Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senandung Mawar Putih dan Panggilan Ibu
Malam beranjak kian larut di Akademi Sihir Grandoria. Gema nada "Huoooo..." yang menyelimuti benua selama berturut-turut masih mengalun konstan di udara, bagai bisikan tak bermujud yang menembus sela-sela jendela Menara Utama. Namun, malam ini, keletihan yang luar biasa akibat pencarian tanpa henti akhirnya memaksa Monica untuk merebahkan tubuhnya.
Di dalam kamarnya yang redup, Monica tertidur pulas dengan tongkat safirnya tersandar di sisi ranjang. Perlahan, kesadarannya terseret memasuki alam bawah sadar yang sangat dalam—sebuah ruang mimpi yang tidak seperti biasanya.
Sensasi dingin angin malam mendadak berganti menjadi kehangatan yang lembut. Monica membuka matanya dan mendapati dirinya berdiri di tengah padang rumput hijau yang luas di bawah naungan langit biru keemasan. Ribuan bunga mawar putih mekar sempurna di sekelilingnya, menebarkan harum semerbak yang begitu dihafal oleh ingatan masa kecilnya.
Di tengah padang mawar tersebut, berdiri sosok wanita bergaun putih panjang. Rambut hitamnya terurai indah, berkibar perlahan diterpa angin sejuk.
Monica membeku. Dadanya bergetar hebat saat wanita itu berbalik dan menyunggingkan senyum hangat yang amat dirindukannya.
"I-Ibu...?" bisik Monica dengan suara tercekat.
Ibu kandung Monica—yang telah lama tiada—melangkah mendekat dengan anggun. Tanpa mengucap sepatah kata pun pada awalnya, wanita itu membuka bibirnya dan mulai menyanyikan sebuah melodi indah dengan nada yang amat jernih.
"Huoooo... Huoooo..."
Gema nada yang selama ini membingungkan seluruh penyihir di Kerajaan Grandoria mendadak menyatu sempurna saat keluar dari bibir sang ibu! Itu bukanlah mantra sihir hitam atau kutukan purba, melainkan sebuah Lagu Pengantar Tidur Kuno yang selalu dinyanyikan ibunya saat menimang Monica sewaktu kecil.
"Huoooo... Bintang laut memanggil pulang... Samudra menyimpan takdir yang hilang..."
Ibu Monica membelai lembut pipi anak gadisnya. Kehangatan sentuhan itu terasa begitu nyata hingga air mata menetes perlahan menelusuri pipi jernih Monica.
"Monica, anakku sayang..." tutur ibunya dengan suara selembut bisikan angin pagi.
"Lagu ini bukanlah ancaman, melainkan petunjuk... Suara yang bergema di duniamu adalah pemicu takdir yang telah tertidur selama satu abad di atas samudra luas."
"Ibu, apa maksud dari suara ini? Ke mana aku harus pergi?" tanya Monica terengah-engah seraya menggenggam erat tangan ibunya.
Ibunya tersenyum penuh kasih, perlahan tubuhnya mulai melayang dan melarut menjadi pendaran cahaya mawar putih yang berkilauan.
"Ikuti arah melodi ini ke mana air mengalir menuju batas dunia... Carilah Kapal Misterius yang terdampar di tengah kabut abadi... Di sana, jawaban atas takdirmu dan sepuluh batu kuno sedang menunggumu, Monica..."
"Ibu! Jangan pergi, Ibu!" teriak Monica seraya mencoba meraih bayangan ibunya.
FLASH!
"IBU!"
Monica tersentak bangun dari tidurnya, duduk tegak di atas ranjang dengan napas terengah-engah. Keringat dingin membasahi dahinya, dan sisa air mata masih menggenang di sudut mata birunya.
Gema nada "Huoooo..." di luar jendela masih terdengar, namun kini Monica tidak lagi merasakannya sebagai ancaman yang membingungkan. Ia tahu persis melodi apa itu—sebuah senandung petunjuk dari almarhumah ibunya yang membimbing jalan menuju petualangan baru.
Sambil membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya, Monica menggenggam tongkat safirnya yang berpendar emas sangat terang. Matanya memancarkan tekad bulat yang tak tergoyahkan.
"Aku mengerti sekarang," gumam Monica mantap.
Pencarian tanpa arah telah berakhir. Petunjuk mimpi sang ibu.