NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Kembali ke Pelukan, Cinta yang Tak Terpisahkan

Tiga hari berlalu — bukan waktu yang lama, namun bagi dua hati yang baru saja menemukan satu sama lain, rasanya seperti tiga tahun. Setiap detik terasa berjalan lambat, setiap jam terasa berat, dan setiap malam terasa sepi meskipun mereka selalu berbicara lewat telepon hingga larut malam. Namun hari ini — hari ketiga — akhirnya tiba. Hari di mana Mo Ha akan pulang.

Pagi itu, Su Yi bangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah tirai, namun ia sudah berdiri di depan jendela kamar, menatap ke arah gerbang rumah dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Hatinya berdebar kencang — bukan karena cemas, melainkan karena bahagia yang tak tertahankan. Hari ini Mo Ha pulang. Hari ini rumah ini akan kembali lengkap.

"Su Yi, kau terlalu bersemangat," bisiknya pada dirinya sendiri sambil tersenyum malu-malu. Namun ia tak bisa menahannya. Selama tiga hari ini, setiap kali telepon berdering dan nama "Mo Ha" muncul di layar, jantungnya selalu berpacu cepat. Setiap kali ia berbicara dengannya, rasanya jarak ratusan kilometer itu lenyap begitu saja. Dan sekarang — tinggal beberapa jam lagi — ia akan benar-benar melihatnya, menyentuhnya, dan memeluknya.

Su Yi bergegas bersiap. Ia memilih gaun berwarna putih bersih dengan hiasan renda halus di ujung lengan — gaun yang sederhana namun membuatnya tampak bersih dan bercahaya. Ia menyisir rambut hitamnya dengan rapi, membiarkannya terurai jatuh di bahu, dan sedikit menata wajahnya dengan riasan tipis — cukup untuk menonjolkan kecantikannya yang alami, tanpa berlebihan. Saat berdiri di depan cermin, ia melihat wanita yang berbeda — bukan lagi wanita yang murung dan kesepian, melainkan wanita yang matanya bersinar karena dicintai.

"Kau cantik," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Cantik karena dia mencintaimu."

Di ruang makan, ia memeriksa sarapan yang sudah tersedia — semua makanan kesukaan Mo Ha, disiapkan dengan penuh perhatian olehnya sendiri bersama Bu Lin. Sup hangat, roti panggang, telur matang sedang, dan teh melati yang aromanya memenuhi ruangan. Semuanya tertata rapi di meja, siap menyambut suaminya yang pulang.

"Pasti Tuan Muda akan sangat senang," ucap Bu Lin sambil tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia melihat perubahan di rumah itu. "Belum pernah saya melihat Nyonya begitu bersinar."

"Terima kasih, Bu Lin," jawab Su Yi dengan senyum tulus. "Aku hanya... aku hanya ingin semuanya sempurna saat dia pulang."

"Sudah sempurna sejak awal, Nyonya," ucap Bu Lin lembut. "Karena cinta Nyonya dan Tuan Muda yang membuat rumah ini sempurna."

Jam menunjukkan pukul dua siang — waktu yang dijanjikan Mo Ha untuk tiba di rumah. Su Yi sudah berdiri di beranda depan sejak sepuluh menit yang lalu, matanya tak lepas dari jalanan menuju gerbang. Setiap kali ada mobil yang lewat, jantungnya berpacu cepat, lalu sedikit tenang saat menyadari itu bukan mobil suaminya. Namun ia tidak menyerah. Ia terus menunggu, karena ia tahu — Mo Ha pasti datang.

Dan tepat pukul dua lewat lima belas menit — mobil hitam yang sangat dikenalnya melaju perlahan menuju gerbang rumah. Jantung Su Yi seakan berhenti berdetak sesaat, lalu berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Ia melangkah maju sedikit, tangannya meremas ujung gaunnya karena gembira.

Mobil berhenti tepat di depan beranda. Pintu terbuka, dan sosok yang ia rindukan selama tiga hari itu turun — Mo Ha. Ia mengenakan kemeja putih yang sama seperti saat berangkat, namun wajahnya terasa sedikit lelah karena perjalanan, namun matanya — matanya bersinar terang saat melihat sosok yang berdiri menunggunya di beranda.

"Su Yi..." panggilnya pelan, suaranya penuh kerinduan yang tak terlukiskan.

Tanpa menunggu lagi, Su Yi berlari kecil menuju ke arahnya — tak peduli pada kesopanan, tak peduli pada siapa pun yang melihat. Yang ia tahu hanyalah satu hal — ia ingin segera berada di pelukannya. Mo Ha juga berjalan cepat, dan saat jarak di antara mereka tinggal beberapa langkah, ia membuka kedua lengannya lebar-lebar — menyambutnya, menunggunya, dan merindukannya.

Su Yi menubruk ke pelukan suaminya, memeluk pinggangnya erat-erat seakan takut jika melepaskannya, ia akan pergi lagi. Mo Ha mendekapnya balik dengan kekuatan penuh — tangannya merangkul pundak dan punggung istrinya, menekan wajahnya ke dada bidangnya, menghirup aroma rambut dan tubuh istrinya yang begitu ia rindukan selama tiga hari itu.

"Kau pulang..." bisik Su Yi di dalam pelukannya, air mata bahagia jatuh membasahi kemeja putih Mo Ha. "Kau benar-benar pulang."

"Aku pulang," jawab Mo Ha dengan suara yang bergetar karena emosi, tangannya mengusap punggung istrinya dengan lembut namun erat. "Aku kembali ke rumah, kembali kepadamu. Tiga hari ini... tiga hari ini terasa seperti selamanya tanpa kau, Su Yi. Aku merindukanmu setiap detik, setiap menit, setiap jam."

Su Yi mengangkat wajahnya, menatap mata suaminya yang kini terlihat sedikit lelah namun tetap penuh kasih sayang. "Aku juga. Setiap kali telepon berhenti berbunyi, aku merasa sepi lagi. Tapi aku tahu... aku tahu kau pasti kembali."

Mo Ha menatap wajah istrinya lekat-lekat — melihat mata yang berbinar karena air mata bahagia, melihat bibir yang tersenyum lebar, melihat wajah yang menjadi alasan ia berjuang setiap hari. Ia mengangkat tangannya, menyeka air mata di pipi istrinya dengan lembut, lalu menangkup wajah itu dengan kedua tangannya.

"Terima kasih telah menungguku," ucapnya tulus, dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Terima kasih karena tidak pernah pergi meskipun aku terlambat menyadari semuanya. Terima kasih karena ada di sini, di rumah kita, menungguku pulang."

"Kau tidak perlu berterima kasih," jawab Su Yi lembut, tangannya menyentuh punggung tangan suaminya yang menangkup wajahnya. "Karena ini rumahmu, dan aku milikmu. Selamanya."

Mo Ha tersenyum — senyum yang paling tulus, paling bahagia, dan paling indah yang pernah ia miliki. Ia mendekatkan wajahnya perlahan, lalu bibirnya menyentuh bibir Su Yi — ciuman yang penuh kerinduan, penuh syukur, dan penuh janji untuk masa depan. Bukan ciuman yang buru-buru, melainkan ciuman yang menyampaikan semua kata yang tak sempat terucap selama tiga hari berpisah: Aku merindukanmu. Aku mencintaimu. Aku takkan pernah pergi lagi.

Su Yi memejamkan matanya, membalas ciuman itu dengan lembut namun penuh perasaan — merasakan kehangatan yang kembali, merasakan keamanan yang selalu ia rindukan, dan merasakan bahwa akhirnya — akhirnya — mereka benar-benar bersatu kembali, tak terpisahkan oleh jarak maupun waktu.

Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan itu perlahan, namun tangan mereka tetap saling menggenggam erat — jari-jari bertautan, takkan pernah terpisahkan lagi. Mo Ha mengambil tas tangan dan koper yang diletakkan pengemudi, lalu dengan tangan yang lain tetap menggenggam tangan Su Yi, berjalan masuk ke dalam rumah — rumah yang kini terasa lebih hangat, lebih hidup, dan lebih bermakna dari sebelumnya.

"Kau pasti lapar dan lelah," ucap Su Yi pelan saat mereka berjalan menuju ruang makan. "Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."

Mo Ha berhenti sejenak, menatap istrinya dengan tatapan penuh kekaguman. "Kau menyiapkannya? Sendiri?"

"Bersama Bu Lin," jawab Su Yi sambil tersenyum malu-malu. "Tapi resepnya aku yang pilih."

"Sudah pasti enak," ucap Mo Ha yakin, lalu mencium kening istrinya sekilas. "Apa pun yang kau buat, pasti yang paling enak di dunia."

Saat mereka masuk ke ruang makan, aroma makanan hangat langsung menyambut mereka — aroma yang membuat perut Mo Ha lapar sekaligus hatinya terasa penuh. Di meja makan, semua hidangan tersusun rapi dan indah, dan di tengah meja terdapat vas berisi bunga melati putih yang harumnya memenuhi ruangan — bunga kesukaan Su Yi, yang juga kini menjadi kesukaan Mo Ha.

"Silakan duduk," ucap Su Yi menarik kursi untuk suaminya. Mo Ha tersenyum, lalu menarik tangan istrinya agar duduk di sebelahnya — bukan di seberang seperti dulu, melainkan di sampingnya, dekat, selalu dekat.

Makan siang itu berlangsung hangat dan penuh tawa. Mo Ha bercerita tentang perjalanannya — tentang pekerjaan yang ternyata berjalan lancar, tentang hal-hal kecil yang ia lihat di kota itu, dan tentang betapa ia selalu merindukan Su Yi setiap kali melihat hal yang indah. Su Yi juga bercerita — tentang hal-hal kecil di rumah, tentang bunga-bunga yang bermekaran, tentang bagaimana ia menghabiskan waktunya sambil menunggu suaminya pulang. Mereka berbicara tanpa henti — seakan ingin mengganti semua waktu yang terbuang selama tiga hari berpisah, dan semua waktu yang terbuang selama dua tahun saling menjauh.

Setelah makan, Mo Ha membantu Su Yi membersihkan meja — sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, namun kini ia lakukan dengan senang hati. Mereka bergerak berdampingan di dapur, sesekali bersentuhan tangan, saling tersenyum, dan menyadari bahwa hal-hal sederhana seperti inilah yang sebenarnya paling berharga dalam pernikahan — bukan kemewahan, bukan kekuasaan, melainkan kebersamaan dalam hal-hal kecil sehari-hari.

Saat semuanya selesai, mereka berjalan menuju kamar utama — tempat di mana semuanya bermula, tempat di mana semuanya berubah. Mo Ha duduk di tepi ranjang, dan menarik tangan Su Yi hingga ia berdiri di hadapannya. Ia memegang kedua tangan istrinya, menatapnya dengan tatapan yang lembut namun penuh ketegasan.

"Su Yi..." panggilnya pelan. "Selama tiga hari di luar kota, aku banyak berpikir. Banyak hal yang aku sadari saat kita berpisah."

"Apa itu?" tanya Su Yi lembut, tangannya menyentuh rambut suaminya yang sedikit berantakan karena perjalanan.

"Aku sadar bahwa tidak ada yang lebih penting darimu," jawab Mo Ha tulus. "Bukan pekerjaan, bukan bisnis, bukan kekayaan. Semua itu bisa hilang kapan saja. Tapi kau... kau adalah bagian dari hidupku, bagian dari jiwaku. Dan aku takkan pernah lagi membiarkan jarak atau waktu memisahkan kita."

Mo Ha merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah hati. Ia membukanya perlahan — di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana namun indah, dengan liontin berbentuk bunga melati putih yang terbuat dari mutiara dan permata kecil. Su Yi membelalakkan matanya, terkejut dan terharu.

"Ini..." bisiknya tak percaya.

"Aku melihatnya di sebuah toko perhiasan saat di sana," ucap Mo Ha pelan, mengambil kalung itu dan berdiri untuk memakaikannya sendiri ke leher istrinya. "Saat melihatnya, aku langsung teringat padamu — cantik, lembut, dan harum seperti bunga melati yang kau sukai. Bukan perhiasan yang paling mahal, tapi... ia mewakili hatiku — sederhana, namun tulus dan abadi."

Mo Ha memakaikan kalung itu perlahan, menutup pengaitnya di belakang leher istrinya, lalu menatapnya dengan kagum. "Sempurna. Seperti pemiliknya."

Su Yi menyentuh liontin melati di dadanya — terasa hangat, seakan memancarkan kehangatan hati suaminya. Air mata bahagia menetes di pipinya, namun kali ini ia tersenyum lebar — senyum yang paling bahagia. "Terima kasih, Mo Ha. Ini... ini adalah hadiah terindah yang pernah aku terima."

"Belum selesai," ucap Mo Ha lembut, lalu memeluk pinggang istrinya erat. "Hadiah terbesarku adalah janjiku — mulai hari ini, setiap hari, aku akan berusaha menjadi suami yang lebih baik dari hari sebelumnya. Aku akan mendengarkanmu, menghargaimu, dan mencintaimu tanpa syarat. Selamanya."

Su Yi memeluk leher suaminya, mendekatkan wajahnya hingga dahi mereka saling bersentuhan. "Dan aku berjanji — aku akan selalu ada untukmu, mendukungmu, dan mencintaimu apa pun yang terjadi. Kita hadapi semuanya bersama-sama, bukan lagi sendiri-sendiri."

"Bersama-sama," janji Mo Ha pelan, lalu mencium kening istrinya dengan lembut dan penuh janji. "Selamanya."

Malam itu, mereka berbaring berdampingan di tempat tidur yang sama — tempat di mana dulu mereka saling memunggungi, saling menjauh, dan saling menyakiti. Namun malam ini, mereka berpelukan erat — Mo Ha memeluk tubuh Su Yi dari samping, tangan kiri melingkar di pinggang istrinya, sementara tangan kanan Su Yi diletakkan di dada suaminya, tepat di atas jantungnya yang berdetak tenang dan kuat.

"Su Yi..." bisik Mo Ha di keheningan malam yang damai.

"Ya?" jawab Su Yi pelan, matanya sudah mulai terpejam namun masih mendengarkan.

"Terima kasih," ucap Mo Ha tulus, suaranya penuh syukur. "Terima kasih karena menjadi istriku. Terima kasih karena menungguku. Dan terima kasih karena mencintaiku — meskipun aku terlambat menyadarinya."

Su Yi tersenyum dalam pelukannya, merapatkan tubuhnya lebih dekat lagi ke dada suaminya. "Terima kasih juga, Mo Ha. Terima kasih karena akhirnya membuka hatimu. Terima kasih karena akhirnya melihatku. Dan terima kasih karena memilihku — bukan karena kewajiban, bukan karena perjanjian, tapi karena cinta."

Mo Ha mencium ubun-ubun istrinya, lalu memejamkan matanya dengan hati yang penuh dan damai. "Tidurlah, Sayang. Kita punya banyak hari esok yang indah untuk dijalani bersama."

"Ya," bisik Su Yi pelan, suaranya semakin lembut karena kantuk. "Selamat tidur, Suamiku."

"Selamat tidur, Istriku. Dan selamat datang di kehidupan yang baru."

Malam itu, dua hati yang pernah terluka, pernah jauh, dan pernah kesepian akhirnya bersatu — bukan lagi karena perjodohan, bukan lagi karena kewajiban, melainkan karena cinta yang tulus, cinta yang sabar, dan cinta yang tak pernah benar-benar hilang meski sempat tertutup oleh kesalahpahaman dan kepura-puraan.

Dan di bawah langit malam yang penuh bintang itu, rumah besar itu tidak lagi dingin dan sepi. Ia kini menjadi rumah yang sesungguhnya — tempat di mana cinta tinggal, tempat di mana dua orang saling memiliki, dan tempat di mana kisah mereka baru saja dimulai — kisah tentang suami yang tak diinginkan, yang akhirnya menjadi suami yang paling dicintai di seluruh dunia.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!