NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Dani meringis kesakitan seraya memegangi tangannya yang ngilu luar biasa. Sementara itu, Luki membantu Amira untuk duduk di sofa dengan penuh kelembutan. Seluruh anak buah Dani—baik yang berada di dalam maupun luar ruangan—sudah terkapar tak berdaya. Ruangan private room itu kini sepenuhnya dikuasai oleh belasan pria berseragam jaket ojol.

Di pojok ruangan, Rini yang terduduk kaku diam-diam merogoh ponselnya, mengambil beberapa foto sudut ruangan secara sembunyi-sembunyi. Hatinya menyumpah murka: ‘Tukang ojek sialan ini benar-benar mengacaukan semua rencanaku dan Angga!’

Luki memandang Dani dengan sorot mata membunuh. Pemukul baseball besi di tangannya ia genggam erat, lalu ia melangkah perlahan menghampiri Dani.

"Siapa kalian, tukang ojek sialan?!" bentak Dani teramat marah.

PLAKKK!

Tanpa ragu, Luki menampar pipi buncit Dani hingga kepala pria itu terteleng ke samping.

"Berani kamu menamparku, hah?!" pekik Dani menatap Luki penuh kebencian.

PLAKKK!

Tamparan kedua dari Luki mendarat jauh lebih keras, menjawab kelakar Dani. Dani meringis kesakitan; seluruh tubuhnya serasa remuk, dan harga dirinya hancur berkeping-keping.

"Aku ini tangan kanan Pak Surya!" gertak Dani panik. "Pak Surya itu teman dekat pewaris Perdana Holding! Kamu jangan macam-macam! Kalau kamu terus menyakitiku, kamu tidak akan selamat!"

BUGHHH!

Sebuah tendangan keras dari Luki menghantam tepat di dada Dani. Tubuh gemuk itu terlempar beberapa langkah hingga menabrak meja kaca sampai berderit nyaring.

"Dudukkan dia di sofa," perintah Luki dingin pada anak buahnya.

Dua pengemudi ojol berbadan tegap langsung memegang ketiak Dani dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.

"Cari ponselnya," titah Luki lagi.

Ponsel Dani berhasil disita dari saku celana dan diletakkan di atas meja.

"Siram dia."

Anak buah Luki mencari air minum, tetapi tidak menemukannya. Matanya lalu tertuju pada sebotol whisky yang masih tersisa separuh. Tanpa ragu, ia membuka tutupnya dan menyiramkan minuman keras itu tepat ke wajah Dani.

"Benar-benar pemborosan," gumam Luki santai. "Sekarang, cepat telepon Surya."

Dani yang tadinya hampir putus asa mendadak mendapat angin segar. Dalam hatinya ia bersorak gembira: ‘Cari mati kamu, ojol sialan! Kalau Pak Surya datang, selesai hidupmu!’

"Amira! Bujuk suami kamu itu!" bisik Rini panik mendatangi Amira. "Kita jangan sampai berurusan dengan Pak Surya, bahaya nantinya!"—meski sejatinya Rini ketakutan karena dirinya sendiri yang panik jika kebohongannya terbongkar di depan Surya.

Amira mengedarkan pandangan. Ruangan sudah acak-acakan. Rasa lega sempat memeluk dadanya karena Luki datang menyelamatkannya dari pelecehan Dani, namun Amira tidak ingin masalah ini berbuntut panjang hingga melibatkan penguasa perbankan seperti Surya.

"Luki... sudah, kita pergi saja. Kita laporkan kejadian pelecehan ini ke polisi," bujuk Amira bergetar.

"Nanti polisi juga akan datang... Tapi aku masih ada urusan dengan bos babi sialan ini," sahut Luki tenang. Ia menatap Dani lalu membentaknya, "Malah diam! Cepat telepon Surya!"

Dani menyeringai dalam hati. 'Sepertinya anak ini memang mau cepat mati.' Dani dengan gemetar menekan nomor Surya.

Setelah empat kali nada dering, telepon diangkat.

"Bos! Tolong aku, Bos! Aku dianiaya nasabah!"jerit Dani berakting panik. "Dia punya utang miliaran tapi tidak mau bayar, malah menyekap aku di sini! Tolong aku, Bos!"

"Gila! Di mana kamu sekarang?!"bentak Surya dari seberang telepon.

"Aku share lock sekarang, Bos!"

"Oke, tunggu di sana! Ancam mereka, kalau mereka melakukan kekerasan, mereka bakal berurusan dengan kepolisian dan pengacara kita!"

"Siap, Bos!"

TUT.Sambungan terputus.

"Selain gemuk, rupanya kamu pandai berbohong juga ya," ejek Luki dengan senyum menyeringai.

Amira langsung menghampiri Luki, memeluk erat lengan suaminya. "Luki, kita pulang saja... Aku tidak mau kamu dipenjara!"

"Aku tidak salah, kenapa harus dipenjara?"

"Kamu sudah merusak fasilitas tempat orang, kamu membuat orang babak belur! Kamu dan rekan-rekan ojolmu tidak akan sanggup melawan orang kaya seperti Pak Surya... Ayo kita pulang, nanti aku carikan pengacara terbaik untuk kamu dan teman-teman kamu!"

"Gedung ini salah satu milikku... Jadi aku tidak merusak fasilitas orang lain," sahut Luki santai.

Amira mendengus pasrah. "Cukup bercandanya, Luki! Tidak lucu! Jangan sok kaya di saat seperti ini! Ayo lebih baik kita pergi, ajak juga teman-teman kamu!"

Dani yang mendengar perdebatan itu tertawa pelan. "Mau pergi? Kalian sudah berurusan dengan Bos Surya! Kalian pikir kalian bakal selamat?!"

Luki melangkah mendekati Dani.

PLAKKK!

Satu tamparan mendarat lagi di wajah Dani. "Suruh siapa kamu bicara, hah?! Dasar babi!"

"Luki, jangan nekat seperti itu! Mari kita pulang!" Amira makin panik.

"Aku masih ada urusan dengan Surya, tenang saja Sayang."

"Pak Surya bukan orang yang bisa kamu hadapi sembarangan!" sela Rini memanasi.

Luki menoleh tajam ke arah Rini. "Hei, kamu diam ya!" bentak Luki kencang. "Kamu pasti terlibat dalam semua ini, kan?!"

"Enggak! Aku enggak terlibat! Aku juga tadi mau dilecehkan, masa aku terlibat?!" bantah Rini cepat dengan wajah pucat.

"Benar Luki... Rini juga tadi mau dilecehkan," bela Amira polos. "Sekarang ayo kita pergi sebelum anak buah Pak Surya datang!"

"Tenanglah Sayang... Surya itu bukan siapa-siapa bagiku."

"Tolong Luki, hentikan kesombongan kamu!" pangkas Amira hampir menangis.

"Aku tidak sombong, aku jujur. Tunggulah sebentar lagi."

"Amira... lebih baik kita berdua yang pulang duluan sebelum Pak Surya datang," bisik Rini membujuk Amira.

"Enggak!" tegas Amira. "Aku tidak akan biarkan suamiku sendirian menghadapi masalah!"

Luki yang mendengar ucapan Amira merasa geli sekaligus tersentuh. Istrinya ini benar-benar mulai peduli padanya.

"Dia cuma bakal bikin kamu celaka, Amira! Lebih baik kita tinggalkan dia!" desak Rini lagi.

"Aku tidak akan meninggalkan orang yang sudah menyelamatkan hidup dan kehormatanku!" amuk Amira.

Rini menggeram kesal. "Ya sudah! Kalau begitu aku yang pulang duluan!"

"Jangan pernah izinkan dia pulang," perintah Luki pada anak buahnya.

Seketika dua pengemudi ojol menghadang pintu keluar, menutup jalan Rini.

"Amira! Bilang ke suamimu jangan bertindak berlebihan begini!" jerit Rini panik.

Amira menatap Luki iba. "Luki... biarkan Rini pergi. Dia temanku. Kita jangan libatkan banyak orang dalam masalah kita."

Luki menghela napas. "Biarkan dia pergi."

Begitu jalan dibuka, Rini berlari kencang keluar ruangan tanpa menoleh lagi.

"Luki, mendingan kita pergi dulu... Kita susun rencana untuk menghadapi Pak Surya," bujuk Amira tak menyerah.

"Sudah Sayang, masalah ini harus kita selesaikan malam ini juga."

Amira akhirnya terdiam kaku, tak mampu lagi membujuk. Ia hanya bisa pasrah menyerahkan nasib mereka pada takdir.

Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki tergesa-gesa dari lorong luar. Hati Amira makin berdebar kencang; ia yakin Surya membawa rombongan pengawal.

"Siapa yang berani menindas orang Bank Surya, hah?!" bentak seorang pria berjas rapi yang baru saja menerobos masuk.

Dani langsung berteriak girang. "Pak Surya! Tolong saya, Pak! Lihatlah, nasabah ini sudah berani menyekap saya dan membuat saya babak belur seperti ini!"

Surya berdiri tegap, menatap para pengemudi ojol. "Kalian cepat menyerah! Sebentar lagi polisi datang! Kalau tidak, kalian akan berhadapan dengan tim pengamanan utama Bank Surya!"

"Menyerah?" Luki membalikkan badannya perlahan. "Kamu menyuruh aku menyerah, Surya?"

Mata Surya seketika membelalak sempurna! Seluruh tubuhnya berguncang hebat, wajahnya pucat pasi bagai kehilangan darah.

"Bro... ke-kenapa kamu ada di sini?!" gagap Surya penuh ketakutan.

Luki tersenyum menyeringai, lalu melangkah mendekati Surya. "Anak buahmu yang ini... mau melecehkan istriku."

"HAH?! Kapan menikahnya?! Kok aku tidak tahu?!" bisik Surya syok.

"Sudahlah. Pokoknya dia mau melecehkan istriku. Itu istriku, CEO Marwah Corp. Dia cuma mau mengajukan pinjaman, tapi malah mau dilecehkan oleh anak buahmu ini."

Rahang Surya seketika mengeras, tangannya mengepal rapat. Dari kejauhan, Amira melihat Luki dan Surya berbicara berbisik-bisik, mengira suaminya sedang memohon atau bernegosiasi.

Dani yang tidak tahu situasi bertindak makin bodoh. "Pak Surya! Tadi dia juga bilang akan memukul Anda sampai mati!" teriak Dani memprovokasi.

Surya berbalik, melangkah lebar mendekati Dani.

Dani tersenyum lebar. "Terima kasih Pak sudah membela sa—"

BUGHHH!

Satu pukulan mentah dari Surya menghantam telak pipi Dani!

"Dasar bajingan! Berani-beraninya kamu punya niat kotor sama nasabah?!" amuk Surya murka.

"Bos! Ini tidak seperti yang Kamu k—"

BUGH! BUGH! BUGH!

Tanpa ampun, Surya menghajar Dani secara brutal di atas sofa. Dani meraung-raung kesakitan menerima amukan dari atasannya sendiri.

"Surya, hentikan," pangkas Luki santai. "Serahkan dia dan anak buahnya ke polisi. Pastikan tidak ada yang bisa membebaskan mereka."

"Baik, Bos!" tegas Surya penuh kepatuhan.

Luki berbalik menghampiri Amira yang masih berdiri membeku dengan mulut sedikit terbuka.

"Mari pulang, Sayang," bisik Luki lembut menatap istrinya.

Amira masih berkunang-kunang. "Sayang... mari pulang," ulang Luki terkekeh.

"Luki... kamu... kamu kenal sama Pak Surya?" tanya Amira terbata-bata.

"Kenal," jawab Luki sin gkat.

Surya segera menghampiri Amira dan membungkuk sopan. "Ibu Amira, saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Lain kali, jika ada urusan pinjaman, saya sendiri yang akan datang langsung ke kantor Anda."

Amira makin makin melongo heran. "Terima kasih Pak... Terima kasih sudah membantu saya dan suami saya. Mohon jangan diperpanjang urusan ini ke Luki... Suami saya ini cuma pengemudi ojol..."

"Ojol...?" ulang Surya bingung setengah mati, menatap Luki dengan kening berkerut.

Belum sempat Luki berkata polisi datang menghampiri memotong pembicaraan Surya dan Luki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!