NovelToon NovelToon
Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FERIVIKASI DIRUANG KACA

Mobil hitam dengan plat B 1234 XY sudah menunggu di pinggir trotoar Wijaya Tower tepat pukul tiga sore. Sopirnya, seorang pria paruh baya berjas rapi,pria itu langsung membukakan pintu saat aku mendekat. Aku masuk ke dalam tanpa ragu, tas jinjingku yang berisi buku catatan Fadli kuletakkan di pangkuanku.

"Selamat siang, Nyonya Siren," ucap sopir itu melalui kaca pembatas.

"Pak Hendra sudah menunggu di ruang verifikasi lantai 38."

"Terima kasih," jawabku singkat. Mataku tertuju pada jalanan Jakarta yang padat. Di kehidupan sebelumnya, aku selalu merasa cemas setiap kali naik mobil sendiri karena takut disusul atau dipantau orang Fadli. Tapi hari ini, perasaan itu hilang. Digantikan oleh ketenangan yang dingin dan terukur.

Sopir itu sepertinya ingin bertanya sesuatu, tapi ia menahan diri. Hanya sesekali matanya melirik ke spion tengah, mengamati ekspresiku. Aku tahu dia penasaran. Siapa wanita bermantel merah yang datang sendirian ke Wijaya Group untuk bertemu kepala intelijen? Tapi kesopanan profesional membuatnya tetap diam.

Aku menghargai keheningan itu. keheningan yang Memberiku waktu untuk menyusun kalimat, mempersiapkan mental, dan mengingat kembali setiap detail dalam buku catatan kecil di pangkuanku. Buku itu berat, bukan karena fisiknya, tapi karena beban dosa dan kejahatan yang tersimpan di dalamnya.

Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di area parkir bawah tanah Wijaya Tower. Pintu terbuka lagi.

"Nyonya, silakan ikuti saya," ucap sopir itu sambil menunjuk lift khusus yang hanya bisa diakses dengan kartu akses.

Aku mengangguk, melangkah masuk ke lift. Lantai 38. Angka itu bersinar merah di panel tombol. Lift naik dengan mulus, sunyi senyap. Saat pintu terbuka, koridor lantai 38 tampak berbeda dari lantai lain. Lebih sepi. Lebih steril. Dindingnya dilapisi panel akustik berwarna abu-abu gelap, dan tidak ada jendela sama sekali. Ini adalah zona aman. Zona rahasia.

Seorang pria tinggi kurus dengan kacamata bingkai tipis berdiri menunggu di ujung koridor. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, celana bahan gelap, dan sepatu pantofel yang mengkilap. Wajahnya biasa saja, tapi matanya... matanya tajam seperti pisau bedah. Itu Pak Hendra.

"Selamat siang, Nyonya Siren," sapanya, suaranya datar tanpa basa-basi. Ia tidak menjabat tanganku.melainkan Langsung berbalik dan berjalan menuju sebuah ruangan di ujung koridor. "Silakan masuk."

Aku mengikuti langkahnya. Ruangan itu luas, dindingnya seluruhnya terbuat dari kaca satu arah. Di tengahnya terdapat meja panjang dengan dua kursi. Di atas meja, sudah tersedia laptop, printer, dan beberapa folder tebal. Tidak ada hiasan. Tidak ada tanaman. Hanya peralatan kerja dan dokumen.

"silahkan Duduk, Nyonya," ucap Pak Hendra sambil menunjuk kursi di seberangnya. Ia sendiri duduk di sisi lain, membuka laptopnya dengan gerakan cepat dan efisien.

"Tuan Arya sudah memberi tahu saya tentang pertemuan pagi tadi. Saya akan memverifikasi klaim Anda hari ini juga. Prosesnya mungkin memakan waktu beberapa jam. Apakah Nyonya keberatan?"

"Tidak sama sekali, Pak Hendra," jawabku sambil meletakkan tas di atas meja.

"Saya justru berharap prosesnya Semakin detail verifikasinya, semakin kuat fondasi kemitraan kita nanti."

Pak Hendra menatapku sekilas, lalu mengangguk pelan. Sepertinya ia terkesan dengan jawaban itu. Banyak orang yang datang ke ruangan ini biasanya gugup, defensif, atau malah terlalu percaya diri. Tapi aku datang dengan sikap yang tenang dan kooperatif. Itu penting. Karena kepercayaan bukan dibangun dari janji manis, tapi dari konsistensi perilaku.

"Baik," ucapnya, jari-jarinya mulai menari di keyboard.

"Mari kita mulai dengan hal paling dasar. Buku catatan yang Nyonya bawa. Bisakah saya melihatnya?"

Aku mengeluarkan buku catatan kecil berwarna coklat tua dari tas, lalu mendorongnya perlahan ke arahnya.

"Halaman pertama berisi daftar rekening bank pribadi Fadli yang tidak tercatat di laporan keuangan perusahaan. Halaman kedua sampai kelima berisi jadwal pertemuan rahasianya dengan Nia, lengkap dengan nama hotel, nomor kamar, dan durasi. Halaman enam sampai sepuluh berisi daftar klien gelap dan nominal suap yang diterima Fadli selama dua tahun terakhir."

Pak Hendra menerima buku itu dengan hati-hati, seolah sedang memegang bom. Ia membukanya pelan, matanya menyapu halaman demi halaman. Ekspresinya tidak berubah. Tetap datar. Tapi aku memperhatikan bagaimana jemarinya berhenti sejenak di halaman ketiga, lalu bergeser lebih cepat di halaman tujuh. Artinya, ada pola yang ia kenali. Ada koneksi yang mulai terbentuk di pikirannya.

"Ini tulisan tangan Tuan Fadli?" tanyanya setelah beberapa saat, matanya masih tertuju pada halaman ketujuh.

"Ya," jawabku.

"Saya mengenal tulisannya sejak lima tahun menikah. Dan saya juga mengenal pola pikirnya. Setiap kali dia mencatat sesuatu yang sensitif, dia selalu menggunakan singkatan yang hanya dia dan Nia yang paham. Misalnya 'GM' di halaman empat bukan General Manager, tapi Grand Mercure. 'NT' di halaman sembilan bukan Nama Teman, tapi Nia Tanjung."

Pak Hendra mendongak, menatapku dengan tatapan baru. Kali ini ada rasa hormat di sana. Bukan karena aku istri manajer, tapi karena aku pengamat yang teliti.

"Singkatan itu..." gumamnya, lalu mengetik sesuatu di laptop.

"Sudah kami identifikasi sebelumnya dalam investigasi internal PT Surya Global. Tapi kami tidak pernah bisa memecahkan kodenya karena tidak punya konteks personal. Nyonya memberikan konteks itu."

"Saya hidup bersama pemilik kode itu selama lima tahun, Pak Hendra," balasku tenang.

"Setiap kebiasaan kecilnya, setiap cara dia menyembunyikan sesuatu, saya hafal di luar kepala. Dulu, pengetahuan itu membuat saya sakit. Sekarang, pengetahuan itu menjadi aset."

Pak Hendra mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya. Ia memindai halaman-halaman buku catatan itu ke sistem, mencocokkannya dengan database internal Wijaya Group. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara ketikan keyboard dan dengungan halus AC. Aku duduk diam, tidak gelisah, tidak mencoba mengisi keheningan dengan obrolan kecil. Aku tahu Pak Hendra tipe orang yang fokus pada data, bukan basa-basi. Dan aku menghormati itu.

Dua jam berlalu. Pak Hendra akhirnya menutup laptopnya, lalu menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Verifikasi tahap satu selesai," ucapnya.

"Informasi dalam buku catatan ini valid. Rekening-rekening yang Nyonya sebutkan memang ada, dan transaksi-transaksinya cocok dengan pola aliran dana mencurigakan yang telah kami lacak selama delapan bulan terakhir. Jadwal pertemuan dengan Nia juga sesuai dengan data CCTV dan reservasi hotel yang kami peroleh dari sumber eksternal."

Aku menarik napas pelan. Bukan lega, tapi puas. Validasi ini penting. Bukan untuk membuktikan bahwa aku benar, tapi untuk membuktikan bahwa aku layak dipercaya.

"Lalu?" tanyaku, suaraku tetap stabil.

"Lalu," lanjut Pak Hendra,

"ada satu anomali. Halaman kesepuluh. Daftar klien gelap. Tiga dari lima nama di sana adalah perusahaan yang secara legal dimiliki oleh holding company berbeda. Tapi struktur kepemilikannya... terlalu mirip dengan pola yang digunakan Tuan Arya untuk mengakuisisi perusahaan target. Nyonya tahu mengapa?"

Aku tersenyum tipis. "Karena Fadli belajar dari Tuan Arya. Dia mengagumi metode akuisisi Tuan Arya, tapi tidak memiliki integritas untuk melakukannya secara legal. Jadi dia meniru strukturnya, tapi menggunakannya untuk mencuci uang suap. Ironisnya, dia menggunakan playbook Tuan Arya untuk menghancurkan reputasi Tuan Arya sendiri."

Pak Hendra terdiam. Matanya menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku masuk ruangan ini, bibirnya membentuk senyum samar.

"Tuan Arya benar," ucapnya pelan.

"Nyonya bukan sekadar istri yang terluka. Nyonya adalah analis yang brilian."

Ia berdiri, berjalan menuju lemari besi di sudut ruangan, membuka pintunya, dan mengeluarkan sebuah tablet. Ia meletakkannya di depanku.

"Ini akses terbatas ke server intelijen Wijaya Group," ucapnya.

"Hanya berlaku untuk proyek ini. Nyonya bisa mengakses data aliran dana Fadli, struktur kepemilikan perusahaan Nia, dan pola komunikasi mereka selama enam bulan terakhir. Semua data real-time. Tapi ingat, Nyonya hanya bisa melihat. Tidak bisa mengunduh, tidak bisa mencetak, tidak bisa membagikan. Setiap akses akan tercatat dan diaudit."

Aku mengambil tablet itu, merasakan bobotnya di tangan. Bukan bobot fisik, tapi bobot tanggung jawab. Bobot kepercayaan.

"Saya mengerti, Pak Hendra," ucapku serius.

"Dan saya berjanji akan menggunakannya hanya untuk tujuan yang telah disepakati."

Pak Hendra mengangguk. "Satu hal lagi, Nyonya. Tuan Arya meminta saya menyampaikan pesan pribadi."

Aku mengangkat alis, penasaran. "Pesan apa?"

"Dia bilang," ucap Pak Hendra, meniru nada suara Arya dengan akurat,

"Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Verifikasi ini bukan ujian. Ini adalah fondasi. Dan fondasi yang kuat butuh waktu.'"

Aku terdiam sejenak. Kalimat itu sederhana, tapi maknanya dalam. Arya tidak hanya memberiku akses data. Dia juga memberiku izin untuk bernapas. Untuk tidak merasa harus membuktikan diri setiap detik. Itu... berarti banyak.

"Sampaikan terima kasih saya kepada Tuan Arya," ucapku akhirnya, suaraku lebih lembut dari sebelumnya.

"Dan sampaikan bahwa fondasi ini akan saya jaga sebaik-baiknya."

Pak Hendra mengangguk, lalu kembali ke kursinya.

"Sekarang, mari kita bahas langkah selanjutnya. Berdasarkan data yang sudah diverifikasi, ada tiga titik lemah dalam jaringan Fadli yang bisa kita eksploitasi dalam dua minggu ke depan. Pertama..."

Dan, kami menghabiskan sisa sore itu membahas strategi. Bukan sebagai atasan dan bawahan. Bukan sebagai pria dan wanita. Tapi sebagai dua profesional yang saling menghormati, saling melengkapi, dan sama-sama berkomitmen pada satu tujuan: menghancurkan korupsi dari dalam, dan membangun sesuatu yang bersih di atas puing-puingnya.

Saat matahari terbenam dan cahaya oranye menyelinap lewat celah tirai, aku menyadari satu hal. Aku tidak lagi sendirian. Aku punya sekutu. Aku punya peta. Dan aku punya api yang tidak akan pernah padam.

Permainan baru saja memasuki babak kedua. Dan aku siap.

BANTU LIKE KOMENT YA AGAR NOVELNYA BERKEMBANG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!