NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:87.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Memilih Melangkah

Riva akhirnya berhenti membahas Aksa. Ia sudah hafal sifat Aynara. Kalau terus memaksa, ujung-ujungnya gadis itu pasti memilih diam atau malah mengusirnya dari ruangan.

Riva kemudian teringat sesuatu. "Oh iya!" serunya.

Aynara menoleh. "Apa lagi?"

"Interview kamu gimana? Diterima gak?" Riva menunggu jawaban dipenuhi rasa penasaran.

Aynara memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam wadah. "Diterima."

Riva langsung membulatkan mata. "Serius?"

"Iya," jawab Aynara. "Aku diterima sebagai sekretaris di bagian manajemen."

"Woah!" Riva berseru antusias. "Keren, Ra! Aku bilang juga apa."

Ia mengamati Aynara dari atas sampai bawah, lalu mengangguk-angguk sok serius.

"Kamu itu S2, nilaimu hampir sempurna, postur tubuh oke, wajah cakep..." Riva mengangkat kedua tangannya. "Mana mungkin gak diterima?"

Aynara mendengus. "Sudah gak usah banyak bacot. Cepetan ganti baju dan bantuin aku masak."

"Eh, tunggu!" Riva langsung menunjuk dirinya sendiri. "Cuma bantu masak dapat makan gratis? Kesempatan seperti ini gak akan aku lewatkan!" Ia buru-buru berlari kecil menuju kamarnya.

Aynara hanya bisa menggeleng pelan. "Dasar beo."

Namun beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis. Sejujurnya, kehadiran Riva yang berisik justru membuat apartemen itu terasa lebih hidup. Setidaknya, ia tidak lagi merasa sendirian.

Tak lama kemudian, Riva kembali mengenakan kaus lengan pendek dan celana pendek. Ia segera mengambil celemek yang tergantung di dekat dapur lalu memakainya.

"Udah siap!" serunya.

Ia berdiri di samping Aynara sambil melihat bahan-bahan makanan yang sudah tertata di atas meja.

"Aku harus ngapain?"

Aynara menunjuk beberapa sayuran. "Cuci itu."

Riva langsung mengambilnya. "Siap, Chef!"

Aynara terkekeh kecil.

Mereka baru saja mulai memasak ketika Riva tiba-tiba teringat sesuatu lagi. "Oh iya, Ra."

"Hm?" sahut Aynara tanpa menoleh.

"Langlang juga diterima, lho."

Gerakan tangan Aynara yang sedang memotong bawang berhenti sesaat. "Langlang?"

"Iya." Riva mengangguk. "Tadi aku sempat lihat namanya di daftar peserta yang lolos."

Aynara kembali memotong bawang. "Dia diterima di bagian apa?"

"Management trainee." Riva mengangkat satu jari. "Katanya hasil interview-nya bagus. Dengan gelar S2 dan nilai akademiknya, ya wajar sih."

Aynara mengangguk kecil. "Oh."

Hanya itu. Tidak ada wajah kecewa. Tidak ada senyum bahagia. Bahkan tidak ada rasa penasaran berlebihan.

Riva sampai menoleh. "Cuma 'oh'?"

Aynara mengangkat bahu. "Terus aku harus bilang apa?"

"Entahlah. Dulu kalian 'kan..."

Riva menghentikan ucapannya sendiri. Ia tahu hubungan Aynara dan Langlang pernah cukup dekat.

Aynara pun terdiam sejenak. Dulu, mendengar nama Langlang saja sudah cukup membuat hatinya berdebar. Namun sekarang, nama itu terasa berbeda.

Bukan karena ia membenci Langlang. Perasaannya hanya sudah tidak sama. Sejak menikah, Aynara sengaja menjaga jarak. Awalnya ia pikir perasaan itu akan tetap ada karena pernikahannya dengan Aksa sama sekali tidak dilandasi cinta.

Namun semakin lama, ia justru merasa semakin tidak nyaman ketika Langlang terus berusaha mendekatinya.

Mungkin karena sekarang ia sadar bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar. Atau mungkin...

Perasaannya memang sudah perlahan berubah.

"Baguslah kalau dia diterima," ucap Aynara akhirnya. "Berarti dia bisa mulai bekerja."

Riva memerhatikan wajahnya beberapa saat. "Kamu benar-benar gak apa-apa?"

Aynara menoleh. "Memangnya aku harus gimana?"

Riva mengangkat bahu. "Gimana pun dia 'kan mantan kamu."

Aynara tersenyum tipis. "Riv, masa lalu ya masa lalu. Sekarang kami cuma teman."

Riva tidak berkomentar. Ia hanya mengangguk pelan, kemudian kembali mencuci sayuran. "Ya sudah. Yang penting makan malam kita gak gosong."

Aynara terkekeh. "Itu baru masalah penting."

***

Keesokan paginya, Aynara dan Riva berangkat bersama menuju Aksara Group.

Aynara fokus mengemudi, sementara Riva duduk di kursi penumpang sambil terus mengoceh sejak mobil meninggalkan apartemen.

"Ra, aku masih gak percaya hidupku bisa berubah secepat ini."

Aynara melirik sekilas. "Berubah bagaimana? Jadi Power Rangers atau Ultraman?"

"Lah, malah bercanda. Aku serius ini."

Aynara mengulum senyum. "Iya, iya. Gak becanda lagi."

"Nah, gitu dong. Dengerin, ya. Dulu aku harus mikir keras tiap akhir bulan cuma buat bayar kontrakan. Sekarang?" Riva mengangkat kedua tangannya dengan bangga. "Aku punya sahabat seperti Dewi Fortuna!"

Aynara terkekeh.

"Dan kamu punya ibu mertua kayak ibu peri!" lanjut Riva penuh semangat. "Aku ikut kecipratan rezekinya."

"Jangan lebay."

"Ini bukan lebay. Ini fakta! Realita, Ra." Riva mulai menghitung menggunakan jarinya. "Aku gak perlu bayar kontrakan. Gak perlu pusing mikirin ongkos. Makan juga tinggal bantu masak. Cuci piring tinggal cuci. Baju tinggal masukin mesin. Beres-beres apartemen juga tinggal aku kerjakan."

Ia menoleh kepada Aynara. "Jadi kalau dipikir-pikir, aku ini bukan numpang."

Aynara mengerutkan dahinya. "Terus?"

"Ini namanya program pertukaran tenaga kerja dengan fasilitas premium."

Aynara langsung tertawa. "Program pertukaran tenaga kerja apaan?"

"Ya aku bantu pekerjaan rumah, kamu menyediakan tempat tinggal, makanan, dan fasilitas." Riva mengangguk mantap. "Kalau mau disebut mbabu juga aku gak keberatan. Mbabu sama teman sendiri, bukan sama majikan galak. Mana 'kan cuma pagi sama sore doang. Gak fulll seharian kayak di tempat lain."

Aynara menggeleng sambil tersenyum. "Kamu benar-benar gak punya malu."

"Ngapain malu? Aku malah untung." Riva menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. "Pokoknya mulai sekarang aku harus rajin. Jangan sampai Dewi Fortuna-ku berubah pikiran dan ngusir aku."

"Kalau kamu terus ngoceh begini, aku yang bisa berubah pikiran."

Riva langsung memasang wajah panik. "Jangan, Ra! Aku masih punya cicilan harga diri."

Aynara terkekeh lagi.

 

Begitu tiba di Aksara Group, Aynara memarkirkan mobil di area parkir karyawan. Mereka kemudian masuk ke lobby bersama.

Mereka kemudian masuk ke lobby bersama. Namun baru beberapa langkah, Riva tiba-tiba berhenti.

"Eh..."

Aynara ikut menoleh mengikuti arah pandangan Riva.

Di dekat meja resepsionis, seorang pria berdiri sambil berbicara dengan salah satu karyawan.

 

...🔸🔸🔸...

...“Tidak semua awal yang baru datang setelah kita siap. Terkadang, kita harus berani melangkah meski hati masih penuh luka. Sebab kehidupan tidak akan menunggu sampai kita benar-benar pulih untuk memberikan kesempatan berikutnya.”...

...“Ketika satu jalan tidak lagi bisa kita tempuh, jangan terus berdiri di persimpangan sambil menyesali arah yang telah berlalu. Beranilah memilih jalan lain, karena bisa jadi kebahagiaan yang kita cari memang menunggu di sana.”...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Regan yang sedang berada di taman rumah sakit, dadanya terasa nyeri sejak melihat Asti menangis.

Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.

Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.

Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.

Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.

Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Anonim
Berkas-berkas yang dibawa Gunadi untuk diperiksa Regan, sudah diperiksa semua.

Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.

Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.

Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.

Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Anonim
Regan ingin pulang, merasa sudah baik dan tidak ada keluhan apapun.

Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.

Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Anonim
Doni menyuruh seseorang mengunggah kecelakaan yang menimpa Aksa.

Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.

Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Anonim
Doni mengusik keluarga Wicaksono dengan menyuruh seseorang untuk menyebarkan kabar tentang kondisi Aksa Wicaksono setelah kecelakaan.

Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.

Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Doni nanti musuhnya Regan. G
Anonim
Gunadi sudah berada di ruangan dokter yang menangani Aksa.


Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.

Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.

Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.

Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.

Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.

Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Anonim
Andai kakek Wicaksono sadar dari koma, beliau pasti bisa langsung mengenali cucunya.

Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.

Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.

Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.

Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.

Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Anonim
Asti juga merasa ada yang janggal. Aksa aekarang seperti bukan dirinya.

Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Anonim
Aynara emosinya mudah tersulut setiap berada di dekat Aksa. Apalagi melihat wajah Aksa, ia langsung ingat semua perkataan yang sangat menyebalkan.

Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.

Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.

Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Anonim
Regan seperti tak habis pikir, Aynara bisa memaafkan Aksa.

Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.

Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.

Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.

Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.

Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Anonim
Aynara selesai mengetik nomornya di ponsel Regan. Untuk memudahkan berkomunikasi.

Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.

Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.

Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.

Aynara memaafkan Aksa.
Anonim
Aynara datang, Asti belum pergi.

Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.

Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.

Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.

Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.

Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.

Aynara menyelesaikan ceritanya.

Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Anonim
Regan dengan ponselnya menghubungi Joseph ketika Asti baru di dalam kamar mandi.

Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.

Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.

Juga tentang pekerjaan Aksa.

Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Anonim
Doni anaknya Ria, gundiknya ayahnya Aksa yang mencelakai Aksa ya.

Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Anonim
Mereka tahu kecelakaan cukup parah. Sopir meninggal di tempat. Mobil mengalami rusak parah.

Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.

Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Anonim
Siapa yang datang ?
Anonim
Regan diperiksa dokter - katanya dari pemeriksaan awal, ada tanda gangguan ingatan 😄. Padahal kenyataannya Regan akting mendalami 6perannya sebagai Aksa yang dia masih bingung mau bagaimana.

Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.

Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.

Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Anonim
Aynara memanggil dokter, yang tidak lama kemudian datang.

Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.

Bikin Asti khawatir saja nih.
Anonim
Regan mulai memainkan perannya sebagai Aksa yang bingung mau bicara apa.

Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.

Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.

Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.

Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.

Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.

Regan membuat hidupnya rumit sendiri.
Anonim
Regan memang pinter otaknya cerdas. Kalau tidak, mana mungkin dia dengan cepat bisa punya inisiatif memakai identitas Aksa yang kebetulan wajahnya mirip dengannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!