Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 PUTUS ASA
Bilah besi hitam milik Mu Jin meraung memotong udara, meninggalkan jejak angin kencang yang menghantam wajah Feng Xiao. Darah kental menetes dari pelipis Feng Xiao, menodai gaun sutra putihnya yang kini robek di beberapa tempat.
Mu Jin tidak memberi jeda sedikit pun. Meskipun seluruh tubuhnya bersimbah darah dari belasan luka tebasan, gerakan tukang kayu itu justru makin presisi dan berbahaya. Dia membumi, memanfaatkan setiap jengkal berat badannya untuk melancarkan tebasan beruntun. Lurus, mendatar, dan menyilang.
BRAK!
Satu benturan keras membuat pedang giok Feng Xiao terlempar miring. Kaki Feng Xiao tersandung batu tebing, membuatnya kehilangan keseimbangan. Untuk pertama kalinya, mata ahli beladiri elit itu memancarkan ketakutan yang nyata saat menatap mata Mu Jin yang kosong tanpa rasa takut mati.
Mu Jin mengangkat pedang besinya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, memutar pinggulnya penuh untuk melancarkan tebasan pemungkas lurus ke kepala Feng Xiao.
“Jangan berenang di atas kepala musuhmu, Cacing!” jerit Feng Xiao penuh kepanikan dan kegilaan.
Di detik terakhir sebelum besi hitam itu meremukkan tengkoraknya, Feng Xiao melepaskan seluruh kendali qi internalnya.
BOOM!
Sebuah pusaran tenaga dalam berwarna biru gelap meledak dari dalam tubuh Feng Xiao. Gelombang qi yang sangat masif menghentak udara di sekitarnya, menghentikan laju pedang tebal Mu Jin di udara. Pukulan tekanan tenaga dalam itu menghantam dada Mu Jin bagai hantaman godam raksasa.
CRACK!
Tulang dada Mu Jin patah seketika. Tubuhnya yang tak terlindungi pelindung qi terlempar ke udara, melayang beberapa meter sebelum menghantam batu cadas dengan keras. Pedang besi hitamnya terlepas dari genggaman, jatuh berdentang di tanah.
Mu Jin memuntahkan sekantong darah kental yang membasahi tanah. Pandangannya berbayang, suaranya tercekat di tenggorokan saat paru-parunya hancur. Tanpa tenaga dalam, perbedaan antara manusia biasa dan ahli beladiri tingkat atas terasa begitu kejam saat qi benar-benar dilepaskan.
Feng Xiao bangkit berdiri perlahan sambil mengusap darah di pelipisnya. Dadanya naik turun memburu, matanya merah dipenuhi rasa malu yang teramat sangat karena dipaksa menggunakan seluruh qi-nya hanya untuk menumbangkan seorang tukang kayu.
“Menjijikkan,” desis Feng Xiao, melangkah mendekati Mu Jin yang terkulai tak berdaya. Dia menendang perut Mu Jin hingga tubuh pria itu terseret ke pinggir jurang terjal.
Di bawah jurang itu, berkabut tebal dan dalam, terbentang Lembah Taring Merah, wilayah liar perbatasan yang dipenuhi sarang serigala es dan binatang buas berdaging pembawa racun. Tidak ada manusia yang pernah selamat setelah jatuh ke sana.
“Lain kali, ketahuilah tempatmu di dunia ini, Cacing,” kata Feng Xiao dingin.
Dengan satu tendangan kejam, Feng Xiao melempar tubuh Mu Jin yang bersimbah darah melintasi pembatas tebing.
Tubuh Mu Jin melayang jatuh, menembus gulungan kabut tebal dan kegelapan jurang yang menganga lebar di bawahnya. Suara raungan binatang buas dari dasar lembah samar-samar bergema menyambut kejatuhannya, meninggalkan pedang besi hitamnya sendirian di atas tanah tebing yang berdebu.
***
Kabut tebal Lembah Taring Merah menyelimuti keheningan yang mematikan. Di dasar jurang yang terjal, tubuh Mu Jin terbaring di atas hamparan salju tipis yang ternoda merah. Rasa dingin yang merayap bukan lagi sekadar hawa utara yang membekukan kulit, melainkan hawa kematian yang perlahan memadamkan kesadarannya.
Setiap helaan napas terasa bagai belati yang menusuk dada. Tulang rusuknya hancur, dan lengan kirinya tertekuk ke arah yang salah, patah terhempas cadas saat jatuh tadi. Di sekelilingnya, tidak ada pedang besi hitam, tidak ada kayu jati untuk dibelah, dan tidak ada dinding batu untuk bersandar. Hanya ada tebing tegak lurus yang menjulang tinggi, mustahil untuk dipanjat bahkan oleh seorang pendekar terlatih, apalagi oleh tubuh yang telah remuk.
Srrr... srrr...
Suara gesekan langkah kaki di atas salju terdengar mendekat.
Tiga ekor serigala es berbulu abu-abu kusam melangkah keluar dari kegelapan kabut. Mata merah mereka berkilat kelaparan, mengendus bau darah segar yang mengucur dari tubuh Mu Jin. Salah satu dari mereka merengut pelan, meneteskan air liur beracun yang melelehkan salju di bawah kakinya.
Putus asa.
Untuk pertama kalinya sejak Lembah Nian dibakar, rasa putus asa yang begitu pekat merayap naik dan mencekik dada Mu Jin. Dia tidak bisa berdiri. Dia tidak punya senjata. Dia hanyalah seonggok daging hancur di dasar jurang yang terlupakan, menunggu untuk dicabik dan dibagikan di antara binatang-binatang buas.
Apakah ini akhirnya? pikirnya. Hanya sampai di sini seorang tukang kayu melangkah?
Pendekar Suci Lu Chen masih duduk nyaman di atas takhta Puncak Awan Putih, dipuja sebagai pahlawan suci. Feng Xiao baru saja melangkah pergi dengan tawa ejekan, yakin bahwa sang cacing tanah telah mati membusuk di dasar lembah. Mereka akan terus bernapas, terus tersenyum, dan terus membantai desa-desa lain tanpa pernah membayar satu tetes pun air mata dari orang-orang yang mereka hancurkan.
Tidak.
Sebuah letupan amarah yang liar mendadak meledak dari dalam rongga dada Mu Jin yang remuk. Dendam itu bukan lagi sekadar api, melainkan racun pekat yang mematikan rasa sakitnya.
Saat serigala pertama melompat maju untuk menerkam lehernya, Mu Jin tidak memejamkan mata.
Dengan sisa tenaga dari tangan kanannya yang masih utuh, Mu Jin mencakar tanah bernoda es, memutar tubuhnya yang hancur secara paksa. Dia mengabaikan jeritan dadanya yang patah. Saat moncong serigala itu berada beberapa inci dari wajahnya, Mu Jin tidak memegang pedang. Dia menggunakan rahangnya sendiri.
CRUNCH!
Mu Jin menggigit tenggorokan serigala itu dengan seluruh kekuatan giginya.
Darah hangat dan berbau amis menyembur membasahi mulut dan tenggorokan Mu Jin. Serigala itu melolong kesakitan, meronta-ronta mencakar dada Mu Jin, namun Mu Jin tidak melepaskannya. Dia menggigit semakin dalam, mengunyah, dan merobek daging binatang itu bagai monster kelaparan. Rasa dendam telah merenggut sisa kemanusiaannya.
Dua serigala lainnya tertegun sejenak melihat kawan mereka dicengkeram oleh kegilaan manusia yang seharusnya sudah jadi mayat.
Dengan napas memburu dan bibir yang bersimbah darah binatang, Mu Jin menyapu salju dengan lengan kanannya, melempar serpihan es dan tanah kotor ke arah mata dua serigala yang tersisa. Dia menyeret tubuhnya di atas salju menggunakan satu tangan dan lututnya yang memar, mencakar apa saja. Batu tajam, dahan rapuh, dan tanah beku.
Dia harus hidup.
Biarlah dia merayap di dalam kegelapan tergelap ini. Biarlah dia makan daging mentah dan minum darah liar di dasar jurang. Apa pun yang terjadi, sekecil apa pun napas yang tersisa, dia tidak akan mati sebelum wajah Lu Chen terbelah di hadapannya.
Sementara itu, jauh di atas tebing terjal, Feng Xiao melangkah pergi meninggalkan batas jurang sambil menyarungkan pedang gioknya. Tanpa melirik ke bawah sekali pun, sang ahli beladiri tersenyum puas, yakin bahwa cacing tanah dari Lembah Nian itu telah menjadi bangkai yang tak berarti.