NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Gaun Rusak dan Rp 500 Ribu

Tatapan sedingin itu tidak menghentikan Vanessa.

"Kak Keira?"

Langkahnya melambat di tengah ballroom. Senyum manis di wajahnya berubah menjadi keterkejutan yang tampak sempurna. Ia menutup mulut dengan satu tangan, sementara tangan lain masih terbuka ke arah Kevin.

"Kak Keira sudah pulang? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"

Vanessa bergegas mendekat. Hak sepatunya berdetak cepat di lantai marmer. Kevin tidak menyambut pelukan yang tadi ia tawarkan. Untuk pertama kalinya, pandangannya hanya singgah sesaat pada Vanessa sebelum kembali ke seragam Keira.

Perubahan kecil itu tidak luput dari mata Vanessa.

"Selamat ulang tahun," kata Keira datar.

"Terima kasih." Vanessa memandang sekeliling, seolah baru menyadari suasana yang kaku. "Ada apa? Semua orang kelihatan tegang."

Yolanda segera menghampirinya. "Tidak ada apa-apa, Van. Kamu baru selesai berdandan. Jangan memikirkan hal yang berat."

Vanessa mengangguk patuh, lalu melangkah ke arah Keira. "Aku sangat merindukanmu, Kak."

Keira melihat tangan Vanessa terulur. Ia mundur setengah langkah.

Namun Vanessa bergerak lebih cepat.

Bahunya menabrak Keira. Tangan Vanessa diam-diam menangkap ujung gaunnya sendiri, lalu menarik kuat. Bunyi kain robek terdengar jelas.

Sret.

Vanessa jatuh terduduk.

Sobekan panjang terbuka di sisi gaun putihnya. Manik-manik kecil berhamburan di lantai seperti pecahan es. Keira yang hanya bertumpu pada kaki kanan ikut terhuyung dan menghantam tepi meja.

"Vanessa!" Yolanda langsung berlari.

Tidak ada yang memanggil nama Keira.

Edmond membantu Vanessa berdiri. Kevin menahan lengan adiknya, lalu menatap Keira dengan wajah gelap.

"Kamu apakan dia?"

Keira menegakkan tubuh. Pinggangnya berdenyut akibat benturan. "Aku tidak menyentuhnya."

Vanessa menggigit bibir. Air mata memenuhi matanya dalam hitungan detik. "Tidak apa-apa, Ko Kevin. Mungkin Kak Keira tidak sengaja. Aku yang terlalu senang melihatnya."

"Kamu selalu membelanya," kata Yolanda. "Lihat gaunnya!"

"Aku hanya mundur."

"Kamu iri karena pesta ini untuk Vanessa," bentak Edmond. "Baru beberapa jam keluar, kamu sudah membuat masalah."

Keira memandang butiran manik di lantai. Di salah satunya ada sepotong benang putih yang putus bersih karena ditarik, bukan tersangkut.

"Ada CCTV di ballroom," katanya. "Putar rekamannya."

Wajah Vanessa menegang sepersekian detik.

"Tidak perlu lihat CCTV," jawab Edmond. "Kamu memang selalu iri dengan Vanessa."

Kalimat itu membuat udara di sekitar Keira seperti kembali lima tahun ke belakang.

Sebuah tangga. Tubuh Evelyn yang tergeletak. Vanessa menangis. Keira meminta mereka memeriksa rekaman. Yolanda berkata kameranya rusak, lalu polisi datang sebelum Keira sempat menyentuh makan malamnya.

Tidak ada bukti yang mereka butuhkan ketika pihak yang dituduh adalah Keira.

"Jadi polanya masih sama," ucap Keira pelan.

Yolanda memeluk bahu Vanessa. "Pola apa?"

"Tidak melihat bukti. Hanya memilih siapa yang ingin dipercaya."

Vanessa menyeka air mata, tetapi sepotong benang putih masih terjepit di antara kukunya. Ketika sadar Kevin melihatnya, ia cepat-cepat mengepalkan tangan.

"Aku tidak ingin Kak Keira disalahkan," katanya lirih. "Mungkin lima tahun di lapas membuatnya sulit mengendalikan emosi."

"Kalau aku ingin merusak gaunmu, aku tidak akan meminta rekaman diputar," jawab Keira.

Kevin menoleh lagi ke kamera. "Papa, kita bisa melihat dua menit rekaman dan menyelesaikan ini."

"Aku bilang tidak perlu." Edmond berdiri di antara Kevin dan petugas keamanan yang mulai mendekat. "Pesta ini untuk Vanessa. Kita tidak akan menghentikannya demi drama Keira."

Keraguan di wajah Kevin belum hilang, tetapi ia juga tidak membantah ayahnya.

"Jangan mengungkit masa lalu di pesta adikmu," kata Edmond.

"Dia bukan adikku."

Tangis Vanessa langsung pecah.

Para tamu kembali berbisik. Kevin memandang kamera kecil di sudut langit-langit, lalu Vanessa. Keraguan sempat muncul di wajahnya, tetapi Edmond sudah memerintahkan musik dinyalakan kembali.

"Bawa Keira ke belakang," katanya kepada seorang pembantu. "Jangan biarkan dia merusak acara lagi."

Keira tidak menunggu disentuh. Ia berjalan sendiri meninggalkan ballroom, menyeret kaki kirinya melewati manik-manik yang berkilau di lantai.

Malam semakin larut ketika musik akhirnya berhenti.

Di gudang kecil tanpa jendela, Keira memasukkan surat pembebasan dan pakaian lama ke dalam sebuah tas kain. Tidak banyak yang bisa ia bawa. Beberapa buku, seragam, dan kotak logam berisi dokumen sudah cukup memenuhi meja tua.

Ranjang lipat berderit saat ia duduk untuk mengikat tali sepatu.

Pintu terbuka perlahan.

"Nona Keira?"

Keira menoleh. Seorang perempuan berusia lebih dari lima puluh tahun berdiri di ambang pintu dengan celemek dapur masih terikat di pinggang. Rambutnya sudah lebih banyak memutih daripada lima tahun lalu.

"Tante Mira."

Suara Keira akhirnya retak.

Tante Mira masuk dan langsung memeluknya. Pelukan itu tidak ragu, tidak takut mengotori pakaian, dan tidak menunggu Keira meminta.

"Nak..." Bahu perempuan itu bergetar. "Tante mau datang ke lapas. Mereka tidak mengizinkan. Ponsel Tante diambil, lalu Tante dikirim menjaga rumah keluarga di luar kota. Tante baru dipanggil pulang untuk pesta ini."

Keira menutup mata. Untuk pertama kalinya hari itu, tubuhnya berhenti bersiap menerima serangan.

"Aku tahu, Tante."

Tante Mira melepaskan pelukan, lalu memegang wajahnya dengan kedua telapak yang kasar. Matanya turun ke pipi cekung, rambut yang dipotong tidak rata, dan kaki kiri yang disembunyikan Keira di bawah bangku.

"Mereka apakan kamu?"

"Sudah selesai."

"Belum. Selama kamu masih sakit, belum selesai."

Keira menunduk agar Tante Mira tidak melihat matanya. "Aku mau pergi malam ini."

Perempuan itu tidak menyuruhnya bertahan demi keluarga. Tidak berkata Papa dan Mama pasti punya alasan. Ia hanya merogoh saku dalam celemeknya, mengeluarkan amplop cokelat yang sudah kusut, lalu menekannya ke telapak Keira.

Lima lembar uang seratus ribu rupiah ada di dalamnya.

"Tante, tidak."

"Ambil."

"Ini uang Tante."

"Semua yang bisa Tante simpan ada di situ. Amanda masih kuliah di Binus, jadi Tante belum punya banyak. Tapi cukup untuk ongkos dan makan beberapa hari."

Keira mencoba mengembalikannya. Tante Mira menutup jemarinya kuat-kuat di atas amplop.

"Kalau kamu butuh bantuan, cari Amanda. Dia akan datang, di mana pun kamu berada."

"Aku tidak bisa mengambil semuanya."

"Kei, kamu harus hidup dengan baik." Air mata mengalir di keriput pipi Tante Mira. "Tante selalu mendoakanmu."

Satu tetes air hangat jatuh dari mata Keira ke amplop cokelat.

Hanya satu.

Namun selama lima tahun di lapas, bahkan ketika dipukul, dipaksa berlutut, dan menahan sakit sampai pingsan, ia tidak pernah menangis di depan siapa pun.

Keira memeluk Tante Mira kembali.

"Terima kasih, Tante."

Beberapa menit kemudian, ia berjalan menyusuri lorong belakang dengan tas kain di bahu. Amplop Rp 500 ribu tersimpan di saku seragam, hangat oleh telapak tangannya.

Ia hampir mencapai gerbang ketika sorot lampu sebuah Alphard hitam menyapu halaman.

Mobil itu berhenti di luar pagar. Pintu bergeser terbuka, lalu Kevin turun.

Tatapannya jatuh pada tas kain Keira, kemudian bergerak ke bawah.

Di bawah cahaya bulan, untuk pertama kalinya Kevin benar-benar melihat bentuk kaki kiri adiknya.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!