NovelToon NovelToon
JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: silasepentin

Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.

Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.

Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: GEMA DILATASI WAKTU DAN JEJAK LENTERA GANESHA

Bagian I: Garis Awal di Kota Parahyangan

Kota Bandung di penghujung tahun 2026 menyapa dengan suhu empat belas derajat Celsius yang menusuk hingga ke tulang. Gerimis tipis yang mengguyur kawasan Dago sejak tengah malam meninggalkan genangan air memantulkan pendar lampu jalan dan baliho raksasa di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda. Udara pagi membawa aroma khas tanah lembap berpadu dengan wangi kayu pinus dan asap tipis dari kedai kuliner pagi yang mulai membuka tirai bambunya.

Di lantai dua sebuah kontrakan berarsitektur kolonial di daerah Sekeloa, bunyi dentang sendok yang mengaduk cangkir keramik memecah keheningan subuh.

Devan Adhitama menyandarkan bahunya pada kusen pintu dapur yang terbuat dari kayu jati tua. Ia mengenakan kaus polo hitam polos dengan celana training panjang, memegang cangkir berisi teh chamomile hangat. Pandangannya tertuju pada meja makan kayu berukuran sedang di sudut ruangan.

Di sana, Raina Natasya duduk membelakanginya. Rambut hitam sebahu milik Raina terikat rapi ke belakang, memperlihatkan tengkuknya yang jenjang. Ia mengenakan kemeja katun garis-garis biru muda dengan lengan yang digulung hingga ke siku. Di atas meja, tiga buah monitor eksternal terhubung ke laptop utamanya, menampilkan lembaran simulasi dinamika fluida, grafik regresi non-linier, dan deretan kode pemrograman Python untuk pemodelan reaktor kimia.

Devan melangkah pelan tanpa suara, menghentikan langkahnya tepat di belakang kursi Raina. Ia meletakkan cangkir teh hangat itu di sisi kanan tatakan tetikus Raina, lalu membungkuk sedikit, menempelkan dagunya di bahu kiri gadis itu.

"Empat jam berturut-turut di depan layar, Bu Wakil," bisik Devan pelan. Suaranya berat khas bangun tidur, namun dipenuhi kehangatan murni. "Jam digital di dinding bahkan belum menyentuh angka enam pagi."

Raina menghentikan ketukan jarinya di atas papan ketik. Ia tidak terkejut; aroma sabun mandi dan minyak kayu putih khas Devan sudah lebih dulu memberitahu kedatangan cowok itu. Raina memiringkan kepalanya sedikit, menyentuhkan pipinya ke pipi Devan yang terasa dingin oleh udara subuh.

"Satu iterasi simulasi lagi selesai, Devan," balas Raina lembut, menyunggingkan senyum tipis seraya menunjuk salah satu grafik di layar yang baru saja menyelesaikan pemrosesannya hingga angka seratus persen. "Data sintesis katalis heterogen ini harus dikirim ke Profesor Handoko sebelum seminar departemen jam delapan nanti. Kalau parameternya bergeser nol koma nol satu persen saja, neraca energinya langsung deviasi."

Devan melirik angka-angka rumit di layar monitor, lalu menghela napas panjang—sebuah hembusan napas yang membawa rasa kagum sekaligus perhatian yang tak pernah surut.

Ia meraih tangan kanan Raina yang masih memegang tetikus, menggenggam jemari yang kini melingkar manis sebuah cincin perak berukir grafik matematika dan garis bola basket. Devan membawa jemari itu ke bibirnya, mengecupnya lembut di antara ruas-ruas jari.

"Ingat janji kita waktu wisuda dua bulan lalu?" ujar Devan seraya menegakkan tubuhnya, lalu mengambil kursi kayu di sebelah Raina dan duduk di sana. "Peraturan nomor satu: sehebat apa pun simulasi reaktormu, sarapan dan istirahat sepuluh menit setiap dua jam itu hukumnya wajib. Kamu gak mau kan aku panggil Pak Hendra dari Semarang buat menasehati Ketua Himpunan Alumni Kimia ini?"

Raina tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang seketika mencairkan keseriusan ruangan berpendingin alami itu. Ia melepaskan kacamata tipisnya, mengusap kelopak matanya yang sedikit lelah, lalu menatap Devan dengan pendar mata jernih yang amat dicintai cowok itu.

"Kamu selalu punya cara buat membawa aku kembali ke bumi, ya," kata Raina, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Bagaimana persiapan latihanmu hari ini? Bukannya tim pelatih Pelatnas SEA Games minta kamu sudah ada di GOR Bandung jam tujuh?"

Devan melirik jam tangannya, lalu tersenyum percaya diri. Ia meraih cangkir tehnya, menyesapnya perlahan sebelum menjawab, "Tas latihan sudah siap di dekat pintu. Sepatu basket baru pemberianmu sudah dirawat dengan spray pelindung air. Dan yang paling penting..." Devan memajukan tubuhnya, menatap mata Raina rapat-rapt, "...energi utamaku sudah terisi penuh cuma dengan melihat kamu senyum pagi ini."

"Gombalan mahasiswa Teknik Industri ternyata makin meningkat setelah pegang gelar Cum Laude," cetus Raina dengan nada berpura-pura kritis, meski rona merah tipis di pipinya tak bisa dibohongi.

"Itu bukan gombalan, Raina. Itu hasil kalkulasi empiris berdasarkan data observasi selama empat tahun," balas Devan cepat, memamerkan cengiran khasnya yang dulu paling sering membuat Raina gemas di SMA Garuda.

Bagian II: Gelanggang dan Laboratorium

Pukul sembilan pagi, kampus ITB Ganesha berada dalam puncak kesibukannya. Dedaunan pinus gugur perlahan disapu angin dingin, menghiasi jalan setapak dari batu alam yang menghubungkan Gedung Rektorat dengan Plaza Widya Purwakarita.

Di dalam Laboratorium Rekayasa Proses Kimia Utama, Raina berdiri di depan reaktor kaskada berbahan baja tahan karat. Ia mengenakan jas laboratorium putih bersih dengan nama Raina Natasya, S.T. terukir rapi di dada kiri. Di sekelilingnya, lima orang mahasiswa tingkat akhir yang menjadi juniornya menyimak dengan saksama setiap instruksi yang ia berikan.

"Perhatikan laju alir volumetrik pada manometer digital ini," terang Raina, menunjuk sebuah pengukur tekanan dengan ujung pena penunjuknya. Suaranya terdengar sangat berwibawa, penuh presisi, namun tidak terkesan menggurui. "Suhu krisis reaksi hidrogenasi ini ada di angka 180 derajat Celsius. Jika terjadi lonjakan tekanan sekecil apa pun, katup pelepas otomatis akan terbuka. Jangan pernah panik. Ingat, keselamatan laboratorium dibangun di atas pemahaman konsep, bukan ketakutan."

Seorang mahasiswa junior mengangkat tangannya ragu-ragu. "Mbak Raina... bagaimana Mbak bisa se-tenang ini saat mengawasi reaksi skala pilot yang risikonya sejauh ini?"

Raina menghentikan penjelasannya sejenak. Pandangannya secara refleks terlempar ke luar jendela laboratorium—ke arah lapangan olahraga terbuka di mana sekilas bayangan masa lalunya berputar.

Ia teringat sebuah sore di SMA Garuda, saat seorang cowok pembuat masalah bernama Devan melemparkan bola basket hingga mematahkan kacamatanya, dan bagaimana keberanian untuk tidak menyerah pada keadaan telah mengubah kehancuran itu menjadi fondasi masa depan.

"Sikap tenang itu bukan bawaan lahir," jawab Raina dengan senyuman anggun. "Sikap tenang lahir dari latihan panjang menghadapi kekacauan. Ketika kalian tahu variabel apa yang kalian pegang, kekacauan sebesar apa pun bisa diurai menjadi rumus yang logis."

Sementara itu, lima kilometer dari kawasan GOR Bandung di jalan Jakarta, atmosfer yang berlawanan sedang membakar Arena Basket Pelatnas.

Suara dentuman bola basket yang dipantulkan ke lantai kayu maple beradu dengan derit gesekan sol sepatu dan siulan peluit dari tim pelatih nasional. Devan Adhitama berdiri di garis tengah lapangan, mengenakan jersi merah-putih bernomor punggung 8—nomor keberuntungannya sejak kelas sepuluh.

"Devan! Screen di sebelah kiri! Pick and roll sekarang!" teriak Head Coach Tim Nasional dari pinggir lapangan.

Dalam hitungan detik, Devan menerima umpan cepat dari point guard senior. Tubuhnya bergerak refleks dengan kecepatan dan kelincahan yang luar biasa. Ia melakukan dribel silang (behind-the-back dribble), mengecoh penjagaan dua pemain bertahan berpostur tinggi dua meter, lalu melompat tinggi di udara.

Di puncak lompatannya, Devan tidak langsung melepaskan tembakan. Ia menahan posisi tubuhnya di udara selama sepersekian detik—sebuah teknik hang-time yang diasahnya selama ribuan jam latihan di Sabuga—lalu mengoper bola secara melengkung melewati celah ketiak pemain lawan menuju rekannya di sudut kanan baseline.

Swish! Bola masuk sempurna tanpa menyentuh ring.

"Bagus sekali, Devan! Visioner!" teriak pelatih seraya bertepuk tangan kencang.

Saat jeda minum, Devan duduk di bangku cadangan sambil mengusap keringat di lehernya dengan handuk kecil. Ia merogoh tasnya, mengambil ponsel, dan melihat sebuah pesan singkat yang masuk sepuluh menit lalu dari Raina:

Raina: Simulasi reaktor berhasil 100%. Dosen pembimbing puas. Jangan lupa minum air mineral yang cukup, Devan.

Devan tersenyum lebar, jemarinya bergerak lincah membalas pesan tersebut:

Devan: Latihan Pelatnas kuarter tiga selesai tanpa cela. Umpan no-look pass-ku makin presisi. Nanti sore aku jemput di depan Lab Kimia jam lima. Kita ke toko buku tua di Braga ya.

Bagian III: Senja di Braga dan Kanvas yang Terus Meluas

Sore hari di Jalan Braga selalu menghadirkan pesona nostalgia yang tak lekang oleh waktu. Lampu-lampu jalan bergaya klasik Eropa mulai menyala satu per satu, memancarkan cahaya kekuningan di atas trotoar batu alam. Bangunan-bangunan tua berarsitektur art deco berdiri megah, menampung kedai-kedai kopi legendaris dan galeri seni independen.

Devan dan Raina berjalan berdampingan menyusuri trotoar. Devan mengenakan jaket kulit cokelat tua dengan kaus dalaman putih, sementara Raina mengenakan mantelkardigan rajut warna krem yang hangat. Tangan kiri Devan menggenggam erat tangan kanan Raina, menyatukan jemari mereka di dalam saku jaket Devan untuk menghalau angin sore yang makin dingin.

Di depan sebuah toko buku dan barang antik tua bernama Kios Nostalgia, mereka menghentikan langkah. Di etalase kaca toko tersebut, dipajang sebuah jam dinding kuno berbahan kayu dengan pendulum yang bergerak teratur: tik... tok... tik... tok...

"Jam itu mengingatkan aku sama perpustakaan kota di Semarang," ujar Devan pelan, matanya menatap pantulan mereka berdua di kaca etalase.

"Waktu kita belajar maraton buat UTBK?" tanya Raina, memiringkan kepalanya menatap profil samping wajah Devan yang makin tegas dan tampan.

"Bukan cuma itu," jawab Devan, memutar tubuhnya menghadap Raina sepenuhnya. Ia merapikan beberapa helai rambut Raina yang tertiup angin sore. "Jam itu bikin aku sadar betapa cepatnya waktu berjalan. Dulu, kita cuma dua anak SMA yang saling benci karena bola basket dan aturan disiplin. Sekarang... kita berdiri di sini, di kota impian kita, mengejar cita-cita yang dulu rasanya mustahil."

Raina menatap mata Devan yang dipenuhi rasa kehangatan abadi. Ia mengulurkan tangannya, mengusap rahang Devan dengan lembut.

"Waktu memang berjalan cepat, Devan," bisik Raina tulus. "Tapi waktu juga yang membuktikan kalau perasaan kita bukan sekadar cinta monyet masa sekolah. Kita tumbuh bersama. Kita saling memperbaiki, bukan saling menuntut."

Devan tersenyum manis. Ia merogoh saku dalam jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah gantungan kunci kayu yang baru—hasil buatannya sendiri di bengkel kayu Teknik Industri minggu lalu. Gantungan kunci itu berbentuk kombinasi mini dua buah benda: sebuah gedung beratap kubah khas Ganesha ITB dan sebuah medali emas kecil.

"Ini buat kamu," kata Devan, menyerahkan benda kayu berukir halus itu kepada Raina. "Buat dipasang di tas lab barumu. Lambang kalau kita sudah melewati pintu gerbang pertama, dan kita siap buat melangkah ke pintu-pintu berikutnya di seluruh dunia."

Raina menerima gantungan kunci itu dengan mata berbinar-binar oleh keharuan murni. Ia memeluk Devan erat-erat di tengah lalu lalang pejalan kaki Jalan Braga yang romantis. Devan membalas pelukan itu, mencium puncak kepala Raina hangat, membiarkan aroma wangi rambut Raina menyatu dengan dinginnya udara Bandung.

Perjalanan Devan Adhitama dan Raina Natasya bukanlah perjalanan yang berakhir pada sebuah kata selesai. Di bawah naungan langit Bandung yang megah dan pendar lampu jalan Braga yang abadi, cerita mereka terus ditulis—sebuah kanvas masa depan yang akan selalu dihiasi oleh garis-garis ilmu pengetahuan, dentuman bola basket, dan cinta sejati yang tak akan pernah pudar oleh waktu.

1
sila
novel goot
sila
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!