Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Setelah tiga tahun tidak muncul dan selalu mengawasi Lilian dari jarak jauh akhirnya sang mata-mata pun muncul di waktu yang tepat, karena ini adalah pertama kalinya ia melihat Lilian dalam situasi yang membahayakan, siapa yang tidak tahu kalau Lilian memiliki fobia akan kegelapan, dia juga takut dengan serangga jika dibiarkan terlalu lama berada di dalam ruangan gelap Lilian akan mengalami sesak napas dan juga vertigo.
Namun, semua itu terjadi karena Lilian memiliki trauma masa lalu yang sampai sekarang masih membekas di hati dan pikirannya.
Flashback on
Kejadian tujuh tahun lalu...
"Lilian, bisakah kau pergi mencari kayu bakar bersamaku? Aku sangat takut, sudah jam segini ternyata kita lupa mengambil kayu bakar," ucap seorang teman Lilian.
Saat itu, sebelum ujian kelulusan SMA, Lilian dan teman-teman baiknya memilih untuk berkemah bersama ke gunung XX, mereka ingin menikmati waktu bersama sebelum lulus sekolah dan menjalani kehidupan masing-masing sebagai anak-anak konglomerat yang masa depannya sudah diatur oleh keluarga.
"Tapi ini sudah gelap," jawab Lilian.
"Tapi akan lebih gelap jika kita tidak punya unggun, yang lainnya sibuk memasak," ucap sang teman lagi.
"Benar juga, ya sudah ayo kita pergi sekarang," ucap Lilian yang akhirnya terpaksa pergi meskipun ia merasa takut keluar dari tempat perkemahan di jam-jam seperti ini.
Akan tetapi mereka tidak tahu kalau pada saat itu bahaya sudah menunggu mereka, tak lama setelah mereka pergi hujan turun begitu deras disertai angin kencang dan juga kilat serta petir yang menyambar.
"Astaga kenapa tiba-tiba hujan turun begitu cepat, padahal cuaca sebelumnya baik-baik saja," ucap teman Lilian sambil menggendong kayu bakar di tangannya.
Mereka berdua basah kuyup dan hari pun semakin gelap.
"Karin, sepertinya senter ini bermasalah, dia tidak mau menyala," ucap Lilian yang saat itu mengetuk-ngetuk senter yang mereka bawa.
"Lilian, senternya tidak anti air, bagaimana mau nyala sepertinya sudah terkena air," ucap Karin.
Karin adalah sahabat baik Lilian, sekaligus anak dari sahabat mama dan papanya Lilian.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Tanpa senter ini kita tidak akan bisa menemukan jalan kembali ke tenda," ucap Lilian mulai gelisah.
"Ayo mendekatlah padaku, aku akan memegang tanganmu, suasana sudah semakin gelap angin juga sangat kencang jangan sampai kita terpisah, kau juga rabun malam," ucap Karin segera melupakan tentang senter tersebut dan memegang erat tangan Lilian.
"Karin aku takut," ucap Lilian yang memang tidak bisa mengandalkan penglihatan malamnya karena ia memiliki rabun malam yang cukup parah, hal itu berlangsung sampai sekarang.
"Jangan khawatir, ada aku, aku juga sebenarnya sangat takut tapi kita hanya bisa bergantung satu sama lain," ucap Karin menyemangati Lilian yang memang setahun lebih muda darinya.
Mereka terus berjalan, kayu yang digendong Karin juga sudah dia lepaskan, mereka kini memilih fokus dengan keselamatan mereka saja.
Jalan semakin licin, malam semakin gelap dan suasana semakin dingin mereka berdua pun melangkah dengan tubuh menggigil, tiga puluh menit berlalu.
Karin menyadari kalau mereka semakin jauh tersesat ke dalam hutan, namun dia tidak mengatakan hal itu kepada Lilian karena tak ingin sahabatnya khawatir.
"Karin aku merasa kita semakin jauh," ucap Lilian memiliki firasat buruk.
"Tidak, kita sudah dekat sabar ya, sebentar lagi kita pasti akan bertemu dengan teman-teman yang pastinya mereka sudah mencari kita atau memanggil bantuan," ucap Karin berbohong.
"Benarkah?" tanya Lilian lagi. Tak sedikitpun dia melepaskan genggaman tangan Karin.
"Iya," jawab Karin penuh keterpaksaan.
Memang benar jika teman-teman mereka saat ini melawan badai untuk mencari mereka, tapi mereka ada di arah yang salah.
Tak lama setelah itu tiba-tiba sebuah cabang pohon jatuh tepat di atas kepala Karin, hal ini membuatnya jatuh pingsan tak sadarkan diri.
"Karin! Apa yang terjadi! Karin!" teriak Lilian yang meraba-raba sekeliling karena ia tidak bisa melihat apapun, genggaman Karin terlepas dan dia tidak tahu Karin berada di mana.
Karena panik Lilian pun tanpa sengaja tergelincir dan jatuh ke jurang yang memang ada di samping jalan setapak yang mereka tempuh.
Dua jam kemudian.
Badai sudah berhenti, tim SAR yang dipanggil keluarga Lilian dan keluarga Karin telah tiba, Karin ditemukan namun Lilian masih tak kunjung ditemukan.
Di saat itulah Lilian yang ada di bawah sana kembali tersadar dari pingsannya, seluruh tubuhnya sakit apalagi kepalanya, ia menangis dan berusaha berteriak namun tidak ada yang mendengar suaranya apalagi itu malam dan sangat gelap.
Pencarian tak bisa dilanjutkan malam itu karena sangat gelap, sementara Karin masih belum sadar dan dibawa ke rumah sakit. Tim SAR memutuskan untuk melanjutkan pencarian mereka subuh hari nanti.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku sangat dingin dan takut," ucap Lilian di bawah sana, dia hanya bisa meringkuk memeluk lututnya.
Suara-suara serigala yang meraung mulai menggema di kedua telinga Lilian, hal ini membuat Lilian semakin ketakutan.
"Tolong! Tolong aku!" ucapnya.
Namun tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki, itu bukan langkah kaki manusia melainkan seekor serigala buas yang mencium aroma darah dari tubuh Lilian yang terluka.
Lilian tidak bisa melihat wujud serigala tersebut melainkan hanya matanya yang tampak merah.
"Pergi! Jangan dekati aku! Pergi!" ucapnya gemetar sambil memegang sebatang kayu.
Namun serigala tersebut sama sekali tidak takut dan malah semakin mendekat bersiap-siap untuk menyerang Lilian.
"Apakah ini akhir dari hidupku? Papa, kak Karen! Tolong!" teriak Lilian.
Bukh...
Terdengar sebuah pukulan keras yang menghantam sesuatu.
"Kau tidak apa-apa?" suara seseorang menyapa telinga Lilian.
"Tolong! Siapapun tolong aku," ucap Lilian meraba-raba.
Sosok tersebut menghampiri Lilian dan kemudian memegang tangan Lilian.
"Serigala, dia ingin memakanku," ucap Lilian.
"Tenanglah, kau baik-baik saja, aku sudah membunuhnya," ucap laki-laki tersebut.
Mendengar itu, Lilian langsung memeluk orang tak dikenal tersebut dengan erat dan kembali menangis.
"Terima kasih, terima kasih banyak, maaf aku tidak bisa melihat wajahmu meskipun ada api aku rabun malam," ucap Lilian sangat lega karena ada yang menolongnya.
"Jangan khawatir, sebentar lagi pagi, bantuan akan datang, sementara itu kau boleh memelukku jika takut," ucap sosok tersebut yang terdengar sangat lembut.
Pelukan hangat itu tidak pernah dilupakan oleh Lilian seumur hidupnya, ia semalaman memeluk laki-laki tersebut meskipun tidak tahu siapa sebenarnya laki-laki tersebut.
Yang Lilian kenali hanyalah sebuah bekas luka yang ada di tengkuk laki-laki tersebut yang pada saat itu memang terluka karena berkelahi dengan serigala untuk menolongnya.
"Kau terluka," ucap Lilian meraba tengkuk laki-laki itu.
"Hanya luka kecil, abaikan saja mungkin suatu saat kau akan mengenaliku dengan bekas luka ini," ucap si lelaki lagi.
Lilian tersenyum dan kemudian kembali tak sadarkan diri karena memang pada saat itu kondisinya sangat lemah.
Setelah bangun ia sudah ada di rumah sakit, ia tak pernah melihat siapa laki-laki tersebut sampai pada saat kuliah ia bertemu dengan Alen yang memiliki bekas luka di tengkuknya, dari sini kalian tahu kan awal dari cinta Lilian kepada Alen seperti apa?
Flashback off
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍