku," ucap Nadhira dengan suara bergetar.
Wanita cantik itu menelan ludahnya dengan susah payah sambil menatap Bara yang sedang duduk sangat santai di sofa tamu.
"Itu semua adalah dokumen asli yang dicap langsung menggunakan stempel basah rahasia milik perusahaan Anton Aristha," jawab Bara sambil tersenyum tipis.
"Aku mengambilnya langsung dari dalam brankas baja pribadi milik pria tua itu semalam."
Mendengar pengakuan yang diucapkan dengan nada sangat santai itu, Nadhira langsung memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
"Kamu menyusup masuk ke markas utama keluarga mafia properti itu dan membobol brankas mereka sendirian?" tanya Nadhira setengah berteriak.
"Bara, kamu benar-benar sudah gila dan sangat nekat melakukan hal berbahaya seperti ini tanpa memberitahuku."
"Kalau sampai para penjaga bersenjata mereka menangkapmu semalam, kamu pasti sudah mati dibuang ke laut pagi ini."
Bara tertawa pelan mendengar omelan Nadhira yang terdengar sangat tulus mengkhawatirkan keselamatannya.
"Kamu tidak perlu cemas berlebihan Nadhira, aku punya trik khusus yang membuatku sama sekali tidak terlihat oleh mata mereka," jawab Bara menenangkan.
Bara kemudian berdiri dari sofa dan berjalan menghampiri meja kerja Nadhira untuk menunjuk tumpukan dokumen tersebut.
"Fokus saja pada isi dokumen itu sekarang, apa semuanya sudah cukup untuk menjebloskan mereka ke penjara?" tanya Bara mengalihkan pembicaraan.
Nadhira menarik nafas panjang untuk menenangkan detak jantungnya sebelum kembali memeriksa kertas-kertas kotor tersebut.
"Ini lebih dari sekadar cukup Bara, ini adalah tiket tiket eksekusi mati untuk seluruh bisnis keluarga mereka," jawab Nadhira dengan mata berbinar penuh semangat.
"Di sini ada bukti nyata aliran dana suap untuk pejabat tata kota dan laporan penggelapan pajak yang nilainya mencapai ratusan miliar selama lima tahun terakhir."
"Bahkan ada juga surat kontrak pemaksaan pembebasan lahan yang mereka lakukan pada warga pinggiran kota secara ilegal."
Nadhira mengumpulkan semua dokumen itu dan memeluknya erat-erat seolah benda itu adalah bongkahan emas murni.
"Aku akan langsung menghubungi kenalanku di kepolisian divisi kejahatan finansial dan menyerahkan semua bukti ini sekarang juga," ucap Nadhira dengan tidak sabar.
"Tunggu dulu Nadhira, jangan serahkan bukti itu ke polisi pagi ini," cegah Bara sambil menahan tangan wanita itu.
Nadhira mengerutkan keningnya dengan bingung menatap wajah Bara yang terlihat sedang merencanakan sesuatu yang licik.
"Kenapa harus menunggu lagi Bara? Bukankah lebih cepat keluarga brengsek itu ditangkap polisi akan jauh lebih baik untuk bisnis kita?" tanya Nadhira heran.
"Keluarga Aristha pasti akan hadir di acara pesta pelelangan bisnis elit yang akan kita datangi nanti malam kan?" Bara balik bertanya dengan nada penuh arti.
Nadhira menganggukkan kepalanya pelan membenarkan ucapan Bara tersebut.
"Tentu saja mereka pasti hadir, acara pelelangan nanti malam adalah ajang berkumpulnya semua pengusaha besar untuk mencari dana pinjaman atau pamer kekayaan," jelas Nadhira.
"Kalau begitu tahan dokumen itu sampai nanti malam, dan minta teman polisimu untuk datang menyergap mereka tepat di tengah acara pesta tersebut," perintah Bara dengan senyum miring.
"Aku ingin melihat wajah hancur dan rasa malu yang luar biasa dari Anton maupun Aris di depan seluruh rekan bisnis mereka."
Mendengar rencana penyiksaan mental yang sangat kejam dari Bara, Nadhira hanya bisa menggelengkan kepalanya takjub.
"Kamu benar-benar pria berdarah dingin yang sangat mengerikan kalau sudah berurusan dengan musuhmu Bara," komentar Nadhira sambil tersenyum setuju.
"Baiklah, aku akan mengatur skenario penangkapannya malam ini agar menjadi tontonan paling epik sepanjang sejarah kota ini."
Bara kembali duduk di sofa dan menikmati kopi hangatnya dengan perasaan yang luar biasa lega dan puas.
Selain menghancurkan bisnis musuhnya, Bara juga masih memiliki enam puluh butir berlian mentah senilai lima puluh miliar di apartemennya.
Malam ini akan menjadi malam penutupan yang sangat sempurna untuk membalas semua rasa sakit hatinya di masa lalu.
Waktu berlalu dengan sangat cepat hingga matahari akhirnya terbenam dan digantikan oleh gemerlap lampu malam kota metropolis.
Bara berdiri di depan cermin apartemennya untuk memastikan setelan jas hitam mahalnya sudah melekat sempurna di tubuhnya yang padat.
Penampilan Bara malam ini benar-benar memancarkan aura seorang tuan muda dari keluarga bangsawan yang sangat berwibawa dan elegan.
Ting tong!
Suara bel apartemennya berbunyi menandakan Nadhira sudah datang menjemputnya untuk berangkat ke lokasi acara pelelangan.
Bara membuka pintu dan langsung disambut oleh pemandangan luar biasa cantik dari rekan bisnisnya tersebut.
Nadhira mengenakan gaun malam panjang berwarna merah marun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat elegan namun tidak berlebihan.
Rambut hitam panjangnya disanggul rapi ke atas menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajah cantiknya.
"Kamu terlihat luar biasa menawan malam ini Nadhira, aku yakin semua pengusaha pria di sana akan tidak fokus pada acara lelangnya," puji Bara dengan jujur.
Pipi Nadhira langsung bersemu merah mendengar pujian blak-blakan dari pria tampan di depannya ini.
"Kamu juga terlihat sangat gagah Bara, pesonamu malam ini pasti akan membuat banyak wanita kaya berebut ingin berkenalan denganmu," balas Nadhira sambil tersenyum manis.
Mereka berdua lalu turun ke lobi bawah dan masuk ke dalam mobil sedan mewah milik Nadhira yang sudah disiapkan bersama supir pribadinya.
Hanya butuh waktu setengah jam bagi mereka untuk tiba di depan lobi sebuah hotel bintang lima yang menjadi lokasi pesta pelelangan elit tersebut.
Lobi hotel itu sudah dipenuhi oleh deretan mobil-mobil mewah dan para wartawan bisnis yang sibuk mengambil foto para tamu undangan.
Bara turun lebih dulu dari mobil dan mengulurkan tangannya untuk membantu Nadhira keluar dari dalam sedan mewahnya dengan sikap ksatria.
Nadhira menyambut uluran tangan Bara dan langsung melingkarkan lengannya di lengan kokoh pria itu secara natural.
Mereka berdua berjalan berdampingan memasuki ballroom utama hotel yang sudah disulap menjadi ruang pesta dan pelelangan yang sangat megah.
Lampu gantung kristal berukuran raksasa memancarkan cahaya kekuningan yang membuat seluruh ruangan terlihat seperti istana kerajaan.
Puluhan pengusaha kaya berpakaian mewah terlihat sedang berdiri mengobrol santai sambil memegang gelas anggur di tangan mereka.
Kehadiran Nadhira yang merupakan bintang baru di dunia bisnis kosmetik langsung menarik perhatian banyak orang di ruangan tersebut.