NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembar Proposal dan Retakan di Bawah Hujan

Rabu malam, hujan deras mengguyur kota tanpa ampun. Suara hantaman air di atas atap seng kamar Callista terdengar seperti irama musik latar yang menemani jemarinya yang terus menari di atas kibor laptop. Jarum jam dinding di kamarnya sudah menunjuk angka sepuluh malam.

Callista mengucek matanya yang terasa amat berat. Di layar monitor, draft proposal kegiatan Bulan Bahasa sudah mencapai halaman belas. Semua detail yang diminta Kenzo—mulai dari estimasi anggaran, jadwal acara, hingga pemetaan risiko—sudah ia susun sepresisi mungkin.

Ia meraih gelas mug berisi cokelat hangat yang sudah mendingin. Ingatannya melayang pada pesan Kenzo tadi sore lewat grup pengurus: "Draft harus dikirim ke email gue maksimal jam sebelas malam ini. Jangan ada typo."

"Dasar bos kecil," gumam Callista sambil menatap layar. "Lihat aja, Kenzo. Gue bakal bikin proposal ini sempurna sampai lo gak punya alasan buat ngerkritik."

Tepat pukul 22.45, Callista menekan tombol send di aplikasi emailnya. Ia menarik napas lega, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum puas. Tugas dari Kenzo selesai tepat waktu.

Namun, baru saja ia hendak mematikan laptopnya, ponsel di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk.

Kenzo: Draft proposal udah masuk. Gue periksa sekarang.

Callista membelalakkan mata. Jam segini dia masih belum tidur? batinnya heran. Tanpa sadar, tangannya bergerak cepat membalas pesan itu.

Callista: Lo gak tidur? Udah mau jam sebelas lewat.

Kenzo: Gue biasa tidur jam satu. Ada materi olimpiade yang harus dibaca. Makasih proposalnya. Gambar tata letak panggungnya rapi.

Callista menatap layar ponselnya dengan senyuman yang perlahan terkembang. Pujian singkat dari Kenzo entah kenapa terasa jauh lebih memuaskan daripada nilai seratus di kertas ujian. Ada rasa hangat yang aneh menyusup di tengah dinginnya malam berhujan itu.

Ia mengetik balasan lagi.

 Callista: Sama-sama. Jangan begadang terus, nanti muka lo makin kaku kayak kanebo kering.

Di sudut kamar yang berbeda di seberang kota, Kenzo yang sedang duduk di meja belajarnya yang rapi memegang ponselnya. Saat membaca balasan dari Callista, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus terukir di wajahnya yang biasanya dingin. Suara guyuran hujan di luar jendela rumahnya yang megah terasa tidak lagi sekaku biasanya.

Kenzo: Selamat tidur, Callista.

Callista memeluk ponselnya di atas dada, menatap langit-langit kamar dengan jantung yang berdegup sedikit lebih kencang. Ia tahu, perasaan ini berbahaya. Namun di bawah naungan hujan malam itu, rasa suka pada Kenzo perlahan mulai menancapkan akarnya.

Kamis pagi, hujan semalam menyisakan hawa sejuk dan genangan air di pelataran SMA Wijaya. Callista berjalan menyusuri koridor dengan langkah ringan, suasana hatinya sangat baik.

Saat melewati lapangan basket, ia melihat Sean sedang duduk sendirian di tribun penonton. Cowok itu mengenakan jaket olahraga, memangku bola basketnya sambil melamun menatap genangan air di tengah lapangan.

"Sean!" panggil Callista riang sambil berlari kecil menghampirinya.

Sean mendongak. Begitu melihat Callista, raut wajahnya yang tadinya murung langsung dipaksa tersenyum. "Pagi, Cal. Cerah amat mukanya."

"Muka gue kan emang selalu cerah!" kekeh Callista sambil duduk di samping Sean di tribun. "Lo kok melamun di sini? Gak masuk kelas? Bentar lagi bel lho."

"Lagi nyari angin aja," jawab Sean pelan. Matanya menatap Callista lekat-lekat, menyadari binar bahagia yang terpancar dari mata cewek itu. "Gimana proposal OSIS lo kemarin? Lancar?"

"Lancar banget!" sahut Callista penuh semangat. "Gue lembur sampai jam sebelas malam, dan tebak? Si Kenzo memuji gambar panggung gue! Gak nyangka kan si Kutub Utara itu bisa muji?"

Sean terdiam sejenak. Kata 'Kenzo' yang diucapkan Callista dengan nada berbinar itu rasanya seperti duri kecil yang menusuk dadanya pelan namun dalam.

"Bagus deh kalau lancar," tanggap Sean singkat. Tangannya mengelus permukaan bola basket di pangkuannya. "Cal... Sabtu sore besok lo ada acara gak?"

Callista menaikkan alisnya. "Sabtu sore? Kayaknya gak ada deh. Kenapa?"

Sean menoleh, menatap mata Callista dengan keseriusan yang jarang ia tunjukkan. "Ada pameran seni lukis di galeri kota. Lukisan-lukisan gaya klasik gitu. Gue udah dapet dua tiket dari sepupu gue. Gue mau ngajak lo ke sana. Mau?"

Mata Callista langsung membelalak gembira. "Serius?! Pameran seni lukis?! Mau banget, Sean! Wah, lo emang paling paham hobi gue!"

Melihat respon antusias Callista, senyum tulus Sean akhirnya kembali terpancar. "Oke. Sabtu sore habis dari Vihara, kita langsung berangkat ke sana ya."

"Siap!" seru Callista gembira.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Saat mereka berdua berjalan bersama menuju kelas Sepuluh-Tiga, Kenzo sedang berdiri di dekat pintu kelas bersama Bu Rita.

"Ah, Callista! Pas sekali kamu datang," sapa Bu Rita begitu melihat Callista.

Callista dan Sean menghentikan langkah.

"Ada apa, Bu?"

"Proposal Bulan Bahasa yang kamu buat bersama Kenzo semalam sudah diajukan ke kepala sekolah, dan beliau sangat terkesan," jelas Bu Rita tersenyum bangga. "Oleh karena itu, Sabtu sore besok jam empat, kalian berdua sebagai perwakilan tim penyusun harus ikut mendampingi Ibu dan Kepala Sekolah untuk presentasi di depan pihak sponsor di hotel pusat kota."

Deg.

Senyum di wajah Callista seketika luntur. Ia refleks menoleh pada Sean yang berdiri di sampingnya. Wajah Sean langsung berubah keruh, matanya menatap Callista dengan tatapan terluka yang membeku.

"Sabtu sore, Bu?" tanya Callista gagap. "Tapi... apakah tidak bisa diganti orang lain? Saya ada acara lain yang penting Sabtu sore besok."

Kenzo, yang sedari tadi diam, melangkah satu tindak ke depan. Matanya menatap Callista dingin, lalu beralih melirik Sean.

"Ini tugas resmi sekolah, Callista," potong Kenzo dengan suara berat dan tegas. "Sponsor utama kita butuh penjelasan detail soal rancangan panggung dan konsep acara yang lo buat. Kehadiran lo di sana sifatnya wajib sebagai penanggung jawab materi."

"Tapi Kenzo, gue udah ada janji—"

"Janji pribadi bisa ditunda," potong Kenzo lagi tanpa kompromi. "Tanggung jawab organisasi dan nama baik sekolah gak bisa dipertaruhkan cuma karena urusan personal."

Kata-kata Kenzo terasa sangat tajam dan profesional, menciptakan garis pemisah yang sangat tegas. Bu Rita mengangguk setuju. "Benar kata Kenzo, Callista. Ini kesempatan bagus untuk pengalaman kamu. Sabtu jam empat sore, kamu dan Kenzo berkumpul di sekolah dulu."

"Tapi Bu..." Callista mencoba memelas, namun Bu Rita sudah lebih dulu berbalik pergi menuju ruang guru.

Suasana di depan pintu kelas Sepuluh-Tiga mendadak hening dan mencekam. Callista menatap Sean dengan rasa bersalah yang luar biasa besar membakar dadanya.

"Sean... gue..." kata Callista terbata-bata.

Sean menatap Callista dengan senyuman pahit yang sangat menyayat hati. Ia meremas pelan tiket pameran seni di dalam saku jaketnya hingga kusut.

"Gak apa-apa, Cal," kata Sean pelan, suaranya terdengar sangat serak dan asing. "Gue paham kok. Tugas sekolah emang lebih penting."

"Sean, bukan gitu! Gue beneran mau ke pameran sama lo!" panggil Callista saat Sean mulai membalikkan badan dan berjalan menjauh meninggalkan koridor kelas.

"Sean!"

Callista hendak mengejar Sean, namun sebuah tangan menahan lengannya dengan cengkeraman yang mantap namun lembut.

Callista berbalik dan menatap Kenzo dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena marah dan bersalah. "Lepasin, Kenzo! Lo sengaja kan bikin jadwal ini Sabtu sore?!"

Kenzo tidak melepaskan genggamannya. Tatapan matanya yang tajam menatap Callista dalam-dalam, menyimpan sebuah riak emosi yang tak lagi bisa ia sembunyikan.

"Gue gak pernah sengaja, Callista," kata Kenzo pelan, suaranya bergetar tipis. "Jadwal dari sponsor emang Sabtu sore. Dan kalau lo mau marah sama gue karena profesionalitas kerja, silakan. Tapi gue gak bakal membiarkan lo lari dari tanggung jawab cuma buat pergi sama dia."

Dua pasang mata itu saling mengunci di depan pintu kelas. Di antara rasa bersalah pada Sean dan ketegasan Kenzo yang memikat, Callista sadar bahwa badai dalam hidupnya baru saja resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!