NovelToon NovelToon
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).

Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.

Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.

Sampai mereka tau sisi lainnya.

Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:

"Apa mau main?"

Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA BAB 35: PROPOSAL BONUS

SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA

BAB 35: PROPOSAL BONUS DAN STANDAR OPERASIONAL RINDU

Kue sus yang hangat itu meleleh manis di lidah Sinta. Rasa manis krim vanila yang pas—tidak berlebihan, persis seperti yang dulu ia sukai—seketika menyebarkan rasa hangat ke seluruh penjuru dadanya. Di seberang meja makan yang terbuat dari marmer putih berurat emas, Dean duduk tegak dengan sikap yang sempurna, namun matanya tak lepas dari pergerakan jemari istrinya yang memegang sendok kecil. Pria itu tidak menyentuh makanannya sendiri. Ia hanya memperhatikan Sinta dengan tatapan yang tenang, namun menyimpan kedalaman yang tak mudah dibaca.

"Kue susnya... kadar gula pas sekali, Mas," puji Sinta di sela kunyahannya, matanya menyipit manis. "Bahkan lebih enak dari yang dulu sering dibeli di kedai dekat kampus."

Dean mengangguk pelan, seolah angka kepuasan itu sudah masuk ke dalam database di kepalanya. "Koki pribadi telah mengacu pada data catatan rasa yang aku peroleh dari Ibu Aniswari saat masa perjodohan. Dosis gula disesuaikan 12 persen lebih rendah dari standar umum untuk mencegah lonjakan gula darah yang berlebihan. Sesuai dengan kebutuhan kalori harianmu."

Sinta menahan tawa. Tangan kanannya yang bebas dari sendok meraih gelas susu hangat, lalu menatap suaminya di balik pinggiran gelas. "Mas Dean... kadang aku bertanya-tanya, apakah di kepalamu itu ada ruang khusus buat menyimpan data-data kecil tentang aku? Atau aku cuma satu dari sekian banyak variabel yang harus dipantau kinerjanya?"

Pertanyaan itu terucap ringan, bercanda, namun ada sedikit keraguan halus yang terselip di baliknya. Selama ini Dean selalu bersikap begitu terukur, begitu terencana, begitu... terpisah dari perasaan. Sinta kadang bertanya-tanya apakah di balik semua perhatian terstruktur itu ada perasaan yang sungguh-sungguh hidup, ataukah ia hanya menjalankan prosedur sebagai seorang suami yang patuh.

Dean berhenti bergerak. Tatapan matanya yang tajam namun tenang mengunci pandangan Sinta sejenak. Ruang makan yang luas itu seketika hening, hanya terdengar suara detak jam dinding antik di sudut ruangan.

"Setiap orang adalah variabel yang unik, Sinta," jawab Dean akhirnya, suaranya rendah dan mantap, tanpa keraguan sedikit pun. "Namun data tentangmu... tidak tersimpan di bagian basis data. Data tentangmu tersimpan di bagian yang tidak bisa aku ukur dengan angka atau grafik apa pun."

Sinta terdiam, pipinya perlahan memerah merona hangat. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut pria yang biasanya hanya bicara soal efisiensi, target, dan evaluasi. Sederhana, tanpa hiasan kata-kata manis, namun menyentuh langsung ke titik terdalam di hatinya.

"Mas Dean..." bisiknya pelan, sendok di tangannya terhenti di udara.

"Nanti malam," lanjut Dean seolah mengabaikan reaksi istrinya, kembali pada nada bicara yang terstruktur namun dengan sudut bibir yang sedikit terangkat, "kamu menyebutkan akan mengajukan proposal tertulis untuk poin tambahan bonus. Batas waktu pengajuan adalah pukul dua puluh dua. Saya akan meninjau kelayakannya berdasarkan alasan yang kamu ajukan."

Sinta tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan punggung tangan. "Siap, Pak Direktur. Nanti malam saya susun naskah resminya lengkap dengan lampiran alasan dan manfaat jangka panjangnya."

Malam pun berganti, menyelimuti penthouse lantai atas itu dengan kegelapan lembut dan cahaya lampu kota yang berkelap-kelip di balik dinding kaca dari lantai hingga langit-langit. Setelah selesai dengan rutinitas malam, Sinta duduk di meja kerja kecil di sudut kamar utama, memegang pulpen di atas kertas memo berlogo Wijaya Group yang ia ambil dari tas kerja Dean.

Dengan wajah yang berusaha serius namun bibir yang menahan senyum, ia mulai menulis:

PROPOSAL PERMOHONAN POIN TAMBAHAN BONUS

Nama Pengaju: Sinta Aniswari Wijaya

Tanggal: Sesuai sistem kalender

Jenis Poin Tambahan: Satu kali ciuman selamat malam

Alasan:

1. Kinerja sebagai istri hari ini dinilai telah memenuhi seluruh indikator keberhasilan dengan skor 98,7%.

2. Konsumsi kue sus telah selesai dilaksanakan dengan kepatuhan penuh dan tingkat kebahagiaan emosional meningkat signifikan.

3. Kebutuhan afeksi adalah bagian dari kesejahteraan psikologis yang berdampak pada produktivitas hari berikutnya.

Manfaat Jangka Panjang:

4. Meningkatkan keharmonisan rumah tangga.

5. Menciptakan suasana tidur yang berkualitas.

6. Mencegah akumulasi rindu yang tidak tersalurkan.

Kesimpulan: Permohonan ini layak dipertimbangkan dan disetujui tanpa syarat. Hormat, Pemohon.

Sinta melipat kertas itu rapi, lalu menyelipkannya di atas bantal sebelah tempat Dean biasanya berbaring. Hati kecilnya berdebar-debar antara rasa gugup dan antusiasme yang menggemaskan. Bagaimana reaksi Dean nanti? Apakah dia akan membacanya dengan wajah serius? Atau sekadar tersenyum tipis lalu menolaknya dengan alasan yang masuk akal?

Belum lama berselang, pintu kamar terbuka perlahan. Dean melangkah masuk dengan piyama sutra berwarna gelap yang pas di tubuhnya, rambutnya yang basah menyisakan aroma sampo yang segar bercampur dengan wangi khas tubuhnya yang menenangkan. Begitu ia mendekati ranjang, mata tajamnya langsung menangkap lipatan kertas di atas bantalnya.

Dean mengangkat kertas itu, membacanya dari atas ke bawah dengan tatapan yang sangat serius. Sinta menahan napas di balik selimut, menarik selimut hingga sebatas dagu, menunggu keputusan sang "peninjau" dengan jantung yang berdegup kencang.

Detik demi detik berlalu terasa berabad-abad. Ekspresi wajah Dean tidak berubah—tetap datar, tenang, tak terbaca. Hanya setelah selesai membaca hingga baris terakhir, ia menurunkan kertas itu dan menatap istrinya yang sedang menatapnya penuh harap.

"Proposal ini diterima," ucap Dean datar, namun sorot matanya melembut luar biasa di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. "Namun ada catatan revisi pada bagian kesimpulan."

Sinta membelalakkan matanya. "Hah? Revisi? Bagian mana yang kurang tepat, Pak Peninjau?"

Dean duduk di tepi ranjang, tubuhnya berputar menghadap Sinta. Tangannya yang hangat dan kokoh mendarat di atas punggung tangan istrinya yang terbaring di atas selimut.

"Kalimat 'disetujui tanpa syarat' perlu diubah," jelas Dean dengan nada serius, namun sudut bibirnya mulai melengkung naik membentuk senyuman yang jarang terlihat namun sangat menawan. "Karena ada syarat tambahan yang tidak tertulis."

"Syarat apa?" tanya Sinta pelan, menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa kering saat menyadari betapa dekatnya wajah suaminya dengannya.

"Syaratnya..." Dean mendekatkan wajahnya, menurunkan keningnya hingga hampir menyentuh kening Sinta, suaranya berubah menjadi bisikan yang berat dan bergetar lembut, "...kamu juga harus merasakan hal yang sama. Bahwa rindu ini bukan sekadar variabel yang perlu dipenuhi, tapi sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan hanya dengan kata-kata."

Sebelum Sinta sempat memproses makna kalimat itu, bibir Dean sudah mendarat lembut di bibirnya—bukan ciuman yang mendesak atau menuntut seperti sore tadi, melainkan ciuman yang pelan, hangat, dan penuh perasaan yang selama ini tersembunyi di balik dinding keteraturan. Ada rasa rindu yang mendalam, ada rasa syukur, dan ada pengakuan sunyi bahwa bagi Dean, Sinta bukan sekadar istrinya. Dia adalah dunianya.

Ketika ciuman itu berakhir, dahi mereka masih saling menempel, napas mereka menyatu di udara yang hangat. Dean menatap mata Sinta yang berkilau berkaca-kaca.

"Dan untuk informasi kamu," bisik Dean, "setiap detik yang aku jauh darimu, efisiensi kerjaku menurun. Bukan karena gangguan, tapi karena aku merindukanmu. Itu bukan data, Sinta. Itu kenyataan."

Sinta merangkul leher suaminya, menariknya kembali ke dalam pelukan hangat, membiarkan rasa bahagia yang meluap memenuhi setiap ruang di dadanya. Di sana, di dalam pelukan pria yang unik ini, ia menyadari satu hal: cinta tidak selalu harus diucapkan dengan kata-kata yang indah. Kadang cinta hadir dalam bentuk kue sus yang kadar gulanya dihitung dengan presisi, dalam bentuk peraturan yang dibuat demi melindungi, dan dalam bentuk ciuman yang diajukan melalui proposal tertulis.

Malam itu, di bawah selimut sutra yang hangat, Dean menarik tubuh istrinya merapat ke dadanya, membiarkan detak jantungnya menjadi irama pengantar tidur yang paling menenangkan. Dan di sana, di antara setengah sadar dan setengah terjaga, Sinta mendengar bisikan halus suaminya yang menyusup ke telinganya:

"Proposal revisi telah disetujui. Berlaku efektif mulai sekarang. Dan besok... aku akan pulang lebih awal. Karena rinduku padamu ternyata tidak bisa ditunda sampai jam kantor berakhir."

 

...----------------...

...****************...

Yang nungguin Update karya novel ini..

Maaf ya Teman-Teman aku cibuk dan lupa

#PARK HA

1
𝐀⃝🥀Weny
pengorbanan seorang anak untuk keluarga 😊 kalau Sinta gak mau biar sama aku aja thor😂😂😂
𝐀⃝🥀Weny: yaah, jadi patah hati deh😂😂
total 2 replies
Park ha
libur dulu... gi gak ada ide wkwkwk🙏🤭
falea sezi
🤣🤣malu yeee q kirim hadiah biar up makin banyak🤣
falea sezi: lah kenapa libur thor🤭
total 2 replies
mamah fitrilia
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha
🤭🤭🤭
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
🤣🤣 lempeng amat pakk dean🤭
falea sezi
nyimak bagus q kirim hadiah nih
Lea
Lanjut 🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
mamah fitrilia
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
mamah fitrilia
wkwkwkw... asli ngakak dengan karakter pak Dean.. lucu banget sih ya🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭 jangan lupa like ya kak oh ya boleh kasih ulasan hehehe ... tar aku update sehari 1 bab dulu.. soalnya masih nulis yang Toxic and control juga...hehehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!