Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: JANGKAR DAN LANGKAH
"Selamat datang."
Sapaan sederhana itu perlahan mengurangi rasa gugup di hati Rangga.
Suasana makan siang berlangsung hangat. Ibu Sari berkali-kali menambahkan lauk ke piring tamunya, sementara Sari hanya tersenyum melihat ibunya begitu perhatian.
"Dimakan yang banyak, Nak," kata Ibu Sari.
"Terima kasih, Bu."
"Badannya kurus begitu pasti kebanyakan kerja."
Sari langsung menyahut sambil tertawa kecil.
"Nah, kan. Aku juga sering bilang begitu."
Rangga hanya bisa tersenyum malu.
Seusai makan, Sari membantu ibunya membereskan meja makan.
"Mas, ngobrol dulu sama Bapak, ya," ucapnya sebelum berjalan menuju dapur.
Kini tinggal Rangga dan Ayah Sari duduk berdua di teras rumah.
Angin pegunungan bertiup lembut, membawa aroma dedaunan yang basah.
Ayah Sari menyeruput teh hangatnya pelan sebelum akhirnya membuka percakapan.
"Rangga."
"Iya, Pak."
"Bapak senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu."
Rangga tersenyum sopan.
"Saya juga senang bisa berkunjung ke sini."
Ayah Sari mengangguk perlahan.
"Sari sering bercerita tentangmu."
Kalimat itu membuat Rangga sedikit kikuk.
"Bapak melihat kamu anak yang pekerja keras."
"Terima kasih, Pak."
"Merintis usaha dari nol bukan perkara mudah."
Rangga hanya mengangguk pelan. Semua perjuangan bertahun-tahun di Jakarta tiba-tiba kembali terlintas di benaknya.
Ayah Sari kemudian memandang ke arah taman kecil di depan rumah.
"Bunga-bunga itu dirawat sendiri oleh Sari."
Rangga ikut memandang.
"Indah sekali, Pak."
"Dia memang suka bunga."
Beliau tersenyum tipis.
"Katanya, bunga akan tumbuh cantik kalau dirawat di tempat yang tepat."
Rangga mengangguk tanpa mengetahui ke mana arah pembicaraan itu akan dibawa.
Sesaat kemudian, Ayah Sari kembali menatapnya.
Sorot matanya tetap hangat, tetapi kini terasa lebih dalam.
"Ada satu hal yang ingin Bapak sampaikan kepadamu..."
Ucapan itu membuat Rangga tanpa sadar menegakkan duduknya.
Ia belum mengetahui bahwa percakapan sederhana di teras rumah itu akan menjadi salah satu penentu arah hidupnya di masa depan.
Rangga tanpa sadar menegakkan posisi duduknya. Cangkir teh hangat yang sejak tadi berada di tangannya perlahan ia letakkan kembali di atas meja kecil di teras. Embusan angin pegunungan yang semula terasa menenangkan, kini seolah ikut membawa kegelisahan yang mulai merambat di dalam dadanya.
Ayah Sari tersenyum tipis, seolah memahami perubahan raut wajah pemuda di hadapannya.
"Tenang saja, Rangga. Bapak tidak sedang menginterogasimu."
Rangga ikut tersenyum kecil.
"Saya hanya sedikit gugup, Pak."
"Itu wajar."
Beberapa saat keduanya kembali terdiam. Mata Ayah Sari memandang hamparan perbukitan yang membentang di kejauhan.
"Bapak ini bukan orang kaya," ucapnya pelan. "Rumah ini juga sederhana. Tapi sejak dulu, Bapak selalu berusaha memberikan rasa aman untuk keluarga."
Rangga mengangguk penuh hormat.
"Saya bisa melihat itu, Pak."
"Sari tumbuh di rumah ini. Sejak kecil dia bukan anak yang suka meminta macam-macam. Bahkan kalau membeli baju baru pun harus dipaksa ibunya."
Mereka berdua tertawa kecil.
"Dia memang begitu, Pak."
"Karena itu..." Ayah Sari menarik napas panjang. "Harapan Bapak juga sederhana."
Beliau menoleh, menatap langsung ke mata Rangga.
"Bapak ingin suatu hari nanti Sari hidup bersama laki-laki yang mampu membuatnya merasa tenang."
Rangga memilih diam.
"Laki-laki yang pulang setiap sore dengan selamat."
"Laki-laki yang memiliki waktu untuk keluarganya."
"Dan laki-laki yang tidak terus-menerus mengejar sesuatu sampai lupa menikmati hidup."
Kalimat demi kalimat itu diucapkan tanpa nada menghakimi. Justru terdengar penuh kasih sayang seorang ayah kepada anak semata wayangnya.
Ayah Sari kembali menyeruput tehnya sebelum melanjutkan.
"Sari pernah bercerita tentangmu. Tentang bagaimana kamu merintis usaha dari bawah. Tentang perjuanganmu selama di Jakarta."
Beliau tersenyum bangga.
"Jujur, Bapak kagum."
Ucapan itu membuat Rangga sedikit lega.
"Tapi..."
Satu kata itu kembali membuat jantung Rangga berdegup pelan.
"Bapak juga melihat ada sesuatu di matamu."
Rangga mengernyit.
"Sesuatu?"
Ayah Sari mengangguk.
"Itu bukan mata orang yang sudah selesai mengejar mimpinya."
Rangga membeku.
"Tatapanmu masih seperti orang yang ingin berjalan sangat jauh."
Kalimat itu menghantam tepat ke dalam hati Rangga.
Seolah-olah lelaki tua di hadapannya mampu membaca seluruh isi kepalanya.
Rangga menundukkan pandangan.
Ia teringat malam-malam panjang ketika memandangi langit Jakarta.
Teringat rasi bintang Arkais yang selalu mengingatkannya bahwa perjalanan hidupnya belum benar-benar berakhir.
Ayah Sari tersenyum lembut.
"Bapak tidak mengatakan itu salah."
"Tidak juga mengatakan kamu harus berhenti bermimpi."
"Tapi setiap mimpi memiliki harga yang harus dibayar."
Beliau menatap ke arah pintu rumah, tempat Sari sedang membantu ibunya di dapur.
"Kalau suatu hari nanti Sari memilih berjalan bersamamu..."
"...apakah kamu yakin bisa memberinya kehidupan yang dia impikan?"
Pertanyaan itu membuat Rangga kehilangan jawaban.
Karena jauh di dalam lubuk hatinya...
Jawabannya adalah tidak.
Perjalanan pulang berlangsung jauh lebih sunyi dibanding saat mereka berangkat.
Sari beberapa kali mencoba membuka percakapan, menceritakan tingkah lucu ibunya ketika memasak atau kebiasaan ayahnya merawat bunga setiap pagi.
Rangga tetap mendengarkan.
Sesekali ia tersenyum.
Namun pikirannya masih tertinggal di teras rumah itu.
Ucapan Ayah Sari terus terngiang tanpa henti.
"Tatapanmu masih seperti orang yang ingin berjalan sangat jauh."
Kalimat sederhana itu terasa begitu jujur.
Sebab memang itulah dirinya.
Ia belum selesai.
Masih banyak mimpi yang ingin ia wujudkan.
Masih banyak tempat yang ingin ia datangi.
Masih banyak pembuktian yang ingin ia persembahkan untuk kedua orang tuanya di desa.
Sesampainya di depan kos Sari, hari mulai gelap.
Sari turun dari motor sambil melepas helmnya.
"Terima kasih ya, Mas."
"Iya."
"Senang sekali hari ini."
Rangga tersenyum.
"Aku juga."
Sari memandangnya beberapa detik.
"Semoga Bapak dan Ibu tidak terlalu banyak bicara aneh-aneh."
Rangga terkekeh pelan.
"Tidak. Mereka orang yang sangat baik."
Sari menghela napas lega.
"Syukurlah."
Sebelum masuk ke dalam kos, Sari sempat melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan."
"Iya."
Rangga membalas lambaian itu hingga sosok Sari benar-benar menghilang di balik pintu pagar.
Malam semakin larut.
Namun Rangga belum ingin kembali ke kontrakannya.
Ia justru mengarahkan motornya menuju ruko percetakan.
Di depan bangunan itu terdapat taman kecil yang beberapa waktu lalu mereka rapikan bersama.
Bunga-bunga mawar mulai bermekaran diterpa cahaya lampu jalan.
Rangga duduk sendirian di bangku semen.
Ponselnya bergetar pelan.
Sebuah pesan dari Sari muncul di layar.
Terima kasih ya sudah mau datang ke rumah hari ini. Hati-hati di jalan. Jangan lupa istirahat.
Tanpa sadar, Rangga tersenyum.
Sari memang wanita yang luar biasa.
Tulus.
Lembut.
Penuh perhatian.
Wanita seperti itu pantas memperoleh kebahagiaan yang utuh.
Namun justru karena itulah...
Rangga mulai takut.
Takut jika dirinya hanya akan menjadi orang yang menghadirkan penantian panjang.
Takut jika ambisinya membuat Sari harus mengorbankan impian sederhananya.
Ia mendongak ke langit.
Malam Jakarta tidak cukup cerah untuk memperlihatkan rasi bintang Arkais dengan jelas.
Namun Rangga tahu, bintang itu tetap berada di sana.
Seperti mimpi-mimpinya.
Masih bersinar.
Masih memanggilnya untuk terus melangkah.
Rangga menunduk memandangi bunga mawar yang tumbuh di samping bangku.
Senyum tipis menghiasi wajahnya, tetapi ada kepedihan yang ikut menyelinap di baliknya.
"Mungkin..." gumamnya lirih.
"Tidak semua bunga yang kita kagumi harus kita petik."
"Kadang... membiarkannya tetap mekar di taman adalah cara terbaik untuk menjaganya tetap indah."
Angin malam berembus pelan, menggoyangkan kelopak-kelopak mawar itu seolah menyetujui keputusan yang perlahan mulai tumbuh di dalam hati Rangga.