NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Konvoi kendaraan hitam melaju menembus malam. Gerimis yang turun kini berubah menjadi hujan deras yang mengguyur kaca mobil dengan dentuman keras secara beruntun.

Di dalam kabin belakang, atmosfer begitu kaku hingga udara terasa beracun. Nico duduk di sudut kanan, membisu bagaikan patung batu.

Matanya yang kelabu menatap lurus ke kegelapan di luar jendela, namun rahangnya mengeras rapat hingga otot-otot di pipinya menegang kaku. Tangan kanannya mengepal begitu kuat di atas paha, meninggalkan bekas kuku yang memutih di kulitnya.

Di sudut berseberangan, Sienna terbaring miring di atas jok kulit. Tubuhnya melingkar kaku bagaikan daun kering yang diterpa angin.

Wajahnya yang pucat pasi berlumur air mata yang belum mengering, sementara jemari tangannya terus gemetar memegangi lehernya yang memar merah, bekas cengkeraman kasar Nico di perpustakaan tadi.

Setiap kali mobil melewati lubang atau berbelok tajam, Sienna menahan rintihan kecil. Benturan keras pada dinding kayu perpustakaan mansion tadi membuat luka infeksi di dada kirinya yang belum sembuh total kembali terasa panas menyengat. Perban medis di balik sweter kremnya terasa lembap oleh darah tipis yang mulai merembes kembali.

Namun, rasa sakit di fisiknya tak sebanding dengan hancurnya dinding harapan yang baru saja terbangun tipis di dadanya.

Sienna memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan pecahan kaca dan bubuk mawar kering milik ibu Nico terus membayang di benaknya. Ia tidak berniat menghancurkan kenangan tersuci pria itu.

Ia hanya ingin melihat kotak kayu berukir mawar yang begitu mirip dengan barang pesanan yang pernah diceritakan ayahnya. Namun kini, ketidaksengajaannya telah memicu kembali seluruh binatang buas dendam di dalam diri Nicolas Vance.

Mobil meluncur memasuki garasi bawah tanah penthouse.

Mesin sedan hitam itu mati. Kesunyian garasi bawah tanah langsung menyergap.

Matteo membuka pintu belakang secara perlahan. Pengawal bertubuh tegap itu memandang Sienna dengan tatapan yang menyimpan rasa iba yang tak terucap, namun kewajibannya pada Nico mengalahkan segalanya.

"Tuan Nicolas... kita sudah sampai," ujar Matteo pelan.

Nico melangkah keluar lebih dulu tanpa memandang Sienna sedikit pun. "Bawa dia ke sel penyimpanan basemen. Kunci dari luar."

Sienna dipapah berdiri oleh dua pengawal bawahan Matteo. Kakinya yang gemetar nyaris tak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri. Setiap langkah menyeret di atas lantai semen basemen terasa bagaikan siksaan tak bertepi.

Pintu besi sel penyimpanan basemen, kamar dingin yang pernah mengurungnya sebelum insiden racun rumah sakit terdorong terbuka. Ruangan itu remang, hanya disinari oleh satu bohlam kuning redup di langit-langit yang berdebu.

Tempat tidur medis empuk dan fasilitas dokter telah diangkat bersih atas perintah Nico. Yang tersisa hanyalah sebuah dipan kayu telanjang tanpa kasur, lantai semen yang dingin, dan bau kelembapan yang mencekat paru-paru.

Sienna didorong masuk secara kasar hingga tersungkur di atas dipan kayu yang keras.

BRAK!

"Ugh..." Sienna memeluk dadanya, meringis kesakitan tatkala tubuhnya beradu dengan kayu keras dipan.

Pengawal melangkah mundur, lalu membanting pintu besi itu rapat-rapat.

KLANG!

Suara selot kunci besi yang diputar dari luar bergema keras, menyegel seluruh kebebasan Sienna ke dalam kegelapan dan kesunyian yang tegang.

Sementara itu, di lantai atas penthouse.

Kesunyian di ruang kerja pribadi Nico terasa membunuh. Pria itu berdiri di dekat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke hamparan lampu jalanan yang samar akibat terhalang hujan deras.

Di atas meja mahoninya, tergeletak gelas kristal berisi whisky amber yang tak tersentuh.

Nico mengepalkan jarinya pada tepi meja kayu tebal tersebut. Di dalam kepalanya, rasa sakit hati saat melihat hadiah untuk mendiang ibunya hancur di tangan anak Hans Sinclair membakar seluruh logika dan nuraninya. Segala rasa simpati dan keraguan tipis yang sempat muncul tadi pagi seketika hangus tanpa sisa.

"Tuan Nicolas," suara Matteo memecah kesunyian dari ambang pintu.

Nico tidak membalikkan tubuhnya. "Bagaimana keadaannya?"

"Luka di dada Nona Sienna tampaknya meregang kembali akibat benturan di perpustakaan tadi, Tuan," lapor Matteo kaku namun jujur. "Perawat Maya melaporkan bahwa Nona Sienna mengalami demam tinggi dan perbannya merembes darah. Apakah... apakah saya harus memanggil Dokter Leo kembali?"

Nico menyipitkan matanya tajam ke arah kegelapan malam di luar jendela. Hatinya yang keras membatu dipenuhi oleh kebekuan yang dingin.

"Tidak perlu," desis Nico kaku, suaranya dipenuhi oleh kekejaman tanpa ampun. "Biarkan dia merasakan sedikit dari rasa sakit yang diterima ibuku belasan tahun lalu. Jika dia belum mati, jangan panggil dokter."

Matteo menundukkan kepalanya rapat-rapat, mengerti bahwa membantah Nico di saat seperti ini adalah tindakan sia-sia. "Baik, Tuan. Saya mengerti."

"Satu hal lagi," tambah Nico tajam. "Lusa adalah jadwal persidangan pembekuan aset Liam secara pidana. Aku ingin kau memastikan seluruh bukti interogasi Arleen dan perawat rumah sakit itu diserahkan ke tim jaksa penuntut umum. Jangan biarkan Claudia menggunakan celah sekecil apa pun untuk menyelamatkan anaknya."

"Segera dilaksanakan, Tuan Nicolas."

Matteo membungkuk seraya membalikkan tubuh dan melangkah keluar, meninggalkan Nico sendirian di dalam kegelapan ruang kerja yang hampa.

Nico menuangkan whisky ke dalam gelasnya, lalu meminumnya dalam satu tegukan cepat. Rasa benci dan dendam yang membara di dadanya meyakinkan dirinya bahwa memperlakukan Sienna secara kejam adalah satu-satunya tindakan yang pantas.

Di dalam sel penyimpanan basemen.

Malam merayap makin larut menuju pukul tiga pagi. Hawa dingin dari lantai semen merayap menembus mantel dan sweter tipis yang dikenakan Sienna.

Gadis itu terbaring miring di atas dipan kayu keras. Tubuhnya gemetar hebat oleh demam tinggi yang membakar fisiknya. Napasnya terdengar patah-patah, dangkal, dan berat. Setiap helaan napas membuat dadanya terasa bagaikan ditusuk oleh ribuan jarum membara.

Dalam keremangan lampu bohlam kuning yang berkedip pelan, Sienna menatap dinding semen yang dingin di hadapannya.

Air mata yang mengering meninggalkan bekas lengket di pipinya yang tirus. Di dalam kesadaran yang perlahan meredup akibat rasa sakit dan demam, ingatan Sienna melayang kembali ke masa lalu, ke hari-hari ketika ia masih mendekam di sel tahanan remaja.

Sebelas tahun di balik jeruji besi di usianya yang masih sangat muda telah merenggut seluruh masa indahnya. Ia tidak pernah menikmati masa remaja, tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, tidak pernah tahu bagaimana rasanya dicintai atau dilindungi.

Dan ketika pintu sel itu akhirnya terbuka di usianya yang ke-24, dunia luarnya ternyata tidak lebih hangat dari penjara, ia hanya dipindahkan ke dalam sangkar emas yang dipimpin oleh seorang iblis berparas tampan bernama Nicolas Vance.

"Ayah..." bisik Sienna pelan, suaranya nyaris tak terdengar di tengah deru suara hujan di luar ventilasi atas. "Anna capek..."

Jemari tangan Sienna yang kurus memegang saku mantelnya. Di dalam saku itu, terselip buku catatan jadwal pengantaran harian milik ayahnya, satu-satunya benda peninggalan dari rumah tua yang sempat ia amankan sebelum Nico murka di perpustakaan.

Sienna mengeluarkan buku catatan kusam itu dengan gerakan yang sangat lambat dan gemetar. Dengan sisa tenaga dan penglihatan yang makin kabur oleh demam, Sienna membuka lembar demi lembar buku catatan sederhana tersebut.

Di sana, di lembaran-lembaran kertas yang lapuk dan berdebu, terekam bukti pengeluaran kecil ayahnya. Namun saat Sienna membalik ke lembaran paling belakang, lembaran yang selama ini terlipat dan terikat oleh benang tua, mata cokelat Sienna yang redup mendadak berhenti menatap.

Di halaman paling akhir buku catatan harian ayahnya, ada sebuah selipan kertas resep medis lusuh berstempel laboratorium rumah sakit swasta bertanggal dua minggu sebelum tragedi pembunuhan sebelas tahun lalu.

Sienna memfokuskan pandangannya yang makin buram.

Kertas resep medis itu bukan atas nama Hans Sinclair. Kertas itu adalah hasil analisis laboratorium darah atas nama Christina Vance.

Dan di bawah nama tersebut, tertulis catatan diagnostik khusus dengan tinta merah dari dokter pemeriksa, terdeteksi racun arsenik dosis rendah secara berkala dalam sampel darah pasien.

Jantung Sienna yang melemah mendadak berdenyut keras secara tak beraturan!

Darah di dalam tubuhnya seakan berhenti mengalir. Ibu Nico, Christina Vance ternyata sudah diracuni secara perlahan menggunakan arsenik dosis rendah minggu demi minggu sebelum malam penembakan tragis di halaman belakang itu terjadi.

Artinya, Christina Vance memang sudah ditargetkan untuk dibunuh jauh sebelum malam pesta ulang tahun tersebut. Dan penembakan di halaman belakang malam itu hanyalah eksekusi akhir yang tergesa-gesa, sebuah eksekusi yang kemudian mengorbankan ayahnya, Hans Sinclair, sebagai kambing hitam yang kebetulan berada di tempat kejadian.

Sienna mengepalkan jarinya pada kertas medis kusam tersebut, dadanya bergemuruh hebat oleh kenyataan mengerikan yang baru saja terungkap di depan matanya.

Siapa yang meracuni Christina Vance secara perlahan sebelum penembakan itu terjadi? Apakah itu Claudia Ophelia? Atau seseorang yang jauh lebih dekat dengan kehidupan Christina di dalam mansion megah keluarga Vance?

"P-penjahat sebenarnya... bukan ayahku dan aku..." bisik Sienna seraya memeluk kertas medis itu erat-erat di dadanya, air mata murni meluncur deras di pipinya. "Kami benar-benar tidak bersalah."

Namun rasa lega yang mendalam itu seketika tergerus oleh rasa panik dan hawa dingin yang makin menusuk.

Sienna sadar, jika Nico melihat kertas ini sekarang, pria itu hanya akan menganggap ini sebagai kebohongan atau rekayasa lain dari pihak Sinclair untuk membela diri.

Apalagi saat ini Nico begitu murka padanya. Sienna harus menyembunyikan bukti vital ini dengan rapat sampai ia menemukan waktu dan bukti pendukung yang lebih kuat.

Dengan jemari yang gemetar hebat dan kesadaran yang makin mengabur akibat demam tinggi, Sienna melipat kembali kertas medis berharga itu, menyelipkannya jauh ke dalam jahitan tersembunyi di lapisan dalam mantel cokelatnya.

Kondisi fisik Sienna yang kian memburuk membuat pandangannya mulai melembut dan membayang. Kepala Sienna terasa berputar hebat, napasnya makin sesak, dan rasa panas di dada kirinya menjalar ke seluruh tubuhnya. Buku catatan kusam milik ayahnya terlepas dari genggamannya, jatuh menimpa lantai semen di samping dipan kayu.

Sienna memejamkan matanya yang berat, pasrah tatkala kegelapan malam dan demam tinggi menyerap seluruh kesadarannya. Di dalam sel bawah tanah yang dingin dan gelap itu, tubuh kurus gadis itu terbaring kaku tak bergerak, tenggelam ke dalam pingsan yang panjang.

Sementara itu, pukul empat pagi.

Nico berdiri di koridor luar ruang kerja. Pria itu tidak bisa tidur sepanjang malam. Rasa kesal dan bayangan mawar kering yang hancur terus menghantuinya, namun ada sedikit rasa tidak tenang yang aneh dan tak mengenakkan merayap di dalam dadanya saat mengingat kondisi fisik Sienna yang membiru tadi.

Langkah kaki Nico secara tak sadar membawanya melangkah menuju tangga darurat yang mengarah ke basemen bawah tanah. Bukan karena ia luluh, melainkan karena ia tidak ingin tawanannya mati sebelum rasa dendamnya tuntas.

Pria bertubuh tinggi besar itu melangkah pelan di koridor basemen yang remang dan dingin. Suara sepatu kulitnya berderit di atas lantai semen.

Nico berhenti di depan pintu besi sel penyimpanan tempat Sienna dikurung.

Pengawal yang berjaga di dekat pintu langsung membungkuk hormat. "Tuan Nicolas."

Nico diam sejenak, menatap selot besi yang terkunci rapat dengan tatapan dingin. "Buka pintunya."

Pengawal itu dengan cepat mengambil kunci master, memutar selot besi dengan suara klang yang nyaring, lalu mendorong pintu besi itu terbuka pelan.

Nico melangkah masuk ke dalam ruangan yang redup dan berbau kelembapan itu.

Pandangan mata kelabunya langsung tertuju pada dipan kayu di sudut ruangan. Sienna terbaring miring di sana, sama sekali tidak bergerak atau terbangun oleh suara pintu yang dibuka. Wajah gadis itu luar biasa pucat, bibirnya yang pecah-pecah membiru, dan napasnya terdengar sangat tipis dan tersedat-sedat.

Nico mengerutkan dahinya, merasakan ada yang tidak beres. Pria itu melangkah mendekati dipan kayu, lalu menunduk dan menyentuh dahi Sienna dengan punggung tangannya.

Kulit dahi Sienna terasa amat sangat panas, sebuah demam membara yang berbahaya.

Nico tersentak kaku. "Sienna...?"

Tidak ada sahutan. Sienna tetap terbaring tak sadarkan diri, napasnya makin pendek dan lemah.

Saat itulah pandangan Nico tak sengaja jatuh pada lantai semen di dekat dipan kayu. Di sana, tergeletak buku catatan kusam milik Hans Sinclair yang terjatuh dari tangan Sienna.

Nico menatap buku catatan harian Hans Sinclair itu dengan tatapan penuh kebencian dan keharuan yang tertutup kemarahan. Pria itu mengambil buku catatan tersebut dengan kasar, menyimpannya kembali tanpa sempat memeriksa bagian paling dalam atau jahitan mantel Sienna tempat kertas resep medis tersembunyi. Bagi Nico, buku itu hanyalah pengingat akan pria yang ia benci.

Namun melihat kondisi Sienna yang kritis di depan matanya, amarah Nico berbenturan dengan rasa panik tersembunyi. Jika gadis ini mati sekarang di dalam sel, dendamnya tidak akan pernah terbayar tuntas.

"Kurang ajar..." desis Nico kaku, menatap wajah Sienna yang pucat pasi dalam pelukan hawa dingin sel basemen.

Nico menyambar tubuh kurus Sienna ke dalam pelukannya, mengangkat gadis yang pingsan itu dari dipan kayu kaku dengan kasar namun cepat, lalu berteriak dengan suara menggelegar ke arah koridor luar.

"MATTEO! PANGGIL DOKTER LEO SEKARANG JUGA!"

Di dalam sel bawah tanah yang dingin, Nico membawa Sienna keluar, tanpa menyadari bahwa sebuah rahasia besar tentang kematian ibunya kini tersimpan rapat di dalam saku mantel gadis yang terbaring lemah di lengannya.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!